Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 48


__ADS_3

Sore hari, Cean menemani Samudra berenang. Cean hanya memperhatikannya dari sisi kolam renang.


"Kamu harus pemanasan dulu supaya kakimu tidak keram." Kata Cean pada Samudra.


"Aku hanya berenang sebentar Uncle, sebelum keram aku akan naik ke atas." Jawab Samudra.


"Hati hati, Sam." Entah mengapa ada rasa khawatir di diri Cean.


Samudra meloncat, sebagai anak laki laki, jiwa nakalnya dan mencari kesenangannya tentu saja ada pada diri Samudra.


"Uncle lihat kan? Aku bisa salto." Teriak Samudra dari dalam kolam renang.


Cean tersenyum. "Lanjutkan berenangmu, aku akan tetap disini sambil membaca buku."


Cean melanjutkan membaca buku sambil sesekali melihat ke arah Samudra yang asik mengeksplore diri untuk mencoba gaya baru saat berenang.


Di hati Cean, sungguh Cean pun ingin ikut bergabung bersama Samudra dan mengajarinya berenang.


"Uncle aku sudah selesai." teriak Samudra.


"Naiklah." Kata Cean sambil memundurkan kursi rodanya dan ingin mengambilkan handuk untuk Samudra yang berada di kursi santai.


Namun tiba tiba saja kaki Samudra terasa keram dan Samudra terpeleset di tangga saat akan naik dari kolam renang.


"Uncleeee." "Teriak Samudra.


Bughhh..


Kepala Samudra terbentur bagian tangga yang terbuat dari stainless dan mengakibatkan bagian keningnya berdarah dan Samudra terjatuh kembali ke dalam kolam renang.


Cean menoleh dan melihat darah di dalam air kolam renang dengan posisi Samudra yang terlihat akan tenggelam.


"Saaammmm." Teriak Cean lalu Cean memutar kursi rodanya.


"Tolooongg.." teriak Cean namun tidak ada satupun yang mendengarnya. Di jam sore seperti ini para pelayan sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam.


"Saammmm, bertahanlah..." Teriak Cean


"Toloong.. Dimana semua orang." Cean semakin panik karena melihat Samudra yang mencoba meraup udara dan kembali tenggelam.


Brukkk..


Cean terjatuh dari kursi roda karena memaksakan diri untuk turun lalu menggeser tubuhnya untuk meraih tangan Samudra.


Namun posisi Samudra yang terus bergerak membuat Samudra terus terbawa ke tengah.


Cean dengan sekuat tenaga mencoba menggerakan kakinya. "Tuhan bantu aku sekali ini saja. Aku rela menukar nyawaku untuk Samudra putraku. Aku rela mati saat ini juga asal aku bisa menyelamatkan Samudra." Doa Cean dengan sambil sekuat tenaga menggerakan kakinya.


Byurr..


Cean berhasil masuk ke dalam kolam renang dan segera berenang untuk menangkap Samudra.


Hap..

__ADS_1


Cean berhasil menarik Samudra ke atas, kemudian membawanya ke tepian.


"Sam.. Bangun Sam..." Cean berusaha menepuk pipi Samudra.


Namun Samudra tidak sadarkan diri, darah terus saja keluar dari keningnya.


"Bertahanlah Sam, aku belum mengakui diriku sebagai Daddymu." Cean mengangkat tubuh kecil Samudra dan mendekapnya di dadanya.


"Tuan Cean apa yang terjadi?" Tanya kepala pelayan.


"DARI MANA SAJA KAU?" Sentak Cean, "Siapkan mobil dan bawakan aku pakaian." Kata Cean memerintah.


Cean meraih handuk untuk menyumpal kening Smaudra yang terus saja mengeluarkan darah. Dengan tubuh dan pakaian yang masih basah, Cean membawa Samudra masuk ke dalam mobil.


"Cepat ke rumah sakit." Perintah Cean pada supir keluarga.


"Tuan muda baju anda basah." kata supir dari balik kemudi.


"Jangan perdulikan aku, cepat bawa mobilnya." Balas Cean yang terus menatap wajah Samudra.


"Sam, bangun.. Ini Daddy Sayang.. Bangun Sam.." Kata Cean dengan nada khawatir.


Dalam hitungan menit, mereka tiba di rumah sakit, Samudra segera di tindak di IGD.


"Tuan ganti baju anda dulu." Kata Supir yang baru saja menerima pakaian ganti kiriman dari rumah Nanda.


Cean segera mengambilnya dan berganti pakaian. Hingga detik ini Cean masih belum menyadari jika dirinya dapat berjalan.


Nadlyn pergi ke rumah sakit dengan terburu buru, dirinya sudah tidak bisa memikirkan apapun dan hanya memikirkan kondisi Samudra.


