
Kabar tentang Samudra yang di rawat di rumah sakitpun sampai di telinga Rill. Rill pun sengaja datang ke rumah sakit dengan beralasan jika Ayahnya juga bekerja sekaligus pemilik bagian dari rumah sakit itu.
Rill masuk begitu saja ke ruang perawatan Samudra dan melihat tak suka Zivana yang sedang menyuapi Samudra sarapan pagi.
Samudra dan Zivana melihat ke arah Zivana yang dengan percaya diri masuk begitu saja dan mendekat ke arah brankar.
"Kak Sam sakit?"
"Sudah tau, nanya." Jawab Samudra dengan ketus.
"Kak Sam, kenapa begitu ketus padaku sih?"
"Karena kamu bisanya hanya mengganggu saja."
"Ishh, koq mengganggu sih, kak? Aku ini kesini untuk jenguk Kakak."
Samudra hanya menghela nafas karena lelah menghadapi sikap labil Rill. Kini Samudra menyadari jika Rill begitu kekanakan bahkan jika dibandingkan dengan Zivana, Zivana jauh lebih baik dari Rill. Zivana meskipun manja tetapi ia bisa berubah dan kini Samudra bahkan mulai mencintai Zivana.
"Bee, aku mau makan buah." Kata Samudra dengan tatapan hangat pada Zivana.
Zivana merasa begitu gembira saat Samudra memperlakukannya dengan lembut apa lagi hal itu dilakukan di depan Rill.
"Sebentar, Sayang. Aku ambilkan." Balas Zivana dengan tersenyum penuh kemenangan kemudian melirik sekilas ke arah Rill yang sudah jelas terlihat kesal.
Zivana mengupaskan kulit jeruk dan membersihkan seratnya lalu menyuapkannya pada Samudra.
"Asam tidak, Kak?" Tanya Zivana
"Tidak, ini cukup manis."
Mereka berbicara seolah mengabaikan keberadaan Rill disana. Baik Samudra maupun Zivana tidak mau lagi terjebak oleh sikap plin plan Rill.
"Rill, pulanglah. Aku tidak enak dengan Dylan jika kamu terus saja disini." Ucap Samudra.
"Aku dan Dylan sedang bertengkar." Lirih Rill.
"Itu bukan urusanku sama sekali, Rill. Urusanku saat ini adalah kamu selalu saja menggangguku, membuat istriku menjadi tidak nyaman."
Rill menatap tak percaya pada Samudra, Samudra begitu memperdulikan Zivana dan melupakan Rill begitu saja. Sungguh Rill merasa kehilangan sosok Samudra yang selalu bersikap lembut dan hangat padanya.
"Kak, aku tau pernikahan Kakak dan Zivana atas dasar keterpaksaan. Kakak tidak bahagia bersama Zivana kan?"
"Kamu salah, Rill. Meski aku menikah karena dasar ingin menyelamatkan kehormatan Papi Dirga, tapi aku tidak pernah main main dalam suatu hubungan, apa lagi jika itu sudah terikat pernikahan. Mommy akan begitu sedih jika aku menjadi pria yang tidak bertanggung jawab."
"Jadi hanya karena Uncle Dirga dan Aunty Nadlyn?" Tanya Rill.
__ADS_1
Samudra mengangguk, "Awalnya iya. Tapi setelah menjalani pernikahan ini aku mulai belajar mencintai istriku, Zivana."
Rill mengepalkan tangannya dengan erat, "Lalu kemana cinta Kakak untukku dulu?" Tanya Rill dengan berapi api.
Samudra tersenyum, "Hilang saat aku menyadari jika kamu hanya memberi harapan palsu untukku." Samudra menjeda kalimatnya. "Sejak saat itu, aku sudah tidak ingin lagi memikirkan perasaanku padamu dan yang ada dalam pikiranku adalah bagaimana cara menjaga perasaan istriku dari wanita labil sepertimu. Aku tidak mau istriku merasa terganggu olehmu." Samudra menghela nafas sejenak. "Jadi mulai dari sekarang, berhenti mengganggu rumah tangga kami, Rill. Fokuslah pada hubunganmu dengan Dylan sebelum Dylan melakukan hal yang sama sepertiku karena muak menghadapi sifat kekanakanmu yang labil itu."
Mendengar hal itu, Rill menghentakan kakinya. "Aku yakin Kak Sam masih mencintaiku. Aku yakin Kak Sam hanya kasihan saja pada Zivana."
Zivana yang mendengarnya langsung merasa bersedih, ia berharap apa yang dikatakan Rill semua tidak benar adanya.
