
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nadlyn masuk ke dalam kamar Cean yang berada di lantai dua. Kamar yang penuh kenangan manis masa kecil hingga remaja bersama Cean sekaligus kenangan buruk saat mereka baru menikah karena Cean tidak sengaja menghamili Nadlyn saat baru lulus sekolah.
Nadlyn mengedarkan pandangannya, semua tata letak di kamar ini masih sama, tidak ada yang berubah.
"Mom..." Samudra memanggil Nadlyn yang sedari tadi terbawa perasaan menelusuri masa lalunya.
"Hem.."
"Mommy tidak apa apa?" Tanya Samudra yang mengerti kondisi sang ibu. "Jika Mommy tidak suka di sini, kita pulang saja ke rumah Kakek, nanti Sam akan bilang pada Uncle." Kata Samudra lagi dengan penuh pengertian.
Nadlyn duduk di tepi ranjang dan wajah mereka kini sejajar. "Mommy tidak apa apa." Jawabnya sambil tersenyum. "Sam mau tidur bersama Mommy atau bersama Uncle?" Tanya Nadlyn.
"Malam ini Sam akan menemani Mommy, Sam tadi sudah bilang pada Uncle." Jawab Samudra.
Nadlyn mengangguk. "Ayo kita tidur, sudah malam." Ucap Nadlyn dan mereka naik ke atas tempat tidur Cean untuk tidur.
Sementara di Negara lain, Setelah menempuh perjalanan hampir delapan jam, Nanda dan Pras pun tiba negara China.
"Dad, dimana koperku?" Tanya Nanda yang tak melihat keberadaan kopernya, ia ingin mengambil pakaian tidurnya dan beristirahat setelah menempuh perjalanan hampir delapan jam.
Pras yang baru saja selesai mandi, langsung mendekatkan dirinya pada Nanda dan memeluknya dari belakang.
"Dad, ishh, mana koperku?" Tanya Nanda lagi.
"Koper Mommy ketinggalan di Loby." Jawab Pras berbohong.
"Koq bisa?" Tanya Nanda. "Kalau begitu tolong ambilkan." Kata Nanda yang masih memakai bathtrub nya.
"Di koper Daddy ada baju tidur Mommy." Kata Pras sambil menciumi tengkuk leher Nanda.
"Ishh Daddy diam dulu sih." Kesal Nanda kemudian beralih membuka koper milik Pras. Nanda mengernyitkah dahinya saat melihat lingerie super seksi di dalam koper suaminya.
"Dad, apa ini?" Tanya Nanda.
"Baju dinas Mommy."
"Dad, kita kesini untuk menghadiri undangan seminar kesahatan."
"Itu bohong, itu hanya alasan, Daddy ingin bulan madu dengan Mommy, tidak ada undangan seminar di sini." Jawab Pras yang sangat bucin pada Nanda.
"Daddy." Pekik Nanda. "Daddy tau gak kita ninggalin Cean yang lagi sakit."
"Daddy tau, Mom. Karena itu Daddy menculik Mommy dari Cean yang terus menempel pada Mommy." Balas Pras tidak ingin kalah.
"Pokoknya satu minggu ini, Mommy milik Daddy, tidak ada Cean, tidak ada Samudra, tidak ada juga Disya dan Baby nya. Mommy hanya milik Daddy." Tegas Pras kemudian menyambar bibir Nanda dan membawanya ke atas tempat tidur.
__ADS_1
Nanda melepaskan pagutannya dan tertawa, "Daddy ini sudah tua, sudah punya cucu dua, tapi gak mau ngalah."
"Biarin, lagi pula Daddy belum tua, masih bisa bikin Mommy jerit jerit keenakan." Ledeknya dan Nanda semakin tertawa.
**
Tiga hari sudah Nanda dan Pras berada di China untuk menikmati quality time sekaligus second honeymoon mereka di usia nya yang sudah tidak lagi muda. Selama tiga hari itu juga, Pras tetap tidak memberikan pakaian pada Nanda, hanya lingerie seksi dan jika Nanda ingin memakai pakaian, Nanda memakai kaos yang kebesaran milik Pras dan di mata Pras hal ini terlihat sangat seksi.
Begitu juga dengan Nadlyn yang sudah beberapa hari ini masih tinggal di rumah Nanda untuk merawat juga menemani Cean. Nadlyn bahkan sudah terbiasa membantu Cean untuk membersihkan tubuhnya dan ketika sudah selesai, supir keluarga lah yang membantunya.
Cean semakin merasakan hasratnya yang naik ketika berdekatan dengan Nadlyn, ia meyakini jika dirinya tidak impoten dan bisa normal seperti dulu.
