
Zivana kembali keruangannya saat jam istirahat sudah berakhir. Meski ia sedang malas bekerja, namun Zivana tetap menyelesaikan pekerjaannya.
Zivana duduk dan mulai menyalakan kembali komputernya, lalu membuka beberapa proposal yang harus ia periksa. Jimmy masuk ke dalam ruangan sambil menenteng goodie bag bertuliskan restoran ternama dan meletakan di mejanya.
"Kamu belum makan, Jim?" Tanya Zivana lalu melihat kembali ke arah proposal.
"Udah, ini punya Tuan Sam, Nona." Jawab Jimmy sopan.
Meski Zivana menjadi rekan kerja Jimmy namun Jimmy tetap berlaku sopan terhadap Zivana yang sudah berstatus sebagai istri dari bosnya.
Zivana seketika menutup dokumen proposal lalu berdiri dan menghampiri Jimmy. "Punya Kak Samudra?" Tanya Zivana meyakinkan.
"Iya, Nona. Tuan Sam bilang sedang tidak ingin makan siang."
Zivana terdiam, ia pun mengingat tadi pagi Samudra hanya makan selembar roti dan tidak ada lagi makanan masuk ke dalam mulutnya.
"Tuan Sam sepertinya sedang tidak enak badan, wajahnya terlihat pucat." Kata Sam lagi dan tanpa berpikir panjang, Zivana langsung mengambil goodie bag itu dan pergi menuju ruangan Samudra.
Zivana masuk begitu saja ke dalam ruangan Samudra dan terlihat Samudra yang sedang berbaring di sofa dengan satu lengan menutupi kedua matanya.
"Kak Sam..." Zivana menghampiri Samudra dan memegang tangan Samudra yang terasa panas.
"Kak Sam, demam?" Gumam Zivana lalu memanggil Jimmy untuk dicarikan obat penurun panas.
"Kak, ayo makan dulu sebelum obatnya datang. Kakak harus isi perut Kakak dulu." Kata Zivana.
"Aku tidak mau, mulutku terasa pahit sekali, Ziv."
"Sedikit saja, Kak. Tadi pagi Kakak cuma makan roti aja."
Namun Samudra hanya terdiam dengan mata masih terpejam. Zivana membuka kotak makan dan mulai menyuapi Samudra, mau tak mau Samudra memakan makanannya meski sebenarnya ia tidak mau.
"Sudah Ziv, aku mual." Kata Samudra menahan lengan Zivana yang ingin kembali menyuapinya makanan.
Zivana segera memberikan minum pada Samudra bersamaan dengan Jimmy yang datang membawa obat kemudian meninggalkan Zivana bersama Samudra.
"Minum obatnya, Kak." Kata Zivana dan Samudra pun menurutinya.
"Tidur di kamar saja, Kak. Disini tidak nyaman." Zivana menunjuk sebuah kamar yang memang ada di dalam ruangan Samudra untuk berisitirahat.
"Tidak, aku ingin disini saja." Samudra merebahkan kembali tubuhnya diatas sofa dengan kepala berada di pangkuan Zivana.
Zivana tidak bisa menolaknya karena kondisi Samudra yang sedang sakit. Tangan Zivana terulur mengusap lembut kepala Samudra.
"Kita ke dokter yuk, Kak. Suhu tubuhmu panas sekali."
__ADS_1
"Tidak mau, tidak ada yang menjagaku di rumah sakit, kasian Mommy jika harus menjagaku di rumah sakit." Jawab Samudra.
"Aku akan menjagamu, Kak." Lirih Zivana.
Samudra terdiam, entah mengapa rasanya kini ia begitu takut kehilangan Zivana.
"Jangan menggugatku cerai, Ziv. Aku tidak mau bercerai denganmu." Ucap Samudra membuat Zivana terpaku.
"Aku akan memberikan apapun yang kamu mau, tapi tidak dengan bercerai." Kata Samudra lagi.
"Pernikahan bukan hal yang main main, Ziv. Kita masih tahap belajar saling mencintai, bersabarlah." Kata kata Samudra begitu menyentuh ke dalam relung hati Zivana yang terdalam.
Tanpa sadar mata Zivana mengembun dan Zivana memeluk kepala Samudra yang berada di atas pangkuannya. Zivana menangis dan hati Samudra pun terenyuh mendengar isakan tangis Zivana.
"Maafkan aku, Ziv. Maafkan aku jika membuatmu kecewa, membuat hatimu sakit, tetapi sungguh di dalam hatiku tidak ada sedikitpun aku ingin menyakitimu."
Setelah mengatakan isi hatinya, Samudra pun tertidur karena pengaruh dari obat demam yang ia minum. Samudra tertidur masih dengan posisi kepala di atas pangkuan Zivana. Zivana tetap mengusap lembut kepala Samudra membuat rasa nyaman begitu dirasakan oleh Samudra.
