Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 116


__ADS_3

Lova segera membersihkan diri dan turun untuk menemui Axelle yang terlihat sedang berbincang bersama Samudra dan Cean.


"Baby Love." Panggil Sam dan Lova mendekat ke arah Samudra.


"Axelle bilang akan berolahraga bersamamu." Kata Samudra dan Lova mengangguk.


"Iya Kak."


"Kalian sarapan dulu disini?" Tanya Cean.


"Maaf Uncle, tapi sepertinya aku ingin mengajak Lova sarapan diluar." Ucap Axelle dengan santun.


"Ah ya, Uncle mengerti. Kamu sedang pendekatan pada Lova, right?" Cean menggoda Axelle dan Lova.


"Daddy." Lova mencebik dan terlihat menggemaskan sekali.


"Sudah Dad, jangan menggoda Baby Love, nanti mereka tidak jadi pergi." Sahut Samudra sambil merangkul adik kesayangannya itu.


"Aku pergi dulu, Kak." Lova mencium pipi Samudra, kemudian beralih pada Cean. "Daddy nakal." Kata Lova sambil mencium pipinya dan mencubit pinggang Cean.


"Oh Baby Love, kenapa mencubit Daddy." Gaduh Cean.


Lova menjulurkan lidahnya. "Bye Daddy."


Axelle membawakan tas olah raga milik Lova dan menyimpannya di bagasi, lalu membukakan pintu untuk Lova.


"Terimakasih." Ucap Lova dan Axelle membalasnya dengan senyuman.


Axelle mengemudikan mobilnya dan Lova mulai membuka obrolan.


"Kakak biasa olah raga di Gym mana?"


"Kita tidak akan ke tempat Gym."


"Lalu kita mau kemana?"


"Olah raga." Jawabnya singkat dan Lova tidak bertanya lagi.


Hingga mobil yang Axelle kendarai berada di parkiran sebuah stadion dimana banyak orang sedang berolahraga ringan sambil berjemur matahari pagi.


"Matahari pagi bagus untuk kesehatan, ayo kita kelilingi stadion ini." Ajak Axelle dan Lova mengikutinya.


"Sering kesini?" Tanya Lova sambil berjalan beriringan bersama Axelle.


"Cukup sering."


"Sama pacar?"


Axelle menggelengkan kepalanya, "Kamu cewek ke empat yang aku ajak kesini."


"Ish ternyata kamu playboy juga." Lova tertawa untuk menetralisir perasaannya sendiri. Entah mengapa ada rasa kecewa di diri Lova saat Axelle mengatakan jika Lova adalah wanita ke empat.


"Dengar dulu." Kata Axelle menjeda kalimatnya. "Yang pertama aku ajak kesini itu Allea, saudariku. Terus aku juga pernah mengajak Mama, dan juga Oma." Jelasnya, "Lalu kamu yang ke empat. Dan diantara berempat ini, tidak ada yang berstatus pacarku kecuali kamu mau jadi pacar aku."


Lova tersenyum, ia malu karena sempat mengira yang tidak tidak pada Axelle.


"Kamu lagi nembak aku?" Tanya Lova.


"Jika iya gimana?" Tanya Axelle balik.

__ADS_1


"Ish, gak romantis, masa nembak aku sambil olah raga begini." Lova mencebik.


"Mau nya kayak gimana?" Tanya Axelle menantang.


Lova terlihat berpikir, "Misal dengan bunga gitu?"


Axelle tertawa, "Baiklah."


Mereka berbincang sambil berjalan memutari stadion. Axelle begitu tertarik untuk mengenal Lova lebih dalam. Begitupun dengan Lova yang sedang membuka hatinya kembali dengan menerima Axelle yang tengah mendekatinya.


"Ayo makan bubur disana." Ajak Axelle.


"Disana?"


Axelle mengangguk, "Pasti belum pernah."


Lova mencoba mengikuti Axelle, mereka duduk bersebalahan di pinggir trotoar sambil menunggu bubur yang akan diantarkan oleh penjualnya.


"Aku tidak menyangka jika CEO sepertimu mau makan bubur gerobakan pinggir jalan begini." Kata Lova setelah menerima bubur di tangannya.


"Kenapa tidak? Lagi pula bubur ini enak."


"Di usiamu, kenapa kamu belum menikah?" Tanya Lova, pasalnya usia Axelle tidak jauh dari usia Samudra meskipun Samudra lebih tua darinya satu tahun.


"Menikah itu satu kali untuk seumur hidup. Aku hanya merasa harus belum menemukan wanita pas."


"Pasti banyak yang nengejarmu.' Kata Lova lagi.


"Dan aku tidak suka wanita yang mengejarku, aku lebih suka mengejar wanita."


"Jika sudah di kejar dan didapat, lalu dilepas?"


