Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 85


__ADS_3

"Lov, aku tidur di kamarmu ya." Pinta Zivana memelas.


Saat ini mereka sudah tiba di rumah jam sepuluh malam, suasanan rumah sudah sepi bahkan lampu utama sudah berganti menjadi lampu temaram.


"Jangan Ziv, nanti Kak Sam semakin marah padamu." Jawab Lova sambil menelusuri anak tangga.


Zivana mendessah pelan. "Aku takut Kak Sam memarahiku karena aku tidak memberi kabar padanya."


"Mau tau caranya agar Kak Sam tidak marah?" Tanya Lova sambil menaik turunkan halisnya.


"Cara apa?"


Lova mendekatkan wajahnya ke telinga Zivana. "Pakai lingerie seksi dan bergoyanglah di atas Kak Samudra."


Zivana menyipitkan matanya pada Lova. "Idemu gila."


Lova tertawa, "Hai, kalian suami istri, wajar jika seperti itu." Jawabnya tenang, "Bye Ziv.. Sampai ketemu besok pagi, semoga mimpi indah." Kata Lova sambil masuk ke dalam kamarnya yang berhadapan dengan kamar Samudra.


Zivana menggigit bibir bawahnya dan berusaha membuka handel pintu, dilihatnya kamar yang sudah temaram dan Samudra juga sudah tertidur dibawah selimut hangatnya.


Zivana segera ke masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh tangan dan kakinya, Zivana tidak mandi karena tadi di Salon ia langsung mandi saat selesai spa. Zivana berganti pakaian dengan pakaian tidur dan segera naik ke atas tempat tidur, masuk ke dalam selimut yang sama dengan Samudra.


Zivana tidur dengan posisi miring menghadap Samudra yang terlihat lelap, tangannya terulur untuk menyentuh rahang tegas Samudra.


"Tidurmu pulas sekali, pria pelit dan galak." Gumam Zivana dengan sangat pelan namun tetap terdengar oleh Samudra yang ternyata hanya pura pura tertidur.


Sesungguhnya Samudra ingin sekali tertawa saat Zivana mengatakan dirinya pelit dan galak, namun Samudra menahannya sebisa mungkin.


Tak lama, terdengar suara dengkuran halus, pertanda jika Zivana sudah terlelap, Samudra membuka matanya dan menatap lekat wanita yang kini berstatus istrinya itu.


"Gadis nakal." Samudra tersenyum lalu membawa Zivana ke dalam dekapannya.


Zivana yang sudah sangat mengantuk pun menurut saja bagai anak kucing yang imut lalu merasakan kenyamanan saat masuk ke dalam dekapan Samudra.


Pagi hari, Zivana menggeliat namun ia segera membuka matanya saat mendengar suara detak jantung di telinganya.


"Akhh..." Zivana terkesiap saat menyadari jika dirinya tidur dalam dekapan Samudra.


"Koq aku bisa tidur seperti itu sih?" Ucapnya bermonolog.


Zivana mencoba turun dari tempat tidur namun tangannya ditarik oleh Samudra, membuat Zivana terjatuh kembali di atas dada bidang Samudra.


"Mau kemana, hem?" Tanya Samudra dengan suara seraknya.


"Aku.. Aku.. Aku mau mandi Kak."


"Mandi bersamaku." Kata Samudra yang membuat Zivana membelalakan matanya.


"Ishh gak mau."


Samudra tertawa, ia senang sekali menggoda Zivana.

__ADS_1


"Kalau begitu morning kiss dulu."


Zivana mengernyitkan dahinya, "Kakak salah minum obat ya? Atau semalam Kakak mabuk dan sekarang masih mabuk?"


Cupp..


Samudra mengecup sekilas bibir Zivana.


"Kamu berisik sekali." Lalu Samudra menggulirkan Zivana ke sampingnya dan kini Samudra yang berada di atas Zivana dengan satu tangan menahan tubuhnya.


Mata mereka saling beradu, satu tangan Samudra yang lain membelai pipi Zivana.


"Semalam dari mana?" Tanyanya tanpa ada rasa marah.


Zivana tanpa sadar begitu terhipnotis dengan kelembutan Samudra dan mengalungkan tangannya di leher Samudra. "Spa bareng Lova di salon Mami."


"Kenapa tidak bilang padaku." Samudra mengecup ujung hidung Zivana yang mancung.


"Karena kemarin aku kesal dengan Kakak." Jawab Zivana terus terang.


"Marah padaku?"


Zivana menggelengkan kepalanya. "Tidak, hanya kesal saja."


Samudra terus menatap mata Ziivana, "Maaf..." Kata Samudra pada akhirnya.


"Tunggu.." Sahut Zivana dengan cepat. "Aku harus mengambil ponselku."


"Untuk merekam suara Kakak. Kakak mengucapkan kata maaf padaku." Jawab Zivana dan membuat Samudra tertawa.


