
Bughh..
Zivana bertabrakan dengan seorang wanita yang sepertinya sengaja menabrak Zivana.
"Rill..."
"Oh kamu, Ziv.. Sama siapa?" Tanya Rill pura pura tidak melihat keberadaan Samudra.
"Bee, hati hati." Samudra menarik pinggang Zivana agar menempel padanya.
Samudra melihat ke arah Rill, jelas sekali dimata Samudra jika Rill menabrakan dirinya pada Zivana. "Kamu disini, Rill?" Tanya Samudra.
"Iya, aku sedang jalan jalan bersama Dylan, mencari cincin pertunangan kami." Jawab rill seolah memanas manasi Samudra.
Namun di luar ekspektasi Rill, Samudra bersikap datar dan biasa saja.
"Ya sudah kami duluan." Kata Samudra lalu menggenggam tangan Zivana.
"Tunggu, Kak. Kita makan siang bersama." Ajak Rill dan tak lama setelah itu, Dylan juga ikut menghampiri.
"Maaf, Rill. Kami sedang quality time, tidak ingin gabung." Balas Samudra.
"Ayolah Kak, masa hanya makan siang bersama saja tidak mau." Cibir Rill.
"Iya Kak Sam, ayo kota makan siang bersama." Sahut Dylan dan Samudra akhirnya menyetujuinya karena tidak enak menolak niat baik Dylan.
Kini mereka duduk berempat dan memakan pesanan mereka yang sudah mereka pesan masing masing.
"Mau tambah?" Tanya Samudra pada Zivana.
"Tidak, ini juga belum habis, tapi aku ingin mencicipi steak salmon punya Kakak." Jawab Zivana.
Samudra tersenyum lalu mengiriskan steak salmon dan menyuapkannya pada Zivana.
"Hem enak sekali, dan lembut." Kata Zivana.
Melihat hal itu, Rill terlihat tidak suka.
"Sayang, aku mau cobain punya kamu juga." Kata Rill pada Dylan.
Dylan tersenyum lalu mengiriskan potongan steak bersama saladnya dan akan menyuapinya ke mulut Rill. Namun belum sampai sendok itu masuk ke dalam mulut Rill, Samudra menangkisnya hingga membuat sendok itu terjatuh.
"Rill alergi kacang termasuk kacang polong." Kata Samudra.
__ADS_1
Zivana melihat hal itu, wajah cemas Samudra begitu terlihat, entah mengapa membuat hati Zivana seperti tercubit.
"Biasa aja sih, Kak. Dylan kan gak tau." Kata Rill dengan marah lalu berdiri.
"Ayo Lan." Ajak Rill untuk pergi dari hadapan Samudra.
"Makan dulu, Rill." Kata Dylan mencoba menahan karena tak enak pada Samudra.
"Aku bilang ayo ya ayo." Ajak Rill lagi lalu pergi begitu saja.
Dylan melihat ke arah Samudra. "Kak maafkan Rill." ucapnya dengan santun dan Samudra mengangguk.
Samudra menghela nafas saat Dylan sudah pergi menyusul Rill. Ia juga tidak mengerti mengapa bisa menangkis sendok Dylan dan tidak berbicara saja dengan baik baik.
Zivana terdiam melihat hal itu, ia meyakini jika Samudra masih menyimpan rasa pada Rill. Entah mengapa rasanya dada Zivana seperti bergemuruh memikirkan hal itu
"Ziv, aku ke toilet dulu, ya. Tunggu sebentar disini." Kata Samudra lalu meninggalkan Zivana seorang diri.
"Tenyata Kak Sam masih mencintai Rill." Gumam Zivana. "Lalu apa artinya panggilan Bee, apa artinya setiap malam tidur memelukku, apa artinya semua itu?" Tanya Zivana dalam hatinya lalu tersenyum getir.
Zivana memutuskan untuk pulang, namun ia membayar dulu semua makanan yang tersaji karena hanya tinggal Zivana seorang diri yang ada di meja itu.
"Mbak, kalau nanti teman saya balik lagi dari toilet, bilang saya pulang duluan karena ada urusan mendadak." Kata Zivana menitipkan pesan pada kasir.
"Tulis saja, Mbak. Takut nya saya lupa." Balas Kasir itu.
Samudra kembali setelah dari toilet, namun terkejut saat melihat waiters membersihkan meja yang tadi ia tempati.
"Istri saya kemana ya? Kenapa mejanya sudah di bersihkan?" Tanya Samudra.
"Maaf Mas, tadi mbak nya sudah check out dan membayar di kasir." Jawab Waiters.
Samudra segera menghampiri kasir. "Meja nomer 19 sudah check out?"
Kasir mengangguk. "Iya Pak. Tadi teman bapak titip pesan. Katanya klo temannya mencarinya bilang aja sudah pulang duluan karena ada urusan mendadak."
