Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 37


__ADS_3

Pagi hari Dirga bangun tidak bersemangat, ia memikirkan Samudra yang mendengar ucapan tidak baik yang di lontarkan oleh Maminya. Sungguh demi apapun Dirga begitu menyayangi Samudra dengan tulus.


Samudra meski selama ini selalu bersikap lebih dewasa sebelum waktunya, namun sisi lainnya adalah Samudra memiliki hati yang sensitif dan Dirga sangat tau hal itu.


"Sam... Maafkan Papi..." Gumam Dirga sambil mengusap wajahnya kasar.


Hari ini Dirga memutuskan untuk menemui Samudra dan memastikan jika Samudra baik baik saja, serta menjelaskan pada Samudra apa yang di katakan oleh Mami nya Dirga tentang Nadlyn adalah tidak benar.


Dirga turun menelusuri anak tangga sambil mengaitkan tali jam di pergelangan tangannya. Ini adalah hari libur dan Dirga yakin jika Samudra tengah berada di rumah Oma nya yaitu Nanda karena jika hari libur, terkadang Nadlyn harus survei lokasi untuk melihat beberapa tempat yang akan menggunakan jasa desain interiornya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Hellena yang ternyata sedang berbincang bersama Yuri di teras rumahnya sambil meminum teh.


Dirga menghembuskan nafas kasarnya saat melihat wanita yang berstatus tunangannya sudah mendatanginya pagi pagi.


Dirga diam dan tidak menjawab.


"Mau nenemui wanita itu?" Tanya Hellen yang tak kunjung mendengar jawaban Dirga.


"Kak maaf aku yang kesini, aku takut Kakak masih lelah dengan pesta semalam, jadi aku yang kesini." Sahut Yuri mencoba mengecoh Hellena sekaligus menyelamatkan Dirga dari tuduhan Hellena.


"Jadi kalian mau pergi bersama?" Tanya Hellena tak percaya.


Yuri mengangguk. "Aku meminta Kak Dirga untuk menemaniku jalan jalan seharian ini, Mi." Kata Yuri meyakinkan.


"Kenapa tidak bilang dari tadi." Balas Hellena.


Yuri segera mengambil tas nya dan mencium pipi Hellena kemudian berjalan ke arah Dirga dan berdiri di sampingnya.


"Ayo, Kak." Bisik Yuri pelan sambil mengedipkan satu matanya.


Dirga lagi lagi menghela nafasnya kemudian berjalan ke arah mobilnya.


"Kakak harus berterima kasih padaku." Kata Yuri saat mereka berada dalam perjalanan.


Dirga melirik sekilas ke arah Yuri kemudian fokus kembali menyetir. "Kamu pamrih sekali." Cibir Dirga.


Yuri tertawa, "Kalo ke Kakak aku harus pamrih, karena Kakak orang yang tidak tau berterimakasih." Balas Yuri.


Dirga hanya diam karena malas menanggapinya.


"Jadi kita mau ke rumah nya Kak Nadlyn?" Tanya Yuri dan Dirga tidak menjawabnya.


"Ish menyebalkan sekali." Gumam Yuri yang terdengar oleh Dirga.

__ADS_1


"Jika tau aku menyebalkan kenapa masih mau melanjutkan pertunangan denganku?" Tanya Dirga dengan sengit.


"Karena aku menyukai Kakak." Jawab Yuri dengan senyum ceria.


Dirga hanya menggeleng gelengkan kepalanya.


Setelah hampir tiga puluh menit, mereka akhirnya tiba di rumah Nanda. Dirga turun dari mobil tanpa menghiraukan Yuri. Namun Yuri yang polos pun mengekori Dirga meski dirinya tidak di ajak turun oleh Dirga.


Asisten rumah tangga membukakan pintu untuk Dirga dan benar saja dugaan Dirga jika Samudra tengah berada di rumah Nanda.


Dirga duduk di ruang tamu bersama Yuri yang terus saja mengekori dirinya meski Dirga tak menganggap keberadaannya.


Suara pintu terbuka dan Cean yang tidak mengetahui jika ada Dirga di rumahnya, keluar begitu saja dari dalam kamarnya menggunakan kursi roda menuju taman belakang, dimana Samudra tengah memberi makan ikan bersama Pras.


Dirga yang melihat hal itu seolah tidak percaya dan berdiri seketika. "Cean..." Panggil Dirga dan Cean menoleh seketika dan terkejut dengan keberadaan Dirga di rumahnya.


Dirga mendekat ke arah Cean dan berdiri di depan Cean. "Apa yang terjadi padamu?" Tanya Dirga menatap Cean dengan lekat.


"Bukan urusanmu." Jawab Cean ketus.


Cean hendak memutar kursi rodanya namun Dirga menahanannya. "Cean, aku bertanya padamu, apa yang terjadi padamu?" Tanya Dirga sekali lagi.


