
Samudra membawa Zivana kerumah orang tuanya, Zivana pun mengikutinya karena ia tidak mungkin kembali ke rumah Dirga.
Nadlyn menyambut baik kedatangan Zivana dan segera memeluknya dengan hangat. "Selamat datang di rumah kami, Ziv." Kata Nadlyn dengan lembut.
"Thanks Mom." Jawab Zivana yang memang sedari kecil sudah memanggil Nadlyn dengan sebutan Mommy.
"Jangan sungkan, Ziv. Ini juga rumahmu." Kata Cean pada menantunya itu.
"Iya Dad, terimakasih."
"Hai bestie..." Ledek Lova kemudian Zivana segera berhambur memeluk Lova.
"Pelukanmu seperti ada yang aneh." Bisik Lova.
"Kakakmu galak sekali." Balas Zivana dengan berbisik juga.
"Kakakku sekarang adalah suamimu, wanita manja." Lova melerai pelukannya.
"Sudah, ayo masuk." Ajak Nadlyn pada Lova dan Zivana.
"Baby Love, kamu belum memeluk Kakak." Kata Samudra pada Lova.
"Tidak mau, Kakak kan sudah menikah. Minta peluk saja pada Ziv." Ledek Lova yang membuat Zivana membolakan matanya.
Samudra hanya tersenyum mendengar jawaban asal dari adik satu satunya itu.
Zivana mengikuti Lova ke kamarnya setelah berhasil merayu Lova. Zivana merebahkan tubuhnya begitu saja di tempat tidur milik Lova.
"Hei... Kamu kesini hanya untuk tidur?" Tanya Lova.
"Diam, Lov. Berhadapan dengan Kakakmu sungguh membuatku menguras emosi dan jadi ngantuk."
Lova ikut merebahkan diri di samping Zivana dengan kaki yang sama sama terjulur ke bawah. "Bagaimana malam pertamamu?" Tanyanya menyelidik. "Kalian sudah melakukannya?"
Zivana menoleh ke arah Lova. "Not bad."
"Kalian sudah melakukannya?" Tanya Lova sekali lagi.
Zivana menggelengkan kepalanya lalu menatap langit langit kamar Lova. "Apa yang harus aku lakukan sekarang, Lov?"
"Tidak ada." Jawab Lova yang juga ikut menatap langit langit kamarnya.
"Aku harus memulai dari mana?" Tanya Zivana lagi.
"Bukankah dari kamu menandatangani surat pernikahan itu, tandanya kamu sudah mulai memulainya?"
__ADS_1
Zivana menghembuskan nafas kasarnya. "Ternyata menikah itu tidak enak." Zivana menjeda kalimatnya sejenak. "Lebih enak jadi anak Papi." Imbuhnya lagi.
"Setelah begini kamu baru mikir kan?" Cibir Lova. "Aku sudah berulang kali menasehatimu untuk jangan dulu menerima lamaran Daniel, tau kamu terlalu di butakan oleh cinta."
"Dan pada akhirnya, aku bukan menikah dengan Daniel, melainkan dengan Kak Sam, cowok yang jauh dari ekpektasi aku." Lirih Zivana.
Mereka sama sama terdiam. Hingga terdengar suara isakan tangis dari Zivana. "Aku tidak pernah menyangka Daniel tega berbuat itu padaku, mengkhianati aku dan melakukan lebih dari itu."
Lova melihat Zivana yang terlihat bersedih. "Aku harap Daniel tidak pernah merusakmu, Ziv."
"Tentu saja, bahkan aku tidak pernah mau jika Daniel mau menciumku, aku selalu menghindari hal itu, Lov.."
Lova mengangguk, "Aku percaya, kamu pasti bisa mempertahankan kehormatanmu."
"Lov, menurutmu, apa pernikahanku dengan Kak Sam akan berjalan semestinya?"
Lova terlihat berpikir, "Kak Sam orang yang berpikir matang, Ziv. Aku yakin Kak Sam bukan orang yang mempermainkan pernikahan kalian."
Zivana mengangguk, "Kak Sam juga mengatakan hal itu padaku, Lov. Hanya saja aku belum terbiasa."
"Belajarlah mencintai Kakakku, Ziv.. Aku sangat tau Kak Sam, Kak Sam bukan tipe pria yang yang menyakiti wanita."
"Tapi, Lov..." Zivana menggantung kalimatnya.
"Raelyne pernah mengirimi pesan pada Kak Sam dan mengatakan jika Kak Sam menikahiku karena pelarian saja." Ucap Zivana dengan ragu.
