Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 108


__ADS_3

Zivana menggeliatkan tubuhnya, semalam setiba dari Maldives dan langsung membersihkan diri, Samudra sempat sempatnya meminta kembali haknya dan Zivana tidak menolaknya karena sentuhan Samudra yang begitu memabukan, membuat Zivana ikut tersulut gairahnya.


"Morning Bee sweety." Kata Samudra lalu mencium kening Zivana dengan lembut. Zivana terkesiap saat membuka mata dan melihat Samudra yang menatapnya dengan tatapan penuh kehangatan.


"Kak..."


"Iya, Sayang.." Tangan Samudra membelai rambut Zivana.


"Dari kapan Kakak terus menatapku seperti itu?" Tanya Zivana.


"Hemm mungkin ada dari setengah jam yang lalu."


"Lama sekali, ngapain lihatin aku seperti itu?"


"Karena kamu cantik, aku tidak bosan menatap wajahmu terus."


"Ish gombal." Zivana menaikan selimut tebal yang menutupi tubuhnya yang masih polos itu.


"Bukan gombal, Sayang.. Tapi aku memuji kecantikan istriku untuk membuat hatinya senang agar istriku selalu bahagia bersamaku." Samudra mengecup sekilas bibir Zivana.


Zivana tersenyum mendengar kata kata lembut dari Samudra.


"Kak..."


"Iya..."


"I Love You..."


"Love You too, Bee." Balas Samudra kemudian naik ke atas tubuh Zivana.


"Kak..." Zivana tergelak saat merasa bagian bawah Samudra menegang dan menyentuh kedua pangkal pahanya.


"Lagi, Sayang." Samudra menelusuri leher jenjang Zivana.


"Ishh Kakak gak ada capeknya."


"Justru kamu adalah obat lelahku."


Zivana menahan dada Samudra, "Di kamar mandi saja. Aku ingin mencobanya di dalam bathtub."


"Disini saja dulu, nanti yang kedua di bathtub."


"Dua kali, Kak?" Tanya Zivana sambil menunjukan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Tiga kali maunya sih, tapi keburu sarapan nanti."


Zivana tertawa, "Harusnya kita punya apartemen pribadi untuk sepuasnya bercinta."

__ADS_1


"Ide bagus, aku akan membelikanmu penthouse sebagai kado pernikahanku untukmu."


"Didekat kantor ARDA KARYA ya Kak."


"Tentu saja. Akan ku suruh asistenku untuk mengurusnya."


"Aku dong? Aku kan masih personal asisten Kakak?"


"Ya, kamu asisten seumur hidupku di dalam rumah tangga kita." Balas Samudra yang kini sudah menelusuri kedua gunung kembar Zivana dan tangan Zivana mendekap kepala Samudra.


**


Sementara itu, Lova tengah membuka ponselnya dan melihat sebuah pesan masuk dari Kenzo.


"Lov, bisa temui aku pagi ini di tempat gym?"


Karena Kenzo yang mengirimnya pesan, tentu saja Lova menyetujuinya, veda lagi jika Kevin yang mengirimnya pesan, mungkin Lova tidak akan membalasnya sekalipun.


Lova segera membalas pesan itu. "Baik, Ken. Satu jam lagi kita bertemu di tempat Gym."


Lova segera turun dari tempat tidur dan memberishkan tubuhnya lalu memakai pakaian olah raga, ia menyiapkan jawaban jika ada keluarganya yang menanyakan dirinya akan kemana dan akan menjawab berolahraga karena Lova memakai pakaian olahraga dan membawa tas sport nya.


Beruntung keluarganya belum ada satupun yang keluar dari kamarnya, hanya ada beberapa pelayan yang menyiapkan makanan di atas meja makan.


Lova segera keluar dan menyetir mobil sendiri tanpa supir, ia tau jika sang supir adalah mata mata ayahnya karena itu Lova beralasan akan berolah raga dan sang supir tidak mencurigainya.


"Ku kira kamu masih akan tidur sepulangmu dari Maldives." Tanya Kenzo yang kini memelankan laju treadmill dan berjalan santai mengikuti Lova.


"Aku bukan nona manja yang suka bersantai, Ken."


Kenzo tertawa, "Andai Kamu tidak menyukai saudaraku, aku akan memacarimu."


Lova dengan santai mengerdikan bahunya, "Jika aku tidak menyukai saudara kembarmu, aku juga tidak akan menyukaimu."


Mereka sama sama diam dan fokus pada treadmillnya. Hingga Kenzo bicara terlebih dahulu.


