Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 76


__ADS_3

"Pi..." Samudra memanggil Dirga yang sedang memberi makan koleksi ikan koi nya.


Dirga menoleh ke arah sumber suara, "Hai Boy. Kamu kembali lagi?" Tanya Dirga.


Samudra tersenyum lalu mengambil satu genggam makanan ikan dan ikut menebarnya di kolam ikan yang begitu terawat. Dirga melihat Samudra yang sedang tidak baik baik saja.


"Boy, kamu tidak apa apa?"


Samudra diam dengan pandangan tak lepas menatap ikan ikan itu. "Ternyata dia sudah memiliki kekasih, Pi..."


Dirga tau arah pembicaraan yang di maksud oleh Samudra. "Dia yang kau maksud itu Rill?"


Samudra mengangguk. "Aku menunggunya sejak lama, dan aku menunggu jawabannya selama empat tahun, tapi Rill kembali dengan membawa kekasihnya." Samudra tersenyum getir. "Aku bodoh ya, Pi?"


Dirga melihat keputus asaan dari seorang pria yang sudah ia anggap anaknya sendiri.


"Semua orang bodoh jika berurusan soal cinta, Sam."


"Apa Papi juga seperti itu dulu?"


Dirga meggelengkan kepalanya, "Tidak.. Papi tidak merasa sia sia saat dulu mencintai Mommy mu karena ternyata Mommy mu adalah adik Papi sendiri meski kami berbeda ibu." Dirga menghela nafasnya, "Itu tandanya, Papi mencintai adik Papi dan Papi segera mengendalikan perasaan Papi saat tau Mommy mu itu adik Papi."


"Semudah itu, apa karena ada Mami Yuri?" Tanya Samudra lebih dalam.


Dirga nengangguk. "Mami Yuri mengalihkan semua perasana Papi dan mengobati hati Papi." Dirga tersenyum saat membicarakan Yuri.


"Papi sangat mencintai Mami Yuri?"


"Tentu saja, dan Papi berpikir kamu pun akan menemukan wanita yang tepat yang bisa mengalihkan perasaanmu nanti." Dirga menepuk pundak Samudra.


"Pi, aku menyayangi Papi." Samudra memeluk Dirga.


"Papi juga begitu menyayangimu, terimakasih sudah mencari Papi untuk tempat curhatmu." Dirga tertawa.


Samudra melerai pelukannya, "Papi bukanlah orang lain untukku. Bahkan jika Papi meminta nyawaku sekalipun, aku akan memberikannya Pi.."


Hati Dirga menghangat, ia begitu terharu karena Samudra tidak melupakannya dan tetap menganggapnya bagian yang terpenting dalam hidupnya.


"Makan malam lah disini." Ajak Dirga.


"Ada kekasih Ziv di dalam, Pii."


"Karena itu Papi ingin kamu menemani Papi, Papi malas satu meja dengannya."


Samudra mengangguk, "Ziv juga bodoh ya, Pi."


Dirga tersenyum miris, "Iya, Ziv begitu dibutakan oleh cinta."


"Ziv seperti Papi pada Mami." Samudra tertawa.


"Hai Boy, kau mentertawai Papi?"

__ADS_1


"Ya, Papi bucin sekali pada Mami dan sifat itu menurun pada Ziv."


Dirga dan Samudra tertawa bersama, Yuri yang sedari tadi mendengarkan percakapan Dirga dan Samudra hanya menahan senyumnya, mendengar Dirga yang mengatakan begitu mencintai Yuri.


Malam pun tiba, Samudra mengikuti kemauan Dirga untuk makan malam bersama di rumahnya.


Samudra duduk di sebelah Ziel sementara Zivana dan Daniel berada di sebrang nya.


"Mami memasakan udang saus padang untukmu, Sam." Kata Yuri saat mau menghidangkan piring saji berisikan udang favorit Samudra.


"Thanks, Mi.. Mami selalu tau kesukaanku."


"Tentu saja, kamu juga anak Mami." Balas Yuri dan membuat Dirga tersenyum.


Sedari dulu Yuri slalu bisa dekat dengan Samudra dan menganggapnya juga sebagai putranya. Bahkan Yuri tidak pernah mempersalahkan kedekatan Dirga dengan Samudra.


Namun hal itu membuat Daniel merasa tidak suka.


"Sayang, aku alergi udang." Kata Daniel pada Zivana.


"Mi, udangnya jangan di sajikan, Kak Daniel alergi udang." Kata Zivana pada Yuri.


"Daniel kan bisa makan yang lain, ada ayam panggang, sup jamur, dan yang lainnya." Ucap Yuri.


"Tapi bagaimana jika Kak Daniel tidak sengaja memakannya?"


"Kak Ziv, Kak Daniel itu sudah besar, bukan anak kecil yang bisa lupa dengan makanan alerginya." Sahut Ziel.


