Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 98


__ADS_3

Samudra mencari Zivana ke salon milik Yuri. Dirga sudah memastikan pada Vincent jika Zivana berada di salonnya dan tengah melakukan perawatan.


"Jadi apa artinya selama ini sikap baikmu itu?" Ucap Zivana bermonolog. "Semua pria sama saja, menyebalkan, untung aku belum memberikan kevirginan aku untuk Kak Sam. Setidaknya jika aku menjadi janda, aku janda berkelas dan tidak murahan." Zivana terus saja berbicara seorang diri dengan memejamkan matanya sambil menikmati relaksasi, berendam di dalam bath tub beraromakan teraphy setelah dirinya di massage spa.


Samudra tersenyum usil melihat Zivana yang seolah membicarakan dirinya seorang diri. Samudra meminta masuk ke dalam ruangan VIP dimana Zivana sedang melakukan perawatan, Samudra juga meminta pada teraphys untuk keluar dari ruangan VIP dan melarangnya masuk kembali.


Tiba tiba saja hasrat Samudra naik dan meminta ingin di tuntaskan kala melihat bahu putih mulus Zivana yang terekspos dan tubuh Zivana yang tertutup busa. Rambut Zivana yang di gelung ke atas, dan kaki Zivana dengan lutut yang dilipat menambah keseksian Zivana.


Tanpa berpikir panjang, Samudra menanggalkan seluruh pakaiannya dan hanya menyisakan boxernya saja. Samudra masuk ke dalam bathtub yang sama dengan Zivana. Seketika membuat Zivana membuka matanya kala merasaka pergerakan air dan melihat Samudra yang tanpa rasa bersalah masuk begitu saja ke dalam bathtub.


"Kak Sam, Ngapain sih?" Tanya Zivana sambil menyilaangkan


kedua tangannya menutupi bagian dadanya.


"Berendam bersamamu."


"Ishh..."


Samudra duduk di belakang Zivana dan menarik perut Zivana agar mau bersandar di dada bidang Samudra.


"Kak Sam!!" Pekik Zivana.


"Apa, Sayang."


"Gak usah panggil panggil Sayang kalau cuma pura pura sayang!!" Ketus Zivana.


Dari balik tubuh Zivana, Samudra mengukir senyum.


"Kamu nanti kena SP karena pergi di jam kerja." Ucap Samudra.


"Biarin, lagi pula aku akan keluar dari perusahaan ARDA KARYA sebentar lagi."


"Tidak bisa, minggu depan kamu harus ikut dinas denganku ke Maldives, perjalanan bisnis." Kata Samudra berbohong.


"Kan ada Jimmy."


"Jimmy banyak kerjaan, dia handel kerjaan disini, kamu asistenku juga, harus ikut aku pergi, setelah itu baru kamu bisa resign."


"Menyebalkan, selain pelit dan galak ternyata Kakak juga pemaksa."


"Cowok pelit dan pemaksa ini adalah suamimu, Bee."


"Bentar lagi juga engga." Kata Zivana kesal.


"Memang ada apa?"


"Jangan pura pura gak tau deh, Kak. Kakak sendiri kan yang akan mengembalikan aku pada Papi dan kita bercerai."


"Kata siapa?"


"Aku dengar langsung."


"Kamu nguping?"

__ADS_1


"Gak sengaja dengar."


"Makanya kalo nguping itu tuntasin, jangan setengah setengah." Ledek Samudra.


"Untuk apa aku harus mendengar hal hal yang membuat hatiku sakit."


"Itu tandanya kamu cinta sama aku?"


Zivana mendengus kesal pada Samudra karena Samudra terus saja membalas apa yang dikatakan oleh Zivana.


Tangan Samudra mulai bergerak menelusuri tubuh polos Zivana di dalam air.


"Kak, diam ih.."


"Kamu istriku, Sayang"


"Satu tangan Samudra memegang salah satu gunung kembar Zivana sementara bibirnya menelusuri bahu putih dan mulus Zivana membuat Zivana sedikit berdesir dan menahannya dengan menggit bibir bawahnya.


"Kak... Akhh...." Dessyah Zivana saat Samudra menggigit kecil bagian lehernya.


Satu tangan Samudra mulai bergerak kebawah dan membuat pergerakan di bagian inti tubuh Zivana.


"Kak Sam.. Akh..."


"Aku ingin, Sayang." Kata Samudra dengan suara serak.


"A..ku tidak mau." Kata Zivana menahan hasratnya.


