
20 Tahun kemudian...
"Love, kenapa tidur di kamar Kakak." Samudra menoel noel pipi sang adik yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di bangku kuliah.
"Semalam hujan dan ada petir Kak, aku takut." Jawab Lova dengan sambil memejamkan matanya.
"Dassarr penakut." Cibir Samudra.
Kini Samudra tumbuh menjadi pria tampan, usia Samudra yang terbilang sudah matang dan memasukinusia 28 tahun membuat banyak wanita mengantri untuk menjadi kekasihnya.
Namun Samudra selalu membatasi dirinya. Nadlyn mengajarkan hal hal baik pada Samudra untuk menghormati wanita karena Samudra terlahir dari seorang wanita dan memiliki adik seorang wanita juga.
Samudra pria yang begitu penyayang, apa lagi terhadap Lova, semua yang Lova butuhkan slalu saja Samudra penuhi, karena itulah Lova tumbuh menjadi gadis yang manja namun tidak pernah merepotkan juga tidak pernah membuat ulah.
Sementara itu, dirumah Dirga, suasana ceria selalu mewarnai suasana pagi.
Zivana, bayi yang dulu dikandung oleh Yuri sudah dewasa dan seumuran dengan Lova yang hanya selisih enam bulan.
"Ziv, kamu tidak akan bekerja di kantor Papi?" Tanya Yuri sambil menyiapkan roti untuk Dirga.
"Tidak, Mi.. Ziv masih mau istirahat dan bermain."
"Jangan membuat repot Samudra, Ziv.. Papi malu selalu merepotkan Samudra." Sahut Dirga.
"Ishh Papi apaan sih, lagi pula Ziv akan menikah dengan Daniel, tidak akan merepotkan lagi Kak Sam."
Dirga menghela nafasnya, sebenarnya ia tidak menyukai Daniel namun Dirga tidak mengungkapkannya karena tidak ingin melihat Zivana bersedih.
Yuri melihat wajah Dirga yang terlihat tak bersemangat.
"Ziv, usiamu baru saja menginjak 20 tahun, apa tidak terlalu muda menikah di umur 20 tahun?" Tanya Yuri mencoba mengulur waktu.
"Ah Mami, teman teman Ziv aja bahkan ada yang menikah saat masih kuliah. Masih mending Ziv berhasil lulus S1 hanya dengan 3,5 tahun. Itu tandanya Ziv sudah dewasa, Mii."
Yuri menghela nafasnya. Ia juga tudak bisa berbuat lebih, jika Yuri melarangnya, yang ditakutkannya adalah jika Zivana salah pergaulan dan sampai hamil di luar nikah.
"Tadinya Papi ingin kamu membantu Papi di perusahaan." Dirga mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Pii, tunggu saja Azriel lulus kuliah. Azriel kan anak laki laki, sudah pasti akan memegang perusahaan nantinya." Balas Zivana.
Azriel adalah adik Zivana dan anak kedua Dirga dan Yuri.
__ADS_1
"Kak Ziv, lebih baik Kakak menikmati masa muda Kakak, Daniel itu bukan pria yang baik." Ucap Azriel yang memang tidak menyukai sosok Daniel.
"Diam kamu, Ziel, anak kecil tau apa." Kesal Zivana.
"Hei, umur kita hanya selisih dua tahun, Kak. Aku sudah bisa berpikir realistis, tidak seperti Kakak."
"Stop Ziell.." Ucap Dirga.. "Papi tidak suka ada keributan di meja makan. Hormati makanan yang ada di depan kalian, tidak baik bertengkar di hadapan makanan." Imbuhnya lagi.
Dirga berdiri dari duduknya dan meninggalkan meja makan, akhir akhir ini kesehatannya menurun karena terlalu stres memikirkan pernikahan Zivana dengan pria yang tidak Dirga sukai.
Cean baru saja menerima telpon dari Mommy dan Daddynya yang kini berada di Swiss, Nanda dan Pras menghabiskan masa tua nya dengan berkeliling dunia dan kini posisi mereka berada di Swiss.
"Dad, hari ini aku mau kerumah Papi." Ucap Samudra pada Cean.
"Bukankah kalian akan bertemu di perusahaan?"
"Papi Dirga sedang sakit, Dad. Papi memintaku untuk bertemu dirumahnya saja." Jawab Samudra.
Cean memijat pelipisnya. Ia sangat tau jika Dirga memang berhati lembut dan tidak tegaan, Dirga kurang tegas dalam mendidik anaknya hingga membuat Zivana menjadi semaunya sendiri.
