
Nadlyn mengantar Cean ke rumah sakit, tentunya supir keluarga juga ikut mengantarnya untuk membantu memindahkan Cean dari rursi roda ke dalam kursi mobil dan begitu pun sebaliknya nanti.
Mereka tiba di rumah sakit dan Nadlyn membantu mendorong kursi roda Cean menuju ruangan dokter pribadi Cean. Nadlyn melihat beberapa suster yang mengetahui jika Cean adalah anak dari kepala sekaligus pemilik rumah sakit dengan tatapan penuh damba
Kondisi Cean yang lumpuh tidak membuat aura pesona Cean memudar, Cean tetap tampan dengan segala pesonanya dan hal itu membuat Nadlyn mencebikan bibirnya.
Dua orang suster datang menghampiri, "Permisi tuan Ocean, dokter Richard sudah menunggu Tuan Cean di ruangannya." Kata suster dengan ramah.
"Terimakasih." Jawab Cean.
"Mari saya bantu, Tuan." Kata suster mencoba mengambil kursi roda milik Cean namun Nadlyn enggan menyingkir.
"Biar saya saja, sus." Ucap Nadlyn sedikit ketus.
Suster itu menganggap jika Nadlyn adalah suster pribadi Ocean.
"Tapi ini tugas kami untuk mengantarkan Tuan Ocean ke ruangan dokter Richard." Kata Suster satunya tak mau kalah.
"Anda cukup menunjukan saja tempatnya, saya yang akan membawanya kesana." Kata Nadlyn dengan tegas.
Cean tersenyum tipis melihat keposessifan Nadlyn padanya. Ia semakin yakin jika Nadlyn masih mencintainya dan kini tengah cemburu pada dua suster yang berada di dekatnya.
"Biar istri saya saja yang mengantar saya, Sus. Tunjukan saja tempatnya katena ini pertama kali istri saya mengantarkan saya." Jawab Cean yang membuat dua suster itu tercengang.
"Istri?" Tanya keduanya.
"Ya, kami sudah menikah saat kami baru lulus sekolah, kami menikah muda." Jawab Cean yang membuat suster suter itu seketika bungkam.
Mereka cukup takut kehilangan pekerjaannya karena tidak hormat pada menantu dari pemilik rumah sakit ini.
"Maafkan kami, Nyonya muda." Ucap suster sambil menunduk dengan takut.
"Kalian tidak perlu mengantar." Kata Nadlyn kemudian mendorong kursi roda Cean.
"Dimana ruangannya?" Tanya Nadlyn dengan kesal pada Cean.
"Jangan marah marah, sayang." Goda Cean.
"Sayang, Sayang.. Apa sih." Kesal Nadlyn lagi. "Lagi siapa juga istri kamu, kita sudah bercerai." Ucap Nadlyn masih dengan kesal.
__ADS_1
"Kita akan menikah lagi nanti. Itu semua bisa di atur." Kata Cean dengan entengnya.
"Ishh apa sih, siapa juga yang mau menikah lagi denganmu." Balas Nadlyn.
"Ya kamu lah, Mommy nya Samudra. Karena Mommy nya Samudra hanya boleh menikah dengan Daddy nya Samudra."
"Daddy nya Samudra yang mana? Kamu kan hanya Uncle nya saja." Jawab Nadlyn.
"Aku Daddy nya, aku akan memantaskan diriku dulu untuk mengakui diri sebagai seorang Daddy di depan Samudra."
"Ck, lama.." Cibir Nadlyn.
Mereka tiba di depan ruangan dokter Richard. Cean meminta Nadlyn untuk menunggunya di ruang tunggu.
"Kenapa aku tidak boleh masuk?" Tanya Nadlyn karena Nadlyn ingin tau apa yang akan di konsultasikan Cean pada dokter pribadinya.
"Nanti kamu bosan, Sayang." jawab Cean dan membuat Nadlyn mencebik kembali.
"Jangan Sayang Sayang, aku bukan istri kamu." Balas Nadlyn dengan ketus.
Cean tertawa, semakin senang menggoda Nadlyn.
"Tolong pegang ponselku, takutnya nanti Mommy menelpon." Kata Cean lagi sambil memberikan ponselnya dan Nadlyn menerimanya.
Cean masuk sendiri ke ruangan dokter Richard bersama seorang perawat laki laki. Rupanya tanpa Nadlyn ketahui, saat Cean membuat janji dengan dokter Richard, Cean meminta suster laki laki untuk membantunya.