"Kenapa Kakak punya hati yang begitu lembut, Kakak seperti Papi, begitu mirip seperti Papi." Gumam Zivana sambil terrus menatap wajah Samudra yang sudah terlelap.
Sementara itu, kedua saudara kembar tiga itu tengah berdiskusi soal kerjasama yang akan tengah mereka ajukan dengan ARDA KARYA. "Kamu nekat sekali mengajak kerja sama perusahaan ARDA KARYA, Mama pasti akan khawatir sekali." Kata Kenzo pada Kevin, kembarannya itu.
Kevin memijat pelipisnya, "Aku mengejar Lova."
"Kev, Mama tidak akan menyetujuinya, Daddy nya Lova juga tidak akan menyetujuinya." Kata Kenzo mengingatkan.
"Tidak ads cinta yang salah, tapi kamu dan Lova itu tidak bisa bersatu. Kakek kita dengan Oma nya Lova itu mantan suami istri di masa lalu, bercerai dengan kondisi tidak baik baik saja. Dan tidak mungkin akan saling menerima." Jelas Kenzo mengingatkan.
Kevin menghela nafas, sudah lama sekali ia memendam perasaan pada Lova.
**
Samudra terbangun karena merasa tidak nyaman dengan tubuhnya yang terus berkeringat, suhu tubuhnya juga tidak kunjung turun.
"Kak, kita ke dokter ya." Bujuk Zivana.
"Kepalaku sakit sekali."
Zivana meletakan kepala Samudra di atas bantal sofa dan ia memanggil Jimmy untuk membantunya membawa Samudra ke rumah sakit.
Di perjalanan, Samudra terus saja bersandar pada Zivana dan Zivana tidak melepaskan genggaman tangannya pada Samudra.
"Gejala typhus, pasien terlalu kelelahan dan kurang beristirahat." Kata dokter yang memeriksa Samudra di rumah sakit milik Pras yang tidak lain adalah Kakeknya Samudra.
Zivana memutuskan agar Samudra di rawat supaya tidak memikirkan pekerjaan dan bisa beristirahat. Samudra hanya mengikuti apa kata Zivana karena menurut Samudra, Zivana tau yang terbaik untuk dirinya.
__ADS_1
"Kamu nemenin aku disini kan?" Tanya Samudra dengan tidak melepaskan genggaman tangannya pada Samudra.
Zivana membalas genggaman tangan Samudra dengan erat. "Iya, aku disini nemenin kamu, nemenin suami aku."
Samudra tersenyum, "Jangan teruskan gugatan ceraimu, ya."
Zivana mengangguk. "Iya, tapi kamu tidak boleh lagi perduli pada Rill."
"Kamu cemburu?"
Zivana mengangguk samar. "Iya." Ucapnya malu malu.
"Sudah mencintaiku?"
Zivana diam tidak menjawab, ia terlalu malu mengakui perasaannya yang bisa secepat itu mencintai Samudra.
"Kenapa tidak menjawab?"
Zivana menatap mata Samudra dengan dalam, "Karena aku takut tidak terbalaskan." Jawabnya lirih.
Samudra tersenyum lalu menarik Zivana untuk naik ke atas brankar dan tidur di sisinya. "Sini peluk aku."
Zivana pun menurut dan naik ke atas brankar lalu tidur di sebelah Samudra dengan posisi memeluk Samudra.
"Istirahatlah."
"Harusnya Kakak yang istirahat, Kakak yang sakit."
"Aku sakit karena kamu tidak tidur denganku semalam, aku tidak bisa tidur semalaman, dan tadi Kamu mengacuhkanku dan malah pergi makan dengan Kenzo Wiguna."
Zivana mendongkan kepalanya menatap wajah Samudra seolah bertanya satu hal.
"Aku cemburu." Kata Samudra lalu memejamkan mata seolah tertidur.
Zivana menyipitkan matanya, 'Cemburu?' Gumamnya dalam hati.
'Apa Kak Sam juga sudah mencintaiku?' Tanya Zivana masih dalam hatinya lalu kembali dengan posisi memeluk Samudra dan semakin erat memeluknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kalau nanti cerita Sam-Ziv selesai, mau dibuat season 3 Tentang Lova-Kevin atau dipisah aja buat Novel baru? Tapi tenang aja, Sam Ziv ini masih berjalan ceritanya, aku udah nyiapin sampai Bab bab selanjutnya hanya tinggal di revisi saja, mereka kan belum bucin bucinan dan sekarang udah mulai ya masuk ke bucin bucinannya.
Untuk Sementara Kevin-Kenzo disini cuma figuran aja ya, masih belum tau diceritain Season 3 atau dipisah dengan cerita Kevin Lova. Tadinya mau aku buat pisah karena konflik mereka agak berat karena terhalang restu, nyiapin ceritanya juga agak susah 🤭
Asal usul Kevin-Kenzo si triplet ada di novelku yang berjudul "TERLUKA KARENA PERPISAHAN" Disana juga ada asal usulnya Raelyne atau Rill.
__ADS_1