
Zivana keluar begitu saja dari dalam walk in closet dan ia tidak menyiapkan pakaian ganti untuk Samudra. Zivana langsung menuju tempat tidur dan membaringkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Samudra.
Samudra hanya mengerdikan bahunya saja, dan tersenyum tipis. Lalu selesai Samudra membersihkan diri ia sengaja hanya memakai boxer saja tanpa atasan dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan Zivana.
Samudra memeluk Zivana dan membuat Zivana terkesiap, dada bidang Samudra yang polos menyentuh bahu Zivana yang terbuka, dan hal itu membiat Zivana langsung duduk dan Samudra pun mengikutinya.
"Kak Sam, kenapa gak pakai baju?" Pekik Zivana.
"Karena kamu tidak menyiapkan pakaian ganti untukku." Jawabnya tanpa merasa bersalah.
"Kan bisa ambil sendiri."
"Gak mau, aku udah biasa apa apa disiapkan olehmu."
"Ishh, selain galak dan pelit, tetnyata kakak juga manja." kesal Zivana lalu berdiri menuju walk in closet dan mengambil kaos oblong uang biasa di pakai Samudra.
"Nih pakai." Zivana memberikan kaos dengan nada galak pada Samudra.
Samudra menerimanya sambil menyunggingkan senyumnya lalu memakainya.
Zivana kembali tertidur dengan posisi tetap membelakangi Samudra, namun Samudra tetap memeluknya, bahkan Samudra menjadikan Zivana seperti guling dan paha Samudra yang terbuka karena hanya memakai boxer, bersentuhan dengan paha Zivana yang memang terbuka.
"Kak, geseran sih." Pekik Zivana.
"Gak mau, aku kedingingan."
"Ish manja, peluk guling aja sana."
"Gak mau, guling gak sehangat kamu, Bee..." Gumam Samudra yang memang sudah mengantuk.
Zivana tersenyum tipis, akhir akhir ini Samudra sering memanggil dirinya dengan sebutan Bee, meski terkadang masih menanggil juga dengan panggilan Ziv.
Samudra semakin mengeratkan pelukannya pada Zivana, rasa nyaman ia dapatkan saat memeluk Zivana dan menghirup aroma wamgi khas Zivana yang akhir akhir ini menjadi candunya.
**
Keesokan paginya, Zivana sudah bersiap untuk pergi ke rumah orang tuanya, namun Samudra masih saja tertidur, memang jika sedang weekend seperti ini, Samudra selalu bangun siang.
"Kak..." zivana menggoyangkan bahu Samudra untuk membangunkannya.
"Kak bangun..." Kata Zivana lagi.
"Hem,, kenapa Bee, aku masih ngantuk."
"Bangun dulu Kak."
"Bee ini masih pagi, biarkan aku tidur satu jam lagi."
"Kak, katanya mau kerumah Papi."
"Gak sepagi ini juga Bee, nanti saja siang, aku mau ajak kamu pergi dulu."
Mendengar hal itu, mata Zivana berbinar. "Pergi kemana Kak?" Tanyanya antusias.
"Jalan jalan. Makanya biarin aku tidur dulu sekarang."
Mendengar kata jalan jalan, Zivana semakin berbinar. "Beneran, Kak?" Tanya Zivana sekali lagi.
Samudra bangun dengan muka bantalnya yang menurut Zivana itu terlihat tampan sekali. "Jangan berisik, sekarang biarin aku tidur, Oke?" Tanya Samudra dan Zivana mengangguk cepat.
__ADS_1
"Buatkan aku kopi dengan krimer dan sedikit gula." Zivana mengangguk kembali.
Samudra kembali memejamkan matanya dan Zivana mencium sekilias bibir Samudra yang membuat Samudra kembali membuka matanya, "Morning Kiss, Sayang." Kata Zivana sambil mengerlingkan satu matanya dan segera beranjak keluar dari kamar mereka.
Samudra tersenyum tipis, "Berani beraninya dia." Gumamnya lalu duduk dan menghembuskan nafasnya. "Zi.. Va.. Na..." Kata Samudra dengan senyum yang masih mengembang.
"Pagi, Mom.." Sapa.Zivana pada Nadlyn.
"Pagi, Sayang. Mana Sam?"
"Kak Sam masih tidur, minta dibuatkan kopi olehku." Zivana tersenyum lebar.
"Sepertinya kamu senang sekali." Goda Nadlyn.
Zivana mengangguk cepat, "Kak Sam bilang mau ngajak aku jalan jalan, Mom."
"Oh, ya? Bagus itu."
"Iya, Mom.."
"Mommy sempat takut, Samudra tidak memperlakukanmu dengan baik." Kata Nadlyn sambil menopang dagunya di meja bar.