"Teman?" Tanya Samudra sekali lagi.
Kasir itu mengangguk.
Samudra segera meninggalkan restoran itu dan mencari keberadaan Zivana namun tidak menemukannya. Samudra meraih ponselnya dan menelpon Zivana, lalu ia melihat ada sebuah pesan masuk dari Zivana untuknya.
"Maaf aku pulang duluan, Kak. Jangan cari aku ke rumah Papi, aku hanya sedang ingin sendiri. Jika Mommy atau Lova menanyakanku, bilang saja aku di rumah Papi. Terimakasih, sikap Kakak di restoran tadi membuat aku yakin jika Kakak masih mencintai Rill. Jadi dari sekarang hentikan semuanya Kak, jangan lagi belajar mencintaiku karena kenyataannya Kakak tidak pernah bisa menghapus nama Rill dari hati Kakak."
__ADS_1
Samudra membaca pesan dari Zivana yang dikirimkan padanya, membuat hatinya begitu bergemuruh dan merasa sesak.
"Ziv..." Lirih Samudra. "Ziv, maafkan aku." Gumamnya dalam hati.
Samudra mencoba menelpon Zivana namun Zivana tak mengangkatnya. Samudra segera menaiki mobilnya sendiri dan berusaha mencari Zivana.
"Anak manja, kamu kemana sih?" Tanya Samudra sambil menelusuri jalanan ibu kota.
"Apa sikapku berlebihan?" Tanya Samudra, "Apa kamu sudah mencintaiku hingga kamu semarah ini?" Samudra terus saja menduga duga mengapa Zivana bisa semarah ini padanya.
Setelah lelah berkeliling, kini Samudra kembali kerumahnya. Ia akan meminta bantuan Lova untuk mencari Zivana. Beruntung Mommy dan Daddy nya sedang tidak dirumah dan tidak menanyakan hal yang macam macam pada Samudra.
"Baby Love..." Panggil Samudra saat memasuki kamar Lova tanpa mengetuk pintunya dulu.
"Iya Kak." Lova tengah menonton drama korea di kamarnya.
"Baby Love harus membantuku."
"Ada apa Kak?"
Samudra menghela nafasnya lalu mulai bercerita pada sang adik. Lova dengan serius mendengarkannya.
"Kira kira dimana Zivana sekarang?" Tanya Samudra pada Lova.
"Menurutku, Kakak memang keterlaluan, harusnya Kakak tidak perlu berlebihan seperti itu kecuali jika Kakak memang masih mencintai Rill." Balas Lova.
Samudra terdiam, ia memikirkan apa kata sang adik.
"Aku juga kalau jadi Zivana akan merasa kecewa dan juga marah." Lova menghela nafasnya sejenak. "Jangan bertahan dengan Zivana jika memang Kakak tidak bisa mencintainya Kak. Selain Kakak menyakiti Zivana, Kakak juga menyakiti perasaan Kakak sendiri, dan dibalik itu ada perasaan Papi dan Mami yang juga ikut tersakiti." Ucap Lova dengan dewasanya.
Kata kata Lova membuat Samudra semakin berpikir.
"Kakak masih mencintai Rill?" Tanya Lova menyelidik.
"Kakak melihat Rill bersama kekasihnya, dan hati Kakak biasa saja, tidak marah juga tidak merasakan senang. Benar benar biasa saja. Hanya saja...." Samudra menjeda kaliamatnya sejenak. "Kakak menangkis sendok itu karena tau Rill alergi kacang, Kakak hanya takut Rill tiba tiba kambuh alerginya dan sesak nafas di tempat umum." Ucap Samudra. "Menurutmu bagaimana, Lov?" Tanya Samudra.
Lova menganggukan kepalnya, "Mungkin saja Kakak hanya tidak ingin repot jika alergi Rill kambuh di restoran." Lova tertawa sementara Samudra mengacak ngacak rambut Lova.
"Menurutku, lebih baik Kakak selami hati Kakak dulu, bagaimana perasaan Kakak pada Zivana. Jika memang rasa itu belum ada dan Zivana memilih menyerah, lebih baik Kakak memang melepaskan Zivana." Kata Lova.
Samudra menunduk. "Kakak tidak bisa membayangkan, jika tidak ada Zivana, Lov. Kakak sudah terbiasa dengan kehadiran Zivana. Zivana seperti memberi warna baru di dalam hidup Kakak."
"Selami dulu Kak." Sahut Lova dengan cepat. "Kakak tau kan rasanya di beri harapan palsu, jangan lakukan hal itu pada Ziv. Aku menyayangi Ziv, Kak. Jika memang Kakak tidak bisa mencintai Zivana. Lebih baik lepaskan Ziv sekarang.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Like, Koment, hadiah dan Vote sangat berarti untuk menaikan semangatku dalam menulis bab selanjutnya 🙏