
Zivana kembali ke kamarmya setelah selesai mendengar curhatan Lova sekaligus nasihat dari Mama mertuanya itu. Kini Zivana tidak mau hanya karena menunggu sebuah kata cinta membuat dirinya menjadi ragu pada Samudra. Zivana meyakini dirinya jika Samudra adalah pria baik dan bertanggung jawab, Samudra dibesarkan oleh orang tua yang baik dan juga disayangi oleh Kedua orang tua Zivana. Karena itu Zivana harus yakin jika Samudra tidak mungkin akan menyakitinya.
"Lho, Kakak sudah bangun? Dari kapan?" Tanya Zivana dengan heran saat melihat Samudra duduk di sofa sambil melihat isi ponselnya.
"Kamu tidak ada di dekatku, aku jadi terbangun dan tidak bisa tidur lagi." Samudra memberengut kesal tanpa melihat ke arah Zivana dan hal itu membuat Zivana tertawa.
Samudra menarik Zivana untuk duduk di pangkuannya dan menghadap ke hadapan Samudra. "Lama sekali."
"Ishh apa sih, belum satu jam." Ledek Zivana.
Samudra tersenyum, menatap wajah Zivana membuat hatinya merasa tenang. Samudra merapihkan anak rambut Zivana ke belakang telinganya dan semakin jelas wajah Zivana yang memang sangat cantik.
"Kamu cantik."
Zivana tersipu mendengar Samudra memuji kecantikannya.
"Sejak kapan kamu mulai memperhatikan kecantikanmu, merawat dirimu hingga bisa secantik ini?"
Zivana seolah berpikir. "Sejak sering ikut dengan Mami ke salon dan klinik kecantikan. Mami bilang padaku, sebagai wanita harus bisa merawat diri karena itu adalah self reward yang bisa kita berikan untuk diri kita sendiri."
"Pantas saja, ternyata Mami yang mengajarimu."
Zivana mengangguk, "Kata Mami, agar pasanganku nanti tidak berselingkuh."
"Bagaimana jika nanti aku berselingkuh?" Tanya Samudra ingin tau.
Zivana mengerdikan bahunya. "Kata Papi, tidak ada kesempatan kedua untuk para pelaku selingkuh, Papi mengajarkanku untuk melepaskan pria yang sudah berani menduakanku." Jawab Zivana dengan jari jari yang seolah melukis di dada bidang Samudra.
"Papi bilang seperti itu?"
Zivana mengangguk. "Papi bilang setia itu mahal, Apa Kakak akan menduakanku?"
"Menurutmu?"
"Entahlah. Itu semua hanya Kakak yang tau."
"Bisa saja aku berselingkuh karena ada suatu hal."
"Hal apa?" Tanya Zivana.
"Hem..." Samudra menatap mata Zivana. "Misal karena istriku tidak kunjung memberikan hak ku, mungkin." Kata Samudra mencoba menggoda Zivana.
Wajah Zivana bersemu merah, Zivana juga bingung harus mulai dari mana menunaikan kewajiban dan memberikan hak nya Samudra.
Samudra mengecup ujung hidung Zivana kemudian turun ke bibir pink alami Zivana. "Kenapa diam?" Tanya Samudra sedikit berbisik.
"Tidak apa apa." Jawab Zivana karena bingung.
"Kak..." Panggil Zivana.
"Hem..." Samudra menelusuri wajah Zivana dengan jari jarinya.
"Apa Kakak berniat menduakanku?" Entah mengapa saat menanyakan hal itu, dada Zivana begitu bergemuruh.
Samudra menatap lekat wajah Zivana. Entah mengapa ia baru menyadari jika Zivana memang secantik itu. Benar kata orang tuanya, kecantikan seorang pasangan akan membuat Samudra menjadi bangga karena memiliki istri yang begitu cantik.
"Apa kamu berpikir aku akan seperti itu?" Tanya Samudra.
"Bisa saja jika Kakak belum mencintaiku. Tidak ada yang tidak mungkin." Zivana terlihat bersedih.
"Jika tidak bisa memikirkannya, jangan berpikir soal hal itu." Kata Samudra dengan begitu lembut.
__ADS_1
Zivana hanya terdiam dan tidak bertanya lagi. Lalu Zivana teringat ucapan Samudra saat di kantor sebelum Samudra di rawat di rumah sakit.
"Akh iya, Kak. Apa Kakak melupakan sesuatu?" Zivana tersenyum semirk.
"Lupa soal apa?"
"Waktu di kantor, Kakak bilang begini." Zivana menarik nafas sebelum mengulangi apa yang pernah dikatakan oleh Samudra. "Jangan menggugatku cerai, Ziv. Aku tidak mau bercerai denganmu. Aku akan memberikan apapun yang kamu mau, tapi tidak dengan bercerai." Kata Zivana mengulang apa yang Samudra katakan.
