
"Bee..." Samudra mendekat namun Zivana mengangkat satu tangannya.
"Stop Kak."
Membuat Samudra menghentikan langkahnya, dan sedetik kemudian Zivana berlari ke toilet kembali memuntahkan isi perutnya.
Nadlyn yang tidak tega segera menyusul Zivana dan membantunya memijat tengkuknya.
"Kenapa, Ziv?" Tanya Nadlyn saat Zivana selesai membersihkan mulutnya.
"Kak Sam bau, Mom."
"Bau apa?"
"Gak tau bau apa, tapi aku mual sekali tiap lihat Kak Sam." Jawab Zivana.
Nadlyn tersenyum, ia juga meyakini jika sesuatu terjadi pada diri Zivana, sebua kabar yang menggembirakan.
"Ayo biar di periksa dulu sama Opa Pras ya." Ajak Nadlyn.
"Tapi Kak Sam suruh keluar, Mom."
"Kasian Sam, Ziv. Sam juga begitu mengkhawatirkanmu." Kata Nadlyn membuat Zivana terdiam.
"Pakai masker ya? Agar baunya Sam tidak tercium." Bujuk Nadlyn dan Zivana mengangguk.
Nadlyn memberikan masker pada Zivana dan Zivana segera memakainya. Zivana membaringkan tubuhnya dan Pras segera memeriksanya dengan Stetoskop. Pras juga memeriksa pergelangan tangan Zivana kemudian tersenyum lega.
"Bagaimana, Dad?" Tanya Nanda tak sabar.
"Honey, sepertinya kita semakin tua saja." Jawab Pras ambigu.
"Ada apa, Dad?" Tanya Cean.
Pras melihat kearah Sam. "Cucu Opa yang nakal, cepat sekali memberi Opa buyut." Pras tertawa.
Samudra mengernyitkan dahinya. "Ziv hamil, Opa?"
Pras mengangguk.
Samudra segera memeluk Zivana, "Makasih Sweety." Kemudian menciumi seluruh wajahnya.
Namun lagi lavi Ziv mendorong dada Samudra. "Bau, Kak. Jauh jauh dari aku."
"Bee..."
Pras menahan Samudra. "Sam, itu hormon bawaan bayimu. Kasus ini kadang terjadi pada beberapa calon ibu yang mengalami sensitiv pada penciumannya. Dan sepertinya hal itu menimpa pada Ziv." Jelas Pras.
"Tapi kenapa hanya aku yang di bilang bau, Opa?" Tanya Sam.
Lova menyerobot ke dekat Samudra, "Itu karena awal awal menikah dulu, Kak Sam galak sama Ziv, jadi sekarang baby nya balas dendam."
__ADS_1
"Baby Love..." Panggil Cean untuk tidak mengungkit sikap Samudra pada Zivana dulu.
"Tapi memang benar, Dad." Sahut Zivana. "Aku merasa sebal sama Kak Sam, sebal sekali." Imbuhnya lagi.
"Oh my God."
"Sudah sudah, besok Opa menunggumu di rumah sakit, kita harus pastikan jika kandunganmu sehat." Kata Pras yang di setujui semua orang.
"Ayo kita makan malam, ada Axelle disini." Sahut Nanda dan Lova melihat ke arah Axelle yang sedari tadi terlihat tenang, membuat Lova semakin merasa nyaman karena Axelle bukan type pria yang mudah tersulut emosinya.
Mereka semua kembali ke ruang makan, hanya Samudra yang tinggal bersama Zivana di dalam kamar dengan masih menjaga jarak.
"Bee...." Samudra ingin melangkahkan kakinya namun Zivana kembali mencegahnya.
"Bee aku tidak bisa jauh darimu." Ucap Samudra dengan lesu.
"Tapi bau, Kak. Kakak tega melihatku muntah lagi."
"Bee, pukuli saja aku atau hukum aku dengan apapun tapi jangan menyuruhku menjauhimu."
"No!!" Kata Zivana dengan tegas, "Aku tidak mau dekat Kakak. Dan mulai malam ini. Aku mau tidur di kamar Lova."
Samudra menbolakan kedua matanya, "Mana bisa begitu, Bee. Aku tidak akan bisa tidur jika tidak bercinta dulu denganmu."
"Ishh, pokonya aku gak bisa dekat Kakak, lihat muka Kakak aja aku sebal." Zivana melipat kedua tangannya di depan dada.
Samudra memutar otak untuk kembali merayu Zivana. "Bee, katanya mau coba gaya baru itu, Bee." Rayu Samudra dengan mata berbinar.
"Ayo kita coba malam ini, Bee.." Rayu Samudra lagi dan pelan pelan berjalan ke arah Zivana.
"Bee Sweety..." Panggil Samudra.
"Kak stop!!"
Samudra mendessyah pasrah.
"Jangan tidur di kamar Lova, tidur disini saja, nanti aku biar tidur di sofa." Bujuk Samudra.
