Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 55


__ADS_3

Nanda menyambut Nadlyn dengan bahagia, sebelum Nadlyn tiba dirumahnya, Robi menelpon Nanda dan menceritakan semuanya, Robi juga meminta tolong pada Nanda untuk menjaga Nadlyn dan Samudra, tentu saja Nanda menerimanya dengan tangan terbuka.


"Masuklah, Sayang.. Mommy berharap selamanya kamu akan tinggal disini." Ucap Nanda.


"Tapi kan tidak enak, Mom. Aku dan Cean tidak ada ikatan."


"Kalau begitu segera resmikan." Sahut Pras mendukung.


Selama berapa hari ini Pras melihat kesungguhan Ocean untuk berubah. Dan Pras menyetujui jika Cean ingin memperbaiki dirinya.


Nadlyn terdiam.


"Mom, Nadlyn ingin dilamar kemudian menikah dengan sebuah pesta." Kata Cean menjawab isi hati Nadlyn.


"Tentu saja, kalian memang harus mengadakan resepsi." Jawab Nanda.


"Tetapi kami harus menikah ulang terlebih dahulu di kantor catatan sipil kan, Mom?" Tanya Cean.


"Tidak perlu." Jawab Pras dengan enteng.


Cean dan Nadlyn saling melirik satu sama lain dan terlihat bingung.


"Kalian masih terikat pernikahan, surat perceraian yang di berikan oleh pengacara itu bukan lah surat cerai yang asli, melainkan surat cerai berupa contoh salinan saja dan itu adalah ide Mommy mu." Jawab Pras.


"Dan kalian harus berterimakasih pada Mommy." Ucap Nanda tersenyum lebar.


"Jadi, Mommy?"


Nanda mengangguk. "Karena Mommy hanya ingin Nadlyn yang menjadi istrimu, Cean. Mommy tidak ingin wanita lain, karena itu Mommy bekerjasama dengan pengacara untuk menjalankan rencana itu." Jawab Nanda.


Nanda menatap wajah Nadlyn, "Maafkan Mommy, Nadlyn. Tapi sungguh Mommy melakukan hal ini karena yakin suatu saat nanti kalian akan bersama kembali. Dan ternyata hari ini pun terjadi, kalian sudah saling menerima satu sama lain, tentunya karena kalian saling mencintai."


Nadlyn berdiri dari duduknya dan bersimpuh di kaki Nanda yang sedang duduk di sofa. "Mengapa Mommy baik sekali padaku, aku beruntung sekali memiliki Mommy sebaik Mommy Nanda." Ucap Nadlyn menangis.


Cean pun bangkit dan ikut bersimpuh di kaki Nanda. "Terimakasih, Mommy.. Maafkan Cean yang masih banyak menyusahkan Mommy." Kata Cean dengan tulus.


Kedua tangan Nanda mengusap kepala Nadlyn dan Cean bersamaan. "Kalian harus terus bertahan, ada Samudra diantara kalian, dan Mommy sangat membenci perceraian. Mommy ingin kalian menikah hanya satu kali dalam seumur hidup kalian." Ucap Nanda dengan bijak.


**


Dirga segera meninggalkan rumah Robi setelah Cean dan Nadlyn juga pergi. Ia menuju rumah Yuri untuk sekedar mengajaknya keluar dan melupakan sejenak masalahnya.


Dirga turun dari mobilnya saat tiba di rumah Yuri, Dirga ingin menekan bel namun Dirga mendengar sebuah tangisan karena pintu rumah Yuri tidak tertutup rapat.


Dengan memberanikan diri Dirga masuk begitu saja karena khawatir mendengar suara tangisan Yuri.


"Da*sar anak haram!! Tidak tau diri."


"Ampun Kak, sakit lepasin rambut aku."


"Diam kau anak haram!! Harusnya kau tidak pernah ada di dunia ini."


"Ampun Kak, sakit sekali."


Plaakkk, Plakk, Plakkk


"Sakit Kak, ampunn.."

__ADS_1


"Hentikan!!" Suara Dirga membuat Kakaknya Yuri yang sedang menyiksanya menghentikan aksinya.


Dirga segera memeluk tubuh Yuri yang sudah lemas. "Bawa aku dari sini, Kak." Lirih Yuri.


Dirga menatap tajam ke arah wanita yang tadi menyiksa Yuri dengan brutal.


"Rena...."


"Dirga...."


Dirga berdiri dengan posisi mendekap Yuri. "Kalian?"


"Jadi kau tunangan anak haram ini?" Tanya Rena dengan mengejek.


Mendengar kata anak haram membuat darah Dirga mendidih, Dirga pun tidak jauh berbeda dari Yuri meski dengan jalan cerita yang tidak sama.


"Jaga ucapanmu, Rena!!" Sentak Dirga.


Rena tertawa, "Aku banyak teman wanita yang lebih baik dari anak haram itu, Dirga. Aku akan memperkenalkannya padamu."


"Bagiku Yuri bahkan lebih baik darimu, Rena!!"


"Ada apa ini?" Tanya Hermawan Ayah dari Rena dan Yuri.


Hermawan melihat ke arah Yuri yang terlihat acak acakan dan sudut bibir yang berdarah. "Ini pasti ulahmu!!" Sentak Hermawan pada Rena.