"Memangnya aku bicara seperti itu?" Tanya Samudra tak mau mengakui.
Zivana mengangguk cepat, "Iya."
"Ah tidak mungkin. Mungkin aku mengigau karena sedang demam." Bela Samudra.
"Ishh tidak, Kemarin Kakak sungguh sungguh mengatakan hal itu padaku."
"Tidak."
"Iya."
"Tidak mungkin, Ziv." Samudra masih mengelaknya.
"Ish, ya sudah kalau tidak mau mengaku." Zivana mencoba turun dari pangkuan Samudra namun Samudra menahannya.
"Lepas, aku mau turun."
Namun Samudra masih memeluk pinggang Zivana hingga Zivana tetap berada di pangkuan Samudra.
"Memang kamu mau minta apa dariku?" Tanya Samudra yang sangat ingin tertawa namun Samudra hanya tersenyum saja. Samudra seperti mempunyai hobi baru, yakni menggoda Zivana.
"Aku ingin kartu tanpa limit." Zivana menatap Samudra dengan tatapan berbinar. "Please..."
Kali ini Samudra benar benar tak bisa menahan tawanya. Samudra tergelak melihat kelakuan Zivana yang menurutnya lucu.
"Kiss me." Bukannya menjawab, Samudra malah meminta satu ciuman dari Zivana.
Zivana mencebik, "Kartu dulu."
"Kiss me, Ziv."
"Gak mau."
"Kenapa tidak mau?"
"Masa aku nyosor duluan, dimana mana pria yang cium duluan wanitanya."
"Mau aku cium?"
Zivana mengangguk kemudian menggelenagkan kepalanya, hal itu membuat Samudra kembali tergelak. Dimatanya, selain cantik, Zivana pun sangat lucu.
Samudra mengangkup wajah Zivana dengan kedua tangan besarnya, membuat mata Zivana melihat wajah tampan Samudra.
Samudra mendekatkan wajahnya ke wajah Zivana, nafas mereka saling beradu, Zivana memejamkan matanya saat bibir Samudra menyentuh bibirnya. Samudra menyesap bibir Zivana dan Zivana hanya diam saja.
"Balas aku."
"Tidak bisa."
Samudra tersenyum, ternyata meski Zivana dulu lama menjalin hubungan dengan Daniel, namun Zivana dapat menjaga dirinya dan tidak memberikan ciuman pertamanya untuk Daniel.
Samudra kembali meraup bibir Zivana, sedikit menggigitnya hingga mulut Zivana terbuka dan Samudra dapat mengeksplore bagian di dalamanya. Zivana terhanyut oleh ciuman Samudra dan dengan tanpa sadar Zivana pelan pelan membalas ciuman Samudra yang memabukan itu.
__ADS_1
Samudra melepas ciumannya saat di rasa nafas Zivana terengah engah, Samudra menempelkan keningnya di kening Zivana, lalu mengusap bibir Zivana yang basah karena ulahnya.
"Kak...."
"Hemm.."
"Jadi mana kartunya?"
"Masih ingat?"
"Tentu saja."
"Oh Tuhan, Ziv..."
"Ayo beri aku kartu."
"Memang apa yang mau di beli?"
"Tas branded dengan series limited edition."
"Hanya itu?"
Zivana menggelengkan kepalanya.
"Apa lagi?" Tanya Samudra.
"Gak tau, bisa aja kan pas beli tas incaranku, aku ingin juga membeli yang lainnya."
"Tas saja ya."
"Tidak mau."
"Jadi maunya apa?"
"Kartu tanpa limit."
Samudra diam lalu berkata. "Jika aku memberikan kartu, apa yang akan kamu berikan padaku?"
"Kakak maunya apa?"
"Kamu dulu, baru nanti aku akan memberikan penawaran."
"Ish masa bisa begitu." Zivana mencebik.
"Aku tidak mau rugi." Kata Samudra.
"Aku akan memijat Kakak." Zivana menaik turunkan halisnya.
"Tidak mau, itu tidak sebanding. Aku bisa datang ke tempat pijat relaksasi dan hanya membayar ratusan ribu saja. Sementara tas mu harganya ratusan juta, belum lagi belanjaan yang lain." Kata Samudra tak mau kalah.
"Ish dasar menyebalkan, pelit."
"Berikan aku tawaran yang lain." Samudra menyeringai.
"Ya sudah, Kakak maunya apa?" Tanya Zivana balik menantang.
"Aku ingin anak darimu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bucin bucinan dulu ya sebelum belah duren 🤭
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote, Komentar dan hadiah bunga untukku 🤗