
"Mom..." Panggil Samudra saat Nadlyn menemaninya tidur di kamar Samudra.
"Hem.."
"Mommy tidak akan menangis lagi jika menginap di rumah Oma?" Tanya Samudra.
Nadlyn terdiam, entah mengapa semenjak melihat Cean yang yang dekat dengan Samudra meski belum mengakui dirinya sebagai Daddynya, membuat hati Nadlyn sedikit melunak dan rasa marah seolah meluap begitu saja.
"Mom..." Panggil Samudra lagi.
"Mommy tidak apa apa Sam, Mommy hanya ingin membantu Oma untuk menjaga Uncle." Jawab Nadlyn.
Samudra mengangguk, "Sam tidak ingin melihat Mommy menangis lagi. Janji ya, Mom."
Nadlyn mengusap lembut kepala Samudra. "Ya, Mommy tidak akan menangis lagi." Jawabnya dengan tenang.
Pagi hari menjelang, Dirga masih terlelap tidur dan malas untuk bangun. Hingga wangi parfum seseorang begitu menusuk bagian hidungnya.
Dirga perlahan mengerjapkan matanya, dan ia melihat seorang wanita yang tidak ingin ia lihat.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Dirga terkejut. "Berani sekali kau masuk ke dalam kamarku."
Yuri tersenyum manis, "Bukankah ini akan menjadi kamar kita, Kak?" Tanya Yuri.
Dirga bergidik ngeri, ia tak bisa membayangkan jika harus melihat wajah Yuri setiap pagi, apa lagi jika sampai harus berbagi ranjang dengan Yuri.
"Keluar dari kamarku." Kata Dirga memerintah.
"Ishh Kak Dirga kenapa galak sekali sih, bikin aku makin cinta." Ucap Yuri tersenyum lalu beranjak meninggalkan kamar Dirga.
"Ya Tuhan, Mamii.. Nemu dimana sih wanita aneh itu?" Gumam Dirga sambil megusap wajahnya kasar.
Dirga segera bangun dan membersihkan diri, kemudian ia berpakaian kerja lalu segera turun untuk sarapan.
"Pagi, Mi." Sapa Dirga sambil mencium pipi Hellena lalu duduk di kurisnya.
"Kak Dirga tidak menciumku?" Tanya Yuri sambil menyodorkan pipinya.
Dirga menatapnya tajam dan hal itu membuat Yuri memberengut kesal.
"Awas saja nanti, aku akan buat Kakak bucin sebucin bucin nya padaku." Ucap Yuri.
Dirga hanya memutar malas bola matanya sementara Hellena hanya tersenyum.
"Apa rencanamu hari ini?" Tanya Hellena pada Dirga.
"Kerja di kantor sampai sore, dan sore nanti aku akan mengunjungi Samudra." Jawab Dirga yang sudah mendapat lampu hijau untuk tetap berhubungan dengan Nadlyn tapi tidak untuk menjalin kasih.
Hellena hanya tidak ingin jika Robi semakin membencinya karena Hellena memandang rendah Nadlyn, putrinya Robi. Oleh karena itu, Hellena mengijinkan Dirga untuk tetap berteman dengan Nadlyn dengan syarat tidak membatalkan pertunangannya dengan Yuri.
__ADS_1
"Aku ikut dong Kak, aku juga kangen sama Samudra." Jawab Yuri berbinar.
"Yuri, kamu tidak cemburu dengan Nadlyn?" Tanya Hellena karena melihat Yuri begitu menerima kedekatan Dirga dengan Nadlyn dan Samudra.
"Apa yang harus di cemburui, Mi? Kak Nadlyn tidak mengejar ngejar Kak Dirga. Kak Nadlyn bukan wanita murahan yang menggoda Kak Dirga. Aku tidak cemburu padanya." Jawab Yuri.
Hellena hanya diam saja mendengar hal itu.
"Boleh ya Kak, aku ikut." Rengek Yuri dengan manja.
Dirga menghela nafas, "Terserah."
**
Nadlyn sudah mulai tinggal untuk sementara di rumah Nanda. Selepas mengantar Samudra ke sekolah nya, Nadlyn kembali ke rumah Nanda untuk melihat Ocean.
"Cean ada yang bisa aku bantu?" Tanya Nadlyn.
"Kamu tidak bekerja?" Bukannya menjawab, Cean malah balik bertanya.
"Aku bisa mengerjakan pekerjaanku dari rumah dan mengirim rancanganku via email." Jawab Nadlyn.
Cean hanya mengangguk, "Aku ingin mandi, tapi aku kesulitan membuka pakaianku dan memakainya kembali." Kata Cean apa adanya.
Nadlyn yang mendengar hal itu hanya diam membeku, Nadlyn melupakan satu hal jika Cean mengalami lumpuh dan tidka bisa mengurus dirinya sendiri.
Dan entah mengapa rasanya Nadlyn tidak rela jika Cean dirawat oleh suster.
