
Suara isakan terdengar dari belakang Nadlyn dan siapa lagi jika bukan Samudra. Akhir akhir ini Samudra memang sensitif sekali, ia merasa sedih saat Hellena membentaknya dan memarahinya juga menghina sang Ibu.
Robi segera tersadar dan mendekati Nadlyn lalu menggendong Samudra. Tangan Samudra melingkar di leher Robi dan Samudra menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Robi.
Robi mengusap punggung Samudra tanda menenangkannya. "Sudah tidak apa apa, Kakek ada di sini." Ucap Robi menenangkan.
Hellena masih terpaku dan tak mengalihkan pandangannya dari Robi yang menggendong Samudra.
"Ayo pulang." Ajak Robi pada Nadlyn.
Nadlyn segera meraih tas nya dan ikut pergi bersama Robi.
"Mas Robi..." Panggil Hellen yang tersadar dari lamunanya.
Robi melihat ke arah Hellena, "Wanita yang kamu hina itu adalah putriku, Hell. Aku harap kamu tidak mengulanginya lagi." Robi menjeda kalimatnya sejenak. "Cukup aku yang dulu kamu sakiti, jangan menyakiti putri dan cucuku." Ucapnya lirih yang hanya terdengar oleh Hellena kemudian Robi berjalan meninggalkan Hellena.
Di perjalanan, Samudra hanya duduk dan terdiam, hingga Samudra mengeluarkan suara. "Bolehkah jika malam ini aku menginap di rumah Oma?"
Tanya Samudra yang membuat Nadlyn dan Robi saling bersitatap.
"Sam, besok Mommy akan mengantarmu ke rumah Oma." Jawab Nadlyn.
Samudra menggelengkan kepalanya, "Hanya malam ini saja, Mom. Besok jika Mommy tidak mengantarku ke rumah Oma lagi juga tidak apa, yang penting malam ini aku ingin menginap di rumah Oma."
Nadlyn melirik ke arah Robi yang fokus menyetir, dan Robi mengangguk.
Pada akhirnya Nadlyn mengikuti mau Samudra. Setelah tiga puluh menit di perjalanan akhirnya mereka tiba di rumah Nanda. Ocean yang belum tertidur pun mendengar suara dari ruang tamu yang dekat dengan pintu kamarnya karena Cean menempati salah satu kamar di lantai dasar semenjak kakinya lumpuh.
Cean membuka pintu dan dilihatnya orang tuanya yaitu Pras dan Nanda tengah berbicara dengan tamu yang ternyata adalah Robi dan Nadlyn.
"Uncle..." Panggil Samudra saat mendengar suara pintu terbuka dan segera berhambur menghampiri Ocean.
"Hei, kenapa malam malam kesini?" Tanya Cean. "Pakaianmu rapih sekali." Ucap Cean saat memperhatikan kemeja dan jas yang di pakai oleh Samudra.
__ADS_1
"Cean...." Panggil Robi dengan meyakinkan. Robi baru mengetahui jika Cean ada di rumah Nanda, tadi nya Robi berpikir jika Cean tinggal sementara di Amsterdam. Dan lebih mengejutkannya lagi, kondisi Cean yang terlihat menyedihkan, yaitu duduk di atas kursi roda.
Di tatap seperti itu oleh Robi membuat Cean pun menjadi tidak percaya diri. Cean menatap kembali wajah Samudra. "Aku masuk dulu ya." Ucapnya berpamitan.
"Uncle, aku akan menginap disini." Kata Samudra menahan lengan kursi roda Cean.
Cean menatap wajah Samudra untuk memastikan.
"Aku menginap disini, Uncle." Ucapnya lagi.
"Apa ada sesuatu yang terjadi padamu?" Tanya Cean melihat mata Samudra yang terlihat sendu.
Samudra hanya diam. "Bolehkah Uncle?" Tanya Samudra tanpa menjawab pertanyaan Cean.
Cean melihat ke arah Nadlyn yang membuang pandangannya.
"Mommy sudah mengijinkanku, Uncle." Kata Samudra yang cukup mewakili apa yang ada dalam pikiran Nadlyn.
Benarkah Nadlyn mengijinkannya? Apakah ini tandanya Nadlyn memberikan Cean kesempatan dirinya untuk dekat dan bahkan mengakui dirinya sebagai Daddy nya Samudra?. Hati Cean terus bertanya tanya.
Diperjalanan pulang, Robi memberanikan diri bertanya pada Nadlyn.
"Apa yang terjadi dengan Cean?" Tanya Robi sambil fokus menyetir.
"Sam bilang Cean kecelakaan dan kakinya tidak bisa berjalan."
