
Hari menjelang sore dan Yuri mengajak Dirga untuk pulang.
"Sudah sore?" Tanya Dirga kemudian melihat jam di pergelangan tangannya.
Yuri tertawa, "Kakak lucu sekali, main tidak ingat waktu." Ucapnya.
Dirga yang melihat tawa Yuri pun ikut tersenyum. "Ayo kita pulang." Ucapnya dan untuk pertama kalinya berkata dengan lembut kepada Yuri.
Dirga melihat ponselnya yang tertinggal di dalam mobil. Terlihat nama Cean banyak menghubunginya.
"Cean, ada apa dia mencariku?" Gumam Dirga yang terdengar oleh Yuri.
"Mungkin mau mengabari soal Samudra Kak. Tadi Kak Nadlyn mengabariku jika Samudra di rawat di rumah sakit karena kepalanya terbentur tangga kolam renang." Sahut Yuri dengan polosnya.
Dirga nenoleh ke arah Yuri yang duduk di sampingnya. "Apa kau bilang?"
Dirga langsung melajukan mobilnya untuk menuju rumah sakit.
"Kenapa kau tidak segera memberi tahuku?"
"Aku kira Kakak sudah tau. Tadi aku akan pergi menjenguk Samudra, tapi Kakak datang dan kita kesini." Jawab Yuri.
"Oh my God, Yuriii harusnya kau langsung memberitahuku jika itu tentang Samudra." Geram Dirga.
"Maafkan aku, Kak." Ucap Yuri sambil nyengir.
Dirga hanya menghela nafas, ia ingin marah, namun sepertinya kali ini Dirga dapat meredamnya kembali.
"Kenapa Nadlyn bisa mengabarimu tentang Samudra?" Tanya Dirga.
Dirga cukup heran mengapa Nadlyn tidak mengabari dirinya sementara Yuri dikabari oleh Nadlyn.
"Aku janjian sama Kak Nadlyn untuk ke butik, saat aku tanya jam berapa jadinya, Kak Nadlyn memberitahuku jika tidak bisa hari ini karena Samudra di rawat di rumah sakit." Jawab Yuri.
"Kalian suka berkomunikasi?" Tanya Dirga lagi.
Yuri mengangguk, "Kak Nadlyn baik sekali. Aku senang berteman dengannya." Jawab Yuri.
"Ya, Nadlyn memang wanita baik." Ucap Dirga.
"Karena itu Kakak mencintainya?" Tanya Yuri mendalam.
Dirga hanya diam saja, ia tak boleh meneruskan perasaan nya terhadap wanita yang ternyata adiknya sendiri dari satu Ayah yang sama.
"Aku akan mundur jika Kakak tidak menginginkan pernikahan ini. Aku akan bilang jika aku yang membatalkannya." Kata Yuri dengan tersenyum paksa.
Dirga diam dan tidak menanggapi ucapan Yuri.
"Aku tau jika cinta itu tidak bisa di paksakan, Kak. Karena itu akan merelakan Kakak untuk tidak bersamaku." Kata Yuri dan tiba tiba saja Dirga menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kak koq berhenti?" Tanya Yuri dengan heran.
Dirga membuka seatbelt nya kemudian menghadapkan tubuhnya ke arah Yuri dan Yuri yang menoleh ke arah Dirga terkesiap saat tangan Dirga meraih tengkuk leher Yuri lalu mencoba menciumnya.
__ADS_1
Hmmmppp, Kakk..
Dirga seolah kehilangan akal, ia mencium Yuri dengan paksa dan menekan tengkuk Yuri agar dapat menciumnya lebih dalam.
"Kak, lepas." Kata Yuri sambil mendorong dada Dirga dengan nafas terengah engah.
"Kakak mau membuat nafasku habis?" Kata Yuri dengan sedikit emosi.
"Kamu terlalu berisik, aku tidak suka wanita berisik."
"Ya tapi tidak begitu caranya, Kakak sudah mencuri ciuman pertamaku." Ketus Yuri.
"Itu juga ciuman pertamaku!!" Balas Dirga.
"Masa?" Cibir Yuri.
"Kamu tidak percaya?"
"Tidak, buktinya Kakak begitu ahli."
Dirga memejamkan matanya, hingga tiba tiba ia merasakan lagi bibir lembut di birbirnya, dirga membuka matanya dan melihat wajah Yuri dari dekat, ya Yuri sedang menyesap bibir bawah Dirga dan Dirga sungguh tidak menyangka akan hal itu, Yuri berani menciumnya.
Tak lama kemudian Yuri melepaskannya kembali. "Impas.." Ucapnya santai.
"Impas apanya?" Tanya Dirga.
"Kakak mencuri ciumanku, dan aku mencuri ciuman Kakak." Jawabnya tak merasa bersalah.
