Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 86


__ADS_3

Dirga melihat Samudra yang bersikap baik pada putrinya itu. Terlihat saat Samudra menarik kursi untuk Zivana duduki, Samudra juga begitu lembut saat Samudra meminta tolong diambilkan sesuatu oleh Zivana.


Semenjak Samudra menikahi Zivana sebagai pengantin pengganti, membuat Dirga sedikit khawatir jika Samudra terpaksa dan akan berakibat pada ketidak bahagiaan Zivana. Dirga takut jika sampai hal itu terjadi akan membuat hubungan Dirga dengan Samudra menjadi renggang. Namun semua seolah terpatahkan saat melihat perlakukan Samudra kepada Zivana malam ini.


"Kalian menginap disini?" Tanya Yuri.


"Sepertinya lain kali saja, Mi.. Aku tidak membawa pakaian ganti dan juga ada berkas yang harus aku periksa malam ini." Jawab Samudra dengan santun.


"Hemm, padahal Mami masih kangen sama Ziv."


Samudra menatap Yuri yang terlihat sendu, "Malam minggu ini, kami janji akan menginap di sini, Mi." Kata Samudra menenangkan Yuri.


"Ah Samudra, kenapa sedari dulu kamu selalu manis begini. Andai Mami masih muda, Mami pasti akan menikah denganmu." Kata Yuri.


"Baby...." Dirga memanggil sambil tersenyum smirk.


"Bercanda, Pi.." Yuri mengedipkan satu matanya pada Dirga, lalu menatap wajah Zivana. "Bersyukurnya kamu, Ziv. Punya suami sebaik Samudra, perhatian pada Papi dan Mami." Kata Yuri lagi.


Zivana hanya menunduk menyembunyikan senyumnya.


**


Satu bulan sudah Zivana menikah dengan Samudra, dan hubungan mereka hanya sebatas tidur bersama meski sesekali Samudra tidur memeluk Zivana bahkan tak jarang Zivana tidur dalam dekapan Samudra.


Zivana juga tetap berperan sebagai istri dengan menyediakan pakaian ganti milik Samudra meski belum menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri.


"Kak, aku makan siang bersama Lova ya." Kata Zivana meminta ijin saat jam istirahat.


"Makan siang dimana?"


"Paling di kantin bawah, Kak."


"Oke, jangan keluar kantor." Kata Samudra.


"Iya, Kak."


Zivana meninggalkan ruangan Samudra untuk bertemu dengan Lova. Samudra tidak membatasi Zivana bersama Lova karena mereka seumuran dan juga Samudra juga ingin Zivana tetap menikmati masa mudanya meski sudah menikah bersama dirinya.


Zivana dan Lova duduk di kantin perusahaan. Kantin yang lebih menyerupai cafe membuat para karyawan ARDA KARYA begitu nyaman untuk melepas lelah sejenak sambil mengisi perutya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Kak Sam?" Tanya Lova.


"Masih sama, tidak ada yang spesial."


Lova berdecak, "Kirain kamu kamu udah..." Lova menempelkan ujung jari telunjuk kanan dan jari telunjuk kirinya.


"Ishh, apa sih." Kata Zivana dengan wajah memerah. "Sebelum begituan, aku harus udah cinta dulu sama Kak Sam, dan begitupun sebaliknya."

__ADS_1


"Kelamaan." Sahut Lova. "Justru kalo udah begituan, pasti semakin cepat rasa sayang atau bahkan cinta hadir di hati kalian."


"Sok tau." Zivana menyenggol lengan Lova.


Lova tertawa, "Tapi kalian pernah ciuman gak?" Tanya Lova dengan iseng.


Zivana mengangguk, "Dikit sih..."


"Seriusan?" Tanya Lova dan Zivana mengangguk.


"Siapa yang mulai?"


"Ya Kakakmu lah.. Masa aku."


"Kak Sam pasti manis sekali." Kata Lova.


Zivana tersenyum lalu menopang dagunya dengan tangannya. "Ya, aku akui, Kak Sam manis sekali. Aku bisa cepat jatuh cinta padanya, atau mungkin sudah jatuh cinta pada Kak Sam."


Lova tersenyum mendengar hal itu, Lova pun berharap jika sang Kakak juga akan cepat mencintai Zivana meski Zivana masih kekanakan dan labil.


"Hai Lov..." Sapa seorang wanita yang berdiri di depan meja Lova dan Zivana.


Lova mendongakan wajahnya, "Rill...."


Wanita bernama berama Rill tersenyum lalu duduk di depan Lova dengan twrhalang meja. "Apa kabarmu?" Tanya Rill.


Lova mengangguk, "Baik. Kamu sedang apa disini, Rill?" Tanya Lova.


"Ingin bertemu Kak Sam, tetapi Kak Sam masih istirahat."


