Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 124


__ADS_3

Obrolan kedua wanita itu terus saja membuat Axelle merasa bahagia, hingga Lova teringat akan ponselnya dan meminta kembali ponselnya pada Zivana.


"Ziv kembalikan ponselku."


Zivana dengan santai mengembalikan ponselnya dan membuat Lova bingung.


"Kenapa ponselku terhubung dengan Kak Axelle?" Tanya Lova pada Zivana yang tersenyum tengil.


"Sepertinya kepencet olehku."


Lova segera mematikan panggilan itu karena panik. "Ziv, kamu membuatku malu saja."


Zivana tertawa, "Harusnya kamu berterimakasih padaku, Baby Love. Karena aku, kamu berani mengungkapkan perasaanmu dan aku yakin Axelllove disana tengah jingkrak jingkrak tak karuan."


"Kak Axelle bukan orang seperti itu." Ketus Lova dengan sebal.


"Mana kita tau, aku saja tidak tau jika kamu ternyata bisa seromatis itu pada Kak Axelle sampai menamainya Axellove di ponselmu."


"Zivvvvvv...."


Zivana malah tertawa hingga ponsel Lova kembali berdering. "Kak Axelle menelpon ku. Bagaimana ini Ziv?"


"Ya angkat lah, masa aku yang angkat." Jawabnya santai lalu melihat ke arah jam. "Sudah ya, makasih tumpangannya, aku mau bercinta dulu dengan suamiku." Kata Zivana menggoda membuat Lova memutar malas bola matanya.


Zivana keluar dari kamar Lova dan kembali ke kamarnya, ia segera menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya dengan lingerie seksi berwarna merah terang. Zivana juga mengambil slice kue di mini kulkas dalam kamarnya lalu memberinya lilin kecil.


Perlahan Zivana berjalan ke atas tempat tidur dan duduk di sisi ranjang. "Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday happy birthday, happy birthday Daddy Sam." Ucap Lova menyanyikan lagu Happy birthday dan membuat Samudra terbangun.


"Bee..." Samudra mengucek kedua matanya dan Zivana menyalakan lampu yang berada di atas nakas.


"Tiup lilinnya, Kak." Ucap Zivana.


"Kamu gak mual deket aku?" Tanya Smaudra lagi.


"Tiup dulu, Kak."


Dengan segera Samudra meniupnya namun ditahan oleh Zivana. "Make a wish dulu."


Samudra menurut, ia memejamkan kedua matanya kemudian berdoa dalam hatinya. "Semoga aku selalu bisa membahagiakan Ziv dan calon anakku, menjadi kebanggaan Opa, Oma dan Kakek, menjaga selalu Mommy, Daddy, Papi, Mami dan Lova." Kemudian Samudra membuka matanya dan mulai meniup lilinnya.


"Selamat ulang tahun, Daddy." Kata Zivana kemudian mengecup sekilas bibir Samudra.


Samudra hanya menelan salivanya saat melihat dua gunung yang terlihat semakin membesar. Di tambah lingerie Zivana terlihat mempesona dengan warna menantang, merah menyala.


"Bee.."

__ADS_1


Zivana menaruh kuenya di atas nakas dan naik ke atas Samudra. "Buka kadonya, Dad."


"Kado apa?" Tanya Samudra bingung karena di tangan Zivana tak ada apapun.


Lalu Zivana menaik turunkan kedua bahunya, Samudra baru menyadari jika ada tali spaghetti di kedua bahu Zivana.


"Kado spesial untuk Daddy." Zivana mengedipkan satu matanya.


"Oh my God, Ziv..." Samudra segera menarik tali di bahu Zivana dengan giginya, membuat hasrat keduanya semakin bangkit.


Malam itu Samudra melepas kembali hasratnya bersama sang istri setelah tiga hari menahannya. Samudra merasa slalu di manjakan oleh Zivana dalam hal urusan ranjang, Zivana juga slalu menjadi pendengar yang baik jika Samudra tengah berkeluh kesah. Berbicara dengan Zivana seperti tengah berbicara dengan Dirga, pria yang slalu di hormati bahkan di sayangi oleh Samudra.


"Kak...."


"Hemm iya Sayang..." Samudra masih betah bergerak di atas Zivana.


"Jangan lama lama.. Kasihan Baby."


Samudra merutuki dirinya yang melupakan jika kini Zivana tengah mengandung anak dari buah cinta mereka.