"Tidak mau, kamar ini bau Kakak, baby tidak suka bau Kakak."
"Oh my God... Baby apa salah Daddy, Nak?" Geram Samudra yang membuat Zivana menahan tawanya.
Di ruang makan, suasana begitu hangat terasa, terlebih kini ada Axelle yang ikut makan malam bersama mereka.
Nanda dan Pras begitu menyambut baik hubungan antara Lova dan Axelle, bagaimana tidak, baik Pras maupun Nanda begitu mengenal keluarga Axelle yang terkenal dengan harmonis dan tidak pernah ada skandal di dalam keluarga itu. Apa lagi sosok Fazel ayahnya Axelle yang begitu menyayangi keluarga begitu terkenal di kalangan pebisnis, Juga kelembutan dokter Sasha terhadap keluarganya membuat Pras dan Nanda begitu mengaguminya.
Cean memperhatikan Axelle dan Lova, tidak terlihat wajah keterpaksaan Lova pada Axelle. Yang ada Lova slalu menunjukan senyum yang menurut Cean adalah senyum alami yang tidak di buat buat. Cean berharap jika Lova benar benar menjalin hubungan dengan Axelle dan semua ini bukanlah rekayasa atau pelarian Lova semata.
Selesai makan malam bersama, Lova dan Axelle menghabiskan waktu untuk mengobrol berdua. Cean memberikan ruang lebih untuk mereka saling mengenal lebih dalam satu sama lain.
"Kak..."
__ADS_1
"Hem..."
"Boleh aku bertanya?"
Axelle melihat ke arah wajah Lova yang berada di sampingnya, "Soal apa?"
"Misal nih ya, misal kita nenikah nanti. Kita akan tinggal dimana?" Tanya Lova membuat Axelle senang karena dengan pertanyaan itu tandanya Lova sudah memikirkan tentang pernikahan.
"Hmm.. Sebagai anak laki laki, aku sih inginnya membawa istriku nanti untuk tinggal bersama Mama dan Papa ku, juga ada Oma dan Opaku juga. Tapi, aku juga tidak ingin egois, aku tetap ingin mengutamakan kenyamananmu." Jawab Axelle yang cukup berpikir logis.
Lova menyandarkan kepalanya di lengan Kanan Axelle. "Aku mau tinggal bersama keluarga Kakak." Ucapnya yang semakin membuat Axelle bahagia.
Axelle menggenggam tangan Lova dengan erat lalu mengecup punggung tangannya. "Jangan pernah ada rahasia diantara kita ya Love, aku ingin kamu slalu mengatakan padaku smua perasaanmu, jika ada sesuatu mengganjal di hatimu, kamu harus mengatakannya padaku."
Lova mengangguk.
"Kamu bertanya seperti ini, apa sudah mau menikah denganku?" Tanya Axelle.
"Apa keluarga Kakak setuju jika Kakak menikah dneganku?"
"Tentu saja, bukankah tadi Mama dan Allea begitu menyukaimu."
"Tapi bagaimana dengan Papanya Kakak?"
Axelle tersenyum, "Papa bukan monster, Love. Papa pasti juga menyetujuinya. Akhir pekan nanti kita makan malam di rumahku ya." Ajak Axelle dan Lova mengangguk.
"Kamu ingin kita bertunangan dulu?" Tanya Axelle.
Lova mengangguk, "Tapi tidak usah pesta, hanya simbolis saja, perkenalan kedua keluarga. Aku tidak ingin pesta, untuk tunangan kita pakai konsep intimate saja, bagaimana?"
Axelle pun langsung menyetujuinya. "Jadi hanya keluarga dan kerabat dekat saja ya?"
"Iya seperti itu, Kak. Bagaimana?"
"Aku setuju, yang penting kamu nyaman, aku ikut saja."
"Untuk pernikahannya bagaimana, Kak?"
"Hem, sepertinya kalau untuk pernikahan, kita harus menggelarnya dengan acara resepsi. Mungkin di hotel."
"Iya sepertinya harus seperti itu, karena keluargaku dan juga keluarga Kakak pasti banyak relasinya." Jawab Lova.
Axelle mencium puncak kepala Lova, "I love You, Love."
Membuat Lova mengangkat kepalanya dan menatap kedua mata Axelle, benarkah Axelle mencintainya dalam waktu sesingkat itu? Lalu bagaimana dengan hati Lova, akankah Lova bisa membalas cinta Axelle? Dan Lova meyakini dirinya jika ia bisa membalas cinta Axelle karena Axelle memberinya banyak cinta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku terharu lho senin kemarin banyak yang kasih novel ini Vote.
Terimakasih untuk teman teman readers yang slalu memberiku dukungan dengan apapun itu, baik via Vote, like, komentar, bintang 5, dan hadiah di setiap Babnya.
__ADS_1
Dukungan kalian adalah semangatku 🥹