
Cean membaca pesan yang dikirimkan oleh Dirga. Sebuah pesan yang membuat Cean sedikit murka karena takut akan Rena berulah.
Cean menghubungi orang kepercayaannya dan menyuruhnya untuk mengawasi gerak gerik Rena, Cean bukan takut, hanya saja ia ingin menjaga Nadlyn agar Rena tidak menganggunya apa lagi sampai mengatakan hal yang tidak tidak pada Nadlyn karena memang seingat Cean, ia tidak pernah melakukan hal apapun pada Rena.
Sementara itu, Yuri perlahan mengerjapkan kedua matanya. Dirga yang merasa Yuri menarik tangannya dari genggamannya membuat Dirga terjaga dari tidurnya.
"Kamu sudah bangun?" Tanya Dirga merasa lega.
Dirga mengulurkan tangannya untuk mengukur suhu tubuh Yuri, "Sudah tidak demam." Gumamnya.
"Apa yang kamu rasa?" Tanya Dirga.
Yuri menggelengkan kepalanya sambil melihat wajah Dirga.
"Kamu kenapa? Apa yang dirasa?" Tanya Dirga lagi.
"Kak, nikahi aku dan bawa aku keluar dari rumah Papa." Kata Yuri dengan nada lirih.
Dirga diam membeku mendengar permintaan Yuri yang Dirga sendiri tidak yakin.
"Aku janji akan menjadi pelayan Kakak seumur hidupku, aku tidak akan menuntut di nafkahi lahir dan batin, aku hanya ingin keluar dari rumah itu. Bahkan jika Kakak ingin menikah lagi aku juga akan mengijinkannya."
"Aku akan memenjarakan Rena dengan kasus penganiayaan terhadapmu." Jawab Dirga.
Yuri menggelengkan kepalanya. "Jangan Kak, itu hanya akan membuat Kak Rena semakin marah. Kak Rena akan keluar dari penjara dengan kekuatan uangnya, apa lagi kak Rena menjalin hubungan gelap dengan seorang pengacara hebat yang mempunyai koneksi dengan pejabat hukum di pengadilan."
Dirga diam tidak menjawab.
"Nikahi aku hanya untuk formalitas saja Kak, hanya untuk di atas kertas saja, aku janji tidak akan membebani hidup Kakak." Yuri terus saja memohon.
"Tidurlah, Yuri.. Nanti kita akan bicarakan lagi." Balas Dirga dan Yuri menganggap jika Dirga menolak permintaannya.
Pagi hari menjelang. Cean dengan bersemanga bangun, ini adalah tidur ternyemyaknya selama hampir 7 tahun belakangan ini.
Dilihatnya wajah Nadlyn dan Samudra yang masih tidur dengan nyenyak. "Bodohnya aku, kenapa dulu aku begitu pengecut." Gumam Cean.
Cean bangun dan berganti pakaian yang sudah lama ia siapkan, lalu dirinya kembali menuju tempat tidur dan menciumi seluruh wajah Samudra agar Samudra bangun.
"Bangun, Son.." Kata Cean dengan pelan dan mengesek gesekan hidung mancungnya ke hidung mancung Samudra.
"Aku masih ngantuk, Dad." Gumam Samudra dengan mata masih terpejam.
Cean tertawa pelan. "Ayo bangun, Son. Lihat Daddy sudah bersiap, kamu tidak ingin ikut Daddy?"
Perlahan Samudra membuka matanya dan melihat Cean dengan pakaian yang berbeda. "Daddy...."
Cean mengangguk. "Dan ini baju mu. Ayo kita main bola bersama." Ajak Cean.
Samudra segera duduk dengan bersemangat, "Couple, Dad."
__ADS_1
"Yes..." Jawab Cean. "Kepalamu masih sakit?" Tanya Cean.
Samudra menggelengkan kepalanya, "Tidak terlalu sakit, Dad. Kita bermain pelan pelan saja." Kata Samudra yang terlihat sangat bersemangat.
"Lets go."
"Tapi Mommy?" Tanya Samudra.
"Biarkan Mommy tidur, nanti Mommy akan turun jika sudah bangun." Jawab Cean kemudian Cean mencium pipi Nadlyn lalu membawa Samudra turun.
Pras dan Nanda melihat Cean dan Samudra yang turun dari anak tangga dengan mamakai baju bola yang sama.
"Hei, kenapa baju kalian sama? Kenapa Opa tidak diberikan baju yang sama?" Protes Pras.
"Opa sudah tua, duduk manis saja bersama Mommy." Jawab Cean sambil menuju ke arah taman belakang.
"Dasarr anak nakal!!." Omel Pras. "Sepertinya Cean sudah menerima mantra cinta dari Samudra, terlihat sekali jika Cean terus menempel pada Samudra." Imbuhnya lagi.
