Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 102


__ADS_3

Zivana keluar dari Villa dan terkejut saat melihat wanita tadi masih berada di depan pintu villanya. Namun Zivana tidak ambil pusing, ia segera berjalan melewati wanita tadi.


"Pasti Kak Sam membayar mahal wanita itu, sampai wanita itu rela berdiri lama di depan pintu Villa." Gumam Zivana yang tidak dimengerti oleh wanita itu.


Zivana Berjalan menuju restoran yang sudah sudah di siapkan oleh Samudra, ia menatap heran karena restoran ini seperti restoran privat bahkan ada dekorasi minimalis namun tidak mengurangi keindahannya.


Zivana berjalan menelusuri jalan yang di hiasi oleh lilin lilin kecil menuju meja yang sudah dipesan oleh Samudra. Zivana tersenyum melihat indahnya dekorasi itu meski dirinya belum menyadari jika dekorasi sederhana itu ditunjukan untuknya.


Zivana menghentikan langkahnya dan ternyata baru menyadari jika wanita tadi sudah tidak mengikutinya lagi. "Kemana wanita itu?" Namun Zivana kembali cuek dan segera berjalan ke dalam restoran itu.


Zivana kembali menghentikan langkahnya saat melihat pria yang begitu mempesona di matanya, tiba tiba saja jantung Zivana berdegup kencang saat Samudra berjalan mendekat ke arahnya. Bahkan Zivana tak berkedip melihat ketampanan Samudra yang memang sudah tampan sedari kecil.


Samudra meraih tangan Zivana yang terasa dingin lalu mencium punggung tangannya dengan tatapan tak lepas dari menatap wajah cantik Zivana, sementara itu wajah Zivana merona merah saat diperlakukan lembut oleh Samudra.


Samudra semakin mendekatkan diri dihadapan Zivana dan meraih pinggang Zivana agar mau menempel pada dirinya. "Kamu cantik sekali." Kata Samudra setengah berbisik.


"Kakak juga tampan sekali."


Samudra tersenyum, ia melihat riasan natural Zivana yang cocok sekali dengan gaun yang dipilihkan Samudra untuknya.


"Ayo masuk." Ajak Samudra lalu menggandeng tangan Zivana dan Zivana mengikuti langkah Samudra.


Samudra menarik kursi untuk di duduki oleh Zivana.


"Terimakasih, Kak." Kata Zivana setelah duduk dengan sempurna lalu Samudra duduk dihadapan Zivana dengan terhalang meja bundar.


Mata Samudra terus saja tak lepas menatap wajah cantik Zivana seolah tidak bosan terus memandanginya. Melihat hal itu Zivana menjadi gugup dan grogi.


"Kak, dimana partner kerja yang akan bertemu dengan kita?" Tanya Zivana.


"Tidak ada."


Zivana mengernyitkan dahinya. "Maksud Kakak?"


Samudra berdiri dari duduknya dan mengajak Zivana untuk berdiri. Lalu Samudra mengajak Zivana untuk berdansa dengan di iringi lagu romantis, Zivana mengalungkan kedua tangannya di leher Samudra dan menatap mata Samudra yang tengah menatapnya hangat. Sementara itu tangan Samudra memegang pinggang Zivana.


"Suka dengan Kejutan ini?" Tanya Samudra.


"Kejutan ini untukku?"


Samudra tersenyum dan mengangguk. "Aku menyiapkan semua ini untukmu."


"Kita kesini bukan untuk bekerja?" Tanya Zivana sambil berdansa bersama Samudra.


"Tidak ada pekerjaan umtukmu disini, urusan pekerjaan sudah aku selesaikan tadi."


Zivana terdiam, ia masih belum mengerti apa artinya semua ini, Zivana merasa dirinya bermimpi dan Zivana tidak ingin bangun dari mimpi indah ini.

__ADS_1


"Ada yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Samudra yang melihat Zivana seperti bingung.


Zivana menggelengkan kepalanya, "Tidak."


"Jangan bohong." Ucap Samudra lembut. "Katakan padaku apa yang ingin kamu tanyakan?"


Zivana hanya terdiam, ia tidak mengatakan hal apapun hingga Samudra mengecup bibirnya. "Katakan apapun yang kamu tanyakan, aku akan menjawab semuanya."


"Aku takut jawaban Kakak tidak sesuai ekpektasiku." Lirih Zivana.


Perlahan Samudra melepas pinggang Zivana dan mereka berhenti berdansa. Zivana menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat Samudra berlutut dengan satu kakinya dan mengeluarkan sesuatu dari saku jas nya.


"Kak..."


Samudra membuka kotak berwarna biru bludru itu. Sepasang cincin pernikahan yang sudah Samudra siapkan untuk Zivana.