"Iya, harusnya kalau kamu kesini, buat janji dulu."


Rill berdecak, "Tidak buat janji juga Kak Sam pasti mau menemuiku." Ucapnya percaya diri.


"Rill, kamu mau ngapain sih ketemu Kak Sam? Kak Sam sudah menikah. Dan ini istri Kak Sam." Kata Lova sambil menggandeng lengan Zivana.


Rill melihat ke arah Zivana, tidak Rill pungkiri, Zivana memanglah gadis yang cantik, terlihat dari make up yang Zivana pakai, juga dari pakaian Zivana yang memang terlihat berkelas.


"Aku hanya ingin mengantarkan surat penawaran kerja sama dari WG grup." Ucap Rill.


"Berikan saja pada Zivana, Ziv personal asisten nya Kak Sam." Balas Lova.


"Kamu ikut kerja disini? Aku kira istri dari CEO ARDA KARYA akan duduk manis saja." Rill tertawa.


Zivana tersenyum, "Aku terlalu ingin dekat dengan suamiku." Ucapnya setenang mungkin.


Lova menyenggol Zivana, "Ishh bucin."

__ADS_1


Rill terlihat tidak suka, sebenarnya Rill bukan type orang yang jahat ataupun iri. Hanya saja Rill yang terbiasa hidup dengan di manja oleh sang Kakek membuat kepribadian Rill sedikit egois, yakni tidak suka jika miliknya di miliki oleh orang lain, padahal sudah jelas jika dulu Rill lah yang memberi harapan palsu pada Samudra.


"Jika kamu ingin bertemu langsung dengan Kak Sam, ayo aku antar." Kata Zivana.


"Ziv.." Lova memperingatkan.


Zivana menoleh ke arah Lova, "Tidak apa Lov, mungkin Kak Sam juga senang bertemu dengan Rill." Ucap Zivana sambil mengerlingkan satu matanya.


Lova hanya menghembuskan nafas kasarnya saja.


Zivana mengantar Rill untuk bertemu dengan Samudra. Samudra yang baru saja selesai makan siang pun melihat ke arah pintu, dimana Zivana masuk bersama seorang gadis yang pernah berada dalam hati Samudra.


"Ziv..." Samudra menatap tajam pada Zivana seolah meminta penjelasan.


Namun Zivana malah bergelayut manja di lengan Samudra, "Sayang, Rill mencarimu. Katanya ingin memberikan surat kerja sama WG group padamu langsung."


Samudra tau jika Zivana tidak menyukai keberadaan Rill hingga berbuat seperti ini untuk menyembunyikan rasa tidak sukanya.


Samudra menatap mata Zivana dengan tatapan hangat, "Terimakasih sudah mengantar Rill kesini, Bee."


Jantung Zivana berdebar kencang saat Samudra memanggilnya dengan begitu manis, mungkin Zivana tengah terbawa perasaan meskipun ia berpikir jika Samudra hanya ingin membuat Rill marah.


"Apa kabarmu, Rill?" Tanya Samudra.


Rill merasa tidak menyangka jika Samudra bisa berbuat sehangat itu pada Zivana.


"Baik, Kak.." Rill mengeluarkan map berisikan surat kerjasama dan menyerahkannya pada Samudra.


"Duduklah." Samudra mengajak Rill duduk sementara Zivana tetap bergelayut manja di lengan Samudra.


"Sayang, aku panggilkan Rani dulu untuk membawa minum ya." Kata Zivana.


"Tidak perlu, Bee.. Rill juga tidak akan lama." Balas Samudra dengan tersenyum hangat pada Zivana kemudian menatap Raelyn, "Bukankah begitu, Rill?"


Raelyn terdiam, ia tidak menyangka Samudra yang selalu Cool bisa sebucin ini pada Zivana. Secepat itukah Samudra melupakan perasaannya pada Raelyne?


"Kak bisa kita bicara berdua?" Tanya Rill.


Samudra tersenyum lalu mengusap tangan Zivana yang melingkar di lengannya.


"Maaf Rill, jika itu urusan pekerjaan, Zivana juga asistenku dan harus tau urusan pekerjaan." Jawab Samudra.


"Ini soal pribadi Kak." Kata Rill dengan cepat.


"Apa lagi masalah pribadi, Zivana adalah istriku, aku tidak ingin ada yang di sembunyikan karena kami berkomitmen untuk saling terbuka masalah apapun itu." Ucap Samudra dengan sedikit tegas.


"Kak, secepat itu Kakak melupakan perasaan Kakak padaku?" Tanya Rill dengan menatap tajam Samudra.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mohon dukungannya untuk karyaku, dengan meninggalkan jejak Like, Vote, Koment, Hadiah, dan rating ⭐5


__ADS_2