
"Aku ingin makan di luar." Kata Cean sebelum mobilnya menuju pulang ke rumah.
Nanda menoleh ke arah Cean.
"Kita jemput dulu Samudra, lalu makan siang bersama di luar." Kata Cean lagi. "Kamu tidak malu kan jalan bersama pria cacat sepertiku?"
"Apa harus aku jawab?" Bukannya menjawab pertanyaan Cean, Nadlyn malah balik bertanya.
Setelah setengah jam, Samudra dan Nadlyn tiba di sekolah Samudra.
"Kamu mau turun?" Tanya Nadlyn.
"Tidak, aku di mobil saja." Jawab Cean terlihat baik baik saja, namun Nadlyn tau jika Cean tengah tidak percaya diri.
"Kamu turun saja, aku akan menunggu disini." Kata Cean lagi karena tidak ingin Nadlyn mengasihaninya.
Nadlyn turun tanpa berkata apapun, Cean teringat ucapan dokter Richard tadi saat berkonsultasi dan memeriksa kondisi kesehatannya. Dokter Richard mengatakan jika Cean mengalami disfungsi er*eksi yang hanya bersifat sementara, jika miliknya bereaksi di dekat Nadlyn, tandanya Cean sudah normal kembali. Hanya saja tetap harus di buktikan dengan menguji seberapa lama ketahanannya dan hal itu hanya bisa dilakukan jika Cean berhubungan dengan Nadlyn.
Sementara untuk kakinya, sebenarnya Cean sudah bisa berjalan karena rutin mengikuti teraphy. Hanya saja rasa trauma yang Cean alami membuatnya mensugesti dirinya sendiri jika dirinya tidak dapat berjalan kembali.
Cean memejamkan matanya, akhir akhir ini Cean memang bisa sedikit demi sedikit menggerakan kakinya. Hanya saja masih ada rasa trauma dan takut jika dirinya terjatuh itulah yang membuat kendala pada dirinya sendiri.
"Mommyyyy." Samudra berlari saat melihat Mommy nya menjemputnya.
"Sam senang sekali Mommy menjemput." Ucapnya bahagia.
"Dan Sam akan semakin senang jika tau dengan siapa Mommy menjemput." kata Nadlyn.
"Dengan siapa, Mom?" Tanyanya bingung.
"Uncle.." Jawab Nadlyn dan benar saja Samudra semakin terlihat senang.
"Yeaayyyy." Soraknya berbahagia.
__ADS_1
Nadlyn dan Samudra berjalan menuju mobil, Samudra seperti tengah menemukan keluarganya yang utuh, Samudra duduk di tengah tengah antara Cean dan Nadlyn.
"Hai, bagaimana sekolahmu?" Tanya Cean saat Samudra duduk di sebelah kanannya.
"Menyenangkan, Uncle." Jawabnya.
"Kita akan makan Ice cream di restoran, kamu mau?" Tanya Cean lagi dan tentu saja Samudra mengangguk cepat.
**
Hellena tengah meninjau restoran miliknya, suaminya memang meninggalkan usaha restoran di berbagai tempat dan daerah bahkan ada juga cabang di beberapa negara asia.
Lagi lagi Hellena melihat Robi tengah makan siang bersama seorang wanita, entah mengapa ada perasaan tidak rela di hati Hellena saat melihat Robi dekat dengan wanita lain.
Hellena mencoba tidak memikirkannya dan bersikap cuek. Tanpa Hellena sadari, Robi sekilas melihat ke arah dirinya.
"Jadi ini salah satu restoran milikmu." Batin Robi.
Robi melihat wajah tak suka Hellena saat melihat Robi bersama wanita yang ternyata adalah rekan bisnisnya yang akan menggunakan jasa kontruksi ARDA KARYA untuk pembangunan mall di pusat kota.
Selang satu jam, obrolan ringan itu selesai dan wanita tadi berpamitan pada Robi. Sementara Robi masih betah berada di dalam restoran seolah mengulur waktu untuk bertemu dengan Hellena kembali.
Benar saja, setelah Robi memesan satu cangkir kopi untuk ke dua kalinya, Hellena terlihat dan berjalan mendekat ke arah meja Robi lalu duduk begitu saja di depan robi yang terhalang oleh meja.