"Kak hentikan, itu pelecehan." Kesal Zivana lalu memutar tubuhnya menghadap Samudra.


Zivana segera menyilangkan kedua tangan di dadanya saat memgetahui arah mata Samudra. "Ishh messumm."


Samudra menarik tubuh Zivana untuk naik ke atas pangkuannya. Zivana merasakan sesuatu mengganjal di bagian bawahnya dan ia tau itu apa.


"Kak.."


"Bergeraklah sayang." Kata Samudra.


"Tidak mau."


"Kenapa?"


"Karena kita akan bercerai."


"Kata siapa?"


"Aku kan sudah bilang jika tadi aku mendengarnya."


Samudra menghela nafas. Namun sesaat kemudian Samudra meraup bibir Zivana dan menciumnya dengan dalam. Satu tangan Samudra menekan tengkuk Zivana sementara satu tangannya mulai berani mereemmass salah satu gunung milik Zivana.


Zivana yang terbuai pun mengalungkan begitu saja kedua tangannya di leher Samudra, Zivana juga membalas semua ciuman Samudra yang begitu memabukan.


Mereka berciuman dengan durasi yang cukup lama, suara decapan terdengar di dalam ruangan itu. Hingga Samudra melepaskan pelan bibir Zivana dengan lembut.

__ADS_1


Samudra menatap lekat wajah Zivana dan mengusap pipi Zivana yang sedikit basah karena percikan air. "Tidak akan ada perceraian." Kata Samudra berbisik. "Yang kamu dengar tadi, tidak semua kamu dengar dengan baik hingga selesai."


Zivana hanya diam mendengarkan Samudra.


"Dan jangan berpikir jika kita akan bercerai."


"Apa jaminannya?" Tanya Zivana.


"Kamu pegang semua kartu kredit dan debitku."


Zivana membolakan kedua matanya, "Beneran?" Tanyanya dengan mata berbinar.


Samudra mengangguk.


"Aku boleh memakainya?"


Samudra menggelengkan kepalanya, "Tidak boleh."


Zivana memukul dada bidang Samudra, "Ish pelit."


Samudra tertawa, "Kamu kan hanya meminta jaminan, ya sudah aku memberikan kartuku untuk jaminan, tapi tidak untuk di pakai."


"Sama aja bohong." Zivana mencebik. "Untuk apa kasih jaminan tapi tidak boleh dipakai." Zivana melipat kedua tangannya di dada.


Rasanya ingin sekali Samudra mengatakan jika dirinya mencintai Zivana dan apa yang Samudra miliki, tentu saja menjadi milik Zivana termasuk kartu kartu tanpa limit itu. Hanya saja, Samudra menahannya karena ingin memberikan kejutan untuk Zivana, Samudra ingin melihat wajah bahagia Zivana saat dirinya menyatakan cinta di Maldives nanti.


"Keluar, Kak.. Aku mau mandi."


"Mandi bersamaku, ya?"


"Gak mau."


"Ish koq pelit."


"Kan kamu yang ngajarin."


Samudra kembali tergelak sementara Zivana masih terlihat kesal.


Samudra berdiri dari dalam bathtub dan membuat Zivana nenutup kedua matanya dengan kedua tangannya.


Samudra tersenyum smirk, "Nanti juga ada saatnya kamu lihat." Kata Samudra lalu berjalan ke arah shower dan membilas tubuhnya.


Zivana melihat tubuh kekar Samudra, "Dia macho sekali. Itu perut atau roti sobek? Bolehkan aku gigit?" Gumam Zivana dalam hatinya.


"Cepat bersihkan tubuhmu, Ziv. Nanti kamu masuk angin." Kata Samudra sambil memakai bathtrub dan membuyarkan lamunan Zivana.


Zivana yang gugup pun segera berdiri dan membilas tubuhnya di bawah shower, Samudra melihat tubuh polos Zivana dan lagi lagi hanya menelan salivanya. "Istriku seksi sekali."


Samudra merutuki dirinya karena masih harus menahan hasratnya, seperti apa kata Zivana, Zivana ingin melakukannya dengan cinta. Dan Samudra baru akan mengakuinya setelah nanti di Maldives.


"Aku tidak akan memberikanmu pakaian selembarpun saat nanti kita di Maldives, lihat saja nanti, Nona manjaku." Kata Samudra lalu segera keluar karena tidak ingin terlalu lama terjebak oleh hasratnya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Mohon dukungannya untuk karyaku, dengan meninggalkan jejak Like, Vote, Koment, Hadiah, dan rating ⭐5


__ADS_2