Cean juga masih mengikuti teraphy di rumahnya, Nadlyn pun slalu menemaninya dan sedikit tidak tega ketika melihat Cean terjatuh dan terjatuh lagi. Tak jarang Nadlyn sendiri yang membantu Cean untuk bangkit saat Cean terjatuh. Cean menganggap jika Nadlyn masih mencintainya, terlihat dari sebegitu khawatirnya Nadlyn pada Cean.
"Cean, aku pergi dulu." Kata Nadlyn berpamitan.
"Kamu mau keluar?"
Nadlyn mengangguk. "Aku harus bertemu klien baru, mereka mau menggunakan jasa interiorku untuk butiknya."
Cean sangat tau pekerjaan Nadlyn, Nadlyn tidak akan keluar jika bukan urusan yang sangat penting seperti meeting di kantor atau survei lokasi. Selebihnya Nadlyn hanya bekerja dari rumah saja.
"Hati hati, Nad." Kata Cean tersenyum.
Cean mengangguk, "Tenang saja. Dan semoga pekerjaanmu berjalan dengan lancar."
Nadlyn pergi dengan membawa mobilnya sendiri. "Cean, kenapa sekarang kamu sangat manis seperti dulu saat kita masih bersahabat dan belum menikah?" Gumam Nadlyn sambil mengemudikan mobilnya.
"Andai kita masih berada dalam satu ikatan pernikahan dan kamu kembali semanis ini lagi, aku pasti akan sangat bahagia, kenapa kamu harus seperti ini saat kita sudah bercerai, Cean?" Katanya lagi bermonolog.
Cean tengah membaca buku di dekat kolam renang, cuaca yang tidak begitu panas membuat Cean menikmati waktu siang sambil menunggu Samudra di dekat kolam renang.
"Uncleee...." Panggil Samudra dengan riang.
"Hai, kamu sudah pulang?" Tanya Cean sambil mengusap lembut kepala Samudra. "Bagaimana sekolahmu?"
"Menyenangkan sekali, Uncle."
"Kamu suka dengan sekolah pilihanku?" Tanya Cean lagi.
"Jadi itu sekolah pilihan Uncle?"
Cean mengangguk, "Aku memilihkan yang terbaik untukmu."
"Terimakasih Uncle, aku menyukai sekolahku, Uncle."
__ADS_1
Cean tersenyum, "Ganti pakaianmu dan makan siang bersamaku."
"Uncle belum makan siang?" Tanya Samudra.
"Aku tidak mau makan sendirian." Jawab Cean.
"Mommy bekerja?" Tanya Samudra.
"Ya, Mommy mu bilang keluar sebentar untuk menemui Klien."
"Baiklah, ayo kita masuk Uncle, aku ganti pakaian dulu."
Cean dan Samudra jalan ke dalam rumah beriringan dengan tujuan berbeda. Samudra ke kamar untuk mengganti pakaiannya sementara Cean ke ruang makan dan menunggu Samudra di sana.
Setelah mengganti pakaian, Samudra segera menuju ruang makan dan makan bersama Cean.
"Uncle.. Sore nanti aku ingin berenang." Kata Samudra setelah selesai makan siang dan kini menikmati puding mangga sebagai makanan penutupnya.
"Uncle akan temani sambil membaca buku." Jawab Cean san tersenyum. "Kamu bisa berenang?"
"Bisa tapi tidak terlalu bisa."
Cean mengernyitkan dahinya, "Maksudnya?"
"Papi sempat mengajariku berenang, tapi aku belum terlalu bisa."
Cean menagangguk. "Kamu harus pandai berenang karena Momny mu tidak bisa berenang."
"Ya, Uncle benar.. Mommy tidak bisa berenang." Samudra mengelap mulutnya menggunakan sapu tangan. "Apa Uncle bisa berenang?" Tanya Samudra.
Cean terdiam, kemudian berkata. "Sewaktu kaki Uncle belum sakit, Uncle jago sekali berenang. Bahkan Uncle sering ikut lomba dan meraih juara terus."
"Waahh Uncle hebat." Samudra bertepuk tangan. "Uncke harus cepat sembuh agar bisa mengajariku berenang dan jago seperti Uncle."
Cean melihat wajah penuh harap Samudra. "Uncle akan berusaha untuk sembuh, Uncle akan mengajarimu berenang, dan nanti setelah kamu jago berenang, Uncle akan membawamu menggunakan kapal dan kita akan berenang langsung di laut."
"Benarkah?"
"Ya Uncle janji."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bab selanjutnya kita selesaikan dl asal usul Dirga ya.
Yang mau tau cerita tentang Nanda dan Pras ada di novelku yang berjudul BEFORE WE DONE.
__ADS_1