
"Tunggu apa lagi, Son." Tiba tiba saja suara Robi mengembalikan kesadaran Dirga. "Kejar wanitamu sebelum wanitamu pergi. Jika kamu mencintainya, kejarlah. Kecuali jika kamu memang mau melepaskannya." Ucap Robi lagi pada Dirga.
Dirga melihat wajah yang ternyata adalah ayah kandungnya sendiri. "Apa aku mencintainya, Pa?"
"Tanya hatimu, apa hatimu rela jika Yuri pergi bergitu saja?" Ucap Robi yang tadi mengikuti Dirga dan Yuri lalu memperhatikan sikap Dirga pada Yuri. Bahkan Robi rela meninggalkan pelaminan Nadlyn dan Cean sebentar demi mengikuti Dirga dan membuka mata hatinya.
Tanpa berkata apapun, Dirga pergi menyusul Yuri, namun Dirga tak menemukan keberadaan Yuri di dalam pesta itu.
Lalu Dirga pun keluar dari ballroom hotel dan melihat Yuri berjalan ke arah loby. Dirga berlari kecil hingga bisa menyusul Yuri yang kini berada di depan loby untuk mencari taxi.
Dirga menarik lengan Yuri dan membawanya menuju parkiran lalu memasukan Yuri ke dalam mobilnya.
"Kak ngapain sih?" Kesal Yuri.
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak mau, aku sudah tidak tinggal di rumah Papa." Ucap Yuri yang membuat Dirga melihat ke arah Yuri.
"Sejak kapan kamu tidak tinggal di rumah Papamu?"
"Bukan urusan Kakak." Jawab Yuri dengan kesal.
"Katakan padaku, sekarang kamu tinggal dimana?"
Yuri hanya diam saja.
Dirga menghela nafasnya. Ia mencoba untuk bersabar menghadapi sikap kekanakan Yuri yang akhir akhir ini memberinya warna dalam hidupnya.
"Aku tidak ingin bertengkar. Aku ingin menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Jika kita memang harus berpisah aku ingin kita berpisah dengan baik baik." Ucap Dirga melembut.
Yuri mendengar kata perpisahan dan membuat hatinya terasa nyeri meski Yuri sudah mempersiapkannya namun tetap saja rasa sakit dan kecewa itu tetap ada.
"Aku tinggal di apartemen XX." Jawab Yuri dan Dirga tidak lagi bertanya lalu menjalankan mobilnya menuju apartemen Yuri.
Di perjalanan mereka hanya saling diam, Dirga fokus pada kemudinya dan Yuri melihat jendela di pintu samping.
Dirga hanya menanyakan di tower mana dan lantai berapa unit apartemen Yuri berada dan Yuri menjawab seperlunya.
Kini mereka sudah tiba di apartemen Yuri, Dirga mengikuti Yuri masuk dan mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling apartemen Yuri.
"Duduklah." Ucap Yuri dengan hati tak menentu. Rasa sedih begitu dominan menyelimuti perasaan Yuri.
Lagi lagi mereka hanya diam tanpa ada yang memulai obrolan terlebih dahulu. Namun mata Dirga terus saja menatap wajah cantik Yuri, dengan riasan naturalnya, tatanan rambut yang cantik juga pakaian dres yang mengekspos bahu Yuri.
__ADS_1
Yuri berdiri dari duduknya, "Aku mau ganti pakaian dulu. Kakak kalau minum ambil saja di kulkas, disana ada minuman ringan."
Yuri merasa risih di tatap oleh Dirga pun memilih berganti pakaian. Yur membersihkan wajahnya dari make up yang merias wajahnya. Lalu Yuri berganti pakaian dengan kaos oblong oversize berwarna putih dan hotpants yang tertutup oleh kaos nya itu.
Yuri juga membasuh muka nya agar terlihat lebih segar dan tidak memakai kaca matanya karena tertinggal di salon milik Vincent.
Yuri keluar dari kamar dan melihat Dirga yang masih duduk di tempatnya semula, hanya saja kini ada satu gelas berisikan air putih yang hanya tinggal setengahnya.
Dirga melihat ke arah Yuri. Yuri yang biasanya berpakaian feminim memakai dres kini tampak lebih terlihat sederhana dengan pakaian rumahan.
Yuri beranjak ke dapur, sedari tadi Yuri belum sempat makan, terlebih saat di pesta pernikahan Nadlyn dan Cean, Yuri tidak mencicipi satu makananpun.
Yuri mengeluarkan satu buah kotak thinwall dan membukanya lalu memasukannya ke dalam microwafe. Dirga memperhatikan semua gerakan Yuri. Hingga lima menit microwafe itu berbunyi dan Yuri kembali mengeluarkannya.
