
Pagi hari di apartemen Yuri. Yuri terbangun dengan posisi di peluk oleh Dirga dari belakang. Semalam Dirga memang tidak ingin pulang dan memilih tidur di apartemen Yuri. Dirga pun tidur bersama Yuri meski mereka tidak melakukan apapun dan hanya sebatas tidur memeluk Yuri dari belakang.
Yuri membalikan tubuhnya menghadap ke arah Dirga. Menatap wajah tampan Dirga yang kemarin mengatakan jika Dirga mencintainya. Ah rasanya hal itu adalah hal yang paling membahagiakan untuk Yuri.
"Sudah puas menatapku?" Suara berat Dirga membuat Yuri terkesiap.
"Kak, sudah bangun?" Tanya Yuri menyembunyikan ekspresi gugupnya.
Dirga membuka matanya. "Gadis kecilku yang nakal." Dirga mencium sekilas bibir Yuri.
Wajah Yuri memerah, Yuri tidak menyangka jika Dirga bisa bersikap begitu manis.
"Bersiaplah, aku akan mengajakmu ke resort, Mami dan Papa ada disana dan juga Samudra." Ucap Dirga.
"Kakak mengajak aku?" Tanya Yuri tak percaya.
"Tentu saja, kamu tunanganku, kekasih hatiku, harus selalu ada bersamaku." Ucap Dirga dan lagi lagi membuat wajah Yuri memanas.
Dirga tersenyum melihat wajah Yuri, ia semakin yakin jika selama hidupnya Yuri tidak pernah merasakan kebahagiaan meski ayahnya begitu banyak memberikan materi. Dirga berjanji dalam hatinya akan selalu membuat Yuri bahagia.
Yuri pun segera bersiap, sementara Dirga keluar menuju parkiran untuk mengambil baju ganti yang slalu ia sediakan di dalam mobilnya.
Ketika Dirga kembali ke flat Yuri, Dirga melihat Yuri yang sudah bersiap dan mencari sesuatu.
"Cari apa?" Tanya Dirga.
"Kacamataku." Jawab Yuri yang masih fokus mencari barangnya.
Dirga menarik lengan Yuri hingga tubuh mereka berhadapan. "Jangan cari lagi. Aku lebih suka kamu menjadi dirimu sendiri." Ucap Dirga.
Dirga membelai pipi Yuri. "Aku tau seseorang pasti memaksamu untuk berpenampilan cupu seperti itu, siapa yang melakukannya? Beritahu aku."
Yuri menatap tatapan lembut Dirga padanya, di dekat Dirga, Yuri merasa di lindungi.
"Kak Rena." Jawab Yuri.
"Kak Rena slalu bilang jika aku tidak boleh cantik melebihi kecantikan dirinya. Karena itu sedari awal aku tinggal bersama, Kak Rena mendandani aku seperti itu, dengan kcamata dan rambut yang harus slalu di kuncir. Aku pernah berontak, namun saat Papa tidak di rumah, kak Rena membawa teman temannya untuk ikut menganiaya aku, bahkan mengurungku di gudang gelap." Ucap Yuri.
Dada Dirga bergemuruh mendengar hal itu.
"Bukankah saat lulus sekolah Rena tinggal di luar negri? Kenapa masih tidak merubah penampilanmu dan menjadi dirimu sendiri?"
"Karena Kak Rena tetap mengawasiku dari CCTV rumah, jika aku merubah penampilanku. Maka Kak Rena akan menyuruh orang untuk memperkosaku." Jawab Yuri dengan air mata yang sudah luruh.
"Shiitttt." Umpat Dirga.
"Aku takut, Kak. Karena itu aku tetap seperti ini."
Dirga memeluk Yuri, dalam pelukannya Yuri menangis mengeluarkan apa yang selama ini ia pendam. "Aku lebih menyukai tinggal di panti, aku tidak suka tinggal di rumah Papa. Aku ingin lepas dari bayang bayang Kak Rena, Kak."
Dirga melerai pelukannya dan menangkup kedua pipi Yuri. "Ada aku yang akan selalu melindungimu. Jangan takut."
"Kita akan menikah secepatnya, aku pastikan Rena tidak bisa lagi megganggu dan membully mu." Kata Dirga dengan yakin.
"Benarkah, Kak?"
__ADS_1
Dirga mengangguk yakin. "Percaya padaku, ya."
Dirga melepas ikatan rambut Yuri. "Aku lebih suka kamu menjadi dirimu sendiri. Aku tidak mau lagi kamu tertekan oleh Rena."
Yuri mengangguk, "Iya, Kak."
Sementara itu, di kamar hotel sepasang pengantin yang baru saja menggelar pesta resepsi pernikhannya, Cean bangun terlebih dahulu dan melihat wajah istrinya yang masih terlelap akibat kelelahan karena aktifitas mereka semalam.
Cean bahkan mengulang hingga tiga kali dan menjelang subuh mereka baru tertidur.
