
Rumah tangga Dirga dan Yuri berjalan dengan sangat baik, bahkan semakin hari mereka semakin mesra saja. Yuri sendiri banyak belajar cara cara menyenangkan hati suaminya dengan berpenampilan seksi dan hanya di depan Dirga saja Yuri berani berbuat seperti itu. Yuri pun mengikuti kursus memasak di sela sela waktu luangnya, Dirga semakin saja terpesona oleh Yuri, selain cantik dan pintar, Yuri pun membuat perut dan bawah perut Dirga menjadi kenyang.
Dirga mengernyitkan dahinya saat melihat Yuri yang masih tertidur, padahal waktu sudah pagi dan Dirga juga sudah bersiap akan berangkat ke kantor.
Biasanya, Yuri yang selalu bangun terlebih dahulu, menyiapkan pakaian Dirga hingga memasangkan dasinya. Menyiapkan sarapan dan menemaninya sarapan bersama. Namun pagi ini Yuri masih saja tertidur.
"Apa dia kelelahan karena semalam?" Tanya Dirga dalam hati.
Dirga tersenyum saat mengingat kejadian semalam, Yuri melayaninya begitu liar dan Dirga sangat menyukai itu.
"Baby...." Dirga membangunkan Yuri sambil mengusap pipinya. Bahkan Yuri masih memakai lingerie seksi berwarna hitam kesukaan Dirga.
"Baby..." Panggil Dirga satu kali lagi.
"Hemmm." Yuri menjawab dengan deheman.
"Tumben belum bangun, aku sudah mau jalan." Kata Dirga dengan lembut.
"Aku ngantuk sekali, Kak." Jawab Yuri masih dengan mata terpejam.
"Ayo mandi dulu, mau aku gendong?"
"Gak mau, Kak.. Aku malas kena air.. Aku ingin tidur saja."
"Memangnya tidak ke salon?"
"Aku malas. Kak.. Biar Vincent saja yang pegang salon hari ini."
Dirga tersenyum. "Tumben banget sih malas?"
Namun Yuri hanya diam karena sepertinya Yuri tertidur kembali. Dirga melihat belahan dada Yuri yang terlihat lebih membesar. "Sepertinya dia membesar." Ucap Dirga bermonolog lalu mengerdikan bahunya.
Dirga segera mencium puncak kepala Yuri dan memutuskan berangkat ke kantor tanpa sarapan. Dirga tidak biasa jika harus sarapan seorang diri tanpa Yuri yang menemani.
"Marry.." Panggil Dirga pada asisten rumah tangga.
"Iya Tuan."
"Jaga istriku, jika ada apa apa segera hubungi aku." Ucap Dirga memberi perintah.
"Baik Tuan."
**
Sementara itu, Cean tengah mengajak bicara bayi yang ada di dalam kandungan Nadlyn. Cean rutin melakukan hal ini dan Nadlyn bersyukur akan hal itu.
"Putri Daddy yang cantik, sehat sehat ya.. Daddy dan Kakak Sam menunggumu." Kata Cean mengakhiri pembicaraannya.
"Kakak Sam, bentar lagi adik bayi lahir." Ucap Cean pada Samudra.
"Sam gak sabar, Dad. Pasti bayinya lucu selucu Baby Rill."
"Sam sayang sekali dengam Baby Rill, ya?"
Samudra mengangguk, "Kalau Sam sudah besar, Sam mau menikah dengan Baby Rill."
Nadlyn dan Cean saling melirik.
"Hei, Sam masih kecil, tidak boleh membicarakan menikah."
"Maafkan Sam, Dad,"
__ADS_1
Cean mengusap kepala Samudra. "Anak Daddy yang pintar dan penurut."
**
Kini usia kandungan Nadlyn memasuki usia delapan bulan, itu berarti hanya dalam waktu satu bulan lagi, Anak kedua Cean dan Nadlyn akan lahir ke dunia ini.
"Hubby, hari ini aku mau bertemu dengan Yuri." Ucap Nadlyn pada Cean saat memasangkan dasinya.
"Dimana?"
"Kita janjian di sekolah Sam, terus mau ke mall, Yuri mau nemenin aku belanja keperluan baby yang belum lengkap."
"Hati hati di jalan dan harus pakai supir."
"Iya Hubby.." Nadlyn mengecupi terus bibir Cean.
"Honey stop, nanti aku jadi malas ke kantor dan malah membawamu ke ranjang."
Nadlyn tertawa, "Sensitif banget sih." Ledeknya.
"Iya, dia sensitif di deket kamu, langsung turn on." Jawab Cean sambil mencubit pelan dagu Nadlyn.
"Daddy, kenapa lama sekali." Protes Samudra yang menyusulnya ke dalam kamar.
"Sebentar Kakak Sam, Daddy tadi ada perlu dulu dengan Mommy." Jawab Cean dengan berteriak dari dalam walk in closet.
"Kamu sih." Kata Nadlyn.
"Koq aku, kamu tuh, mancing mancing." Balas Cean.
Mereka berdua keluar kamar dan turun menuju ruang makan. Cean dengan lembut memperlakukan Nadlyn, menarikan kursi untuk di duduki oleh Nadlyn baru kemudian ia duduk di sampingnya.