"Papa membela anak haram itu?" Tanya Rena tak percaya.


"Jelas saja, Yuri seribu kali lebih baik darimu, Ren!!" Jawab Hermawan. "Lebih kau pergi dan jangan kembali lagi ke rumah ini. Rumah ini aman tanpamu." Ucap Hermawan.


"Papa mengusirku hanya demi anak haram itu?"


Hermawan menampar mulut Rena. "Pergi ku bilang!! Kau sama saja dengan ibumu, tidak beradab sama sekali."


"Biar Yuri saja yang pergi, Pa.." Kata Yuri dengan lemah.


"Tidak Yuri, kamu anak Papa dan Papa akan mewariskan semua harta Papa untukmu, Rena tidak akan mendapatkan apapun karena Papa akan mencoretnya sebagai keturunan Papa."


"Papa tidak adil!!" Ucap Rena frustasi.


"Papa sudah tidak menganggapmu dari semenjak kamu membuat scandal memalukan di London hingga kamu di deportasi oleh negara itu." Ucap Hermawan.


"Papa sudah banyak mengeluarkan uang untuk menutup kasus portitusi dan aborsimu dan Papa tidak akan memberikannya lagi sepeserpun padamu." Ucap Hermawan berapi api.


"Tubuhmu panas, Ri." Kata Dirga.


"Pa, aku harus membawa Yuri ke rumah sakit, Yuri demam tinggi."


"Papa percayakan Yuri padamu, Dirga. Biar Rena jadi urusan Papa." Kata Hermawan.


Dirga segera menggendong Yuri ala bridal dan membawanya ke rumah sakit dengan menggunakan mobilnya.


"Kehidupan apa yang kamu jalani, Ri. Kenapa di hadapanku kamu selalu ceria." Gumam Dirga yang tidak terdengar oleh Yuri.


Yuri mendapatkan perawatan terbaik karena Dirga yang memintanya. Yuri juga harus menginap karena dehidrasi dan demam yang cukup tinggi.


Dirga dengan setia menemani Yuri, ia menatap lekat wajah Yuri tanpa kaca mata dengan rambut yang tergerai, Yuri wanita yang cantik dan Dirga mengakui hal itu.

__ADS_1


Dirga melihat ponselnya, dimana tadi ia sempat merekam kejadian saat Rena menganiaya Yuri. Jujur Dirga terkejut mengetahui jika Yuri merupakan saudara satu ayah dengan Rena.


"Aku akan melaporkannya, sepertinya Papa Hermawan juga tidak akan keberatan." Gumam Dirga.


"Aku harus memberitahu Cean dan Nadlyn, mana tau Rena berencana juga untuk memisahkan Cean dan Nadlyn." Kata Dirga lagi bermonolog.


"Setidaknya aku menjadi kakak yang baik untuk mereka." Dirga tersenyum kecut. Ia akan menerima takdirnya dan sepertinya Dirga mulai mencintai gadis baik hati yang sedang berada di depan matanya.


"Gadis cupu, bangunlah." Ucap Dirga sambil mengusap pipi Yuri.


**


Cean, pindah ke kamarmu." Kata Nadlyn saat dirinya akan tidur bersama Samudra.


"Ini kamarku, Sayang. Mau pindah kemana lagi?"


"Kamarmu yang di lantai bawah, Cean."


"Aku sudah bisa naik tangga, aku kembali tidur disini."


Nadlyn menghela nafas, "Ya sudah, aku yang tidur di kamar bawah."


Cean menarik tangan Nadlyn yang hendak melangkah. "Kamu tidur disini, kita masih suami istri." Ucap Cean dengan tatapan lembut.


"Sewaktu dulu menjadi suami istri kita tidak satu ranjang." balas Nadlyn.


"Tapi saat menciptakan Samudra, kita satu ranjang." Goda Cean membuat wajah Nadlyn merona merah.


"Jaga ucapanmu, Cean. Nanti di dengar Samudra."


Cean menatap wajah Nadlyn dengan tatapan lembut, tangan Cean membelai pipi Nadlyn. "Aku minta maaf, ya."


"Aku sudah memaafkanmu, Cean."


Cea menarik pinggang Nadlyn dan mencium bibirnya dengan lembut. Nadlyn yang terbuai pun membalas ciuman itu.


"I love U." Lirih Cean saat melepas pagutannya.


"Me too." Balas Nadlyn.


Suara pintu terbuka dan Samudra masuk setelah tadi ia bermain lego bersama Pras.


"Daddy masih disini?" Tanya Samudra.


"Memang Daddy harus kemana?"


"Di kamar Daddy di bawah."


"Mulai malam ini, kita akan tidur bertiga." Kata Cean sambil mengangkat Samudra ke atas tempat tidur.


"Benarkah, Dad?" Tanya Samudra tak percaya.


"Tentu saja." Jawabnya yakin. "Mom, ayo tidur." Ajak Cean pada Nadlyn.


Dan mereka pun tidur bersama dengan posisi Samudra di tengah tengah Cean dan Nadlyn. Tangan kekar Cean mampu menjangkau hingga ikut memeluk Nadlyn.


"Daddy sangat mencintai kalian." Ucap Cean sambil bergantian mencium puncak kepala Nadlyn dan Samudra.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2