"Mantra apa yang kamu berikan? Membuat aku begitu menjadi mencintaimu sedalam ini." Gumamnya.
"Terimakasih sudah memberikan kesempatan terakhir untukku." Cean menciumi seluruh wajah Nadlyn.
Hal itu membuat Nadlyn menggeliat karena tidurnya terganggu.
"Cean aku masih ngantuk." Gumam Nadlyn dengan mata masih terpejam.
"Love U." Ucap Cean.
"Love u too, tapi biarkan aku tidur satu jam lagi saja, Cean. Aku masih ngantuk."
Cean tersenyum. "Tidak ingin menemaniku mandi?"
"Satu jam lagi, Cean."
Akhirnya Cean membiarkan Nadlyn tertidur dan ia pun menunggu Nadlyn untuk bangun sambil melihat isi ponselnya.
Robi mengirimkan foto foto Samudra yang sedang naik kapal dan memancing. Samudra terlihat bahagia bersama Robi dan Hellena.
"Cean, aku merindukanmu, ~Rena~"
Cean tidak menanggapinya, kemudian ia mengirimkan pesan Rena pada Dirga.
"Menurutmu?" Tanya Cean dalam pesannya.
Tak lama kemudian Dirga membalasnya. "Beritahu Nadlyn sebelum petasan itu menjadi bom besar."
Cean tertawa dan hal itu membuat Nadlyn membuka matanya dan melihat Cean yang tertawa sambil melihat ponselnya.
"Chat sama siapa, sih?" Tanya Nadlyn.
Cean segera menaruh ponselnya. "Dirga." Jawabnya.
Kamudian Cean menyingkap selimut dan menggendong Nadlyn. "Ayo mandi. Dari tadi aku menunggumu."
"Ahh Cean." Nadlyn tertawa saat tiba tiba saja tubuhnya melayang masih dengan kondisi polos.
Cean menaruh Nadlyn di atas meja marmer dan segera mengisi bathtub dengan air hangat beraroma teraphy Vanila. Nadlyn melihat pergerakan Cean dengan menggigit bibir bawahnya.
Cean yang merasa diperhatikan itu mendekat ke arah Nadlyn. "Melihatku?" Tanyanya menggoda dengan gerakan tangan menelusuri punggung Nadlyn yang polos.
"Kamu tampan sekali." Bisik Nadlyn di telinga Cean.
"Karena itu kamu begitu mencintaiku?"
__ADS_1
Nadlyn menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku mencintaimu karena terbiasa bersamamu sedari kecil. Kamu yang slalu ada untukku di saat Papa sibuk dan aku merindukan kehadiran Mama."
"Benarkah?"
Nadlyn mengangguk. Hingga tiba tiba sesuatu memaksanya masuk di bagian intinya.
"Cean.. Akh..."
"Suka, Sayang?" Tanya Cean.
Nadlyn mengangguk dengan wajah sayunya.
"Cean jangan lama lama, aku lapar." Kata Nadlyn di tengah tengah permainan mereka.
"Sebentar Sayang, ini terlalu nikmat untuk di sudahi." Jawab Cean.
Hingga Cean kembali mempercepat gerakannya dan mendapatkan pelepasannya.
Cean menempelkan keningnya di kening Nadlyn. "Terimakasih, Sayang. I love u." Ucapnya berbisik.
Selesai dengan ritual bersih bersih, Cean dan Nadlyn memilih makan di kamarnya. Tiba tiba saja Cean memberikan ponselnya pada Nadlyn membuat Nadlyn mengernyitkan dahinya.
"Ada apa?"
"Rena mengirimiku pesan." Jawab Cean.
"Oh... Dia kirim pesan apa?" Tanya Nadlyn tanpa ekspresi.
"Baca saja."
Nadlyn mengambil ponsel Cean dan membaca pesannya.
Nadlyn tersenyum miring, "Kasihan."
"Tidak marah?" Tanya Cean pada Nadlyn.
"Untuk apa? Toh kamu nya juga gak merespon dan malah memberitahuku." Jawab Nadlyn dengan pikiran yang realistis. "Aku percaya kamu, kamu tidak mungkin meninggalkan aku dan Samudra hanya demi dia, kan?"
"Kamu benar, tidak mungkin aku memilih dia, bagiku kamu dan Samudra terlalu berharga untuk ku tukar dengan sesuatu yang tidak ada artinya." Jawab Cean.
"Tidak ada artinya tapi dulu sempat tinggal bersama." Ledek Nadlyn.
"Koq di ungkit sih?" Tanya Cean.
Nadlyn hanya mengerdikan bahunya saja.
Cean lamgsung mengangkat tubuh Nadlyn dan membawanya ke atas tempat tidur lalu menindihnya. "Dulu aku bodoh, sekarang aku tidak mungkin bersikap bodoh seperti itu lagi."
Nadlyn mengecup sekilas bibir Cean. "Aku percaya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Senin nih, aku minta Vote nya dong 🥺
Makasih teman teman readers untuk semua dukungannya 🤗
__ADS_1