
Kedatangan Dirga membuat Samudra sedikit ceria dan melupakan masalah semalam. Cean melihat kehadiran Dirga berpengaruh pada mood Samudra.
Samudra juga dekat dengan Yuri, sikap Yuri yang lembut dan sedikit kekanakan mudah untuk dirinya dekat dengan Samudra. Dirga pun memperhatikan hal itu, setidaknya jika nanti memang harus menikah dengan Yuri, Yuri bisa menerima Samudra karna Dirga tidak bisa melepas Samudra begitu saja.
"Kelihatannya wanita itu baik." Kata Cean membuka pembicaraan.
Cean dan Dirga duduk agak jauh dari Yuri yang sedang menemani Samudra mewarnai. Sementara Nanda dan Pras pergi untuk mengunjungi Ayla dan Regan di rumah mereka.
"Kau suka? Rebut saja dia dariku, dengan sukarela aku melepaskannya untukmu." Balas Dirga.
Cean tertawa. "Kau masih mau mengejar Nadlyn? Cari dulu ayah kandungmu dimana, hanya ayah kandungmu kan yang bisa menurunkan sikap egois Mamimu." Cibir Cean yang memang tau segalanya tentang Dirga.
"Mami menutup semua akses tentang Ayah kandungku."
"Ya, karena Ayahmu bukan seorang pemilik perusahaan seperti Papi tirimu itu. Dan Mamimu sangat gila harta." Ucap Cean dengan cuek.
Mereka sama sama diam tenggelam dalam pikirannya masing masing.
"Andai ku tau dimana Ayah kandungku, pasti aku tidak akan tertekan seperti ini, Cean." Dirga menghela nafasnya sejenak. "Harus berterimakasih pada Mami ku sendiri dan membalas budi karena sudah melahirkan juga membesarkanku lalu harus mau di atur seperti ini dan itu seperti robot ciptaannya membuatku menjadi seperti pribadi yang tidak punya pendirian." Dirga memijat pangkal hidungnya.
"Apa karena itu kamu bersikap seperti layaknya seorang Ayah untuk Samudra?" Tanya Cean menyelidik.
Dirga melihat ke arah Samudra yang masih asik mewarnai bersama Yuri. "Aku hanya ingin mengisi kekosongan Samudra. Meski dulu mendiang Papi hanya Papi tiriku, tapi dia begitu menjadi sosok yang hangat untukku. Aku hanya ingin menjadi seperti Papi tiriku yang bisa menerima aku yang bukan darah dagingnya meski saat itu aku masih berada di dalam perut Mamiku."
Cean terdiam.
"Aku melihat diriku di diri Samudra. Bedanya, Nadlyn tidak menikah lagi dan Nadlyn membesarkan Samudra tanpa sosok Ayah, itulah mengapa aku mengisi kekosongan Samudra hingga kau berani mengakui dirimu sebagai Daddynya di depan Samudra." Kata Dirga lagi dan semakin membuat Cean berpikir.
"Kapan kau akan mengatakan jika dirimu adalah Daddy nya Sam? Atau kau memang tidak berniat memberitahu jati dirimu pada Sam?" Tanya Dirga menyelidik.
"Kau tidak tau apa apa, lebih baik diam dan jangan menuduhku macam macam." Balas Cean tanpa menjawab pertanyaan Dirga.
"Cean, aku masih belum bisa memahimu. Sebenarnya apa yang ada dalam pikiranmu?" Tanya Dirga.
"Samudra ada di depan matamu, bahkan akhir akhir ini Samudra dekat denganmu, mengapa masih belum mengakuinya, Cean? Jangan buat Samudra berpikir jika kamu tidak menginginkannya." Kata Dirga menasehati.
Cean menatap tajam Dirga, "Kau tidak lihat kondisiku?" Tanya Cean dengan sedikit meninggi. "Kau kira aku tidak malu mengakui diri sebagai Daddy nya Samudra dengan keadaanku yang seperti ini?"
Cean mengusap wajahnya kasar, "Asal kau tau, Ga. Setiap detik Samudra bersamaku, aku begitu ingin memeluknya dan mengucapkan sejuta maafku untuk khilafku padanya dan mengakui diriku sebagai Daddy nya. Tapi aku bisa apa, Ga? Kondisi yang memaksaku untuk tetap diam." Lirih Cean.
__ADS_1
"Aku tidak ingin membuat Samudra malu memiliki Daddy yang cacat. Aku sedang berusaha memulihkan kondisiku dulu untuk layak menjadi Daddy yang membanggakan untuk Samudra." Imbuhnya Cean lagi.
Dirga tersenyum tipis. "Aku kira kamu masih belum menerimanya."
