
Nadlyn dan Cean maupun Yuri dan Dirga datang ke rumah sakit. Mereka berjanjian di loby dan datang hampir bersamaan.
Sebelum mereka naik ke lantai ruang perawatan Samudra, mereka berdiskusi dulu tentang Zivana yang sudah melakukan konsultasi perceraian dengan pengacara. Kabar itu memang diberikan oleh Jimmy pada Cean sebagai mata mata untuk hubungan Samudra dan Zivana.
"Aku tidak ingin mereka bercerai." Kata Nadlyn dengan nada bersedih.
"Maafkan putriku, Kak Nadlyn." Balas Yuri.
"Tidak, Yuri. Aku yakin Zivana melakukan hal itu karena ada sebabnya. Aku juga takut jika Samudra berlaku kasar pada Zivana." Jawab Nadlyn yang memang cukup masuk akal.
"Dirga...." Panggil Nadlyn.
"Kita serahkan pada mereka saja, Nad." Kata Dirga. "Mau kita paksakan juga hubungan itu tidak akan berhasil, dari pada mereka saling menyakiti, lebih baik biarkan saja jika mereka memang mau berpisah."
Mereka berempat terdiam, Cean sendiri merasa bersalah karena pernikahan ini dalah jebakan Cean bersama Robi.
"Aku tidak akan membenci Samudra, mungkin memang jalannya harus seperti ini. Mereka sudah dewasa, biarkan mereka mengambil keputusan." Ucap Dirga dengan sangat bijak.
Cean dan Nadlyn saling melirik. "Bagaimana jika mereka saling intropeksi dulu dengan berpisah rumah, sebelum akhirnya mereka benar benar mengambil keputusan." Ide Cean membuat Dirga menganggukan kepalanya.
"Baiklah. Sekarang kita jangan bebani Samudra dulu yang sedang sakit. Biarkan Samudra fokus pada kesehatannya dulu." Kata Dirga yang tetap menyayangi Samudra.
Mereka lanjut menuju ruang perawatan Samudra, Nadlyn membuka pintu ruangan dan terkejut lalu tak lama setelah itu tersenyum saat melihat Zivana tidur di atas brangkar yang sama bersama Samudra.
"Sepertinya tidak akan ada perceraian." Kata Nadlyn dengan masih tetap tersenyum.
Cean, Dirga dan Yuri pun melihat pemandangan itu. "Sepertinya tidak akan ada perceraian. Mungkin mata matamu salah memberikan informasi." Kata Dirga pada Cean.
Cean mengangguk, "Iya, mungkin saja mata mataku itu salah."
Samudra perlahan mengerjapkan matanya. Dan melihat jika kedua orang tua dan kedua mertuanya tengah melihatnya sambil tersenyum.
"Mom, Dad, Pi, Mi..." Gumam Samudra.
"Zivana merepotkan sekali, biar Papi bangunkan untuk pindah dari brankarmu."
"Jangan, Pi.. Zivana sudah lelah merawatku." Kata Samudra dengan cepat.
"Hmm so sweet sekali." Sahut Yuri.
"Biarkan Ziv disini, Pi." Kata Samudra dan Dirga pun tersenyum melihat perlakuan manis Samudra pada putrinya itu.
Namun suara suara itu membuat Zivana terbangun. "Akh, ada orang." Kata Zivana terkesiap lalu segera memgambil posisi duduk.
"Jelas orang, masa hantu sih Ziv." Cibir Yuri.
__ADS_1
"Mami." Zivana dengan wajah memerahnya segera turun dari atas brankar Samudra.
Nadlyn tau jika Zivana tidak nyaman dengan tatapan dari ke empat orang tuanya, Nadlyn memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Pasti kerjamu terlalu di forsir." Kata Nadlyn yang kini duduk di sisi brankar.
"Tidak, Mi. Aku hanya butuh istirahat sedikit lagi saja." Bela Samudra.
"Sepertinya kalian butuh liburan, bagaimana jika kalian honeymoon saja?" Kata Cean sambil merangkul Zivana, menantunya itu.
"Ide bagus, Dad. Akan aku pikirkan setelah aku sembuh." Kata Samudra menyetujui dan membuat wajah Zivana merona.
Setelah merasa lega memastikan kondisi Samudra yang baik baik saja dan ada Zivana yang menjaganya, mereka kembali pulang dan tinggalah Zivana bersama Samudra.
Zivana menyuapi Samudra makan malam, dengan sabar Zivana menunggu dan terkadang membujuk Samudra untuk menghabiskan makan malamnya.
"Obatnya, Kak." Kata Zivana sambil memberikan Samudra obat yang diberikan oleh suster dan Samudra meminumnya.