"Ya sudah, tidak jadi kalau begitu." Kata Samudra dan membuat Zivana mencebik.


"Ishh memang tidak niat, Tuan pelit dan galak." Cibir Zivana.


"Makanya dengarkan aku saja, tidak perlu merekam." Kata Samudra dan Zivana diam sambil menatap wajah Samudra.


"Aku minta maaf karena mengungkit masalahmu, aku sungguh lupa dan tidak ingat. Tetapi aku janji tidak akan mengungkit hal itu lagi." Kata Samudra dan Zivana mengangguk.


"Tapi aku tidak suka, kamu pergi tanpa memberitahuku." Ucap Samudra lagi.


"Iya, aku juga minta maaf." Balas Zivana.


"Kalau begitu, kamu harus janji selalu mengabariku kemanapun kamu pergi dan bersama siapa."


Zivana mengangguk. "Iya Kak."


"Good." Ucap Samudra.


Samudra menatap wajah cantik Zivana, tentu saja Zivana sangat cantik, karena Zivana melakukan perawatan terbaik dari ujung kepala hingga ujung kakinya.


"Pulang kerja nanti kita kerumah Papi Dirga. Aku ingin menjenguknya."

__ADS_1


Zivana pun nengangguk kembali, ia pun akan mengambil beberapa barang penting yang masih tertinggal di rumah orang tuanya.


Samudra bangun dan menuju kamar mandi, ia memilih merendam tubuhnya kembali untuk menghilangkan hasratnya yang sudah memuncak kembali.


"Aku harus segera mencintaimu dan membuatmu jatuh cinta padaku, aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi." Gumam Samudra putus asa.


Sementara itu, debaran jantung Zivana terasa begitu kencang. Selepas Samudra ke kamar mandi, Zivana terus saja memegang dadanya.


"Oh my God, Kak Sam kenapa jadi manis sekali? Jika seperti itu, aku bisa mudah sekali mencintainya." Wajah Zivana bersemu merah. Zivana tersenyum mengingat Samudra yang berkata lembut pada dirinya.


"Ziv, pakaianku mana?" Teriak Samudra dari dalam walk in closet membuyarkan lamunan Zivana.


Zivana segera turun dari tempat tidur, dirinya melupakan jika harus menyiapkan pakaian kerja untuk Samudra.


"Maaf Kak, aku lupa." Kata Zivana kemudian mencari kemeja yang akan di pakai oleh Samudra.


Seperti biasa mereka berangkat bersama ke kantor, dan berpisah untuk menuju ruangannya masing masing.


Seharian ini Samudra berada di luar untuk bertemu dengan klien, sehingga Zivana tidak perlu menyiapkan makan siang bersama suaminya itu.


Sore harinya, Samudra bersama Zivana berkunjung ke rumah Dirga. Yuri yang sudah mengetahui kabar kedatangan dari Zivana sendiri dan Yuri sudah menyiapkan makan malam spesial untuk menyambut anak dan menantunya itu.


"Papi dimana, Mi?" Tanya Samudra sesaat sesudah mencium pipi Yuri, hal yang sering dilakukan Samudra sedari kecil dan menjadi kebiasaan.


"Hai, Boy..." Dirga berjalan dibelakang Yuri dan Samudra segera menghampiri Dirga.


"Sehat, Pi?" Tanya Samudra yang memeluk Dirga.


"Kelihatannya?" Tanya Dirga sambil melerai pelukannya.


Samudra tersenyum, "Sepertinya Papi jauh lebih baik."


Dirga mengangguk, "Sangat baik." Ucapnya. "Ayo masuk." Ajak Dirga membawa Samudra untuk ke taman belakang rumahnya.


"Pi..." Panggil Zivana yang merasa di abaikan. "Papi tidak rindu padaku?" Kesal Zivana.


Dirga tertawa. "Papi lupa." Ucapnya tanpa rasa bersalah.


"Sini peluk Papi." Kata Dirga dan Zivana segera memeluk Dirga.


"Anak Papi tuh aku atau Kak Sam sih?" Zivana mencebik.


"Kalian semua anak Papi." Dirga tertawa kembali. "Ayo masuk." Ajaknya lagi agar Zivana tidak memberengut kesal.


Samudra memberikan sebuah paperbag untuk Dirga. "Vitamin untuk Papi, aku memesannya langsung dari Jerman. Di minum ya Pi." Kata Samudra.


Dirga begitu terharu karena Samudra begitu memperdulikannya. Begitupun dengan Zivana, selama ini Zivana baru memperhatikan sikap keperdulian Samudra terhadap ayah kandung Zivana.


"Terimakasih, Sam. Kamu memang putraku." Ucap Dirga yang tidak bisa berkata apa apa lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Like, Koment, hadiah dan Vote sangat berarti untuk menaikan semangatku dalam menulis bab selanjutnya 🙏


__ADS_2