"Tengoklah Papimu itu, Sam. Papi mu pasti sangat pusing menghadapi Zivana." Kata Cean.
Samudra mengangguk. "Lova bilang, jika Ziv dan kekasihnya sudah merencanakan pernikahan, Dad."
Samudra mengemudikan mobilnya menuju rumah Dirga, sebenarnya Samudra paling tidak bisa membicarakan soal bisnis di rumah, namun apa daya, Pria yang sudah Samudra anggap sebagai Papinya sendiri tengah sakit dan tidak bisa datang ke kantor.
"Hai, Sam... Sudah datang?" Tanya Yuri.
Samudra mencium pipi Yuri, sedari kecil Samudra terbiasa melakukan hal itu. "Iya, Mi.. Papi sakit? Apa sudah ke dokter?"
"Kamu tau sendiri jika Papimu itu sulit sekali di ajak ke dokter." Keluh Yuri.
Samudra tersenyum dan merangkul pundak Yuri. "Mami sabar sekali menghadapi Papi, Sam rasa Papi akan makin cinta pada Mami."
Yuri tertawa, "Kamu benar, Papi semakin hari semakin mencintai Mami."
Yuri mengantarkan Samudra ke ruang kerja Dirga dan meninggalkannya setelah membawakannya minuman.
Samudra membicarakan soal pembangunan yang ia pegang untuk pembangunan restoran cabang milik Dirga. Samudra juga menunjukan beberapa desain interior untuk restoran Dirga yang di buat oleh Nadlyn.
"Mommy mu tidak pernah gagal dalam mendesain interior." Ucap Dirga sambil melihat konsep yang Samudra berikan.
__ADS_1
"Dan Mommy mu tidak pernah gagal mendidik putra dan putrinya." Dirga menghela nafas sejenak, "Tidak seperti Papi yang gagal mendidik Ziv." Imbuhnya lagi.
"Pii, jangan terlalu banyak pikiran." Kata Samudra dengan prihatin melihat kondisi Dirga.
"Papi gagal mendidik Ziv, Sam."
"Pii, tidak seperti itu. Menurut Sam, Ziv hanya masih labil saja. Masih bisa di arahkan hanya saja Papi harus lebih sabar lagi."
Dirga menggelengkan kepalanya, "Ziv sudah akan menikah, Papi sudah tidak bisa mengarahkannya lagi."
Untuk pertama kalinya Samudra melihat Dirga dalam kondisi yang terlihat terpuruk, bahkan sewaktu perusahaan Dirga mengalami kesulitan, Dirga tidak seterpuruk ini.
"Kenapa Papi tidak bisa keras sedikit saja pada Ziv?" Tanya Samudra.
"Papi tidak bisa, Sam. Papi takut Ziv nekat dan malah lari bersama pacarnya."
"Apa yang membuat Papi tidak menyukai Daniel?" Tanya Samudra.
"Papi tidak menyukai keluarganya, keluarga Daniel merupakan orang yang licik, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tender tender besar. Dan lagi...." Dirga menjeda kalimatnya. "Ayahnya Daniel mempunyai banyak istri, Papi takut Daniel akan mengikuti jejaknya."
Samudra ikut terdiam seolah memikirkan cara apa yang bisa membantu Dirga, namun dirinya juga tidak bisa banyak membantu mengingat Zivana adalah gadis yang keras kepala. Bahkan Lova saja tidak bisa menasehati Ziv meski setiap hari mereka bersama.
Zivana tengah bertemu dengan pria bernama Daniel di sebuah cafe ternama.
"Sayang, sepertinya pernikahan kita harus di undur." Kata Daniel pada Zivana.
"Lho mana bisa begitu, undangan sudah mau dicetak, Kak." Jawab Zivana.
Daniel memang berusia empat tahun lebih tua dari Zivana, itulah mengapa Zivana memanggil Daniel dengan sebutak Kak.
Daniel terdiam, dan hal itu membuat Zivana bertanya.
"Ada apa, Kak?"
Daniel tersenyum, "Ah tidak, hanya saja aku merasa, Papimu tidak menyukaiku."
"Papi sudah merestui kita, Kak."
Daniel mengangguk, namun wajahnya terlihat seperti menyembunyikan sesuatu, Daniel mengusap keningnya yang terlihat mengeluarkan keringat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Kecepetan gak sih alurnya?
Ikutin terus ya dan jangan lupa Like, Koment, Hadiah, dan Vote juga ⭐️5 untuk Novelku ini.