"Restoran ini bagus, sampai sampai pemiliknya pun ikut duduk bersama pengunjung restoran." Ucapnya sambil menyesap kopinya.
"Yang tadi kekasihmu? Atau wanita bayaranmu?" Tanya Hellena to the point.
Robi tertawa, "Aku tidak semurahan itu, aku hanya bercinta dengan wanita yang ku cintai saja dan yang terakhir bersamaku adalah mendiang istriku." Kata Robi dengan tegas.
"Bagaimana dengan aku? Apa kau masih mencintaiku, Mas? Dulu kita aktif bercinta meski belum menikah." Hellena tersenyum smirk.
Robi pun membalas senyum itu, senyum sinis yang ia berikan. "Apa dengan cara murahan seperti ini kau melempar dirimu pada bos mu itu?"
__ADS_1
Hellena diam, dirinya memang bersalah karena meninggalkan Robi demi pria yang lebih mapan darinya meskipun seorang duda beranak dua.
Namun, Hellena tidak menggoda suaminya dulu. Kedekatan itu mengalir begitu saja. Sebagai sekertaris dan bosnya yang selalu menghabiskan waktu bersama membuat suaminya dulu menyukai Hellena yang saat itu berstatus sebagai sekertarisnya. Hellena mengambil kesempatan itu demi menaikan derajat dirinya dan meninggalkan Robi tanpa tau jika dirinya sedang mengandung.
Sehari menjelang pernikahan, Hellena baru mengetahui jika dirinya tengah hamil Dirga yang tak lain anaknya Robi. Hellena sempat ingin membatalkan pernikahannya namun mendiang suaminya dulu tidak ingin membatalkannya dan berjanji akan mengakui bayi yang di kandung Hellena sebagai putranya, Hellena pun meneruskan pernikahan itu dan mereka hidup dengan bahagia, bahkan mendiang suaminya begitu menyayangi Dirga meski tau Dirga bukanlah keturunannya.
"Aku tidak pernah menggodanya." Jawab Hellena.
Robi mengerdikan bahunya. "Hanya kau dan Tuhan yang tau."
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Kata Hellena pada akhirnya.
"Soal apa? Apa ini tentang putriku agar tidak menggoda putramu?" Tebak Robi. Robi tertawa, "Tenang saja, putriku tidak semurahan dirimu, mencari titik aman dengan menikahi pria kaya agar naik derajatnya."
Dada Hellena bergemuruh. Tidak taukah Robi jika sampai detik ini Hellena masih mencintai Robi. Mengapa Robi setega itu padanya, tidak ingatkah Robi jika dulu mereka saling mencintai bahkan berbagi deru nafas dalam satu ranjang yang sama?
"Jangan seolah olah hanya kamu yang tersakiti, Mas." Kata Hellena mulai tegar. "Bahkan setelah enam bulan aku menikah, kamu pun menikah dengan mendiang istrimu, dengan mudahnya kamu melupakan cintamu padaku." Kata Hellena mengeluarkan isi hatinya.
"Aku pria, aku pria normal, aku butuh menyalurkan hasratku dan saat itu ada wanita baik yang dikenalkan oleh Kakakku padaku, mengapa tidak aku menikahinya, apa lagi mendiang istriku sangat baik dan rela menemaniku hingga sukses." Jawab Robi.
"Lagi pula apa yang aku tunggu? Kau saja sudah bahagia dengan suamimu. Aku tidak mau terjebak dengan penyesalan, life must go on, Hellena Sayang." Kata Robi dengan sinis.
"Kamu menyimpan dendam padaku, Mas?" Tanya Hellena.
"Tidak." Jawab Robi. "Hanya saja aku begitu marah saat kau menghina putriku."
Hellena terus menatap wajah Robi.
"Nadlyn dan Samudra adalah satu satunya hartaku paling berharga yang aku miliki di dunia ini, harta yang ditinggalkan oleh mendiang istriku. Sama sepertimu yang menganggap Dirga adalah harta satu satunya milikmu dari mendiang suamimu. Aku harap kau mengerti dan jangan lagi pernah mengganggu putri dan juga cucuku kalau kau tidak ingin berurusan denganku." Kecam Robi.
"Dirga bukan harta peninggalan mendiang suamiku, Mas.. Dirga adalah putramu." Namun sayang Hellena hanya bisa bicara dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1