
Samudra menarik Zivana kendalam kamar dan setibanya di kamar Samudra mengangkat tubuh Zivana ala bridal, membuat Zivana tertawa hingga menengadahkan kepalanya.
Samudra meletakan dengan lembut tubuh Zivana di atas tempat tidur dan langsung menindihnya.
"Nakal." Kata Samudra sambil mencubit gemas hidung Zivana.
"Tapi suka kan?" Zivana mengalungkan kedua lengannya di leher Samudra.
"Jadi tadi belanja lingerie?"
Zivana mengangguk, "Aku membeli sepuluh lingerie dengan model yang pasti kamu sukai."
"Pakai."
"Nanti malam saja." Zivana mengedipkan satu matanya pada Samudra.
"Tapi sekarang aku tetap ingin."
"I'm Yours tuan bucinku." Zivana mengecup sekilas bibir Samudra.
"Bolehkan jika di kamar mandi? Aku ingin memandikan bayi besarku." Kata Zivana menggoda.
Tanpa pikir panjang, Samudra membawa Zivana ke dalam kamar mandi, membuka dengan cepat dres milik Zivana dan dengan segera menanggalkan pakaiannya sendiri.
Kali ini Zivana benar benar membantu Samudra membersihkan diri, menggosok punggung dan tengkuk Samudra, sesekali menggoda Samudra dengan menyentuh milik Samudra yang sudah menantang.
"Sweety, Akh... Jangan nakal." Kata Samudra.
Zivana merubah posisi kedepan Samudra dan duduk di pangkuan Samudra dengan menghadap ke hadapan Samudra, lalu mengalungkan tangannya.
"Kak, disini yuk." Ajak Zivana.
"Seperti ini? Nyaman tidak?"
Zivana mengangguk, lalu ia sedikit mengangkat tubuhnya untuk mendapatkan posisi nyaman.
"Akhh Sayang, sempit sekali." Kata Samudra sambil mencengkram pinggul Zivana.
Zivana menggigit bibir bawahnya lalu mulai bergerak di atas Samudra, membuat air di dalam bathtub terguncang. Samudra menengadahkan kepalanya menikmati semua pergerakan Zivana, bahkan Zivana berani menyesap dan memberi tanda merah di leher Samudra.
"Oh Sweety kamu pintar sekali." Racau Samudra.
"Suka, Kak?"
"Suka sekali, Sayang. Tubuhmu candu sekali."
Hingga Zivana merasa tubuhnya lelah dan kehabisan nafas, Samudra mengangkat tubuh Zivana dan mendudukannya di atas marmer wastafel.
__ADS_1
"Aku akan menyelasaikan tugasmu, Sayang." Bisik Samudra dan dalam hitungan menit, Samudra menuntaskan permaiannya.
Mereka lanjut membersihkan diri di bawah guyuran shower, Samudra dengan telaten mengusap tubuh Zivana sambil sesekali memainkan jari jemari nakalanya.
"Kak, ish nanti gak selesai selesai."
"Aku memang tidak ingin selesai, Sayang."
"Sebentar lagi makan malam, Kak. Nanti malam kita terusin lagi, katanya mau lihat aku pakai lingerie baru."
Samudra tertawa, Zivana dapat mengimbangi hasratnya yang selalu menggebu gebu. Akhirnya Smaudra merampungkan ritual mandi yang banyak iklannya itu. Mereka berpakaian di dalam walk incloset dan Zivana mengeringkan rambutnya memakai hair dryer.
Tatapan Samudra terus saja menatap wajah cantik Zivana, tidak ada rasa bosan untuk Samudra menatap wajahnya yang kian mempesona itu.
"Kak.. Aku membelikan Kakak kemeja dan dasi." Kata Zivana dan Samudra melihatnya, selera fashion Zivana begitu bagus dan fashionable.
"Bagus sekali, Sayang. Harusnya kamu menjadi desaigner. Bukan kuliah bisnis."
"Memang Kakak tidak tau aku kuliah apa?" Tanya Zivana.
"Yang aku tau kamu ambil bisnis."
Zivana mengangguk, "Iya aku ambil bisnis, lebih tepatnya fashion bisnis, Kak."
"Kamu tertarik dengan Fashion?"
Samudra semakin tertarik dengan obrolan ringan ini, ia semakin tau sisi lain dari istrinya yang tidak pernah ia ketahui. Selain cantik, Zivana juga ternyata sangat pintar, dan Samudra semakin mencintai istrinya itu.
"Kak, bagaimana jika aku hamil nanti?" Tanya Zivana tiba tiba saja membahas sesuatu yang cukup serius untuk keduanya.
Samudra menarik Zivana untuk duduk di sofa dan mengarahkan Zivana untuk duduk di pangkuannya menghadap kearahnya.