Zivana berdiri dari duduknya. "Papi kenapa sih? Sama Kak Sam aja bisa bersikap hangat. Tapi sama tunanganku Papi bersikap dingin." Kesal Zivana.


Samudra melihat Dirga yang memegang dadanya. Samudra berdiri dari duduknya. "Ziv, bicara yang sopan pada Papi." Kata Samudra yang tidak terima Zivana membentak Dirga.


"Kak Sam itu hanya keponakan Papi, kenapa Papi bisa begitu menyayanginya?"


Samudra mengepalkan tangannya, ingin rasanya membentak Zivana namun tidak ingin membuat keributan dan membuat Dirga semakin sakit.


"Pi, ayo Sam antar ke kamar Papi." Kata Samudra dengan menghampiri Dirga.


Dirga mengangguk lalu berdiri.


"Pi, disini ada Daniel, kenapa Papi malah pergi?"


"ZIVANA, PAPI SEDANG SAKIT." Akhirnya Samudra membentak Zivana dan dibentak seperti itu Zivana langsung terdiam.


Zivana baru pertama kali melihat Samudra yang penuh emosi karena biasanya Samudra selalu tenang dan tidak pernah marah.


"Ziv, sudah!!" Sentak Yuri.


"Kak Sam memang hanya keponakan Papi, tapi Kak Sam lebih peka dari Kak Ziv yang anaknya sendiri." Sahut Ziel sambil membanting sendok dan garpunya.


Ziel pun mendekat ke arah Dirga, "Ayo Pii, Ziel dan Kak Sam akan mengantar Papi istirahat."

__ADS_1


"Mi, tolong bawakan makanan Papi ke kamar, Papi harus tetap makan." Ucap Samudra melembut pada Yuri.


"Iya, Sam. Nanti akan Mami bawakan."


Yuri mengalaskan piring Dirga dengan makanan tanpa berkata apapun, Yuri juga merasa sebal dengan kelakuan Zivana, hanya saja Yuri tidak bisa marah karena hatinya terlalu lembut.


"Ziv. Temanilah Daniel makan, Mami harus menemani Papi." Kata Yuri sambil melangkah pergi menyusul Dirga.


**


"Samudra ke rumah Dirga?" Tanya Cean pada Nadlyn.


"Iya, Dirga sakit lagi." Jawab Nadlyn. Kini mereka sedang makan malam bersama dirumahnya.


"Dirga terlalu memforsir pekerjaan." Ucap Cean.


"Bukan, Dad.. Papi terlalu pusing dengan masalah Ziv." Sahut Lova.


"Ada masalah apa lagi?" Tanya Cean pada putri bungsunya itu.


"Ziv dan Kak Daniel memajukan pernikahan mereka, entah apa penyebabnya, Ziv yang cerita ke aku, Dad."


Cean menghela nafas, "Dirga memang tidak menyukai keluarga Daniel hanya karena ayahnya Daniel mempunyai banyak istri dan juga sikap licik saat memenangkan berbagai tender."


"Kak Daniel juga playboy, Dad. Aku juga tidak menyukainya. Tapi Ziv seperti di hipnotis dan dunianya hanya tertuju pada Kak Daniel. Menyebalkan." Lova mencebik.


"Lov, tidak boleh melebih lebihkan seperti itu." Ucap Nadlyn.


"Aku tidak melebih lebihkannya. Mom." Lova menjeda kalimatnya sejenak. "Aku mau cerita tapi Mommy dan Daddy janji merahasiakan ini ya?"


Cean dan Nadlyn saling menatap kemudian Cean mengangguk.


"Kak Daniel bahkan pernah menyatakan cinta padaku. Dan bilang tidak mencintai Ziv." Kata Lova dengan kesal. "Buaya sekali bukan?"


"Really?" Tanya Cean.


"Daddy pasti tidak percaya." Cibir Lova. "Kak Daniel itu buaya, udah tau aku sepupuan sama Ziv. Masih mau di pacarin juga." Kesal Lova.


"Terus, kamu gak nerima kan?" Tanya Nadlyn.


"Ya jelas engga dong, Mom.. Type ku bukan seperti Kak Daniel, aku menolak nya mentah mentah dan mengancam akan mengatakannya pada Ziv."


"Terus, kamu bilang sama Ziv?" Tanya Cean.


Lova menggelengkan kepalanya. "Engga, Mom.. Ziv mana percaya, Ziv terlalu di butakan cinta oleh Kak Daniel, aku sebal jadinya."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku terharu sekali, disaat ada 1 orang yang memberikan nilai ⭐️1, ada beberapa readersku yang lain memberikan ⭐️5.


Aku akan Crazy Up hari ini untuk kalian yang sudah baik hati padaku.

__ADS_1


Terimakasih tak terhingga untuk kalian 💙


__ADS_2