"Kevin juga menyukaimu, Lov."


Lova terlihat tanpa ekpresi dan Kenzo sulit sekali menebak ekspresi Lova.


"Kevin menjadi seorang casanova untuk membuatmu benci padanya dan melupakan perasaanmu padanya, tapi ternyata Kevin sendiri yang terjebak dengan perasaannya sendiri."


Lova menghentikan laju treadmill dan melihat ke arah Kenzo. Kenzo pun melakukan hal yang sama hingga mereka berdua turun dari atas treadmill dan berjalan menuju kafetaria di tempat gym itu untuk bersarapan bersama.


"Kamu tau kan Ken, jika keluargaku dan keluarga kalian tidak akan saling menerima?" Lirih Lova.


"Kamu tidak ingin berjuang? Kevin saja ingin memperjuangkanmu."

__ADS_1


"Akan ada yang tersakiti, Ken. Oma pasti masih terbayang bayang dengan pengkhianatan Kakek kalian di masa lalu." Kata Lova.


"Dan Oma mu pasti akan menganggap seluruh keturunan Kakekku adalah sama, mempunyai sifat bejat seperti Kakek." Balas Kenzo.


"Karena kata pepatah tetap akan menjadi pegangan semua orang. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." Imbuh Kenzo lagi dan Lova mengangguk.


"Tapi bukankah kalian saling mencintai?"


Lova tersenyum getir, "Aku kira hanya cintaku saja yang bertepuk sebelah tangan."


"Kev juga mencintaimu, Lov."


"Dan disaat kami tau jika saling mencintai, kami terhalang restu dari dua keluarga, Ken. Aku bisa apa? Kak Kev juga bisa apa?"


Kenzo terdiam. Meski Kenzo pria yang slengean tetapi Kenzo bisa diandalkan untuk menjadi tempat curhat dan teman yang baik. Itulah mengapa baik Lova maupun Zivana begitu senang berteman dengan Kenzo.


"Menurutmu, diantara cinta dan keluarga lebih penting mana?" Tanya Kenzo ingin tau.


Mata Lova menerawang ke depan. "Zivana bilang padaku, jika keluarga adalah segalanya, terbukti dengan melepaskan kudaniel, Ziv malah mendapat pria sebaik Kakakku, tapi jika saat itu Ziv mengikuti egoisnya dan menikah dengan kudaniel, maka Ziv akan mendapatkan konsekuensi kehilangan keluarganyanya."


Kenzo mengangguk, "Pengalaman membuat Ziv menjadi lebih dewasa, dan dia sharing hal itu denganmu."


"Aku tidak ingin egois, Ken." Sahut Lova.


"Pantas saja Kevin begitu menyukaimu, kamu memang memiliki karakter yang Kevin suka."


"Kalau begitu, tugasmu sekarang adalah menjauhkan Kak Kevin dariku, Ken. Sama seperti dulu saat Kak Kevin menyuruhmu untuk membuatku menjauhinya."


"Jadi kamu tau jika aku dulu ikut berperan membuatmu jauh dari Kevin?"


"Tentu saja.." Lova menjeda kalimatnya sejenak. "Kamu mengajaku ke cafe dan di tempat yang sama aku melihat Kak Kev menyatakan cinta pada wanita lain." Lova melihat ke arah Kenzo yang tengah menatapnya, "Di dunia ini, tidak ada hal yang benar benar terjadi secara kebetulan, Ken. Mainmu kurang rapih." Lova tertawa setelah mengatakan hal serius.


Sementara Kenzo mengusap wajahnya kasar, "Aku memang tidak berbakat untuk berakting."


Lova mengangguk, "Ya, bakatmu hanya menggoyang wanita di atas ranjang saja, Ken." Ledek Lova.


Kenzo tertawa, "Kamu hanya mengingat hal jelekku saja."


"Lalu aku harus mengingatmu dalam hal apa?"


Kenzo seolah berpikir, "Hemm misal kebaikanku saat kamu memelukku karena sakit hati melihat Kevin yang menyatakan cinta pada wanita lain."


Lova tersenyum, "Kamu memang teman yang baik, Ken. Andai aku bisa merubah perasaanku pada Kak Kevin menjadi seorang teman. Mungkin aku sendiri juga tidak tersiksa dengan perasaan ini."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Meskipun masuk S3, tapi tetap ada yang enak enak dari Sam-Ziv ya 😁

__ADS_1


Pantengin terus pokonya 😉


__ADS_2