
Zivana tengah disibukan mempersiapkan pernikahannya meski Dirga mengabaikannya.
"Pii, undangan untuk kolega Papi aku kasihkan ke asisten Papi ya."
"Hem." Jawab Dirga dengan datar.
"Pi, kenapa sih Papi seperti itu?"
"Seperti itu bagaimana?" Tanya Dirga menatap putri yang begitu dicintainya itu. "Yang akan menikah itu kan kamu, dan dia itu juga pilihanmu. Papi hanya mengikuti saja."
"Tapi Papi tidak antusias dengan pernikahanku. Aku putri Papi."
Dirga berdiri dan melihat ke arah taman, "Bagaimana bisa Papi antusias melepas putri yang Papi cintai menikah dengan orang yang Papi tidak sukai."
"Pi, kita sudah pernah membahas ini."
"Papi hanya menjawab pertanyaanmu, Ziv. Kamu masih muda, Papi tidak ingin kamu menyesal nantinya, pernikahan bukan hal yang main main."
Zivana hanya diam, ia malas berdebat dengan Dirga.
"Papi akan mencabut kartu kreditmu setelah kamu menikah dengan dia." Kata Dirga.
"Lho kenapa, Pi?"
"Kamu kan nanti sudah menjadi istrinya, tanggung jawab dia lah yang menafkahimu."
Zivana pun diam dengan jawaban telak dari Dirga.
"Bulan ini Kartu kreditmu sudah mendekati angka limit, Ziv. Apa dia tidak memberimu uang untuk pernikahan kalian?" Tanya Dirga yang membuat Zivana gugup.
"Kak Daniel akan menggantinya nanti, Pi." Jawab Zivana.
"Nanti kapan?"
"Papi tidak mau membiayai pernikahanku?" Tanya Zivana mulai terpancing emosinya.
"Harusnya pihak Daniel juga memberikanmu uang bahkan seharusnya biaya pernikahan itu dari pihak laki laki, Ziv." Kata Dirga.
"Nanti juga Kak Daniel ganti. Papi tau kan kalau Kak Daniel sedang merintis usahanya agar mandiri dan tidak ikut usaha Ayahnya."
Dirga berdecak, "Bukan tidak ikut usaha ayahnya, itu karena Ayahnya dia punya banyak istri dan banyak anak yang memperebutkan hartanya, jadi bisa saja dia tidak kebagian mengelola perusahaan." Ucap Dirga tanpa mau menyebut nama Daniel dan lebih memanggilnya dengan sebutan dia.
"Jangan minta apapun pada Papi lagi jika kamu sudah resmi menikah dengannya, Ziv. Ini tetap rumahmu, kamu bisa kapan saja pulang kesini, tapi Papi tidak ada hak lagi untuk membiayaimu." Ucap Dirga dengan tegas.
Dirga mendengarkan apa kata Samudra dan Ziel untuk bersikap tegas pada Ziv, dan hal itu Dirga lakukan. Meski Dirga mau tak mau membiayai pernikahan Zivana dan Daniel, Dirga menganggap ini hal terakhir yang akan ia berikan pada putrinya itu.
**
"Kak, hari ini kita fitting baju pengantin." Ucap Zivana.
__ADS_1
"Iya, nanti kita kesana." Jawab Daniel yang masih serius berbalas pesan dengan seseorang.
"Kak, nanti pelunasannya sama Kakak kan? Papi sudah mengingatkanku tentang kartu kreditku yang hampit limit." Ucap Zivana.
"Ziv, aku gak ada uang, uangku semua masih belum kembali untuk merintis usaha." jawab Daniel.
"Terus nanti kehidupan setelah menikah bagaimana Kak? Papi tidak akan lagi memberiku kartu."
"Apa??" Pekkk Daniel.
Zivana mengangguk. "Kata Papi, nanti setelah menikah, aku bukan lagi tanggung jawabnya, dan Papi akan memblokir kartu kreditku."
Daniel mengusap kasar wajahnya. Ia memutar otak bagaimana caranya bisa mendapatkan posisi di perusahaan Dirga sebagai menantunya.
"Bagaimana jika pernikahan kita tunda saja, Ziv?"
Zivana menatap tidak suka pada Daniel.
"Begini, Ziv.. Kondisi keuanganku belum stabil, aku takut tidak bisa membahagiakanmu."
"Kenapa Kakak tidak memikirkan hal ini matang matang sebelumnya? Undangan sudah tersebar, Kak."
"Tapi aku tidak ada uang untuk semua pelunasan, dari gaun pengantin, catring, WO dan juga hotel."
Zivana menghembuskan nafasnya kasar. "Kenapa tidak meminta bantuan Ayahnya Kakak? Kakak kan pihak pria, harusnya membantu bahkan menanggung semuanya."