Yuri membawa makanannya dan satu buah susu coklat kemasan dingin ke depan jendela besar dan duduk di kursi meja kerjanya yang terletak disana.
Dirga pun berdiri dan menghampiri Yuri, lalu tiba tiba saja Dirga menarik thinwall di depan Yuri.
"Kak, ngapain sih. Balikin gak." Kata Yuri dengan kesal.
"Ini makanan kapan?" Tanya Dirga yang melihat isi thinwall berisikan nasi goreng.
"Ini makanan semalam yang aku beli lewat food online." Jawab Yuri. "Kembalikan, Kak. Aku lapar."
"Kak kenapa sih ikut campur urusan aku?"
Dirga menatap wajah Yuri dengan lekat. Wajah tanpa bingkai kaca mata, rambut yang di ikat asal, membuat kecantikan naturan Yuri begitu terlihat jelas.
Mata mereka saling bersitatap, menatap lekat dengan dalam. Hingga Yuri yang membuang pandangannya terlebih dahulu.
Tangan Dirga terulur memegang dagu Yuri dan membuat Yuri kembali menatap wajah Dirga. "Kamu ingin memutuskan pertunangan kita?" Tanya Dirga dengan lirih.
"Bukankah itu yang Kakak mau?"
"Bagaimana jika aku tidak mau."
"Jangan mempermainkan perasaanku, Kak. Aku juga punya hati yang bisa merasa sakit. Untuk apa Kakak mempertahankan pertunangan ini jika tanpa arah?"
Dirga menatap mata Yuri kemudian mendekatkan wajahnya namun Yuri memalingkan wajahnya.
"I love u...." Kata Dirga percis di telinga Yuri karena Yuri memalingkan wajahnya dan kini telinga Yuri percis di dekat bibir Dirga.
Yuri hanya diam mendengar kata cinta dari Dirga. Kini tangan Dirga menangkup wajah Yuri agar mau melihat matanya kembali.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, maaf jika kamu terlalu lama menunggu. Namun sungguh aku mencintaimu gadis berisikku."
"Kakak sedang berbohong padaku." Kata Yuri dengan lirih.
"No.." balas Dirga. "Aku tidak sedang berbohong. Aku sedang mengungkapkan isi hatiku padamu."
Dirga mengecup sekilas bibir Yuri. "Katakan jika kamu juga mencintaiku."
Yuri terdiam, ia hanya takut jika Dirga mempermainkannya.
"Please, say you love me too." Lirih Dirga berbisik penuh permohonan.
Yuri akhirnya mengangguk. "I love u too Kak."
Dirga memberanikan diri mencium bibir Yuri dengan dalam, Yuri pun menggantungkan tangannya di leher Dirga den membalas ciuman Dirga.
Mereka menyalurkan rasa rindu setelah dua minggu tidak bertemu dan mendalami juga meyakini perasaannya masing masing.
Setelah ciuman itu berlangsung agak lama, Dirga melepas pagutannya dan mengusap bibir Yuri yang basah dengan ibu jarinya.
"Kak. Aku lapar." Kata Yuri setelah Dirga melepas pagutannya.
Dirga tertawa, Yuri memang berbeda dengan wanita lain, Yuri memiliki kelebihannya sendri, Yuri yang polos membuat hidup Dirga penuh dengan warna, dan kini Dirga menyadari perasaannya jika ia memang mencintai Yuri yang kekanakan itu. Ternyata dalam hidup Dirga memerlukan sosok yang kekanakan itu untuk memberi warna di hidupnya.
Dirga membuka kemejanya dan hanya menyisakan kaos oblongnya. "Aku akan memasak untukmu."
"Memang Kakak bisa masak?"
Dirga membuka pintu kulkas dan mengeluarkan bahan bahan dari sana. "Bisa kalau cuma buat spaghetti aja."
Dengan keahliannya, Dirga memulai masak. Yuri hanya memandanginya dan sesekali tersenyum saat mengingat ciuman panas yang baru saja di lakukannya tadi.
"Sudah jadi..." Kata Dirga sambil meletakan satu buah piring di hadapan Yuri.
"Koq cuma satu, Kak?"
"Aku tadi sudah makan di pestanya Cean dan Nadlyn." Jawab Dirga.
Tiba tiba saja Yuri mencium pipi Dirga. "Makasih Kak."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kalau weekend ky begini, biasanya jarang ada yang baca dan yang like apa lg koment dikit nih 😅
__ADS_1
Kalo rame, Up malam keduanya Cean Nadlyn, itu juga klo lulus review ya, karena sekarang agak ketat.