Nadlyn duduk di ruang tunggu, ia menggenggam ponsel Cean dan sebagai seorang wanita jiwa penasarannya meronta untuk mengetahui isi ponsel Cean.
Nadlyn melihat ke arah pintu ruangan dokter Richard yang tertutup kemudian melihat kembali ponsel Cean, dengan ragu Nadlyn membuka layar ponsel yang tidak terkunci dengan pola itu.
"Cean masih seperti dulu, tidak pernah mengunci ponselnya." Gumam Nadlyn sambil melihat layar ponsel milik Cean.
Nadlyn membuka galeri ponsel Cean dan tiba tiba saja hatinya menghangat saat melihat banyaknya foto Samudra memenuhi galeri foto itu, ada Samudra yang sengaja di foto, candid, maupun foto berdua bersama Cean.
"Mereka mirip sekali, like father like son." Lirih Nadlyn.
Kemudian Nadlyn membuka aplikasi berwarna hijau, namun Nadlyn tidak menemukan isi chat yang aneh, hanya percakapan singkat dengan Ryu sepupunya dan juga Disya Kakak tirinya. Juga ada beberapa chat bersama beberapa keluarga Cean.
"Apa Cean belum menghubungi Rena?" Gumam Nadlyn saat tak menemukan nama Rena di kontak ponsel Cean.
__ADS_1
"Apa Rena hanya membual saja?" Gumamnya lagi namun penuh harap.
Nadlyn menghela nafas, hingga suara seseorang membuyarkan konsentrasinya. "Sudah puas melihat isi ponselku, Sayang?" Tanya Cean dengan menggoda.
Nadlyn terkesiap saat melihat Cean di depannya. "Kamu sudah selesai?" Tanyanya. "Koq cepat?" Tanyanya lagi.
"Aku sudah setengah jam di dalam dan hanya konsultasi saja. Kamu saja yang terlalu fokus dengan ponselku." Jawab cean menyeringai.
Nadlyn segera memberikan ponsel milik Cean, Nadlyn seperti seorang pencuri yang tengah ketahuan. "Ini....." Kata Nadlyn ketus.
"Kamu sejak kapan jadi galak begini?" Tanya Cean semakin senang menggoda Nadlyn. "Lagi pula jangankan melihat isi ponselku, melihat isi tubuhku juga akan aku ijinkan." Kata Cean yang semakin berani menggoda Nadlyn.
Nadlyn menatap tajam Cean, "Fokus pada kesehatanmu, Cean. Jangan mesum." Tegas Nadlyn.
**
Robi tengah bertemu dengan Dirga untuk urusan pekerjaan dan makan siang bersama di sebuah restoran.
"Padahal Uncle berharap sekali kamu dan Nadlyn bersatu." Kata Robi setelah mereka selesai membahas kerjasamanya.
"Aku pun seperti itu Uncle." Jawab Dirga tidak bersemangat.
"Kenapa kamu tidak berani melawan ibumu dan memperjuangkan cintamu pada Nadlyn? Apa hanya karena Ibu mu mengancam untuk mengusirmu?" Tebak Robi.
Dirga mengigit pipi bagian dalamnya. "Awalnya Mami memang mengancamku seperti itu, tapi aku sama sekali tidak takut, aku yakin bisa sukses di atas kedua kakiku sendiri." Jawab Dirga.
"Good." Balas Robi sambil menganggukan kepalanya. Robi sangat tau jika Dirga memiliki rasa cinta yang besar pada Nadlyn dan rela mengorbankan apapun demi Nadlyn.
"Hanya saja..." Ucapan Dirga tercekat karena merasa sesak saat mengingat penolakan Nadlyn. "Nadlyn menolakku, Uncle. Nadlyn tidak mencintaiku dan tidak mau menerimaku. Aku bisa apa?"
Robi yang mendengarnya pun tidak bisa berbuat banyak.
"Aku takut jika aku memaksakan cinta ini, Nadlyn malah akan semakin menjauh dariku. Aku tidak ingin Nadlyn menjauhiku dan berimbas juga pada Samudra yang juga akan jauh dariku."
Robi memijat pelipisnya, Dirga bebar benar pria yang tulus, entah mengapa Robi begitu menyukainya, Dirga memberikan banyak cinta bukan hanya untuk Nadlyn, melainkan juga untuk Samudra meski rasa cintanya tidak terbalaskan oelh Nadlyn.
"Beruntung sekali Mami mu memilik putra sebaik dirimu." Kata Robi dengan tulus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1