"Kamu tau kan jika keuangan Papaku dipegang istri pertamanya, bahkan perusahaan Papaku di kuasai anak anak dari istri pertamanya, aku bisa apa Ziv?"
Danjel menggenggam tangan Zivana, dan Zivana nenatap kedua mata Daniel yang slalu menghipnotisnya.
"Sayang, selama bisnisku belum berjalan, bagaimana jika aku ikut bekerja di perusahaan Ayahmu. Bukankah seharusnya kamu memegang manajemen perusahaan dengan jabatan direktur keuangan? Bisakah aku saja yang menempatinya menggantikanmu, dengan begitu aku bisa menafkahimu dengan layak."
Zivana diam mencoba berpikir.
"Aku hanya mempertahankan apa yang akan menjadi milikmu, Sayang. Kamu kan juga anak Papimu, bagaimana jika suatu saat Ziel menikah dan istrinya ingin menguasai semua perusahaan, kamu tidak mendapatkan apapun."
"Aku tidak perduli akan hal itu, Kak."
Daniel mengumpat dalam hatinya, ia kesal karena Zivana menganggap hal ini sepele.
**
"Lov..." Panggil Zivana yang tiba tiba saja datang ke kantor ARDA KARYA, karena kini Lova ikut membantu sang Kakak memegang perusahaan.
"Tumben kesini. Biasanya sama ayankmu terus." Cibir Lova.
"Ishhh..." Zivana memberengut.
Lova melihat wajah kesedihan di wajah Zivana. "Ada apa Ziv?"
__ADS_1
"Aku harus bagaimana, Lov?" Zivana menopang kepalanya dengan kedua tangannya.
Lova melihat Zivana seperti tidak baik baik saja. Ia berdiri dari kursi kerjanya kemudian duduk di sebelah Zivana. "Ada apa, Ziv?"
Zivana melihat mata Lova yang teduh, Zivana menyesal sedari awal tidak mendengarkan perkataan Lova untuk menikmati masa mudanya dulu dan tidak terburu buru menikah di usia muda.
"Daniel ingin membatalkan pernikahan kami karena tidak memiliki uang untuk semua pelunasan gaun pengantin, catring, WO bahkan untuk hotel."
"Apa? Bukankah undangan kalian sudah tersebar?" Tanya Lova.
Zivana mengangguk. "Aku harus bagaimana, aku harus mencari uang kemana?"
"Kenapa harus kamu yang mencari uang, itu kan tugas Kak Daniel."
"Ya karena itu Kak Daniel ingin membatalkan pernikahan sampai keuangannya stabil."
Lova menghela nafas, ia juga bingung harus membantu seperti apa.
"Pinjamkan aku uang, Lov." Kata Zivana memelas.
Lova melihat Zivana yang banyak berubah, bahkan Zivana mengorbankan harga dirinya untuk meminjam uang.
Samudra masuk ke dalam ruangan Lova yang tidak tertutup rapat, Samudra bahkan mendengar semua apa yang dikatakan oleh Zivana pada Lova.
"Kak Sam.." Lova melihat ke arah Samudra sementara Zivana hanya menunduk.
Samudra menghembuskan nafas kasarnya kemudian duduk di sisi atas meja kerja Lova dan menatap Zivana yang terlihat memprihatinkan.
"Aku akan melunasi semuanya." Kata Samudra pada akhirnya dan Zivana menatap wajah Samudra.
"Undangan sudah tersebar, jangan mempermalukan Papi, apa kamu tidak memperhatikan kesehatan Papi yang akhir akhir ini menurun, Ziv?" Samudra mengeluarkan unek unek nya.
"Maafkan aku, Kak. Aku janji akan menggantinya." Lirih Zivana.
"Tidak perlu kamu ganti, anggap saja ini hadiah pernikahan dariku untukmu." Ucap Samudra.
"Setelah menikah kalian akan tinggal dimana?" Tanya Samudra.
Zivana menggelengkan kepalanya. "Belum ada obrolan ke arah sana Kak."
"Ya Tuhan, Ziv.. Kenapa kamu tidak memikirkan matang matang tentang pernikahan?" Tanya Samudra tak habis pikir.
"Aku juga ingin membatalkannya tapi undangan sudah terlanjur tersebar, Kak."
"Apa kamu tidak mengenali calon suamimu itu, Ziv? Mengapa sekarang semua seolah jadi rumit karena perbuatanmu yang terlalu tidak hati hati?" Kesal Samudra pada Zivana yang dianggapnya labil itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dear Readers tersayang, terimakasih untuk dukungannya ya, satu hari ini banyak sekali yang memberi nilai ⭐️5 untuk novelku ini, aku terharus sekali 🥹
__ADS_1
Oh iya, ijin besok aku libur Up karena mau antar anak pertamaku Lomba, tapi nanti senin aku Usahakan Crazy Up.