Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 82


__ADS_3

Zivana makan malam bersama keluarga Samudra, ini bukan yang pertama kalinya karena sebelumnya Zivana cukup sering menginap di rumah Samudra bersama Lova, namun kini kondisi nya berbeda, Zivana makan malam bersama dengan status istri dari Samudra.


Zivana cukup canggung karena ia bukan lagi duduk di samping Lova, melainkan duduk di samping Samudra dan bersebrangan dengan Lova.


Zivana melihat Nadlyn yang mengalaskan nasi untuk Cean, lalu dirinya terdiam karena Samudra tak kunjung mengambil nasinya sendiri. Hingga Lova memberikan kode pada Zivana untuk mengalaskan nasi di piring Samudra.


Zivana mengerti, kemudian ia mengambilkan nasi ke piring Samudra dan meletakannya di hadapan Samudra.


"Terimakasih, Ziv." Ucap Samudra dengan lembut membuat Zivana salah tingkah.


Sementara itu, Lova mengulum senyum dan Nadlyn juga Cean hanya saking melirik lalu ikut tersenyum.


"Ziv. Tolong ambilkan aku udang." Kata Samudra.


Zivana menurut dan mengambilkan udang lalu meletakannya di piring Samudra.


Nadlyn melihat pemandangan itu. Ia merasa yakin jika sang putra akan memperlakukan Zivana dengan lembut dan tidak akan berlaku kasar meskipun belum ada cinta di hati Samudra untuk Zivana.


Sementara Cean merasa yakin, jika perjodohan rahasia yang ia lakukan bersama Robi yang tak lain ayah mertuanya, akan berjalan dengan lancar, Cean yakin jika Samudra dan Zivana akan saling mencintai seiring jalannya waktu.


Kini Samudra dan Zivana berada di dalam kamar Samudra. Ini pertama kalinya Zivana masuk ke dalam kamar Samudra.


Zivana membersihkan wajahnya dan memakai pakaian tidurnya yang sedikit terbuka, baju tidur yang hanya sebatas paha dengan tali spaghetti di kedua bahunya, sedari dulu Zivana memang menyukai berpenampilan seksi apa lagi saat tidur, Zivana selalu melepas bra nya agar nyaman saat tidur.


Samudra melihat Zivana yang keluar dari dalam kamar mandi dan menelan salivanya sendiri. 'Oh my God, dia menggodaku.' Batin Samudra saat melihat bahu yang terbuka dan paha mulus milik Zivana.


Zivana berjalan ke arah Samudra, "Kak, di walk in closet Kakak tidak ada meja rias untukku." Kata Zivana yang berdiri di depan Samudra sementara Samudra duduk bersandar di atas tempat tidur.


"Jelas saja tidak ada, aku kan tidak berencana menikah sebelumnya." Ucap Samudra dengan datar.


Zivana memberengut kesal, "Masa tidak bisa di adain Kak?"


"Aku belum kepikiran."


Samudra menghela nafas kemudian turun dari tempat tidur dan berdiri di depan Zivana, namun Samudra merutuki dirinya karena seharusnya ia tidak berdiri di depan Zivana sehingga bisa melihat belahan dada Zivana yang hanya tertutup dres tidur berbahan sutra itu.


"Kak..." Panggil Zivana sambil melambaikan tangannya di depan wajah Samudra.


Samudra terkesiap, sebagai lelaki normal, Samudra sudah pasti tau apa yang tengah ia rasakan dan sialnya Samudra mudah menegang begitu saja.


"Ziv.. Kamu mau menggoda aku?" Tanya Samudra.

__ADS_1


Zivana yang tidak peka pun menggelengkan kepalanya, "Tidak Kak. Memangnya aku melakukan apa?"


Samudra menarik pinggang Zivana dan membuat Zivana terkejut, "Kak.." Pekik Zivana.


"Kenapa memakai pakaian seperti ini di depanku? Ingin menggodaku?" Tanya Samudra dengan suara berat.


Terbesitlah ide jahil di pikiran Zivana. Zivana yang sudah menempel dengan Samudra, menaikan lengannya dan jari jarinya bermain di atas dada bidang Samudra yang tertutup kaos putih.


"Kakak merasa tergoda?" Goda Zivana dengan sengaja.


Samudra menatap tajam Zivana yang menggodanya. "Jangan memancing singa lapar, Ziv."


