Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 123


__ADS_3

Axelle mengantar Lova pulang bersamaan dengan Samudra yang baru saja tiba di rumah, Samudra melihat pakaian berbeda yang Lova kenakan dan itu membuatnya curiga. Namun Samudra bersikap seolah biasa saja dan akan menyelidikinya nanti.


Axelle meminta pada Lova untuk berbicara serius pada Cean. Lova pun menyetujui permintaan Axelle setelah mereka membicarakannya tadi di apartemen.


"Ada apa Axelle, Lova bilang kau ingin bicara serius denganku."


"Iya Uncle, ada yang ingin aku bicarakan dengan Uncle soal hubunganku dengan Lova." Kata Axelle dan Cean menyimaknya sampai Axelle menyelesaikan kalimatnya lagi. "Jika Uncle ijinkan dan memberi restu pada hubungan kami, pekan depan, aku akan membawa orang tua juga keluargaku untuk melamar Lova."


Cean terlihat tenang meski dirinya juga terkejut, hubungan Lova dan Axelle masih sebatas seumur jagung namun mereka memutuskan untuk ke jenjang yang lebih serius.


Lama Cean terdiam, hingga akhirnya Cean berbicara. "Uncle menerima niat baikmu, jika sebelumnya kalian sudah membicarakan hal ini, Uncle akan menyetujuinya. Tidak ada alasan untuk Uncle tidak memberi restu padamu."


Axelle menghela nafasnya dan mengusap wajahnya sendiri. "Terimakasih, Uncle."


Cean tersenyum. "Jaga putriku, Axelle, aku membesarkan putriku dengan kasih sayang. Cintai dan perlakukan putriku dengan lembut. Aku percaya jika kamu bisa menjaga putriku dengan baik." Nasihat Cean pada Axelle.


"Tentu saja, Uncle. Aku berjanji pada Uncle akan selalu mencintai dan menjaga Lova seumur hidupku. Terimakasih Ucle sudah mempercayakan Lova padaku."


**


Sementara itu, di kamar Samudra. Zivana masih saja menjaga jarak dengan Samudra. Sudah tiga hari Samudra tidur di sofa dan tidak menyentuh Zivana, membuat Samudra uring uringan hingga Samudra menjadi marah marah saat di kantor.


"Bee..." Panggil Samudra pada Zivana.


"Apa, Kak."


"Sini dong deket aku."


"Gak mau!! Kakak bau."


Samudra menghela nafas. "Bee, kepalaku pening."


"Ya udah minum obat saja dulu, terus tidur."


"Obatnya kamu, Bee. Aku mau makan kamu pasti sembuh."


"Tapi aku nya gak mau, Kak." Jawab Zivana dengan santai.


"Bee, tega kamu." Samudra mendesyah pasrah. Membuat Zivana sedikit menahan tawanya.


"Kena kamu, Kak, aku kerjain." Batin Zivana seolah puas.


Keesokan harinya, Dirga dan Yuri datang untuk menemui Zivana, mereka baru saja tiba dari Dubai untuk merayakan Anniversary mereka. Dirga dan Yuri segera kerumah Cean setelah mendapatkan kabar tentang kehamilan Zivana.


"Mami...." Zivana memeluk Yuri karena rindu. "Ziv hamil, Mi..." kata Zivana di dalam pelukan itu.


"Sudah sudah, Papi juga ingin memeluk Ziv, gantian." Kata Dirga sambil melerai pelukan antara ibu dan anak itu.


"Papi..."


"Benar kamu hamil, Ziv." Tanya Dirga yang memeluknya.


Zivana mengangguk dalam pelukan Dirga. "Anaknya Kak Sam, Pi."

__ADS_1


Dirga mengusap punggung Zivana. "Harus semakin dewasa ya, Sayang. Jaga kesehatan karena kini ada dia yang harus jaga dan kamu sayangi yang harus menjadi prioritasmu."


Zivana mengangguk. "Iya, Pi..."


"Dimana Samudra?"


"Ada di atas, Pi.." Jawab Zivana Lalu Zivana membisikan sesuatu pada Dirga.


"Apa?" Tanya Dirga tak percaya. "Jangan nakal seperti itu, Ziv." Bisik Dirga.


"Ishh Papi, hanya tinggal sehari lagi." Jawab Zivana dengan berbisik juga.


Dirga hanya menghela nafasnya saja.


Zivana masuk ke dalam kamar Lova saat Dirga dan Yuri berbincang bersama Keluarga Samudra.


"Nanti kalau di hukum sama Kak Sam baru tau rasa, kamu." Kata Lova setelah mendengar kejujuran Zivana.


"Justru aku menunggu hal itu, paling Kak Sam akan menghukumku di atas ranjang, bikin aku jerit jerit." Zivana tertawa.


"Oh my God, Ziv..."


"Nanti juga kamu akan seperti ini, hemm bagaimana Axelle? Apa kalian sudah berciuman?" Tanya Zivana penasaran.


Lova mentoyor kepala Zivana, "Pikiranmu jangan traveling kemana mana."