"Bagaimana jika tidak cocok lalu bercerai?" Tanya Lova ingin tau sejauh mana sudut pandang Axelle soal menikah.


"Bukankah menikah itu untuk menyatukan ketidak cocokan?"


"Seperti apa type wanita yang kamu suka?" Tanya Lova tiba tiba.


"Sepertimu." Jawab Axelle dan membuat wajah Lova bersemu merah.


Axelle tersenyum melihat Lova yang terlihat malu malu.


Dari kejauhan, Kevin mencengkram erat tangannya, ia segera menyusul Lova yang tengah pergi bersama Axelle setelah mata matanya memberi laporan. Ya Kevin memerintahkan seseorang untuk memata matai Lova, senekat itukah Kevin?


Kenzo yang terus memantau kegilaan Kevin pun mau tidak mau mengikuti Kevin agar bisa menahan Kevin. Kenzo khawatir jika Kevin melakukan hal di luar batas.


"Hentikan, Kev." Kata Kenzo memperingati. "Mama sudah melarangmu mendekati keluarga ARDA KARYA, jangan membuat Mama malu, Kev."


"Aku tidak bisa melepas Lova, Ken."


"Tidak kau lepas juga, Lova tetap tidak bisa kau miliki."


"Lalu aku harus bagaimana? Membunuh semua pria yang mendekati Lova agar tidak ada satupun diantara mereka yang mendekati Lova sampai keluarganya mau menerimaku?"


"Gila!! Kau gila Kev." Sentak Kenzo.


Kevin mengusap wajahnya kasar, "Aku memamg gila, Ken."


"Hentikan kegilaanmu sebelum Papa tau dan sebelum Mama tau lalu menangis. Kamu tau posisi Mama di hadapan keluarga ARDA KARYA itu tidaklah mudah, Kev." Kenzo terus saja memperingati saudara kembarnya itu.

__ADS_1


Kenzo segera menarik Kevin untuk kembali ke rumahnya, sayangnya ia tidak bisa menghentikan mata mata yang di sewa oleh Kevin karena Kenzo tidak mengetahui dari agensi mana mata mata itu Kevin sewa.


Sementara itu dua pengantin baru itu sedang asik bercengkaraman selesai mereka sarapan bersama keluarganya.


"Kak, pria yang pergi bersama Lova, tampan ya?"


"Jangan mulai Sweety... Mau aku hukum?"


"Mau sekali, Kak." Zivana tertawa.


"Memang tau apa hukumannya?" Tanya Samudra menyelidik.


"Bikin aku jerit jerit di atas ranjang."


Kini gantian Samudra yang tergelak. "Kalau seperti itu enak di aku."


"Aku juga enak, Kak. Dan sepertinya aku akan terus mencari gara gara agar di hukum terus oleh Kakak."


Samudra mencium gemas istrinya itu, "Kamu ini nakal sekali ternyata."


"Tapi kan nakalnya sama Kakak aja."


"Awas kalau berani nakal sama pria lain."


"Ah mana bisa Kak, setiap hari aku jatuh cinta terus sama Kakak." Jawab Zivana membuat hati Samudra menghangat.


Tangan Samudra terulur mengusap perut Zivana. "Sepertinya seru ya kalau kita punya anak."


"Kak, kita program saja ke Opa Pras, aku ingin program bayi kembar."


"Kita tidak ada keturunan kembar."


"Tapi bisa jika kita program."


"Kenapa kamu ingin bayi kembar?" Tanya Samudra.


"Lucu saja membesarkan dua anak sekaligus dalam satu waktu."


Samudra tampak berpikir, "Tidak ah, kita alami saja."


"Kenapa memangnya Kak?"


"Tidak apa apa, aku hanya ingin alami saja."


"Jika aku tidak hamil dalam waktu dekat bagaimana?"


Samudra mengusap rembut kepala Zivana yang bersandar di dadanya. "Jangan terbebani dengan kehamilan, Bee. Aku tidak terlalu memaksakan hal itu. Karena menurutku, kamu lah yang terpenting dalam hidupku, jika ada ada anak itu adalah bonus. Dan kamu tetaplah prioritasku."


"Ah Kakak, kamu manis sekali, Kak."


"Kalau begitu ayo bercinta lagi denganku." Ajak Samudra.


Zivana tergelak, "Biar segera punya anak ya Kak?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bab-Bab sudah mendekati Tamat ya, Cerita jodohnya Lova aku buat ringkes karena cerita Lova ini sebenarnya Bonchap. Harusnya tidak ada cerita Lova karna Fokus di Ocean dan Samudra aja, cuma agak kasihan aja kalo Lova gak di kasih jodoh.


Bantu Novelku naik dengan Like, Komentar, Hadiah, dan Vote ya, karena Novel ininsedang ikut lomba dengan tema Menikah karena Anak.

__ADS_1


Aku udah siapin Novel baru kalau Novel ini sudah tamat.


__ADS_2