Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 80


__ADS_3

Zivana keluar dari kamar mandi dan melihat Samudra yang tengah memainkan ponselnya di atas tempat tidur. Zivana kembali gugup dengan apa yang harus di lakukannya.


Zivana berjalan mendekat ke arah sisi tempat tidur yang lain untuk mengambil bantal.


"Mau kemana?" Tanya Samudra membuat Zivana terkesiap.


"Itu Kak, aku.. Aku mau tidur di sofa." Ucapnya gugup.


Samudra menaikan satu halisnya, "Tidur di sofa?" Tanyanya dengan tatapan tajam.


Zivana mengangguk.


Samudra berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Zivana yang masih berdiri. "Kamu tidak ingat jika kita sudah menikah?"


Zivana hanya tertunduk, Samudra maju satu langkah lebih dekat dan membuat Zivana memundurkan langkahnya hingga kakinya menyentuh tempat tidur dan dirinya jatuh terduduk di sisi tempat tidur. Zivana meremat bajunya seolah takut dengan apa yang Samudra perbuat.


Samudra mengambil kursi di dekat meja rias dan menaruhnya di hadapan Zivana kemudian Samudra duduki.


"Kita sudah menikah, kamu ingat?" Tanya Samudra.


Zivana mengangguk.


"Tatap lawan bicaramu jika sedang bicara, Ziv." Kata Samudra dengan tegas.


Zivana perlahan mengangkat wajahnya.


"Apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Samudra seolah mengerti jika sesuatu mengganjal di hati Zivana.


"Pernikahan ini karena keterpaksaan. Kita tidak saling mencintai, Kak." Jawab Zivana lirih.


"Saling mencintai atau tidak, kita tetap sudah resmi menjadi suami istri, aku punya hak penuh atas dirimu, dan kamu punya kewajiban menuruti semua perintahku."


"Tapi, Kak...."


"Aku tidak suka di bantah, Ziv."


"Kenapa Kakak tidak menceraikanku saja? Kita menikah tanpa cinta, Kak."


"Bercerai katamu? Kamu pikir kita sedang bersandiwara? Aku ini begitu menyayangi Papi, tidak sepertimu yang tidak pernah memikirkan perasaan orang tuamu."


"Kakak menikahiku karena Papi?"


"Tentu saja. Kamu pasti tau." Samudra menjeda kalimatnya sejenak. "Tapi meski aku menikahimu karena Papi, aku tetap tidak akan menceraikanmu, untukku pernikahan hanya terjadi satu kali dalam seumur hidupku, aku tidak ingin main main dalam pernikahan."


"Lalu bagaimana dengan kehidupan kita nanti, Kak? Tidak ada cinta diantara kita."


"Ya harus saling belajar mencintai, Ziv. Cinta ada jika saling terbiasa. Kamu harus membiasakannya. Jalani peranmu sebagai istriku dan aku juga menjalankan peranku sebagai suamimu."

__ADS_1


Zivana terdiam, ia tidak menyangka jika Samudra ternyata bersungguh sungguh menjalani pernikahan ini bersamanya. Tidak seperti pernikahan kontrak di novel novel yang sering ia baca.


"Tapi aku belum bisa melakukannya." Kata Zivana dengan ragu.


"Melakukan apa?" Tanya Samudra.


Zivana menggigit bibir bawahnya. "Kewajibanku memberikan hak mu." jawabnya lirih.


Samudra mengerti hal itu. Meski ia lelaki yang normal, namun ia juga tidak bisa memaksakan hubungan kontak fisik tanpa melibatkan perasaan.


"Jalani saja, Ziv. Biarkan seperti air mengalir. Pernikahan ini bukanlah hal yang main main. Sekarang tidurlah di tempat tidur, aku tidak akan memaksakanmu untuk melakukan kontak fisik denganku, tetapi kita tetap tidur satu ranjang." Kata Samudra lalu berdiri, menyimpan kursinya kembali dan naik ke atas tempat tidur.


Samudra melihat Zivana masih saja duduk. "Kamu mau tidur sambil duduk sampai pagi?"


Zivana terkesiap lalu menggelengkan kepalanya.


"Tidurlah, Ziv. Jangan lupa matikan lampu utama, aku mengantuk."


Zivana segera mematikan lampu utama dan menyisakan lampu temaram saja. Kemudian ia tertidur di sebelah Samudra dengan menjaga jarak.


**


Dirga merasakan tubuhnya lebih baik pagi ini. Ia bahkan menghabiskan sarapannya tanpa bersisa.


"Selera makan Papi bagus sekali." Ledek Ziel.


"Ziel, jangan meledek Papimu." Sahut Yuri.


"Apa ini karna Kak Ziv menikah dengan Kak Sam, Pi?" Tanya Ziel.


