
Cean dan Nadlyn kembali memeriksakan kehamilan anak kedua mereka. Cean tidak pernah melewatkan moment yang berharga ini, ia tidak ingin melewatinya seperti dulu saat Nadlyn mengandung Samudra.
"Sudah kelihatan Dad laki laki atau perempuan?" Tanya Cean.
Pras tersenyum, "Perempuan."
"Seperti apa yang Sam mau." Kata Nadlyn.
"Ya, Sam akan menjadi Kakak yang baik yang akan menjaga adiknya nanti." Kata Pras dengan yakin.
"Kira kira bisa normal lagi, Dad?" Tanya Samudra yang kini duduk bersama Nadlyn menghadap Pras.
"Bisa, Di lihat dari rekam medis Nadlyn, smua normal, semoga kedepannya Nadlyn bisa terus sehat seperti sekarang dan bisa melahirkan dengan normal."
Cean dan Nadlyn saling tersenyum, rumah tangga mereka akan semakin kumplit dengan kehadiran bayi perempuan yang akan datang di keluarga mereka.
"Kita akan mulai membeli perlengkapan bayi." Ucap Cean sambil memgemudikan mobilnya.
"Nanti aja, Hubby, saat sudah delapan bulan."
"Masih nunggu tiga bulan lagi?"
Nadlyn mengangguk, "Iya tunggu tiga bulan lagi."
"Baiklah, tapi aku harus ikut memilih, aku ingin tema disneyland, seperti Minnie mouse." Jawab Cean.
"Boleh juga."
**
Cean dan Nadlyn tiba di sebuah Mall, dimana mereka berjanjian bertemu dengan Dirga, Yuri dan juga sekalian untuk menjemput Samudra.
"Mereka dimana?" Tanya Cean sambil menggandeng tangan Nadlyn.
"Sepertinya di arena game, Dirga selalu mengajak Samudra kesana."
Mereka berjalan menuju tempat arena bermain, tentu saja Dirga bersama Samudra berada disana, Yuri memperhatikan Dirga yang asik bermain tembakan bersama Samudra.
"Pii, awas." Teriak Samudra saat sang musuh mengenai dirinya.
"Papi bisa menembaknya duluan, Boy."
Dirga dan Samudra terlihat kompak sekali, Yuri yang melihatnya pun berharap jika dirinya bisa segera hamil dan memberikan keturunan Untuk Dirga.
__ADS_1
"Kalian seru sekali." Sahut Cean yang ikut bergabung.
"Ini seru Dad, zombie nya banyak sekali." Seru Samudra.
Cean hanya mengusap puncak kepala Samudra. Samudra mempunyai caranya sendiri untuk bersikap bagaimana saat bersama Dirga dan bagaimana saat bersama Cean.
Samudra tidak bisa memilih karena bagi Samudra, baik Dirga maupun Cean adalah orang yang di sayanginya.
Selesai puas bermain bersama, kini mereka makan siang bersama. Tentu saja restoran steak menjadi pilihan Samudra.
"Jadi adiknya Sam perempuan?" Tanya Dirga.
Nadlyn mengangguk. "Iya Daddy Pras bilang perempuan."
"Waahh pasti cantik secantik Kak Nadlyn." Sahut Yuri.
"Maminya juga cantik nih." Goda Nadlyn yang melihat penampilan Yuri semakin hari semakin cantik dan Dirga seperti memakai kacamata kuda yang pandangannya hanya tertuju pada Yuri.
"Dirga bisa semakin bucin." Ledek Nadlyn.
Dirga tersenyum, "Tentu saja, semakin hari aku semakin cinta sama Yuri." Jawab Dirga tanpa malu.
"Haisshhh, dulu dia gak gitu lho sama aku, Ri." Nadlyn mengedipkan satu matanya pada Yuri dan Yuri malah tertawa.
"Adik ketemu gede." Sahut Cean.
Dan mereka pun tertawa bersama.
Selesai makan siang bersama, Dirga membawa Yuri kembali kerumahnya. Kini mereka hanya tinggal berdua karena Hellena sudah tinggal bersama Robi.
"Kak, apa perlu jika kita memeriksakan kondisi kesuburan kita ke dokter?" Tiba tiba saja Yuri ingin membahas soal anak pada Dirga.
"Baby, kita belum satu tahun menikah, apa kamu tidak ingin menikmati waktu bersamaku dulu?"
Yuri hanya diam, ia ingin bicara namun takut salah bicara. Dirga melihat Yuri yang hanya diam itu dan menariknya untuk duduk di pangkuannya.
"Ada yang mengganjal hatimu? Katakan." Kata Dirga dengan lembut.
"Aku ingin memberikan seorang anak pada Kakak, melihat Kakak bermain bersama Samudra, rasanya lebih bahagia jika bermain bersama anak sendiri." Yuri menghela nafas setelah mengeluarkan isi hatinya. "Bukan aku tidak suka pada Samudra, aku juga menyayangi Samudra, saking sayangnya aku juga ingin memiliki yang seperti Samudra."