"Kapan?"
Nadlyn diam kemudian melanjutkan kembali pembicaraannya. "Mommy Nanda bilang, saat Papa mengusir Cean dari rumah sakit sewaktu Samudra di rawat waktu itu. Cean pulang dan mengalami kecelakaan."
Ngikkkkk
Robi me-rem mendadak mobilnya, beruntung mereka sudah berada di dalam lingkungan komplek yang sudah sepi sehingga tidak ada kendaraan lain di belakang mereka.
__ADS_1
"Mommy Nanda bilang, Cean juga sempat koma beberapa minggu, itu alasan mengapa Mommy ke Amsterdam untuk menemani Cean. Cean juga mengalami depresi karena kakinya yang kini tidak bisa berjalan." Kata Nadlyn lagi dan membuat Robi memijat pelipisnya.
"Dan alasan itu juga yang membuat Cean memberikan seluruh sahamnya pada Samudra dan memberikan Papa hak otoritasnya, karena Cean tidak mampu untuk menjalankan ARDA KARYA sementara Mommy Nanda tetap ingin ARDA KARYA berjalan semestinya dan hanya Papa yang bisa melakukan hal itu hingga Sam bisa mengambil alih."
Robi menghela nafasnya, malam ini begitu banyak kejutan yang menghampirinya, dari bertemu dengan mantan kekasihnya yang dulu begitu Robi cintai hingga mereka sempat tinggal bersama di sebuah apartemen kecil, dan kini kenyataan jika Cean lumpuh dan jelas tidak bisa memegang kendali ARDA KARYA.
Sementara itu, di rumah Dirga. Hellena tampak melamun. Ia tak menyangka jika wanita yang dicintai putranya dan tidak di sukai dirinya adalah putri dari Robi yang tak lain mantan kekasihnya dulu. Pria yang dulu Hellena tinggalkan saat Hellena menerima lamaran bos nya yang merupakan seorang duda beranak dua.
Hellen begitu gelap mata dan lebih memilih materi dari pada Robi yang saat itu masih merintis dengan cara mengikuti ayahnya yang mengabdi pada sebuah perusahaan dan ternyata itu adalah perusahaan ARDA KARYA.
"Mas Robi, kenapa kita harus bertemu lagi?" Gumam Hellena.
"Dirga nenyukai putrinya Robi?" Tanya Hellen bermonolog, kemudian Hellen menggeleng gelengkan kepalanya, "Itu tidak boleh terjadi, Dirga harus segera menikah dengan Yuri. Dirga tidak boleh bersama putrinya Robi, itu akan menjadi cinta terlarang." Hellena menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
**
Malam itu Samudra tidur satu kamar dengan Cean. Cean mengetahui jika Samudra tengah tidak baik baik saja. Cean pun mulai mengajak bicara Samudra.
"Apa aku bukan temanmu?" Tanya Cean memulai percakapan, kini mereka sedang tidur terlentang dan menatap langit langit kamar yang mereka tempati.
"Tentu saja Uncle temanku."
"Lalu mengapa tidak bercerita padaku?"
Samudra diam kemudian mulai berbicara. "Uncle, kenapa Maminya Papi Dirga bilang jika Mommy bukan wanita baik karena melahirkan aku di usia muda?" Tanya Samudra membuat Cean seketika menoleh ke arah Samudra dengan posisi masih berbaring.
"Aku sedih jika ada yang mengatakan Mommy bukan orang baik, apa salah Mommy? Menurutku Mommy adalah Mommy terhebatku. Meski Mommy bekerja, namun Mommy tetap memperhatikanku, merawatku, dan selalu ada untukku." Samudra mulai mengeluarkan air matanya.
Pria kecil berusia enam tahun itu sudah mengerti ucapan ucapan orang di sekitarnya.
"Uncle, Uncle bilang Uncle sudah menemukan Daddy ku? Dimana dia? Kenapa dia tidak segera pulang dan menemuiku? Apa Daddy juga pergi karena Mommy bukan orang baik?" Samudra menangis semakin histeris, emosi yang masih labil membuat Samudra mudah meledak.
Cean berusaha sekuat tenaga menggeser tubuhnya untuk memeluk Samudra. "Aku benci mereka yang mengatai Mommy tidak baik, aku tidak suka sama mereka, Uncle." Kata Sam masih dengan menangis dan Cean memeluknya dengan susah payah.
__ADS_1
Hati Cean berdenyut nyeri, tanpa terasa dirinya pun ikut menangis. "Maafkan Daddy, Sam." Ucapan itu terlontar tapi hanya bisa dalam hati Cean.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...