"Dan karena hal itu, aku tarik kembali semua ucapanku tadi, aku tidak akan melepas Kakak, Kakak harus menikahiku karena sudah mencuri ciuman pertamaku." Ucap Yuri dengan tegas.
**
Cean tengah bercanda bersama Samudra, hingga detik ini Nadlyn belum menjawab apapun, ia hanya meminta agar semua orang memberinya waktu. Enam tahun bukan waktu yang sebentar, Nadlyn hanya ingin memantapkan hatinya dulu dan melihat seberapa besar Cean berubah dan serius dengan hubungannya.
Nadlyn ingin egois sekali ini saja, ia tidak ingin Cean menikahinya kembali hanya karena Samudra. Sebagai wanita, Nadlyn pun ingin dicintai oleh Cean dan Cean belum pernah sama sekali mengatakan hal itu. Egoiskah Nadlyn? Tentu saja tidak, karena Nadlyn hanya ingin dirinya juga di cintai oleh pria yang slalu ia cintai.
"Daddy, Sam ingin minum." Kata Samudra.
"Mommy, tolong ambilkan minum untuk Samudra." Kata Cean memanggil Nadlyn dengan panggilan Mommy pada Nadlyn di depan Samudra.
Hati Nadlyn merasa menghangat namun Nadlyn tetap membentengi perasaannya dulu hingga benar benar melihat kesungguhan Cean.
Sementara Samudra yang melihat hal itu tersenyum lebar, "Daddy seperti Opa, memanggil Oma dengan panggilan Mommy."
"Iya, tentu saja. Sam akan terbiasa mendengar hal ini."
Nadlyn memberikan Samudra minum.
"Mom, tolong ambilkan aku minum juga." Kata Cean.
"Kamu tidak sakit, Cean. Ambil minuman mu sendiri."
"Mom, tidak boleh memanggil nama Daddy, Mommy harus seperti Oma memanggil Daddy pada Opa." Kata Samudra.
__ADS_1
"Mommy tidak terbiasa, Sam."
"Harus di biasakan, Mommy. Daddy juga tidak terbiasa tetapi kini terbiasa."
Nadlyn menghembuskan nafasnya. "Kalian kompak sekali."
"Yes, like father like son." Jawab Cean sambil menaik turunkan halisnya.
Pintu kamar terbuka, dan terlihat Dirga bersama Yuri datang untuk menjenguk Samudra.
"Papiii..." Panggil Samudra dan dirga dengan segera mendekat ke arah Samudra.
Namun perhatian Dirga tertuju pada Cean yang sedang berdiri.
"Cean.. Kau..."
Cean mengangguk, "Aku bisa berjalan kembali."
Dirga ikut merasakan bahagia tanpa sadar mereka pun berpelukan. Pelukan persabatan seperti saat masih sekolah dulu.
"Pii.. Papi belum memelukku." Kata Samudra dengan possesif.
Cean melepaskan pelukan itu, "Anakku begitu menyukaimu, ku rasa jika kau menikah dan memiliki anak perempuan, kau harus menjodohkannya dengan putraku agar putraku bisa benar benar menjadi anakmu juga."
Dirga mengernyitkan dahinya. "Apa kau sudah..."
"Pii, jangam bicara terus dengan Daddy. Papi belum memelukku." Kata Samudra lagi yang cukup mewakili rasa penasarannya.
Dirga menatap tajam wajah Cean. "Kau berhutang penjelasan padaku."
Dirga mendekati Samudra dan memeluknya. "Anak Papi yang kuat."
"Pii kepalaku sakit." Rengek Samudra.
"Jika kamu minum obat dengan teratur, maka rasa sakitnya akan hilang." Kata Dirga dengan lembut.
"Berapa lama?" Tanya Samudra.
"Hmm..." Dirga seolah berpikir. "Bagaimana jika nanti kamu sembuh, Papi akan mengajak bermain tembakan di wahana bermain lagi?" Tanya Dirga mengalihkan pertanyaan Samudra.
Sebisa mungkin Dirga menghindari pertanyaan yang ia sendiri tidak tau menjawabnya dan Dirga juga tidak ingin memberikan jawaban bohong kepada Samudra.
Hal itu terlihat oleh Ocean, bagaimana Dirga memperlakukan Samudra, tidak membuatnya bahagia meski dengan kebohongan. Sungguh Dirga bersikap begitu dewasa dan Cean harus belajar banyak dari Dirga.
"Mau, Pii.. Aku ingin nengalahkan score Papi lagi." Kata Samudra bersemangat.
"Kalau begitu tidak boleh menghitung berapa lama lagi kamu akan sembuh, kamu hanya harus minum obat secara teratur dan banyak berisitirahat agar segera sembuh."
"Iya Pii...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Crazy up ku hari ini, aku persembahkan untuk teman teman readers yang dengan sukarela kasih aku Vote, like, hadiah dan meninggalkan jejak di kolom komentar hari ini.
__ADS_1
Terimakasih untuk dukungannya. 🥰