Dirga melepaskan sendoknya lalu mentautkan jari jarinya. "Entah kenapa Papi merasa lega dan tenang melepas Ziv bersama Samudra."


"Ziel juga menyukai Kak Sam. Kak Sam baik dan menurut Ziel, Kak Sam terlalu baik untuk Kak Ziv yang menyebalkan itu." Cibir Ziel.


Dirga tertawa, "Kamu akan merasakan rindu dengan teman bertengkarmu, Ziel."


"Oh no, Pi.. Ziel merasa lega Kak Ziv menikah, itu tandanya Ziel merdeka dan tidak akan ada yang semena mena pada Ziel lagi." Ziel pun tertawa puas sementara Dirga dan Yuri saling melirik lalu tersenyum.


"Bangun Nona manja." Bisik Samudra tepat di telinga Zivana, membuat Zivana bangun dari tidur nyenyaknya dan melihat Samudra yang sudah berpakaian rapih.


"Akhh Kak, maafin aku." Ucap Zivana tak enak.


"Ini hari pertamamu menjadi istriku, dan kamu bangun siang." Sindir Samudra.


"Maaf Kak, pernikahan kita kemarin membuatku sangat lelah."


"Memangnya aku tidak lelah?" Tanya balik Samudra. "Jangan selalu merasa hanya dirimu yang ingin diperhatikan, semua orang juga punya masalah tapi bisa memposisikan dirinya." Ucap Samudra.

__ADS_1


'Dia galak sekali.' Batin Zivana.


"Cepat mandi, aku lapar, ingin sarapan." Titah Samudra tidak ingin di bantah.


Zivana segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara itu Samudra memainkan ponselnya.


Lagi lagi sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Samudra.


"Mengapa tidak membalas pesanku, Kak?" (Raelyne)


Namun Samudra tidak membalas pesan dari Rill lagi dan tetap mengacuhkannya lalu menghapusnya.


Zivana keluar dari kamar mandi dengan tampilan lebih segar, bahkan Zivana sudah merias wajahnya dengan riasan tipis dan natural. Zivana memang mirip sekali dengan Yuri saat muda, begitu cantik yang membuat Dirga selalu terpesona oleh kecantikannya.


Samudra membawa istrinya itu untuk makan di restoran hotel. Zivana duduk di depan Samudra.


"Apa yang akan kamu lakukan setelah pernikahan ini?" Tanya Samudra sambil memakan salad sayur di piringnya.


"Tidak tau, mungkin ikut dengan Kakak." Jawab Zivana. "Papi bilang setelah menikah aku harus lepas dari Papi dan tanggung jawab Papi beralih pada suamiku." Imbuhnya lagi.


"Aku menikahimu bukan berarti kamu bisa menumpang hidup denganku, Ziv. Kamu tetap harus mempunyai kegiatan dan aku tidak suka kamu menghambur hamburkan uangku dengan hal tidak penting selama kamu belum bisa menunaikan kewajibanmu sebagai istriku." Balas Samudra dengan datar.


Zivana menatap wajah Samudra yang cuek sambil makan. "Maksud Kakak?"


Samudra tersenyum smirk, "Aku tetap menafkahimu, seperti sandang pangan papan akan aku penuhi, tapi untuk belanja atau memberimu kartu itu tidak bisa aku berikan."


"Tidak bisa seperti itu." Protes Zivana.


"Kalau tidak bisa seperti itu, berikan kewajibanmu, melayaniku di atas ranjang dan aku akan memberikanmu selayaknya seorang istri." Samudra semakin senang menggoda Zivana.


"Jangan mimpi, aku tidak akan melakukannya tanpa cinta." Balas Zivana.


"Kalau begitu. Mulai besok kau harus bekerja bersamaku, menjadi personal asistenku bersama Jimmy."


"Hei, itu bukan bidangku, Kak."


"Baiklah jika sesuai bidangmu, aku akan menempatkanmu di bagian manajemen perusahaan sebagai pegawai perusahaan."


Zivana membolakan kedua matanya, tidak mungkin ia bekerja sebagai pegawai dengan Tuntutan kerja dengan gaji yang tidak seberapa menurut versinya.


"Silahkan pilih, masih ada waktu dua puluh empat jam untuk menentukan pilihan." Kata Samudra dengan tersenyum usil.


'Welcome to the real world, Nona manja.' Batin Samudra.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Makasih untuk teman teman Readers yang sudah menyumbangkan Votenya hari ini untukku, meski gak banyak tapi aku sangat berterimakasih.

__ADS_1


Aku juga berterimakasih untuk Readers tersayang yang sudah kasih mawar, kopi, like dan ramein kolom komentar.


Bab ini aku Up spesial untuk kalian yang sudah mendukungku. 🥰


__ADS_2