"Jangan khawatir, Mom.. Kak Sam baik koq sama aku meski kami masih belajar untuk sama sama saling menerima dan mencintai." Jawab Zivana.
"Mommy senang mendengarnya, Ziv.. Mommy harap rumah tangga kalian bertahan dan awet seperti Mommy dan Daddy juga Papi dan Mamimu."
"Doakan saja ya, Mom." Balas Zivana.
"Mommy selalu mendoakan yang terbaik untuk anak anak Mommy."
Zivana memeluk Nadlyn dari samping. "Mommy baik sekali."
Menjelang siang, Samudra sudah bersiap dengan memakai pakaian casualnya. Samudra juga melihat Zivana yang juga memakai pakaian casual dengan sepatu cats.
Zivana mengangguk. "Ayo Kak." Ucapnya bersemangat.
"Semangat sekali." Ledek Samudra.
"Tentu saja, harus bersemangat kalau di ajak jalan jalan."
"Kalau begitu kamu harus semangat juga kalau aku minta hak ku di atas ranjang." Goda Samudra.
Zivana berdecak, "Pikirannya mesum sekali." Ucapnya dengan sebal.
Samudra mengajak Zivana ke taman bermain terbesar di ibu kota. Membuat Zivana mengernyit heran.
"Koq kesini sih Kak?" Tanya Zivana sambil memperhatikan sekelilingnya.
"Memang kenapa?"
"Panas, Kak."
"Namanya juga jalan jalan."
"Tapi panas, Kak."
"Pakai topi."
"Gak mau, nanti rambutku lepek."
__ADS_1
Mereka terus saja berdebat hingga Samudra mengalah, sebenarnya Samudra sendiri memamg sengaja mengerjai Zivana, tidak sungguh sungguh membawanya ke taman bermain.
"Lalu mau kemana?" Tanya Samudra.
"Mall."
"Mau ngapain?"
"Jalan jalan."
"Disini juga jalan jalan."
"Disini panas, di Mall adem ada pendingin ruangan."
Dengan rasa puas mengerjai Zivana, Samudra menjalankan mobilnya menuju pusat perbelanjaan terbesar di ibu kota.
"Disini?" Tanya Samudra.
Zivana nengangguk cepat. "Aku lapar."
"Jalan jalan dulu, baru makan."
"Gak belanja?" Tanya Zivana.
"Kamu mau belanja?"
Zivana mengangguk. "Tapi Kakak bayarin, uang gajiku tidak cukup." Zivana memberengut kesal saat mengingat nominal gajinya yang menurutnya tidak seberapa.
"Ziv, bahkan gajimu itu empat kali lipat dari penjaga toko tas branded yang kamu kunjungi." Kata Samudra.
"Memang gaji penjaga toko sekecil itu?"
"Gaji penjaga toko bahkan bisa di bawah UMR, makanya kamu harus bersyukur gajimu sudah UMR plus insentif, uang makan dan tunjangan yang melebihi gajimu." Kata Samudra mencoba membuka pikiran Zivana.
Zivana terdiam seolah berpikir.
"Bahkan harga tas yang kamu incar, bisa seharga tiga rumah subsidi yang pemerintah jual yang menjadi harapan orang orang kecil untuk memiliki salah satu rumahnya dengan cara mencicil." Kata Samudra lagi.
"Masa?" Tanya Zivana tak percaya.
"Kamu terlalu di manja, karena itu kamu tidak tau situasi sekitarmu." Samudra turun dan Zivana pun mengikutinya.
Mereka berjalan jalan di Mall, "Mau beli apa?" Tanya Samudra.
"Gak jadi." Jawab Zivana.
"Kenapa?"
"Gak apa apa, aku takut nanti uang Kak Sam habis." Balas Zivana.
"Hei, uangku tidak akan habis meski aku memiliki empat orang istri sekalipun." Ucap Samudra dan membuat zivana mendelik.
"Kakak mau punya empat istri?"
"Tidak tau, bisa saja kan." Samudra senang sekali menggoda Zivana.
"Sebelum Kak Sam punya dua istri, atau bahkan empat istri, lebih baik Kakak ceraikan aku dulu. Aku gak suka punya saingan." Kata Zivana, "Pria murahan." Cibirnya Zivana lagi sambil berjalan cepat meninggalkan Samudra sementara itu Samudra menahan tawanya meski begitu sangat ingin tertawa terbahak bahak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Menurut Readers, Sam-Ziv bosenin gak sih?
Up satu bab dl ya, aq lg camping bareng keluarga dl.. Jangan lupa koment, like, dan bunga/kopinya ya.. Happy holiday Readers tersayang 💕