Cean menggelengkan kepalanya. "Aku banyak bersalah padanya."
"Lalu bagaimana dengan Nadlyn?" Tanya Dirga ingin tahu meski hatinya bergemuruh.
Cean diam dan tidak menjawab.
"Kau itu bodoh, Cean. Kau tidak menyadari perasaanmu pada Nadlyn sejak di sekolah dulu." Ungkap Dirga.
"Kau juga menyukai Nadlyn." Balas Cean.
"Tapi kau tau Mami tidak merestuiku dengannya dan aku bertunangan dengan dia." Kata Dirga sambil menunjuk ke arah Yuri dengan dagunya.
Cean tersenyum mengejek. "Itu karena Mamimu tidak tau jika sekarang Nadlyn adalah pemegang saham tertinggi ARDA KARYA."
Dirga mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu?"
"Aku sudah memberikan seluruh sahamku untuk Samudra dan hak otoritasnya ada pada Uncle Robi dan Nadlyn meski mereka menolaknya." Jawab Cean.
"Aku rasa, jika Mami mu tau Nadlyn pemilik ARDA KARYA mungkin dia akan berpikir ulang dan merestuimu dengan Nadlyn." Imbuhnya Cean lagi.
Cean diam seolah menyelami pikirannya sendiri.
"Kau lebih pantas bersama Nadlyn." Lirih Cean. "Aku tidak ingin egois."
Dirga tersenyum kecut. "Dulu kau pernah melepasnya, dan jika sekarang melepasnya lagi, aku yakin kau akan sangat menyesal Cean."
Cean hanya diam, meski dirinya menyadari jika mencintai Nadlyn, namun kekurangan yang ada pada dirinya membuat Cean untuk mundur dan tidak memperjuangkannya. Cean berpikir tidak mungkin menikahi Nadlyn dan tidak memberinya kepuasan batin di atas ranjang.
Sementara itu, Samudra dan Yuri yang asik mewarnai terlihat sekali akrab dan sesekali tertawa.
"Aunty, apa Aunty akan menjadi istrinya Papi?" Tanya Samudra sambil fokus mewarnai.
Yuri mengangguk, "Apa kamu keberatan? Tanyanya sambil mengusap lembut kepala Samudra.
Samudra menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku senang. Apa aku boleh memanggil Aunty Mami?"
__ADS_1
Yuri tersenyum mengembang, "Aku suka sekali kamu memanggilku itu."
Samudra ikut tersenyum, "Mami." Ucapnya dan Yuri semakin tersenyum.
"Aku pikir, Mami tidak menyukaiku seperti orang tuanya Papi." Kata Samudra. "Aku sempat takut kehilangan Papi dan tidak bertemu dengannya lagi."
"Kamu tenang saja, aku tidak akan melarang Papi mu untuk terus menemuimu. Seperti apa kata Papi mu, jika selamanya Papi Dirga tetaplah Papimu." Jawab Yuri menenangkan Samudra.
"Mau ice cream?" Tanya Yuri.
Samudra mengangguk cepat.
"Ajak Papi, kita makan Ice cream di cafe terdekat."
Samudra bersorak "Yeaayy."
Dan hal itu memancing perhatian Dirga dan Cean. Samudra berlari ke arah Dirga dan Cean.
"Pi.. Mami mengajakku makan ice cream di cafe terdekat."
Dirga mengernyitkan dahinya sementara Cean menahan tawanya.
"Mami? Mami siapa?" Tanya Dirga.
"Mami Yuri, calon istri Papi. Bukankah aku harus memanggilnya Mami?" Tanya Samudra yang memang masuk akal.
"Oh my God..." Gumam Dirga.
"Tunanganmu meski culun tapi gercep juga." Bisik Cean agak tak terdengar oleh Samudra.
"Ayoo Pii.. Nanti keburu Mommy menjemputku." Rengek Samudra.
"Lalu bagaimana dengan Uncle?" Tanya Dirga mencoba menolak.
Dirga bukan enggan membawa Samudra, namun jika itu bersama Yuri, dirinya enggan pergi bersama. Apa lagi jika harus mendengar Samudra memanggil Yuri dengan panggilan Mami, membuat Dirga bergidig ngeri, bagaimana jika orang lain yang melihat mereka sebagai keluarga kecil yang bahagia? Dirga tidak ingin hal itu.
"Pergilah, aku akan istirahat sebentar." Kata Cean mengulum senyumnya."
"Kau sengaja?" Tanya Dirga mendelik.
__ADS_1
"Kau harus latihan dan ingat jangan bertengkar di depan anak kecil, itu tidak baik, Ga." Kata Cean tersenyum penuh kemenangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...