"Dan juga mantra cinta Nadlyn, Dad. Mommy bisa melihat tatapan Cean yang penuh cinta pada Nadlyn." Balas Nanda.
"Hem Mom, sepertinya kita harus membuatkan kamar untuk Samudra, jika Samudra terus tidur bersama mereka, sampai kapanpun Samudra tidak akan memiliki adik."
"Ahh Daddy benar sekali, Samudra harus punya kamar sendiri. Mommy ingin Cean memberi Mommy cucu lagi."
"Ya, ide Daddy brilliant kan, Mom? Kalau begitu Mommy harus balas dengan tiga ronde nanti malam." Kata Pras sambil menaik turunkan halisnya.
Nanda tertawa, suaminya ini bukan hanya bucin, melainkan terlalu mesum.
"Tangkap, Sam."
Happ..
"Yeayyy Sam bisa menangkapnya Dad." Sorak Samudra.
Cean tersenyum melihat tawa Samudra yang riang.
"Sam.. Minum susumu dulu." Teriak Nanda yang berjalan membawa nampan berisikan satu gelas susu dan satu cangkir kopi untuk Cean.
"Ayo, Dad." Ajak Samudra dan Cean mengikuti Samudra.
"Sam tunggu disini dulu, Daddy mau lihat Mommy." Kata Cean yang diangguki oleh Samudra.
Cean menuju kamarnya dan melihat Nadlyn yang baru saja selesai membersihkan diri. "Pagi, Honey.." Kata Cean dengan mesra dan mencium sekilas bibir Nadlyn.
"Koq gak bangunin aku?" Tanya Nadlyn protes.
"Tidurmu nyenyak sekali, sampai aku cium saja tadi tidak bangun."
"Kamu cium aku?" Tanya Nadlyn.
__ADS_1
Cean mengangguk, "Tanya saja pada Sam, aku mencium pipimu di depan Sam."
Nadlyn tersenyum. "Aku seperti tidak mengenalimu."
"Apanya?" Tanya Cean menggoda.
"Kamu sekarang lebih lembut."
"Tentu saja, kamu istriku."
"Kamu jadi seperti Daddy pada Mommy."
"Ya karena aku anaknya. Aku akan seperti Daddy."
Nadlyn berhambur memeluk Cean dan Cean membalas pelukannya. "Tetaplah seperti ini, Cean."
"Aku akan selalu seperti ini, aku janji." Cean perlahan melerai pelukannya. "Ayo turun, kita sarapan." Ajak Cean dan Nadlyn mengangguk.
Kali ini mereka sarapan bersama dengan suasana hangat, tidak ada lagi kekakuan diantar mereka. Nanda yang melihatnya merasa bahagia.
"Mom, selesai resepsi nanti aku akan kembali ke perusahaan." Ucap Cean di sela sela makannya.
"Really?" Tanya Nanda tak percaya.
Cean mengangguk, "Bukankah aku harus menafkahi anak dan istriku? Nadlyn tidak ingin aku menerima uang lagi tanpa hasil kerjaku."
"Good, itu baru menantu kebanggaan Daddy." Sahut Pras pada Nadlyn yang berhasil merubah pola pikir Cean.
"Terus Sam sama Oma lagi?" Tanya Samudra terlihat bingung.
"Jika Daddy bekerja, Mommy juga bekerja, Sam dengan Oma lagi?" Tanya Samudra lagi karena tidak ada yang menjawabnya.
"Mommy akan di rumah dan resign dari pekerjaan Mommy." Jawab Nadlyn yang membuat Cean juga ikut terkejut.
"Benarkah?" Tanya Cean.
Nadlyn mengangguk, "Aku ingin menjadi Mommy yang sempurna untuk Sam."
Cean membalas senyum Nadlyn dan mencium punggung tangan Nadlyn. "I love U."
"Hemm so sweet sekali." Sahut Nanda yang ikut merasakan aura percintaan Cean dan Nadlyn.
Pras pun tersenyum melihatnya, ia berharap rumah tangga Cean dan Nadlyn selalu ada dalam lindungan Tuhan dan tidak pernah bermasalah. Pras juga berharap jika Cean akan selalu menjadi suami dan Ayah yang baik dan bertanggung jawab untuk Nadlyn juga Samudra.
Samudra bersorak senang, "Yeayy.. Mommy akan di rumah bersama Sam." Ucapnya dengan menaikan satu tangannya ke atas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf kemarin aku lupa Up Padahal udah disiapin tp lupa di publish, lihat komentar sedikit jadi gak nyadar klo belum Up..
__ADS_1
Maaf ya... 🙏