Zivana tertawa, "Ah rasanya aku jadi rindu sekali Kak Sam berada di atasku, tapi aku masih harus menunggunya lagi."


"Kamu sendiri yang tersiksa." Balas Lova.


Malam ini Zivana sengaja tidur di kamar Lova untuk membuat Samudra semakin tersiksa.


"Bee, kamu tega sekali."


"Ini maunya Baby, Kak. Baby mau tidur bersama Auntynya."


Samudra berdecak, "Ck, Baby kamu jadikan alasan." Samudra memberengut kesal, ingin rasanya Zivana berhambur ke pelukan Samudra dan menciuminya bertubi tubi.


"Ayolah Bee, aku punya gaya baru Bee, kamu pasti suka." Goda Samudra masih dengan jarak yang jauh karena Zivana masih menjaga jarak dengan Samudra karena alasan bau.


"Bye Daddy Sam.. Mommy dan Baby tidur dulu di kamar Aunty Lov..." Zivana memberikan kiss bye yang menggoda, membuat Samudra memejamkan matanya saat di landa hasratnya kembali. Zivana sengaja meninggalkan Samudra agar tidak tergoda oleh buaiannya meski Zivana pun sebenarnya penasaran dengan gaya baru yang akan Samudra tawarkan.


"Love jangan tidur, temani aku dulu." Kata Zivana yang melihat Love sudah menguap.


"Kamu bergadang saja sendiri, ujung ujungnya juga kamu pindah ke kamarmu nanti."


Zivana mengambil ponsel Lova lalu mencari nama Axelle tapi tidak menemukannya. "Mana nomer Kak axelle?" Tanya Zivana.


"Apaan sih, Ziv."


"Aku mau telpon Kak Axelle agar mengajakmu bicara jadi kamu tidak tidur."


Lova hanya menghela nafas melihat tingkah laku Kakak ipar gesrekny itu.

__ADS_1


"Apa ini?" Tanya Zivana saat membuka aplikasi hijau untuk mengirim pesan.


"Axellove?" Tanya Zivana sambil mengernyitkan dahinya lalu melihat ke arah Lova yang terlihat cuek.


"Oh Baby Love. Aku baru tau jika wanita introvert itu ternyata romantis sekali. Kamu manis sekali seperti Kak Sam." Zivana menggoda Lova.


"Apa sih, Ziv. Biasa aja kali.."


"Tapi ini tidak biasa Baby Love, Axellove owhh manis sekali panggilan ini." Zivana semakin menggoda Lova.


"Sini ponselku." Ketus Lova.


"No." Kata Zivana. "Hmm aku harus memanggil apa ya pada Kak Sam agar terlihat manis sepertimu." Gumam Zivana.


"Ziv kembalikan ponselku."


"Beri aku ide, aku harus memanggil apa pada Kak Sam?"


"Panggil saja Massam." Lova tergelak setelah mengatakan ide itu.


"Ishh kamu.." Zivana mencebik lalu dengan sengaja mendial nomer ponsel dengan nama Axellove.


Dari sebrang sana, Axelle begitu senang saat Lova menelponnya duluan, namun Axelle merasa heran karena tidak ada suara apapun.


Zivana dan Lova sama sama diam hingga Zivana tau jika Axelle telah mengangkat ponselnya.


"Lov, apa kau sudah mencintai Kak Axelle?" Tanya Zivana dan di sebrang sana Axelle dengan perasaan berdebar menantikan jawaban Lova.


Lova diam dan akhirnya mengatakan sesuatu. "Ziv, apa kau percaya jika aku mengatakan menyukai Kak Axelle?"


Zivana diam mendengarkan curahan hati Lova.


"Aku menyukai Kak Axelle, kepribadiannya yang tenang dan mengayomi membuatku merasa nyaman di dekatnya, apa menurutmu itu cinta?" Tanya Lova.


"Bagaimana perasaanmu pada Kak Kevin? Tidak mungkin mencintai dua pria sekaligus dalam satu waktu." Ucap Zivana.


"Ada sesuatu yang terjadi padaku dan membuat perasaan itu menguap begitu saja."


"Kejadian apa?" Tanya Zivana.


"Aku tidak bisa menceritakannya sekarang, hanya saja rasa itu pergi begitu saja, Ziv.." Lirih Lova.


"Apa jantungmu berdegup kencang ketika dekat dengan Kak Axelle?"


"Sedikit, tapi aku sering merasa senang jika Kak Axelle menemuiku. Rasanya hatiku seperti gembira dan ada debaran di hatiku. Menurutmu apa itu cinta?"


"Menurutku, kamu memang sudah jatuh cinta pada Kak Axelle."


"Ya aku rasa juga seperti itu." Ucap Lova membuat Axelle di sebrang sana tersenyum mengembang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


1 Bab lagi Tamat ya.

__ADS_1


Ramein komentarnya ya, karna kalo komentarnya rame, bisa nambah nilai untuk novelku.


Terimakasih Readers 😉


__ADS_2