"Sssttt." Dirga menempelkan jari telunjuknya di atas bibir Yuri. "Aku tau perasaanmu, aku juga tau apa yang kamu rasakan." Dirga menatap lembut wanita yang semakin hari semakin cantik ini. "Kamu wanita yang baik, lembut, dan aku tau kamu menyayangi Samudra hingga ingin memiliki sesuatu yang seperti Samudra."
Yuri mengangguk.
__ADS_1
"Aku pun ingin memiliki seseorang yang merupakan darah dagingku sendiri dan itu dari rahimmu. Tetapi...." Dirga menjeda kalimatnya sejenak. "Aku tidak ingin menekanmu, bukankah jika wanita itu tertekan akan mengalami stres dan hormonnya berantakan? Karena itu aku tidak ingin membebanimu. Kita nikmati wakti kita bersama, aku yakin jika saatnya tiba, Tuhan akan memberikan kita seorang bayi dengan cara yang luar biasa."
Yuri memeluk Dirga, "Kenapa Kakak baik sekali padaku?"
Dirga tertawa namun tangannya mengusap punggung Yuri. "Karena aku mencintaimu, karena kamu istriku, dan karena kamu yang akan slalu menemani aku." Dirga melerai pelukannya lalu menatap wajah Yuri. "Jangan stres ya, kita harus bahagia, tunggu satu tahun pernikahan kita, baru kita periksa, aku masih ingin menikmati masa masa berdua kita, saling memahami satu sama lain."
Akhirnya Yuri mengangguk, ia akan mencoba untuk tidak memikirkan soal anak agar tidak stres.
"Salonmu sekarang semakin berkembang." Kata Dirga mengalihkan pembicaraan.
Yuri yang memaninkan kancing kaos kerah yang di pakai Dirga pun menjawab. "Iya kak, aku dan Vincent berencana membeli ruko sebelah salon dan memperluasnya. Menurut Kakak bagaimana?"
Dirga sangat menyukai Yuri yang selalu sharing soal usahanya, membuat Dirga selalu merasa di hargai sebagai seorang suami.
"Bagus juga, keuangan salon bagaimana?"
"Aku mengalokasikan beberapa dana untuk kepentingan salon, dan itu cukup untuk membeli ruko sebelah dan aku akan meminta Kak Nadlyn untuk mendesain interiornya nanti setelah Kak Nadlyn melahirkan." Jawab Yuri.
Dirga terkesima karena kepintaran Yuri, hanya dalam waktu beberapa bulan saja Yuri mampu mengembangkan usaha yang Dirga berikan. Pantas saja Ayah kandung Yuri bersikeras memberikan perusahaannya pada Yuri karena Yuri memiliki kepintaran untuk mengembangkan perusahannya.
Namun Yuri begitu menurut dan mengikuti apa kata Dirga untuk menolak semua pemberian Ayah kandungnya, karena Dirga tidak ingin di masa depan baik Rena maupun ibunya mengganggu Yuri untuk mengambil apa yang sudah diberikan oleh ayah kandung Yuri. Dirga hanya ingin melindungi Yuri dari sesuatu yang akan terjadi di kemudian hari. Bagi Dirga, harta bukanlah segalanya, karena itu Dirga memberikan sebuah usaha untuk Yuri dan kini terbukti Yuri dapat mengembangkannya.
Yuri juga semakin tertarik di bidang kecantikan, ia pun berencana akan membuka klinik kecantikan dan memperkerjakan dokter dokter kecantikan yang berkompetent di bidangnya. Tentu saja Dirga slalu mendukung Yuri, terlebih Yuri melakukan usahanya karena hobinya yang kini senang sekali merawat tubuh dan wajahnya untuk menyenangkan hati Dirga.
"Aku menikahimu seperti menikahi anak SMA." Kata Dirga yang semakin hari Yuri terlihat semakin awet muda.
"Apa Kakak suka? Aku melakukan ini untuk Kakak."
"Untukku?" Tanya Dirga meyakinkan.
Yuri mengangguk, "Supaya Kakak tidak selingkuh, misal tertarik dengan sekertaris Kakak, atau wanita lain."
Dirga tertawa, kemudian tangannya mengangkup wajah Yuri, "Kita belajar dari pengalaman masa lalu orang tua kita. Aku membenci sikap Mami yang menyelingkuhi Papa kemudian menikah dengan Papi. Kamu juga pasti tidak suka kan dengan sikap ayah kandungmu yang mempunyai hubungan gelap dengan ibumu hingga ada kamu di dunia ini. Jadi sebisa mungkin, aku akan slalu setia sama kamu, karena setia itu mahal."
Yuri begitu tersentuh dengan apa yang dikatakan Dirga. Ia mencium sekilas bibir Dirga, "Kak mandi yuk." Ajak Yuri dengan nada sensual.
Dirga tertawa, "Menang banyak deh." Kemudian mengangkat Yuri dan membawanya ke dalam kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku Crazy Up karena ada beberapa teman Readers yang memberi nilai Bintang ⭐️5 dan hadiah untuk Novel ini..
Terimakasih sudah mendukung karyaku, tetap bantu Like, Hadiah, Vote dan Komentar biar rame ya.
__ADS_1
Bantu nilai ⭐️5 juga untuk yang belum kasih nilai.