"Aku tidak memancing, aku juga tidak menggoda, Kakak saja yang tergoda." Zivana tersenyum sensual.


"Kamu istriku, jangan salahkan aku jika aku meminta hak ku." Samudra mengigit kuping Zivana dan hal itu membuat Zivana meremang.


"Sudah siap memberikan hak ku meski belum mencintaiku?" Tanya Samudra sambil menekan pinggang Zivana agar semakin menempel, dan Zivana sudah merasakan sesuatu mengeras di atas perutnya.


Zivana membeku, ia terus menatap wajah Samudra yang terus semakin dekat mendekati wajahnya dan semakin dekat, hingga....


Cupp..


Samudra mengecup sekilas bibir Zivana dan hal itu membuat Zivana membeku.


Samudra kembali naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya disana.


"Cepat tidur, besok hari pertamamu bekerja denganku." Titah Samudra dan Zivana segera naik ke atas tempat tidur.


Samudra berusaha memejamkan matanya meredam hasratnya yang timbul karena Zivana.


Sementara itu, Zivana memegang erat selimut diatas dadanya yang tengah berdegup kencang. 'Oh Kak Sam, kenapa dia bisa mesum juga.' Batin Zivana.


Belum hilang rasa berdebar jantungnya kini tiba tiba saja Zivana dibuat terkesiap saat sebuah tangan melingkar di pinggang Zivana, siapa lagi pelakunya kalau bukan Samudra.


"Kakak..." Pekik Zivana.


"Tidur Ziv, aku ngantuk." Gumam Samudra.


"Kak, jangan seperti ini." Kata Zivana.


Samudra membuka matanya kemudian menarik lengan Zivana untuk duduk berhadapan dengannya. Lagi lagi mata Samudra tertuju pada belahan dada Zivana yang terus saja menggoda. Dengan segera, Samudra mengalihkannya dengan menatap wajah Zivana.

__ADS_1


"Ziv.. Kita sudah menikah?" Tanya Samudra dan Zivana mengangguk.


"Kita sedang belajar saling mencintai?" Tanya Samudra lagi dan lagi lagi Zivana mengangguk.


"Bagaimana bisa kita saling mencintai jika kita saling acuh satu sama lain." Kata Samudra, "Kita akan melakukan kontak fisik sewajarnya agar kita bisa cepat saling mencintai. Mengerti?"


Zivana menggelengkan kepalanya, sedetik kemudian ia mengangguk.


"Jadi mengerti atau tidak?"


"Kontak fisik yang seperti apa?" Tanya Zivana untuk memastikan.


"Semua kontak fisik." Jawab Samudra.


"Tapi aku belum siap jika harus...."


"Melayaniku di atas ranjang?" Tanya Samudra dan Zivana mengangguk.


"Kalau begitu jangan memancingku dengan berpakaian seperti ini di depanku, aku pria normal, Ziv.."


"Tapi aku terbiasa berpakaian seperti ini, Kak. Aku tidak ada baju tidur yang lain, semua baju tidurku seperti ini."


"Kemarin saat di hotel ada yang lebih tertutup." Kata Samudra


"Tapi aku gerah, kakak kan tidak tau aku tidak bisa tidur semalaman dan baru bisa tidur menjelang pagi.".


Mereka sama sama terdiam, hingga Zivana sedikit menyeringai.


"Berikan aku kartu keredit, aku akan membeli banyak baju tidur yang lebih tertutup, meski aku sangat ingin membeli sebuah lingerie yang seksi." Ucapnya jahil.


"Mau belanja?" Tanya Samudra dan Zivana mengangguk cepat.


"Bekerjalah dengan giat agar aku bisa memberikanmu insentif tambahan." Kata Samudra lalu mengambil posisi tidur.


Zivana mencebik, "Ishh pelit."


Samudra yang tertidur membelakangi Zivana mendengar apa yang Zivana ucapkan, ia tersenyum seolah merasa menang meski sebenarnya Samudra kalah karena belum bisa meredam hasratnya yang sudah membuat kepala Samudra cenat cenut.


"Gadis manja, cepat tidur. Jangan terus mengumpati suamimu. Itu tidak sopan." Kata Samudra tanpa melihat ke arah Zivana.


"Iya tuan pelit. Bawel sekali."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mohon dukungannya untuk karyaku, dengan meninggalkan jejak Like, Vote, Koment, Hadiah, dan rating ⭐5


__ADS_2