"Nad..." Panggil Cean dan Nadlyn cukup terkejut saat melihat Cean yang sudah berdiri.


"Dimana Samudra?"


"Sam di dalam, sedang di tangani oleh dokter."


Wajah Nadlyn sudah terlihat pucat, "Sam jangan tinggalkan Mommy." Kata Nadlyn dengan sedikit histeris.


Cean memeluk Nadlyn untuk menenangkannya.


"Aku tidak ingin kehilangan Samudra, Cean. Dia putraku." Kata Nadlyn dalam tangisnya.


Cean mengusap lembut punggung Nadlyn, "Sam akan baik baik saja. Aku akan menyelamatkannya."


Seorang suster menghampiri Cean dan Nadlyn, "Tuan Cean, kami membutuhkan darah golongan O rhesus negatif." Kata Suster memberitahu.


"Golongan darahku sama O negatif, ambil saja punyaku." Kata Cean kemudian Cean mengikuti suster, namun sebelum itu Cean mencium kening Nadlyn dengan dalam. "Tunggu kami disini." Ucap Cean dan Nadlyn mengangguk.


Sementara itu di negara China, ponsel Nanda terus saja berdering.


"Dad, sudah dulu." Kata Nanda sambil menahan dada Pras.


Ya mereka tengah melakukan adegan ranjang entah untuk keberapa kalinya dalam berapa hari terakhir ini.

__ADS_1


"Biarkan, Mom.. Paling itu Cean yang akan mengganggu Daddy." Kata Pras semakin terus menghujam milik Nanda.


"Dad, sudah dulu sih, nanti teruskan lagi."


"Tidak mau, Daddy belum puas." Katanya sambil terengah engah. "Ahh Mommy ini enak sekali." Racau Pras.


"Dad, Daddy memang tidak pernah puas." Kata Nanda kemudian membalikan posisi. Biasanya dengan posisi Nanda berada di atas Pras, Pras akan lebih cepat mencapai puncaknya.


"Ahh Mommy, Mommy hebat sekali. Terus Mom.." Racau Pras keenakan.


Hingga pada akhirnya Pras mencapai puncaknya karena tidak dapat menahannya lagi.


"Terimakasih, Mommy.. Mommy slalu bisa membahagiakan Daddy." Jawab Pras kemudian mencium kening Nanda.


Nanda melepas penyatuannya dan mengambil kimononya lalu meraih ponselnya.


"Dad, orang rumah nelpon berkali kali." Kata Nanda dengan tatapan tak lepas dari ponselnya.


"Paling itu putra kesayanganmu, Mom." jawab Pras yang masih merasakan sisa sisa kenikmatan tubuh istrinya yang membuatnya candu.


Nanda mencoba mendial nomer rumah untuk menelponnya.


"Halo.."


"Halo, Pak Gus. Dari tadi menelponku, apa ada hal serius?" Tanya Nanda pada kepala pelayan.


"Iya Nyonya, saya ingin melaporkan jika di rumah terjadi insiden, Tuan muda Samudra terpeleset di area kolam renang dan kepalanya berdarah, Tuan Cean membawanya ke rumah sakit." Ucap Pak Gus.


"Apa??" Pekik Nanda. "Baiklah, terimakasih sudah memberi tahuku." Nanda menutup ponselnya.


"Ada apa, Mommy?" Tanya Pras.


"Samudra, Dad. Samudra terpeleset dan berdarah, Cean membawanya ke rumah sakit." Kata Nanda dengan panik. "Kita harus kembali, Dad." Ucap Nanda lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Pras meraih ponselnya lalu menelpon rumah sakit miliknya, pihak rumah sakit memberitahu kondisi Samudra dengan luka serius yang di alami oleh Samudra hingga harus tranfusi darah dan Cean lah yang mendonorkannya.


Pras pun segera bangkit dari tempat tidur setelah di rasa masalahnya cukup serius. Pras juga menelpon asistennya untuk menyiapkan pesawat pribadinya agar perjalanan lebih cepat.


"Ini karena Daddy, lihat kan sekarang gimana kondisi rumah kalau gak ada Mommy?" Kesal Nanda sambil menangis.


"Daddy kan tidak tau, Mom."


"Daddy bukan tidak tau, tapi dari dulu Daddy memang tidak mengerti. Rasanya Mommy ingin meninggalkan Daddy seperti dulu lagi." Kata Nanda pada suami bucinnya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cerita Orang tua Cean, yaitu Nanda dan Pras ada di novelku yang berjudul BEFORE WE DONE.


Cerita tentang Nanda yang tak kunjung hamil lalu di selingkuhi oleh suaminya lalu bercerai dan bertemu Pras si dokter bucin, duda beranak satu.


Mampir baca dan tinggalkan jejak ya. 😉


__ADS_1


__ADS_2