
Cean berjalan menuju IGD saat Dirga memberitahu kabar Nadlyn.
Dilihatnya Samudra yang menangis sambil digendong oleh Dirga.
"Daddy..." Panggil Samudra dan Cean segera menghampiri Dirga lalu mengambil alih Samudra.
"Mommy, Dad..." Kata Samudra dengan tersedu sedu.
"Tenanglah, Kak.. Daddy yakin Mommy akan baik baik saja."
"Tadi Sam melihat Mommy berdarah." Kata Samudra lagi.
Cean memejamkan matanya, rasanya sakit sekali membayangkan Nadlyn yang mengeluarkan darah.
"Tidak apa apa, Mommy Sam kan Mommy yang kuat." Bisik Cean menguatkan Samudra, padahal Cean sendiri begitu takut terjadi sesuatu pada Nadlyn.
"Cean..." Pras yang menangani Nadlyn memanggil Cean.
Dirga mengambil alih kembali Samudra dari Cean.
"Dad, bagaimana Nadlyn?"
"Kita harus mengeluarkan bayinya." Kata Pras dengan cemas.
"Tapi kandungannya baru delapan bulan, Dad."
Pras menepuk pundak Cean. "Ini yang terbaik."
"Bagaimana dengan bayinya?" Tanya Nanda yang sedari tadi bersama Yuri di rumah sakit.
"Tadi masih terdengar detak jantungnya. Semoga bisa diselamatkan."
"Carikan dokter terbaik untuk putriku, Dad."
Pras mengangguk, "Tandatangan untuk prosedur rumah sakit, Daddy dan Uncle Regan akan mengoperasi istrimu."
"Cean ingin ikut di dalam, Dad."
"Tidak bisa, Samudra juga membutuhkanmu. Tenangkan Samudra." Ucap Pras dan Cean pun mengerti hal itu.
Yuri menceritakan detailnya pada Cean di depan Dirga, Nanda dan juga Robi. Sementara Samudra tengah ikut bersama Hellena untuk mengisi perutnya di cafetaria bawah untuk mengalihkan perhatian Samudra.
"Jadi sekarang Rena di kantor polisi?" Tanya Robi.
Dirga mengangguk, "Iya Pa.. Pihak sekolah Samudra juga sudah memberikan bukti CCTV jika Rena melakukan itu dengan sengaja dan ada unsur penculikan berencana yang akan di lakukan Rena pada Samudra."
"Papa dengar dia sering keluar masuk penjara, siapa penjaminnya?"
"Papa Hermawan." Jawab Dirga.
"Kali ini Hermawan tidak akan bisa membebaskan Rena lagi."
"Maafkan Papaku, Pa..." Sahut Yuri. "Papa slalu saja membebaskan Kak Rena karena tekanan dari keluarganya."
"Ini bukan salahmu, Yuri. Papa mengerti posisimu, jangan salahkan dirimu. Papa hanya memastikan kali ini Hermawan tidak akan bisa membebaskan Rena karena akan mengancam perusahaannya." Tekan Robi dan Yuri mengerti.
"Iya Pa, ancam Hermawan dan keluarganya dengan mengambil alih perusahaannya agar dia tidak membantu Rena lagi." Kata Cean yang merasa geram.
__ADS_1
"Tetapi Kak Rena mempunya kekasih, Kak Rena wanita simpanan seorang pengacara yang mempunyai koneksi di kepolisian dan pengadilan." Sahut Yuri memberitahu.
"Akan Papa bereskan, akan Papa hancurkan semua yang berani membantu Rena." Kata Robi dengan tidak main main.
"Tuan Cean, bayi anda sudah lahir dan kini ada di inkubator." Kata suster memberitahu.
"Bayiku sudah lahir Sus?"
"Iya Tuan, anda ditunggu oleh dokter Sasha di ruangannya."
"Ayo Mommy temani." Ajak Nanda yang tidak sabar.
Cean dan Nanda masuk ke dalam ruangan dokter Sasha. Cean segera menjabat tangan dokter Sahsha dan menanyakan kondisi putrinya.
"Bagaimana putri saya, Dok?"
Dokter Sasha tersenyum, "Putri anda baik, lengkap dan sempurna, tidak di temukan gejala kelainan. Hanya saja berat badannya masih kurang karena terlahir sebelum waktunya, paru parunya belum begitu matang, jadi kita akan rawat di dalam inkubator hingga berat badannya stabil dan akan kita pantau 24 jam." Jelas dokter Sasha panjang lebar.
Cean menghela nafas leganya.
"Terimakasih, dok." Ucap Nanda mewakili. "Apa kita boleh melihat bayinya, dok?"
Dokter Sasha tersenyum, "Tentu saja boleh."
Suster mengantarkan Cean dan Nanda untuk melihat bayi perempuan Cean dan Nadlyn. Dengan memakai baju khusus, mereka masuk kedalam ruangan khusus bayi dan Cean melihat bayinya yang tengah tertidur.
"Hai, aku Daddymu." Kata Cean berbisik seolah sang bayi bisa mendengarnya.
Tanpa sadar, Cean menitikan air matanya. "Terimakasih sudah mau bertahan, Daddy harap, Mommy mu juga akan kuat sepertimu."