"Memang kenapa jika kamu hamil? Kita sudah menikah, dan aku sangat siap akan hal itu. Kamu bagaimana?" Tanya Samudra tidak ingin egois, meski bagaimanapun ia tidak ingin Zivana merasa tertekan atau terpaksa jika harus mengandung buah cinta mereka.
"Aku malah takut Kakak yang tidak siap." Zivana memainkan jarinya di atas dada bidang Samudra seolah melukis sesuatu di atas sana.
Samudra menatap dalam mata Zivana. "Apa yang kamu ketahui hingga kamu berpikir seperti itu?" Tanya nya dengan selembut mungkin.
"Kakak tidak akan marah?"
Samudra merapihkan anak rambut Zivana ke belakang telinganya, "Katakan, diantara kita tidak boleh ada rahasia."
"Dulu aku pernah bertanya pada Mami, kenapa Papi bisa sedekat itu dengan Kak Sam. Mami menjawab karena sedari Kak Sam di perut Mommy Nadlyn, Papi lah yang menemani Mami karena Daddy Cean meneruskan studynya di luar negri karena tidak siap memiliki anak di usia muda." Jelas Zivana dengan pelan. Zivana takut jika Samudra tersinggung dengan ucapannya.
Namun, Samudra mencium sekilas ujung hidung Zivana, kemudian kembali menatap wajah cantik Zivana. "Dulu, aku adalah anak yang tidak harapkan oleh Daddy. Aku slalu menganggap jika Papi Dirga adalah Daddyku karena Papi selalu ada di masa tumbuh kembangku, Papi yang menjagaku jika Mommy sedang bekerja, Papi juga sering menjemputku ke sekolah, mengajariku banyak hal. Namun semakin aku besar aku semakin mengerti jika ternyata Papi bukanlah Daddy kandungku. Hingga aku bertemu seseorang yang aku panggil Uncle dan aku tau Uncle itu Daddy." Samudra tersenyum miris mengingat masa kecilnya.
"Kakak tidak marah pada Daddy?" Tanya Zivana.
__ADS_1
"Untuk apa aku marah? Aku melihat cinta Mommy yang besar pada Daddy, dan saat itu aku hanya berharap Daddy mau menerima Mommy dan aku."
"Sekarang, jika aku hamil, apa Kak Sam siap?" Tanya Zivana lagi.
Samudra mengangguk, "Aku sangat siap, belajar dari kelembutan Papi Dirga, aku pun akan melakukan hal yang sama, menjadi Daddy yang sempurna seperti Papi untuk anak anak kita."
"Akhh Kakak." Zivana memeluk Samudra, "Aku semakin mencintai Kakak."
Samudra tertawa, "Aku yang lebih mencintaimu, anak manjanya Papi Dirga."
Zivana melepas pelukannya dan menatap wajah Samudra. "Terimakasih, Kak."
"Jadi kamu juga siap jika harus hamil anakku?" Tanya Samudra.
Zivana mengangguk cepat. "Kakak harus segera menghamiliku."
Samudra tergelak, "Itu menjadi urusanku, Sweety."
"Urusan kita berdua, Kak. Ah ya Kak, kita harus mencari dan mempraktikan gaya gaya yang bisa segera membuatku hamil."
Lagi lagi Samudra tergelak, menurutnya Zivana sangatlah lucu, membuat Samudra selalu saja bisa tertawa karena ke absurdan Zivana.
"Sweety, betapa beruntungnya aku menikahimu." Samudra megadukan ujung hidungnya ke ujung hidung Zivana.
"Kak, mau anak laki laki atau perempuan?" Tanya Zivana.
"Bagaimana jika perempuan saja, pasti secantik kamu."
"Tapi harusnya laki laki dulu Kak, agar bisa menjaga adik adiknya nanti."
"Oh ya?" Tanya Samudra.
Zivana mengangguk. "Dulu, aku suka iri pada Lova karena memiliki Kakak laki laki, yang terkadang menjemput Lova, menemani Lova belajar, dan memanjakan Lova."
"Tapi saat aku menjemput Lova, menemani Lova belajar, itu juga ada kamu, kan?"
"Tapi tetap saja tidak sama." Kata Zivana dengan sendu.
"Tapi sekarang Kakaknya Lova sudah jadi suami kamu. Kamu bisa bermanja manja sepuasnya padaku."
Zivana tersenyum. "Ini seperti mimpi, Kak."
Samudra mencium sekilas bibir Zivana. "Jangan ragukan aku, ya. Aku mencintaimu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bantu Like, hadiah, vote dan Komentarnya agar Novelku naik karena sedang ikut lomba dengan tema Menikah karena anak.
__ADS_1
Novel ini tamat minggu depan. 😊🙏