
Yuri langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur sepulang dari rumah Nanda.
"Baby, ganti bajumu dulu." Kata Dirga sambil melepas kaos kerahnya dan memperlihatkan dadanya yang bidang.
"Aku malas sekali kena air, Kak."
Dirga mengambilkan kapas dan pembersih wajah milik Yuri kemudian duduk di tepi ranjang dan dengan telaten membersihkan wajah Yuri dari make up nya.
"Bersihkan dulu tubuhmu, Baby.."
"Tapi aku malas terkena air, Kak."
"Aku mandikan, mau?"
Yuri membuka matanya dan melihat dada bidang Dirga membuat darahnya berdesir. Dirga dengan senagaja menggoda Yuri dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Yuri yang sudah terangkat make up nya.
Dirga mengecup sekilas hidung mancung Yuri. "Ayo mandi."
Tangan Yuri terulur mengusap dada bidang Dirga. "Kakak seksi sekali."
"Mau lihat yang lebih seksi lagi?" Tanyanya menggoda. "Ayo mandi." Ajaknya dan Dirga mengangkat tubuh mungil Yuri.
Di kamar mandi, Dirga mendudukan Yuri di atas closset dan mengeluarkan dua buah alat tespek. "Baby, aku ingin kamu mencoba ini."
Yuri melihat ke arah Dirga. "Ini apa Kak?"
"Entah mengapa aku merasa kamu berbeda, mungkinkah kamu sedang hamil?" Tanya Dirga.
Yuri menyipitkan matanya sambil berpikir, "Hamil?"
"Bulan ini. Aku tidak ada liburnya, kita setiap malam melakukannya." Kata Dirga lagi.
Yuri membekap mulutnya. "Tanggal berapa ini, Kak?"
"Tanggal tiga puluh satu."
"Aku belum mendapatkan periodeku, Kak. Harusnya awal bulan aku sudah mendapatkan periodeku dan ini sudah akhir bulan."
Dirga nengangguk. "Ayo coba."
Yuri segera mengambil alat tespek itu dari tangan Dirga, "Tapi bagaimana jika aku negatif, Kakak akan kecewa?"
"Tidak, itu tandanya kita belum di percaya dan harus berusaha lebih giat lagi."
"Kalau begitu Kakak keluar dulu."
"Tidak mau, aku mau melihatnya."
"Tapi aku malu."
"Aku suamimu, Baby. Apa kamu lupa?"
Yuri hanya menghela nafasnya, tanpa berdebat lagi Yuri segera membuka seluruh pakaiannya di depan Dirga.
"Oh Baby, kamu menggodaku."
"Kan aku sudah bilang, Kakak keluar." Ucapnya sambil duduk dan mencoba alat tespek itu di depan Dirga.
Hampir satu menit menunggu, tulisan pregnant muncul di layar kecil. Yuri membekap kembali mulutnya. "Kakkk."
__ADS_1
Dirga pun melihatnya langsung mengusap wajahnya, kemudian berlutut dan menciumi wajah Yuri bertubi tubi. "Baby, aku akan menjadi Papi lagi."
"Lagi?" Tanya Yuri dengan heran.
Dirga mengangguk, "Samudra yang pertama memanggilku Papi, dan kini calon anakku sendiri akan memanggilku Papi." Jawab Dirga. "Terimakasih Baby, I love U, I love U so Much, Baby."
Hati Yuri begitu tersentuh mendengar ungkapan hati Dirga. "Sebegitu besarkan Kakak mencintaiku?"
Dirga menangkup wajah Yuri, "Iya, jangan ragukan itu." Dirga menggendong Yuri ke dalam bathtub yang sudah dipenuhi air hangat sebelumnya. Kemudian dengan posisi memeluk Yuri dari belakang, tangan Dirga terulur mengusap perut Yuri.
"Aku bahagia sekali."
"Benarkah?"
Dirga mengangguk, "Besok kita ke dokter ya."
Yuri mengangguk. "Terimakasih, Kak."
Berita kehamilan Yuri sudah tersebar di telinga Hellena dan juga Nadlyn. Hellena sangat bahagia menyambut kehadiran cucunya dan Nadlyn juga ikut merasakan kebahagiaan itu.
Dirga menjadi suami yang begitu siaga, bahkan Dirga melarang Yuri mengelola salonnya yang tengah berkembang dan mengalihkannya untuk sementara pada Vincent. Dirga mengancam akan menjual salonnya jika Yuri tidak menurutinya dan Yuri pun terpaksa mengikuti kemauan Dirga.
Di kehamilannya, Yuri sama sekali tidak merasakan mual, yang ada Yuri selalu makan dan membuat tubuh idealnya kini sedikit membengkak.
"Aku sudah tidak seksi lagi." Kata Yuri sambil melihat tubuhnya di depan cermin besar di dalam walk in closet, ia sengaja memakai lingerie untuk menggoda Dirga, namun Yuri mengurungkan niatnya setelah melihat tubuhnya yang membengkak.
Sebuah tangan melingkar di perut Yuri, Dirga memeluk Yuri dari belakang.