Nadlyn mendekat pada Cean. "Aku harus mulai dari mana?" Tanya Nadlyn.
Cean menaikah satu halisnya, rasanya entah mengapa ia ingin menggoda Nadlyn.
"Aku bisa membuka pakaianku, tapi aku kesulitan membuka celanaku." Katanya sedikit menyeringai.
"Mau buka dimana?" Tanya Nadlyn yang mulai merutuki dirinya sendiri karena enggan memanggil suster.
"Di kamar mandi saja." Jawab Cean.
Nadlyn mendorong kursi roda Cean ke dalam kamar mandi, Perlahan Cean membuka pakaiannya sendiri dan kini hanya tinggal celananya saja.
"Biasanya bagaimana kamu membukanya?" Tanya Nadlyn.
"Mommy yang membukakannya dan aku merangkul leher Mommy."
Lagi lagi Nadlyn terdiam, mana mungkin dirinya membuka celana milik Cean.
"Nad..." Panggil Cean.
"Kamu tidak apa apa?" Tanya Cean kembali.
__ADS_1
Nadlyn mencari sebuah handuk lalu ia coba lingkarkan di piggang Cean. "Angkat sedikit tubuhmu, bisa?" Tanya Nadlyn.
Cean melingkarkan tangannya di leher Nadlyn dan mencoba mengangkat tubuhnya. Nadlyn perlahan membuka celana Cean yang sudah tertutup handuk.
Cean sengaja mencoba menggoda Nadlyn dengan menderukan nafasnya di ceruk leher Nadlyn membuat Nadlyn berdesir seketika.
Nadlyn menahan gejolak yang ia rasa, sebagai wanita dewasa, Nadlyn membutuhkan hal itu, hanya saja Nadlyn tidak akan jatuh ke lubang yang sama apa lagi bersama dengan orang yang sama.
Nadlyn membantu Cean untuk duduk di atas toilet. "Panggil aku jika sudah selesai." Kata Nadlyn dan meninggalkan Cean di dalam kamar mandi.
Cean menghela nafasnya, "Ternyata aku tidak impoten, milikku masih bereaksi, sepertinya dia hanya bereaksi hanya pada rumahnya saja." Gumam Cean sedikit senang.
"Ternyata aku masih perkasa." Gumamnya lagi sambil membuka handuknya dan terlihat pusakanya yang sudah menantang.
"Nadlyn, aku akan sembuh dan mengejarmu lagi." Ucapnya dengan gembira.
Sementara itu Nadlyn merasa jantungnya berdegup sangat kencang. Nadlyn duduk di tepi tempat tidur Cean, mendongakan kepalanya dan memejamkan matanya. Kedua tangannya meremmass seprai. Nadlyn mengingat kejadian beberapa menit lalu, hembusan nafas Cean di ceruk lehernya, wangi tubuh Cean yang ia rindukan membuat Nadlyn berhasrat.
"Ini gila." Gumam Nadlyn. "Kenapa sulit sekali membencimu Ocean." Imbuhnya lagi.
Untuk menjaga kewarasannya, Nadlyn memutuskan memanggil supir keluarga untuk membantu Cean berpakaian, ia tidak ingin lagi merasakan sesuatu yang aneh yang ia rasakan.
Sementara itu, Cean menahan tawanya saat mengetahui jika supir keluarga yang membantunya untuk berpakaian. "Nadlyn pasti tergoda olehku." Batinnya.
Cean segera keluar dari kamarnya untuk menemui Nadlyn yang sedang duduk di depan laptopnya di halaman belakang.
"Nad, bisa tolong antar aku ke rumah sakit?" Tanya Cean pada Nadlyn.
Nadlyn menatap Cean dengan tatapan tidak bisa di artikan. "Cean minta di antar ke rumah sakit? Apa untuk menjemput suster untuknya? Apa Cean tersinggung karena aku menyuruh supir keluarga untuk mengurusnya barusan?" Batin Nadlyn.
"Nad.." Panggil Cean lagi.
"Mau apa ke rumah sakit?" Tanya Nadlyn.
"Mau konsultasi dengan dokter." Jawab Cean yang membuat Nadlyn sedikit lega.
Cean memang berencana bertemu dengan dokter pribadinya untuk mengatakan jika miliknya bisa bereaksi dan untuk melakukan cek ulang pada kesehatannya. Setidaknya salah satu keluhan yang Cean alami bisa sembuh dan Cean tinggal fokus pada kakinya saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Note:
Novelku masuk ke dalam lomba Terjerat Benang Merah season 2 dengan tema Menikah karena Anak.
Mohon dukungannya ya dengan memberiku Like, hadiah, dan juga Vote.
Berikan juga komentar setiap habis membaca meski sebatas kata Up atau kata untuk menyemangati aku.
Dukungan teman teman semua sangat berarti untukku.
__ADS_1