Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 110


__ADS_3

Hari berlalu, kini mereka kembali pada aktifitasnya yakni kembali ke kantor dan bekerja. Samudra masih meminta Zivana untuk bekerja dan menyibukan diri meski Zivana tidak menyukainya.



Zivana merajuk di balik pintu dengan wajah memelas karena tidak ingin bekerja, namun meski sedang merajuk, wajahnya tetap terlihat cantik, dengan memakai blazer berwarna broken white membuat wajah Zivana semakin bersih dan bersinar. Sementara Samudra tetap meminta Zivana bekerja karena ada rencana terselebung yang Samudra simpan seorang diri.



"Ayo Sweety, apa kamu sudah siap?" Tanya Samudra dengan penampilan yang slalu menawan.


"Kenapa aku masih harus bekerja sih Kak? Kan Kakak bilang sewaktu di Maldives, aku sudah di bebas tugaskan dari semua pekerjaanku."


"Iya itu memang benar, tapi bebas tugas dari pekerjaan saja dan alasan sebenarnya agar kamu slalu dekat denganku."


"Tapi sampai kapan?"


"Hemm.. Sampai kamu hamil."


"Ya sudah, cepat hamili aku." Ucap Zivana dengan polos.


Samudra tertawa lalu menarik pinggang Zivana agar menempel padanya lalu mengecup hidung mancung Zivana. "Jangan menggodaku."


Zivana mengerdikan bahunya. "Tanpa aku goda juga Kakak selalu tergoda."


"Karena kamu begitu menarik." Samudra ingin mencium lebih dalam Zivana namun Zivana menahan dadanya.


"Nanti lipstikku belepotan, nanti gairahmu terpancing, nanti kita berakhir di ranjang, nanti kamu tidak jadi bekerja dan kamu menyalahkanku."


Samudra tergelak mendengar apa yang Zivana ucapkan. "Baiklah ayo kita sarapan lalu berangkat ke kantor."


Dengan manisnya, Samudra membawakan tas jinjing milik Zivana dan hal itu terlihat sangat manis sekali.


Selesai sarapan bersama keluarga, Samudra berangkat ke kantor bersama Zivana, sementara Lova tentu saja bersama Cean yang masih aktif memegang perusahaan.


Samudra menggenggam erat tangan Zivana, termasuk saat mereka tiba di loby kantor. Semua mata memandang CEO dan istrinya itu bagaikan sepasang suami istri yang tak terpisahkan.


"Pantas saja Tuan Sam tergila gila pada istrinya. Istrinya cantik begitu."


"Iya, Tuan Sam juga tampan sekali, mereka sangat cocok."


"Lihatlah Tuan Sam, bahkan tas istrinya saja Tuan Sam yang bawakan. Benar benar Tuan Sam bucin sekali pada istrinya."


"Aku juga jika mempunyai istri secantik Nona Ziv, akan sebucin itu."


Para karyawan terus saja memuji pasangan serasi itu, bahkan Samudra mengadakan rapat direksi untuk mengumumkan secara resmi jika Zivana adalah istrinya.


"Kak lepas, aku mau keruanganku."


"Tidak bisa Bee, mulai hari ini ruanganmu pindah ke ruanganku."


"Mana bisa seperti itu."


"Tentu saja bisa, aku CEO dan aku juga suamimu."


Zivana mencebik. "Ish tidak asik."


"Nanti akan aku buat asik."


Zivana menoleh ke arah Samudra sementara Samudra hanya terlihat cuek saja.

__ADS_1


Benar saja, di dalam ruangan Samudra sudah ada meja tambahan dengan kursi kerja yang begitu nyaman. Tidak seperti kursi kerja milik Zivana di ruangan Jimmy sebelumnya.


"Kenapa aku tidak di ruangan Jimmy saja sih Kak?"


"Karena kamu istriku, bukan istri Jimmy."


"Ishh." Zivana mencebik lalu duduk di kursi meja kerjanya.


Jimmy masuk ke dalam ruang kerja Samudra sambil membawa berkas berkas.


"Apa itu?" Tanya Samudra dengan melihat ke arah tumpukan berkas berkas.


"Ini berkas berkas yang harus di tanda tangani oleh Tuan, dan harus diperiksa dulu oleh Nona Zivana." Kata Jimmy.


Samudra bertolak pinggang, "Jadi kamu memberikan pekerjaan sebanyak ini untuk istriku?" Tanya nya mengintimidasi.


Jimmy menelan salivanya kasar.


"Kamu lihat berkas itu, Jimm?" Itu banyak sekali dan akan membuat istriku pusing."


"Ma.. Maaf Tuan. Tapi Tuan sendiri yang menyuruh saya memberi pekerjaan personal asisten pada Nona Ziv."


"Kapan aku berbicara seperti itu?" Tanya Samudra tidak ingin mengaku. "Sekarang kamu periksa berkas itu sendiri sebelum aku tandatangani dan jangan memberi istriku pekerjaan yang berat." Titah Samudra tidak ingin dibantah.


"Ba.. Baik Tuan." Jimmy segera keluar dari ruangan Samudra.