"Bagaimana perusahaanmu, Cean?" Tanya Pras pada putranya itu.
"Papa Robi tidak jadi pensiun?"
Cean mengerdikan bahunya. "Tidak tau, sepertinya Papa Robi akan selalu bersamaku di ARDA KARYA."
"Itu karena separuh Kak Robi itu ARDA KARYA." Sahut Nanda.
"Ya Mommy benar." Nadlyn setuju akan perkataan Nanda.
Samudra berangkat bersama Cean, setiap hari Cean selalu meluangkan waktunya untuk mengantar Samudra ke sekolah, bahkan Cean rela terlambat ke kantor hanya demi mengantarkan samudra, ia tidak ingin lagi kehilangan moment bersama Samudra meski hanya sebatas mengantarnya kesekolah.
"Bye Daddy, I Love U...."
"Bye Kakak Sam, Love U too." Jawab Cean kemudian masuk ke dalam mobilnya setelah nemastikan Sam tidak terlihat lagi.
Siang hari..
Samudra keluar kelas dan belum menemukan keberadaan Nadlyn yang akan menjemputnya.
"Hai..." Sapa seorang wanita kepada Samudra.
Samudra hanya diam, ia mengingat semua pesan Oma nya jika tidak boleh berbicara dengan orang asing.
"Kamu pasti bingung. Aku ini teman Daddy, Mommy dan Papimu." Ucap Rena supaya meyakinkan.
Namun Samudra tetap tidak menggubrisnya. Membuat wanita yang ternyata adalah Rena mengepal geram namun sebisa mungkin Rena meredamnya meningat ini adalah lingkungan sekolah dan ada security yang menjaganya.
Rena mengeluarkan selembar foto, foto itu diambil saat Rena masih sekolah dan berpacaran dengan Cean. Di dalam foto itu juga ada Nadlyn, Dirga bersama dua orang teman Cean terdahulu, yaitu Jojo dan Leo.
__ADS_1
"Lihat ini." Kata Rena sambil memperlihatkan fotonya.
Samudra melihatnya.
"Ini aku, ini Daddy mu, ini Mommy mu dan ini Pria yang kamu panggil Papi kan?"
Samudra mengangguk.
"Kami dulu teman SMA." Ucap Rena meyakinkan. "Tadi Daddy mu menelpon karena tidak bisa menjemput, jadi aku yang akan menjemputmu."
"Hari ini Daddy memamg tidak menjemputku. Yang hari ini menjemputku Mommy dan Mami Yuri." Jawab Samudra yang tidak mudah tertipu. "Jadi tidak mungkin Daddy menelpon Aunty untuk meminta Aunty menjemputku." Jawabnya yang cukup logis.
Rena menelan salivanya, ia tidak menyangka jika Samudra mempunyai kecerdasan hingga tidak bisa di bohongi.
"Mami..." Samudra memanggil Yuri saat melihat keberadaan Yuri dan berlari ke dekat Yuri.
"Mi.. Ada orang yang ingin membawaku." Kata Samudra sambil menunjuk ke arah Rena.
"Kak Rena..."
Rena pun terkejut saat melihat Yuri yang kini tetlihat lebih cantik, bahkan bentuk tubuhnya begitu ideal, dan rambut yang tergerai dengan bagian bawah yang di curly.
"Kau..."
"Kak Rena nekat sekali sih, udah siap masuk penjara?" Sentak Yuri.
Rena semakin terperangah karena Yuri semakin berani padanya.
"Berikan anak itu padaku, jangan kacaukan rencanaku." Desis Rena agar tidak terdengar dan tidak terlihat seperti keributan.
"Jangan harap. Aku akan melindungi Samudra." Kata Yuri dengan berani.
Rena tersenyum sinis, "Dasar bodoh, asal kau tau, Suamimu itu sangat mencintai Nadlyn dan kamu mau mau nya ikut mengurusi anaknya Nadlyn."
Yuri tertawa, "Jadi Kakak tidak tau, ya?" Tanyanya mengejek. "Kak Dirga dan Kak Nadlyn itu adik Kakak, satu Ayah beda Ibu."
Rena terkejut karena ia tidak tau hal itu.
"Sam, Yuri..." Nadlyn berjalan cepat menghampiri Sam dan Yuri saat melihat ada Rena disana.
"Mau apa kau?" Tanya Nadlyn dengan sengit.
"Kak Nadlyn tenanglah." Yuri membantu menenangkan Nadlyn.
Rena terlihat tidak suka terlebih saat melihat perut Nadlyn yang membuncit.
"Pergi sebelum aku memanggil keamanan." Kata Yuri mengancam Rena.
Rena mengepal kuat, ia mendekat ke arah Nadlyn dan tiba tiba saja mendorong Nadlyn, membuat Nadlyn jatuh terduduk dan mengerang kesakitan.
"Kak Nadlyn.."
Mommy...."
"Akhh perutku." Kata Nadlyn sambil memegang pinggang dan perutnya."
Sementara itu Rena berlari ke luar, namun security yang tidak sengaja melihat keributan segera mengejar dan menahan Rena.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bantu Novelku ini yang sedang ikut lomba ya. Ramaikan komentarnya, beri like, hadiah dan Vote.
__ADS_1
Terimakasih untuk Readers yang slalu mendukungku 😊🙏