
Seminggu berlalu, Lova tenggelam dalam pekerjaannya.. Ia tak lagi memikirkan percintaannya, yang sekarang dalam pikirannya hanyalah bagaimana caranya untuk melupakan perasaannya pada Kevin King Wiguna.
"Nona Lova, ini ada memo untuk anda." Kata Office boy memberikan sebuah lipatan kertas.
"Dari siapa?"
"Tidak tau, Nona."
"Ya sudah terimakasih." Ucap Lova lalu office boy tadi meninggalkannya.
Lova membuka lipatan kertas itu, dan membacanya "Saat membuka memonya, halisnya jangan berkerut. Nanti cepat tua." -Axelle-
Setelah membaca memo itu, Lova tersenyum dan menutup kembali memonya.
"Kan cantik kalau senyum." Tiba tiba saja suara Axelle membuat Lova terkesiap.
"Lho ada disini orangnya." Lova membalas senyum itu.
"Jemput yang jomblo buat makan siang." Balas Axelle membuat Lova tertawa.
"Kayak kamu gak jomblo aja." Balasnya.
"Nah cocok dong sama sama jomblo." Kata Axelle lagi dan Lova tidak menanggapinya lagi.
"Makan siang yuk." Ajak Axelle.
"Dimana?"
"Di kantin peeusahaan juga boleh."
"Ayo."
Mereka berjalan bersama menuju lift untuk turun ke lantai dasar. "Kamu habis meeting sama Kak Sam?"
Axelle mengangguk. "Iya, aku habis meeting final bersama Kak Sam."
"Sudah tanda tangan kontrak?"
"Belum, masih di siapkan oleh pengacara perusahaan masing masing berkas berkasnya."
Lova hanya menganggukan kepalanya.
"Kak..."
"Hem...."
"Ayo kita jalani hubungan kita dengan serius." Kata Lova tiba tiba membuat Axelle menghentikan langkahnya.
"Ya sudah kalau tidak mau." Kata Lova lalu tetap berjalan menuju lift dan berhenti saat di depan lift khusus petinggi perusahaan.
Axelle dengan langkah lebar menyusul Lova bersamaan dengan pintu lift yang terbuka dan Lova juga Axelle masuk ke dalam lift yang hanya ada mereka berdua.
Axelle memberanikan diri menggandeng tangan Lova kemudian mencium pipi Lova sekilas. "Pacar jangan cemberut, nanti aku gak bersemangat." Ucapnya dengan tatapan lurus ke depan.
__ADS_1
Lova menoleh ke arah Axelle yang berada di sampingnya kemudian balik mencium pipi Axelle dan seketika membuat Axelle membeku, tak menyangka jika Lova berani menciumnya juga meski hanya sebatas pipi.
Axelle semakin mengeratkan genggaman tangannya, "Rasanya aku ingin membawamu saja ke kantor catatan sipil dan menikahimu sekarang juga."
Lova tertawa, "Ish pria pasti pikirannya macem macem."
Axelle hanya tersenyum tak menyangka jika jadiannya hubungan mereka begitu simple dan sederhana, di dalam lift perusahaan.
Kini mereka duduk bersama di kantin perusahaan yang lebih menyerupai kafetaria dan memesan makanan untuk masing masing.
Mereka melanjutkan berbincang ringan untuk mengenal satu sama lain. Satu hal yang Lova suka dari Axelle adalah kepribadian Axelle yang membuatnya nyaman. Seperti saat ini, Axelle tidak menanyakan pada Lova alasan apa yang membuatnya mau menjalani hubungan ini, Axelle juga tidak menanyakan bagaimana perasaannya saat ini. Axelle lebih banyak bertanya soal pekerjaan dan kehidupan Lova sehari hari.
"Nanti pulang sama siapa?" Tanya Axelle saat menyadari jika waktu jam istirahat sudah mau habis.
"Biasanya sama Daddy, tapi kalau Daddy pulang lebih cepat, aku nebeng sama Kak Sam, atau kadang dengan supir jika Kak Sam dan Ziv pergi mengunjungi Papi Dirga."
"Sore ini pulang bersamaku, ya."
"Di jemput pacar?" Tanya Lova dan Axelle tersenyum.
"Sekalian makan malam di rumahku saja, Kak."
"Boleh, tapi akhir pekan ini, gantian kamu yang makan malam dirumahku, ya. Mama ingin bertemu denganmu." Balas Axelle.
"Mamamu tau aku?"
Axelle mengangguk, "Ya, aku sudah menceritakanmu pada Mama saat pertama kali kita berkenalan."
"Ishh..." Lova menyiku lengan Axelle, "Cerita apa?" Tanya nya ingin tau.
Lova menopang dagunya dengan tangannya, "Jadi gak sabar nunggu akhir pekan. Hmm bagaimana dengan saudarimu?"
"Aku belum memberitahunya karena kami berbeda rumah."