"Terimakasih sudah mau sabar menungguku." Kata Samudra pada akhirnya membuat Zivana begitu terharu. Zivana menggenggam tangannya sendiri.


"Aku rasa, ini belum terlambat untuk mengutarakan hatiku, kita menikah tanpa aku melamarmu, membuat pernikahan kita seperti tidak sempurna dan kini aku ingin menyempurnakan pernikahan kita."


"Kak..."


"Zivana, istriku Zivana, maukah kamu terus melanjutkan pernikahan ini denganku? Menjadi istriku dan terus mendampingiku? Menjadikan rumah tangga ini menjadi rumah tangga yang sempurna?"


Zivana terdiam, ia masih menunggu satu kalimat yang slalu ia nantikan keluar dari mulut Samudra.


"Kak, aku tidak sedang mimpi, kan?" Tanya Zivana.


"Please say yes, Ziv." Pinta Samudra penuh harap.


Zivana mengangguk cepat, "Aku mau Kak, aku juga mencintai Kakak." Jawab Zivana dan Samudra segera berdiri lalu memeluk Zivana dengan erat.


"Aku mencintaimu, gadis manjaku."


"Aku juga mencintaimu, suami pelitku."


Samudra melepaskan pelukannya lalu mencubit gemas hidung Zivana. Lalu Samudra segera menyematkan cincin pernikahan mereka di jari manis Zivana dan mengecupnya sekilas. "Jangan pernah dilepas ya."


Zivana mengangguk lalu balik memakaikan cincin milik Samudra di jari manis Samudra, Kakak juga jangan pernah lepas cincin nya ya."


"Never ever." Samudra mencium bibir Zivana dengan lembut dan hanya sebentar saja, mengingat mereka masih berada di restoran meski restoran itu sudah Samudra sewa untuk pribadi.


"Ayo makan, pasti kamu sudah lapar." Kata Samudra dan Zivana mengangguk lalu mereka duduk kembali bersama.


Mereka menikmati makan malam bersama dengan perasaan yang begitu berbahagia.


"Enak?" Tanya Samudra.

__ADS_1


Zivana mengangguk. "Ini lezat sekali, Kak. Dessert nya juga enak sekali."


"Jadi kita kesini bukan untuk urusan pekerjaan, Kak?" Tanya Zivana.


Samudra menggelengkan kepalanya, "Tidak, tetapi kita kesini untuk menyelesaikan pekerjaan kita yang sudah lama tertunda."


"Pekerjaan apa, Kak?"


Samudra mengerdikan bahunya, "Aku tidak bisa memberimu teori, tapi harus mempraktikannya langsung padamu."


Mendengar hal itu Zivana mengerti apa maksud dari ucapan Samudra, seketika membuat wajah Zivana merona dan Zivana menunduk untuk menyembunyikan rasa malunya.


"Jadi kita kesini bukan urusan pekerjaan ya Kak?" Tanya Zivana mengalihkan pembicaraan sambil menetralisir perasaannya. Padahal Zivana sudah menanyakan hal itu beberapa menit sebelumnya.


Samudra tersenyum melihat Zivana yang menyembunyikan kegugupannya.


"Mulai hari ini, kamu sudah bebas tugas dari pekerjaan kantor.


Mendengar hal itu, Zivana membulatkan kedua matanya. "Benarkah itu, Kak?" Tanyanya tak percaya.


"Itu benar, Sayang." Jawab Samudra. "Sudah selesai makannya?" Tanya Samudra dan Zivana mengangguk cepat.


"Ayo kita kembali ke kamar." Ajak Samudra sambil berdiri dan mengulurkan tangannya untuk di genggam oleh Zivana.


Zivana menyambut uluran tangan Samudra dan menggenggamnya dengan erat.


Saat mereka keluar dari restoran, angin laut menerpa tubuh mereka dan Samudra yang peka pun melepas jasnya lalu dipakaikan pada Zivana yang memakai gaun tanpa lengan.


"Terimakasih, Kak." Ucap Zivana dan Samudra membalasnya dengan senyuman.


"Kakak ternyata manis sekali." Puji Zivana sambil bermanja dilengan Samudra.


"Suka?"


Zivana mengangguk cepat, "Aku bahagia sekali, Kak."


Samudra pun tersenyum mendengar apa Kata Zivana. "I Love you."


"Love you too, Kak."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yang mau di spill unboxing belah durennya, ramein dl komentarnya, kasih aku Vote, dan jangan lupa hadiah juga like nya.


Besok senin siapin Vote untuk Belah durennya Sam-Ziv ya 😉


Bab Kedepannya edisi berbucin bucin, jangan enek ya 🤭

__ADS_1


__ADS_2