"Sekarang tidurlah." Zivana membantu Samudra untuk berbaring.
"Kamu tidur bersamaku lagi."
Zivana mengangguk, selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian yang tadi dibawakan oleh Nadlyn, Zivana segera naik ke atas brankar Samudra dan melingkarkan tangannya di perut Samudra.
"Tidurlah." Kata Zivana pada Samudra.
"Kalau begitu harus apa biar mengantuk?" Pertanyaan bodoh yang Zivana lontarkan pada Samudra membuat Samudra tersenyum smirk.
"Kiss me, please."
"Tidak, Kakak sedang sakit. Tidurlah dan jangan berpikir mesum."
Samudra tersenyum, lalu mencium puncak kepala Zivana yang berada dibawah dagunya.
'I love U.' Kata Samudra namun terucap hanya dalam hatinya saja.
Cean tengah melihat Lova, putrinya yang sudah berada dalam kamarnya.
"Hai Baby Love.." Sapa Cean dengan lembut.
"Hai Dad."
Cean duduk di sofa yang berada di dalam kamar Lova dan Lova pun ikut duduk bersama.
"Bagaimana Kak Sam, Dad?" Tanya Lova.
__ADS_1
"Kak Sam hanya kelelahan dan kurang istirahat. Tidak apa, ada Ziv yang menjaganya."
"Ziv bilang ingin bercerai dengan Kak Sam, Dad. Kak Sam masih mencintai Rill." Kata Lova memulai curhat dengan Cean.
"Sepertinya mereka tidak akan bercerai, Daddy melihat tadi Zivana tidur di atas brankar bersama Kakak Sam."
"Benarkah itu, Dad?" Lova seperti tidak percaya.
Cean mengangguk, "Apa kamu tau sesuatu yang terjadi pada mereka?"
Lova mulai menceritakan apa yang Zivana ceritakan, Cean mendengarkan cerita Lova dengan seksama.
"Menurut Daddy, apa kita harus mendukung Zivana?"
"Tapi Lov, menurut Daddy, sikap Kakak Sam pada Rill bukan berarti Kakak Sam masih mencintai Rill, bisa saja Kakak Sam hanya perduli dan bertanggung jawab karena Kakak Sam tau tentang alergi Rill. Tidak ada yang lain."
"Tapi Dad, aku juga seorang perempuan. Sakit hatilah jika melihat suami kita begitu perduli pada wanita lain apa lagi wanita itu pernah di cintai oleh Kak Sam."
Cean merangkul bahu Lova. "Sudut pandang pria dan wanita berbeda, Lov. Daddy yakin jika Kakak Sam sudah tidak lagi mencintai Rill, bahkan Daddy yakin jika Kak Sam sudah mulai mencintai Ziv."
"Cinta itu rumit ya, Dad." Kata Lova sambil menopang dagunya.
"Tidak, Sayang.. Cinta itu tidak rumit, cinta itu indah." Balas Cean. "Apa kamu juga sedang jatuh cinta?" Tanya Cean.
"Ti.. Tidak Dad.. Aku belum memikirkan percintaan. Aku masih ingin terus jadi anak daddy, agar aku tidak pusing membayar kartu tagihan kreditku." Lova tertawa dan Cean pun ikut tertawa.
"Siapa cinta pertamamu, Lov?" Tanya Cean.
"Hemm.. Cinta pertamaku sama seperti cinta pertama Mommy."
Cean menoleh dan melihat wajah Lova.
"Cinta pertamaku Daddy. Daddy segalanya untukku." Kata Lova dengan semanis mungkin.
Cean tersenyum lalu membawa Lova ke dalam dekapannya. "Daddy begitu menyayangimu, My Baby Love."
"Aku juga, Dad." Balas Lova.
Sebenarnya Cean ingin menanyakan suatu hal pada Lova. Perihal kedekatannya dengan salah satau pewaris Wiguna grup yang tak lain adalah anaknya Audrey. Audrey sendiri adalah anak dari mantan suami Nanda, Mommy nya Cean.
Namun Cean sendiri tidak tau harus mulai dari mana, Cean hanya ingin menjaga keutuhan rumah tangga dan keluarganya. Entah jika memang kecurigaannya benar, apa Nanda akan merestui jika cucu tersayangnya menikah dengan cucu dari mantan suaminya itu? Entahlah, untuk saat ini Cean mempercayai Lova yang belum ingin memikirkan percintaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Like, Koment, hadiah dan Vote sangat berarti untuk menaikan semangatku dalam menulis bab selanjutnya 🙏
__ADS_1
Jangan lupa juga beri nilai ⭐️5.