Rani sang sekertaris langsung bertanya pada Jimmy karena mendengar suara teriakan bos nya itu.


"Si Bos kenapa?" Tanya Rani.


"Sepertinya si Bos kena syndrom bucin, istrinya sekarang di pindah ke ruangannya dan tidak boleh di beri pekerjaan."


Jimmy memberikan setengah dari berkas yang harus ia periksa. "Periksa ini saja. Thanks ya Ran."


Sementara itu di dalam ruangan Samudra, Samudra mendekati meja kerja Zivana. "Apa Jimmy selalu memberimu pekerjaan sebanyak itu?" Tanya Samudra.


"Masa Kakak tidak tau. Bukannya Kakak sendiri yang bilang pada Jimmy 'Jim.. Mulai hari ini Zivana menjadi personal asistenku, ajari dia apa saja yang harus di kerjakannya.' Kata Zivana memperagakan gaya bicara Samudra dulu saat pertama kali Zivana ikut bekerja dengannya


"Siapa yang bicara seperti itu?"


"Ya Kakak lah."


"Tidak mungkin, Bee. Masa aku setega itu sama kamu."


"Ishh udah jelas Kakak memang seperti itu padaku."


Samudra mendekat ke arah Zivana yang sedang duduk dan menariknya agar berdiri lalu Samudra mendudukan Zivana di atas meja kerja Zivana dan mendekatkan wajahnya ke wajah Zivana lalu mengecup sekilas bibir Samudra.


"Sorry..." Lirih Samudra, "Aku dulu terlalu keras padamu." Ucapnya sambil merapihkan rambut Zivana ke belakang telinganya.


Tangan Zivana melingkar di leher Samudra, "Aku tau yang Kakak lakukan semua demi kebaikanku."


Samudra mengangguk, "Aku tidak akan lagi melakukan hal itu lagi padamu."


"Benarkah?"


Samudra mengangguk. "Tugas utamamu adalah melayaniku, hanya melayaniku saja, menjadi istri yang baik dan menurut padaku."


Zivana mengangguk cepat.

__ADS_1


"Kalau begitu, sekarang layani aku."


Zivana mendorong dada Samudra agar wajah Samudra menjauh dari wajahnya. "Melayani apa?" Tanya Zivana sambil menyipitkan matanya.


"Aku ingin, Sayang..."


Zivana memukul pelan dada bidang Samudra, "Ish Kakak mesum. Ini kantor Kak."


"Sudah aku kunci pintunya, Sayang."


Zivana tertawa dan Samudra menelusuri leher jenjang Zivana sambil membuka blazer berwarna putih yang Zivana kenakan.


"Kak, dikamar saja."


"Tidak mau, sensasinya akan beda jika di atas meja."


"Ishh Kakak." Tangan Samudra dudah menyingkap rok yang dipakai oleh Zivana dan menelusupkan jari jarinya di bagian inti itu, memainkan dengan lihai dan membuat Zivana mendessyah, "Akhh Kakak."


"Sudah basah, Sayang." Samudra mencium lembut bibir Zivana dan menciumnya dengan Dalam.


Perlahan Samudra membuka ikat pinggang dan menurunkan celananya, mereka bermain dalam posisi Zivana duduk di atas meja sementara Samudra berdiri dan bergerak.


"Kak, akhh.."


"Bee, ini enak sekali."


"Terus Kak..."


"I'm yours Bee..."


Mereka larut dalam penyatuan itu hingga tidak mengingat dimana mereka berada, hingga Samudra menuntaskan permainnannya karena ponselnya berdering.


"Akan aku selesaikan, Sayang." Samudra mempercepat gerakannya dan mereka berdua sama sama mengerang. Nafas mereka tak beraturan dan diakhiri dengan ciuman penuh rasa cinta dari keduanya.


Samudra mengambil tissue basah di laci Zivana dan membersihkan bagian inti Zivana.


"Sepertinya Kakak sudah menyiapkan semuanya disini." Zivana tergelak.


"Tentu saja."


Samudra membenahi pakaiannya. "Bee istirahatlah di dalam." Kata Samudra dengan menunjuk kamar yang digunakan hanya untuk beristirahat.


Zivana mengangguk. "Aku ingin mandi, Kak. Aku tidak betah jika lengket begini."


"Mandilah, Sayang. Pakaianmu sudah ada di dalam."


Zivana kembali tertawa, "Bahkan pakaianku saja sudah Kakak siapkan."


"Aku orang yang selalu memperhitungkan kesiapan, Sayang."


Zivana mengecup sekilas bibir Samudra. "Selamat bekerja suami bucinku. I Love U."


Samudra tersenyum mendengarnya, "Me too, Bee."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Masih edisi pengantin baru padahal udah masuk Season 3 nya Lova dan Jodohnya.


Tapi sepertinya banyak yang belum move on dari bucinnya Samudra dan gilanya Zivana.

__ADS_1


Ramein ya komentarnya, yang belum Vote, please di bantu Votenya, like nya, hadiahnya juga. Supaya rating Novelku naik karena sedang ikut lomba 🙏


__ADS_2