"Maafkan aku, Sayang. Aku melupakan Baby." Samudra segera menuntaskan permainannya kemudian ia mengecup kening Zivana saat pelepasan itu. Lalu Samudra menciumi perut polos Zivana yang masih rata, hal yang belum ia lakukan sama sekali karena Zivana mengerjainya soal bau yang ternyata tidak sama sekali.


"Hai, Baby... Baik baik di dalam perut Mommy ya, Daddy bahagia sekali kamu ada bersama kami. Daddy janji akan menjadi Daddy yang sempurna untukmu, membuat Mommy mu bahagia juga akan melimpahkan kasih sayang Daddy padamu dan juga Mommy mu." Kata Samudra percis di depan perut Zivana.


Sementara itu, Lova belum juga mengangkat panggilan ponsel Axelle. Lova terlalu malu jika harus berbicara dengan Axelle, Lova merasa kehilangan muka di depan Axelle karena Zivana membuatnya terbuka soal perasaannya pada Axelle.


Tidak lama kemudian sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel Lova, ternyata Axelle mengiriminya sebuah pesan dan Lova segera membacanya.


"Turunlah, aku ada di halaman depan rumahmu."


Lova membekap mulutnya dengan kedua tangannya. "Kak Axelle di sini? Aku harus bilang apa?"


Lova berjalan mondar mandir, ia bingung harus melakukan apa. "Ah gara gara Ziv, pasti dia sekarang sedang enak enak tanpa rasa bersalah padaku." Umpat Lova.


Notifikasi pesan masuk lagi ke ponsel Lova dan Axelle mengiriminya pesan kembali.


"Baby Love, kamu tega membiarkan aku sendirian di bawah? Banyak nyamuk dan dingin."


Tanpa pikir panjang, Lova segera mengambil cardigannya dan memakainya sambil berjalan cepat untuk menemui Axellove nya.


Lova membuka pintu rumah utama dan melihat Axelle yang sudah tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya. Tanpa berpikir panjang, Lova segera berhambur masuk kedalam pelukan Axelle.


"I Love U." Kata Lova dengan pelan dan malu malu namun terdengar oleh Axelle.


Axelle mencium puncak kepala Lova, "I Love You too, Baby Love."

__ADS_1


Axelle perlahan melerai pelukannya. "Jadi benar sudah mencintaiku?"


Lova menganggukan kepalanya, "Gak tau sejak kapan, tapi jantungku slalu berdebar jika di dekat Kakak."


"Bukan karena penyakit jantung kan?" Goda Axelle membuat Lova mencebik.


"Ishh..." Lova memukul pelan dada Axelle.


Axelle kembali memeluk Lova. "Terimakasih." Ucapnya tulus.


Cean dan Nadlyn yang sedang menikmati udara malam di balkon kamarnya melihat pemandangan itu. Tangan Cean merangkul pundak Nadlyn dan Nadlyn menyandarkan kepalanya di dada bidang Cean.


"Rasanya berat melepas putriku." Gumam Cean.


"Aku juga merasakan apa yang Papa rasakan dulu, berat melepasku." Sahut Nadlyn.


"Dan aku menyesali semua perbuatanku di masa lalu padamu, jika waktu bisa di putar, aku tidak ingin menjadi Cean yang egois di usia delapan belas tahun."


"Cean..."


"Hemm..."


"Apa kamu pernah menyesali menjadi Ayah muda hanya karna perbuatanmu dalam waktu satu malam saja?" Tanya Nadlyn.


"Tidak, karena putra yang kamu lahirkan, menjadi putra yang luar biasa untukku. Ditambah adanya Lova yang membuat hidup kita semakin sempurna." Cean menghela nafas sejenak. "Saat pertama kali aku melihat Samudra, aku melihat bayangan diriku di diri Samudra, entah mengapa ada ketakutan dalam diriku jika sampai Samudra menjadi bedjat dan pengecut sepertiku. Dan ternyata semua ketakutanku tidak terjadi, Dirga benar benar mendidik Samudra menjadi pria baik dan penuh tanggung jawab." Ucap Cean mengenang masa lalu.


Cean semakin erat mendekap Nadlyn. "Maafkan aku ya, rasanya beribu maaf tidak bisa menebus kesalahanku di masa lalu.


Nadlyn mengangguk. "Untung aku cinta, aku sudah memaafkanmu dan slalu berharap kita slalu seperti ini selamanya, Cean."


Cean mengecup puncak kepala Nadlyn.


"I Love You."


"Me too."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...T A M A T...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ada yang mau nyapa aku disini, atau bilang sesuatu padaku disini?


🥹🥹🥹

__ADS_1


__ADS_2