"Kok bisa?"
"Allea sudah menikah dan ikut dengan suaminya."
Lova tidak bertanya lagi, namun Axelle ingin menanyakan sesuatu.
"Lov, mungkin ini begitu cepat, tapi aku ingin tau jawabanmu."
"Soal apa?"
"Misal aku mengajakmu ke hal yang serius, apa kamu mau?"
Lova menghela nafas sejenak, "Bukankah kita sedang menjalani hubungan ini dengan serius, Kak?"
"Ya.. Misal aku mengajakmu menikah, apa kamu mau? Atau kamu masih ingin menjalani hubungan ini untuk mengenal satu sama lain dulu?"
Lova tersenyum, "Setiap orang, pasti ingin hubungannya berhasil, Kak. Tidak ada yang ingin gagal dalam hubungannya, aku mengikuti alur saja, jika memang waktunya harus ke jenjang yang lebih serius ya aku juga akan mengikutinya." Jawab Lova membuat hati Axelle merasa tenang.
Lova menjawab pertanyaan Axelle dengan logis dan Axelle bisa menerima jawaban itu yang artinya jika Lova tidak menolak jika memang hubungan mereka harus ke jenjang yang lebih serius.
__ADS_1
"Menurutmu, menikah tanpa cinta apa akan berhasil?" Kali ini pertanyaan Axelle cukup menjebak.
Namun Lova tersenyum, senyum manis yang sangat di sukai oleh Axelle. "Kak Sam dan Ziv juga menikah tanpa cinta. Tapi mereka memiliki komitmen, membangun rasa cinta dan membuang masa lalu, berjalan ke depan tanpa melihat lagi kebelakang, dan sekarang semua orang melihat, betapa bucinnya Kakakku itu pada Ziv."
Axelle ikut tersenyum, "Ya, aku juga melihatnya, Kakakmu begitu mencintai bahkan memuja istrinya."
"Kak..."
"Hem..."
"Menurutmu sendiri, apa hubungan tanpa cinta itu akan berhasil?" Kali ini Lova yang balik bertanya.
"Aku yakin bisa membuatmu mencintaiku."
"Dengan cara apa?"
"Dengan cara memberimu banyak cinta." Jawab Axelle yang memang juga cukup logis.
Lova tersenyum, "Kayak Kamu udah cinta sama aku saja?"
"Hati orang mana tau, Love."
Mereka akhirnya menyudahi acara makan siang itu dan Lova kembali ke ruangannya sementara Axelle kembali ke perusahaannya.
Di parkiran, Axelle berpapasan dengan Kevin dan juga Kenzo. Kevin menatap tidak suka pada Axelle dan tiba tiba saja menarik kerah jas Axelle.
"Kev, hentikan." Kenzo mencoba melerai.
"Jauhi Lova, dia milikku." Sentak Kevin pada Axelle sambil melepaskan kasar cengkramannya itu.
Axelle tetap tenang menanggapinya. "Tuan Wiguna, saya tidak tau seberapa dalam anda mencintai Lova. Tapi saat saya mendekati Lova, dia adalah wanita yang bebas dan saya sudah memastikan sebelum mendekatinya."
"Kurang ajar." Geram Kevin dan ingin meninju Axelle namun dapat di cegah oleh Kenzo.
"Ada apa ini?" Sahut Cean yang baru saja kembali dari makan siang bersama kliennya.
"Kevin, ada masalah apa hingga kau mau memukul tamuku?" Tanya Cean yang melihat posisi Kevin di posisi yang salah saat ingin memukul Axelle.
"Maafkan aku, Uncle."
"Kalian kesini untuk membuat onar atau untuk membicarakan bisnis? Jika hanya untuk membuat onar, lebih baik batalkan kerjasama kita." Ancam Cean.
"Uncle, ini hanya salah paham." Bela Kenzo.
"Ken, aku menghormati ibu kalian sebagai kerabat jauh dari keluarga kami. Tapi Uncle tidak bisa menerima jika saudara kembarmu mengancam siapapun pria yang mendekati Lova. Lova wanita bebas yang bisa dekat dengan siapapun." Tegas Cean.
"Aku mencintai Lova, Uncle." Kata Kevin pada akhirnya.
Cean menghela nafasnya sejenak, "Kev, hubunganmu dan Lova tidak bisa berlanjut lebih. Jangan membuat Mama mu menanggung rasa bersalah lagi. Bahagiakanlah Mama mu tanpa harus berurusan soal cinta dengan keturunan ARDA KARYA."
"Biarkan Lova yang berbicara, Uncle. Uncle juga harus memikirkan perasaan Lova." Ucap Kevin dengan berani dan seketika membuat Cean diam membisu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Senin terakhirku di Novel ini. Please bantu Vote ya di hari senin ini.
Novel ini akan tamat beberapa Bab lagi 🥺