"Kakak..." Yuri terkesiap ketika tangan Dirga melingkar begitu saja di perutnya yang sudah membuncit.
Kini kandungan Yuri sudah memasuki usia tujuh bulan dan Yuri di prediksi mengandung bayi perempuan.
Melihat Yuri yang memakai lingerie dan memperlihatkan tubuhnya yang dianggap seksi membuat hasrat Dirga menjadi naik.
"Aku gendut. Kak."
"Tidak, kamu seksi sekali. Apa lagi ini semakin membesar." Jawab Dirga dengan meremmass satu bagian dadanya.
"Ishh Kakakk."
"Aku mau sayang.. Aku mau menjenguk Baby girl." Kata Dirga dengan suara beratnya.
"Kakak gak ilfeel sama aku?"
Dirga membalikan tubuh Yuri untuk menghadapnya. "Kamu tetap terlihat selalu cantik di mataku karena aku begitu mencintaimu."
Yuri mengecup hidung mancung Dirga. "Aku masih saja seperti bermimpi, Kakak memberiku banyak cinta yang dulu tidak pernah aku dapatkan."
**
Cean terbangun saat Lova menangis karena kehausan, ia segera mendekat ke arah ranjang bayi dan menggendong tubuh mungil bayinya itu.
"Hai cantik, kamu haus ya?" Tanya Cean sambil menimang pelan sang bayi.
Lova menggeliat dan Cean tertawa lalu mencium dengan gemas pipi Lova.
"Ohh kamu lucu sekali, Sayang... Kaka Sam pasti selucu kamu saat bayi dulu." Ucapnya Cean dengan tersenyum getir karena menyesal melewati masa bayi Samudra.
"Dad, Lova bangun?" Tanya Nadlyn yang ikut terbangun.
__ADS_1
"Iya Honey, Sepertinya Baby Love haus."
"Sini, biar aku susui."
Cean memberikan Lova pada Nadlyn kemudian mengatur sandaran Nadlyn agar nyaman.
"Terimakasih, Dad."
Cean tersenyum sambil melihat wajah bayinya.
"Apa dulu Samudra juga sering terbangun untuk menyusu?" Tanya Cean.
Nadlyn mengangguk. "Jangan di ungkit lagi, Dad.. Aku tau kamu menyesal."
Cean mengusap pipi Lova yang tertidur sambil menyusu. "Aku benci diriku sendiri di masa lalu, Honey.."
"Tapi aku slalu mencintaimu, Cean." Ucap Nadlyn dengan tulus.
Cean menatap mata Nadlyn yang meneduhkan.
Tangan Nadlyn terulur menggenggam tangan Cean. "Kamu tau? Aku slalu berdoa setiap malam. Agar rasa cintaku padamu tidak sia sia, aku selalu berdoa agar kamu juga memiliki rasa cinta melebihi rasa cintaku padamu."
"Dan itu terkabul." Balas Cean. "Aku rasa aku sekarang begitu mencintaimu melebihi rasa cintamu padaku." Cean mencium punggung tangan Nadlyn. "Aku memiliki rasa cinta yang besar, untukmu, untuk Samudra, dan juga untuk Lova."
"Ya, aku juga merasakannya."
"Kita besarkan Samudra dan Lova bersama. Kita akan menjadi orang tua terhebat untuk mereka, kita harus kompak dalam mendidik mereka." Kata Cean dan Nadlyn mengangguk.
"Terimakasih, Cean.. Terimakasih sudah mau menyadari perasaanmu, terimakasih sudah menerima Samudra dan menjadi Daddy yang hebat untuk Samudra juga Lova."
"Itu tugasku, Sayang.."
Suara pintu terbuka, terlihat Samudra masuk ke dalam kamar Cean dan Nadlyn.
"Kakak Sam.." Panggil Nadlyn.
Samudra naik ke atas tempat tidur orang tuanya.
"Ada apa, Kak?" Tanya Cean.
"Dad, Sam ingin tidur di sini. Boleh ya?"
"Tentu saja boleh." Jawab Cean.
"Memang kenapa di kamar Kakak Sam?" Tanya Nadlyn dengan lembut.
"Tadi Sam terbagun karena mau pipis, terus gak bisa tidur lagi, Mom."
Nadlyn membelai rambut Samudra. "Begini saja, setiap week end, Kakak Sam dan Baby Love boleh tidur dikamar Mommy dan Daddy. Bagaimana Dad?"
Cean mengangguk setuju. "Daddy setuju sekali, setiap weekend, kita tidur bersama di satu kamar."
Samudra mengangkat satu tangannya. "Terimakasih Mom, Dad.. Sam senang sekali." Ucapnya gembira.
Nadlyn dan Cean saling tersenyum, bagi mereka, prioritasnya kini adalah membesarkan Samudra dan Lova sebaik mungkin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Next alurnya aku percepat ya, jangan kaget Bab selanjutnya sudah masuk Season 2.
__ADS_1
Semangatin aku dong, ramein komentar, like, bantu Vote dan beri hadiah bunga atau kopi gitu 🥺