"Jangan membuatku berkata hal yang akan menyakitkan untukmu, Rill."
"Berkata apa? Katakan saja, Kak!!" Sentak Rill yang memancing emosi Samudra.
"Aku mencintai istriku, aku sangat mencintai Zivana." Kata Samudra pada akhirnya.
Rill menggelengkan kepalanya. "Tidak, Kak."
"Terserah, Rill. Mau percaya atau tidak itu bukan urusanku." Kata Samudra dengan dingin.
Zivana terus menatap wajah tampan Samudra yang berkata mencintainya, Zivana bagai terbang tinggi namun ia kembali membatasi rasa bahagianya mengingat jika Samudra mengatakan hal itu tanpa menatap mata Zivana. Zivana berpikir jika Samudra mengatakan hal itu karena agar Rill berhenti mencarinya lagi.
Rill dengan wajah kesal dan penuh amarah segera pergi dari hadapan Samudra, terlebih Samudra tidak menahannya sama sekali membuat Rill semakin kesal.
Samudra dengan santainya memakan kembali buah jeruk yang sudah dibersihkan dari seratnya oleh Zivana. Sementara itu Zivana hanya diam dan tidak berani berkata apapun.
Zivana memberikan obat juga air mineral pada Samudra dan Samudra meminumnya.
"Aku sudah tidak demam, nanti kalau ada dokter, bilang kalau aku ingin istirahat di rumah saja." Kata Samudra dan Zivana hanya mengangguk.
"Istirahatlah lagi, Kak."
"Temani aku." Kata Samudra sambil menepuk sisi brankar agar Zivana tidur kembali bersama Samudra.
"Aku mau mandi dulu."
"Tidak usah mandi, kamu tetap wangi."
"Ishh gombal."
Samudra menarik lengan Zivana yang hendak meninggalkannya, "Aku bilang temani aku istirahat."
"Aku gak ngantuk, Kak. Aku juga lapar." Kata Zivana kemudian Samudra meregangkan pegangannya.
"Aku akan menyuruh orang untuk membawakanmu makanan."
__ADS_1
"Aku cari ke kantin saja, Kak."
"Aku tidak mengijinkanmu keluar." Samudra mengambil ponselnya dan menyuruh seseorang untuk membawakan makanan untuk Zivana.
"Mandilah dulu sambil menunggu pesananmu datang." Kata Samudra dan Zivana segera berdiri untuk membersihkan diri.
Setelah lima belas menit, Zivana kelur dari dalam kamar mandi dan melihat ada box makanan di meja dekat brankar Samudra.
"Sini..." Kata Samudra dan Zivana menurut untuk duduk di sisi brankar menghadap Samudra.
Samudra membuka box makanan berisikan salad sayur, telur rebus dan kentang rebus. Makanan sehat yang biasa Zivana makan setiap pagi.
"Biar Aku suapin."
"Jangan, Kak. Aku kan gak lagi sakit."
"Tapi kamu sudah merawatku."
"Itu sudah kewajibanku sebagai istrimu, Kak."
Samudra diam lalu berpikir. "Aku harus membalasnya dengan apa?"
Zivana menatap wajah Samudra dengan tersenyum, "Boleh aku minta sesuatu?"
Samudra mengangguk. "Kamu mau minta apa?"
"Aku ingin belanja, sudah satu bulan lebih aku tidak belanja, Kak. Beri aku kartu." Kata Zivana menaik turunkan halisnya.
Samudra menghela nafas. Ternyata merubah seseorang itu tidaklah mudah. Meski kenyataannya Zivana sudah banyak berubah dan tidak kekanakan lagi.
"Tunggu aku sembuh, aku akan menemanimu belanja."
"Benarkah?" Zivana begitu tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Tapi dengan satu syarat."
Zivana mengernyitkan dahinya. "Syarat apa?"
"Masukan dalam daftar list belanjamu, beberapa Lingerie seksi untuk dipakai olehmu di depanku." Jawab Samudra yang membuat wajah Zivana merona merah.
Zivana menunduk dan Samudra memegang dagu Zivana agar Zivana mau menatap kembali wajahnya. "Deal?"
Zivana menatap wajah Samudra, ia berpikir mungkinkah dirinya harus melakukannya dalam waktu yang dekat, memberikan hak Samudra dan menunaikan kewajibannya. Tapi Zivana ragu karena belum mendengar kata cinta yang Samudra katakan langsung untuknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Kakak Sam selangkah lebih maju ya sampai minta lingerie 🤣