Cean kembali ke depan ruangan operasi dimana Nadlyn masih berjuang di dalam sana. "Ini lama sekali, Mom." Lirih Cean.
"Kuatlah Cean. Demi Samudra."
Cean hanya mengusap wajahnya kasar.
Setelah beberapa waktu, akhirnya operasi itu selesai. Baik Pras dan Regan merasa lega karena operasi berjalan dengan lancar.
Nadlyn di pindahkan ke ruang perawatan eksekutif setelah kondisinya membaik di ruangan observasi.
"Dad, berapa lama Nadlyn akan sadar?"
"Beberapa jam lagi, Cean. Tunggulah. Nadlyn baik baik saja, tinggal pemulihan." Jawab Pras.
Cean meraih tangan Nadlyn dan meletakan di pipinya. "Bangunlah, Honey.. Aku menunggumu."
Cean menunggu Nadlyn bersama Robi. Sementara itu, Samudra menginap di rumah Dirga dan Yuri, Hellena pun ikut menemani Samudra karena Robi berada di rumah sakit ikut menjaga Nadlyn.
"Mi.. Ini enak sekali." Kata Samudra saat Yuri memberikan macaroni schotel pada Samudra.
"Kalau begitu habiskan."
Hellena memperhatikan Yuri yang kini makan dengan porsi yang cukup banyak.
"Istrimu makannya banyak sekali, biasanya Yuri tidak seperti itu. Mami lihat, sepertinya Yuri sekarang lebih berisi ya." Bisik Hellena pada Dirga.
"Benarkah, Mi..? Aku tidak memperhatikannya, tetapi memang bagian favorit Dirga sepertinya lebih membesar." Jawab Dirga dengan absurd.
__ADS_1
Hellena menyentil kening Dirga dan Dirga mengusapnya. "Dasar pria, pikirannya selalu mesum."
Dirga tertawa. "Tapi para wanita menyukainya, kan Mi?" Tanya Dirga.
"Sudah sudah, kamu ini tidak malu membicarakan hal ini pada Mami." Kesal Hellena. "Mami merasa jika Yuri sedang hamil." Imbuhnya lagi.
"Hamil, Mi? Tapi aku tidak pernah melihat Yuri mual apa lagi sampai muntah."
"Iya, karena setiap wanita itu berbeda, Yuri kuat sekali, mungkin ada bawaan hamil yang lain selain mual." Jawab Hellena.
Robi tampak berpikir. "Yuri sekarang jadi hobi tidur dan malas mandi, Mi." Bisik Dirga.
"Benarkah, sepertinya Yuri memang hamil. Kapan Yuri terakhir datang bulan?"
Dirga tampak berpikir. "Sepertinya satu bulan ini Dirga melakukannua full tanpa jeda, Mi.. Sepertinya bulan ini Yuri tidak mendapatkan periodenya ".
"Ya Tuhan Dirga... Kamu hapal sekali jatah cutimu dan tidak sadar jika kamu bulan ini tidak cuti." Cibir Hellena.
"Memangnya Papa Robi tidak seperti itu?" Dirga balik meledek Hellena dan meninggalkan Hellena sebelum Hellena menyentil kembali keningnya.
"Dasarr, anak dan ayah sama saja." Gumam Hellena sambil tersenyum.
"Boy, sudah waktunya tidur." Kata Dirga pada Samudra.
"Aku tidur dimana, Pi?"
"Mau tidur bersama Papi dan Mami?" Tanya Dirga.
"No, Pii. Aku sudah besar, mau tidur sendiri."
"Sam berani?" Tanya Yuri tidak tega.
"Tidur bersama Oma saja." Sahut Hellena.
Dirga sangat tau jika Samudra tidak mungkin tidur bersama orang yang belum terlalu dekat dengannya, tetapi Dirga dan Yuri juga tidak tega jika Samudra tidur di kamar tamu. Mungkin setelah ini Dirga akan membuatkan kamar khusus untuk Samudra agar Samudra mau menginap dirumahnya seperti saat ini.
"Sam tidur di kamar Papi dan Mami saja ya." Kata Yuri.
"Baby, biar malam ini aku tidur dengan Sam di kamar tamu ya." Kata Dirga pada Yuri.
Yuri mengangguk setuju, "Iya, aku tidak tega jika Samudra tidur sendiri. Biar di temani Papi ya, Sam."
Samudra mengangguk. "Terimakasih, Mi.. Sam sayang sekali dengan Mami." Kata Samudra sambil mencium pipi Yuri.
Yuri tersenyum, "Mami juga menyayangimu, Mami berharap Sam sering menginap disini, nanti Mami akan membuatkan Sam kamar untuk disini."
Dirga tidak menyangka jika apa yang ia pikirkan, sama dengan yang Yuri pikirkan. Dirga juga begitu bersyukur karena memiliki istri yang begitu lembut dan mau menganggap Samudra sepertinya putranya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Note:
Satu Like, Satu Vote, Satu Komentar dari kalian,
Sangat berarti untukku menaikkan Novel ini.
Please jangan jadi silence readers.
__ADS_1