"Aku bilang itu bukan urusanmu!"


Cean menatap sinis Dirga, "Perduli? Bukankah harusnya kau senang melihat rivalmu dalam kondisi menyedihkan seperti ini?"


"Dulu kita bersahabat, Cean!!"


"Dan sekarang bukan lagi." Balas Cean.


Dirga menghela nafasnya. "Aku akan menikah dengan wnita lain, kau bisa mengejar Nadlyn kembali." Ucap Dirga pada akhirnya.


Arah mata Cean tertuju pada seorang wanita yang duduk di sofa ruang tamu, wanita berkuncir kuda dan berkacamata yang jelas saja itu bukan selera Dirga.


Cean kembali menatap wajah Dirga, "Ralat ucapanmu, aku tidak pernah mengejar Nadlyn." Ucapnya dengan gengsi.


Sungguh saat ini Dirga ingin sekali mentertawai Cean bahkan menghajar Cean agar Cean tersadar, jelas jelas sedari SMA Cean sudah menyukai Nadlyn namun selalu saja menepisnya.


"Sampai kapan kau mau gengsi begini, aku sudah mengalah untukmu." Kata Dirga mencoba menyadarkan perasaan Cean.


Cean hanya mencebik, percis seperti Samudra jika sedang merajuk.


"Sadarlah Cean, kau bukan lagi remaja berusia delapan belas tahun. Bahkan putramu saja sudah berusia lebih dari enam tahun." Imbuh Dirga lagi.

__ADS_1


"Jangan ikut campur." Kata Cean dengan keras kepala.


"Aku akan melindungi Nadlyn meski aku sudah menikah nanti jika kau terus terusan gengsi seperti ini." Kata Dirga.


"Kau akan poligami?" Tanya Cean menyelidik.


"Tentu saja, lagi pula calon istriku tidak akan keberatan." Ucap Dirga mencoba memancing Cean untuk jujur pada dirinya sendiri.


"Kasihan sekali putraku, memiliki Papi tiri yang serakah, memiliki dua orang istri." Balas Cean.


"Putramu yang mana?" Tanya Dirga yang membuat Cean mendelik. "Memangnya kau sudah mengakui Samudra sebagai putramu? Apa Samudra tau jika kau adalah Daddynya?" Ledek Dirga.


"Diam, kau!!" Kata Cean.


"Papiiii..." Samudra berlari saat melihat Dirga di rumah Nanda.


Dirga seketika menoleh dan langsung berlutut dengan satu kakinya untuk menyambut Samudra.


"Papi mengkhawatirkanmu." Lirih Dirga sambil memeluk Samudra dengan erat.


Cean melihat hal itu, Cean juga dapat merasakan ketulusan Dirga dalam menyayangi Samudra.


"Aku tidak apa apa, Pi..." Kata Samudra sambil melepas perlahan pelukannya dari Dirga.


Dirga menatap wajah Samudra yang sudah ia anggap putranya sendiri. "Jangan pikirkan apa yag di katakan oleh Maminya Papi ya. Semua yang dikatakan oleh Mami nya Papi adalah sebuah kebohongan. Mami nya Papi tidak tau apapun tentang Mommy mu, Mommy tetaplah Mommy yang terbaik di mata semua orang." Kata Dirga sambil menangkup wajah Samudra.


Samudra mengangguk. "Aku tau, Pi." Samudra tersenyum. "Papi jangan cemaskan aku."


"Dan satu lagi." Kata Dirga dengan cepat.


"Apa Pi?"


"Papi tetap Papi kamu, selamanya Papi adalah Papimu, apapun yang terjadi Papi tetaplah Papimu, okay?"


Samudra mengangguk. "Ya, Papi Dirga adalah Papi ku. Aku menyayangi Papi."


Ucapan Dirga dan pernyataan Samudra yang menyatakan menyayangi Dirga membuat hati Cean tercubit. Haruskah Cean iri terhadap Dirga? Tentu saja itu tidak wajar mengingat selama ini Dirga lah yang slalu ada untuk Samudra. Bahkan Dirga begitu mencemaskan Samudra sampai rela mendatanginya sepagi ini hanya untuk menjelaskan hal semalam yang terjadi kepada Samudra. Sungguh Cean merasa malu dan sepertinya Cean harus banyak belajar pada Dirga untuk menjadi seorang Daddy yang sesungguhnya bagi Samudra.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku sudah Crazy Up hari ini, meskipun yang kasih aku Vote cuma 3 orang.


Dan Up kali ini aq persembahkan untuk yang kasih aku vote di hari senin ini.

__ADS_1


Makasih untuk dukungannya, meski sedikit tapi aku bahagia ada yang dukung karyaku ini.


__ADS_2