"Abaikan, jangan di pikirkan, mau memang pelarian juga tidak apa apa, kalian kan memang saling berlari meninggalkan masa lalu kalian masing masing kan?"
Zivana tampak berpikir.
"Kak Sam lari dari kenyataan karena Rill memberi harapan palsu padanya, dan kamu juga lari dari kenyataan karena Daniel mengkhianatimu dan membuat pernikahan kalian batal lalu menikah dengan Kak Sam." Kata Lova yang memang benar adanya.
Zivana mengangguk.
"Ya sudah, kalian itu cocok, mau di lihat dari segi manapun kalian cocok. Sad boy dan sad girl bersatu." Ucap Lova lagi.
Zivana pun menceritakan jika dirinya akan ikut bekerja bersama Samudra di ARDA KARYA, Zivana juga mengatakan jika Samudra tetap akan menafkahinya seperti sandang pangan dan papan tetapi tidak untuk menghambur hamburkan uangnya. Hal itu membuat Lova merasa heran, pasalnya yang Lova tau, Samudra sangat loyal terhadap siapa saja, bahkan meski Lova sudah ikut bekerja di ARDA KARYA juga, Samudra tetap membebaskannya memakai kartu kredit yang semua tagihannya masuk ke email Samudra.
Lova berpikir jika sang Kakak pasti mempunyai alasan melakukan hal ini, Samudra tidak akan setega ini apa lagi Zivana adalah anak dari pria yang begitu Samudra hormati.
Selesai bercerita Zivana tertidur di kamar Lova, sementara Lova memilih keluar kamar untuk mencari Samudra.
"Kak..." Panggil Lova saat Samudra sedang memeriksa berkas dokumen di ruang kerjanyanya.
"Ya Baby Love, ada apa?" Jawabnya tanpa melihat ke arah Lova.
__ADS_1
Lova duduk di depan Samudra yang terhalang meja kerjanya. "Ziv bilang besok dia akan bekerja di ARDA KARYA."
"Hemm." Jawab Samudra.
"Ziv tidak bisa bekerja Kak, Ziv terlalu dimanja oleh Papi Dirga."
"Ziv sekarang istriku, Love. Dia sudah tidak bisa manja lagi pada Papi Dirga. Bahkan Papi Dirga mencabut semua fasilitasnya karena Ziv sudah bukan lagi tanggung jawabnya."
"Papi Dirga bisa melakukan hal itu Kak?" Tanya Lova tak percaya.
Samudra meletakan berkas berkas yang ia pegang di meja, kemudian menatap wajah adiknya. "Kamu percaya Kakak?"
Lova mengangguk,
"Percaya pada Kakak, Kakak ingin membuat Ziv supaya bisa lebih bertanggung jawab dengan perbuatannya, jangan bantu semua kesulitan Ziv, biarkan Ziv menyelesaikan masalahnya sendiri agar bisa lebih dewasa lagi, Love." Kata Samudra meyakinkan.
Lova berdiri dan berjalan mendekat ke arah Samudra, Lova memeluk leher Samudra, "Aku tau Kakak orang yang baik, selamat untuk pernikahan Kakak, aku minta semoga Kakak bisa segera mencintai Ziv sebagai seorang wanita."
Samudra tersenyum dan mengusap lengan Lova yang melingkar di lehernya, "Terimakasih sudah mau percaya pada Kakak."
"Dimana Ziv?" Tanya Samudra pada akhirnya.
Lova melepaskan pelukannya, "Ziv tidur dikamarku."
Samudra hanya tersenyum. "Gadis itu."
"Perlu aku bangunkan, Kak?"
"Tidak usah, biar saja ini jadi hari tersantainya, besok Ziv akan tau sekeras apa dunia kenyataan sebenarnya."
"Jangan terlalu keras, Kak. Aku tidak tega." Rayu Lova.
"Love, jika kamu menyayangi Ziv, kamu harus tega agar Ziv bisa berubah dan bisa lebih sedikit dewasa." Samudra meyakinkan Lova.
Lova berpikir sejenak, kemudian mengangguk, "Iya Kak, aku ingin Lova bisa lebih bersikap dewasa lagi dan tidak kekanakan."
"Good. Bantu Kakak ya, jangan slalu membantu semua kesulitan Ziv. Biarkan Ziv belajar menyelesaikan masalah nya sendiri, baik itu dalam pekerjaan, maupun tentang hal pribadi."
"Tapi bagaimana jika Ziv mengadukan Kakak ke Papi Dirga dan Mami Yuri?"
"Itu urusan Kakak, Kakak yakin Papi dan Mami percaya pada Kakak dan mendukung Kakak karena Kakak sedang membimbing Ziv, bukan sedang menghukumnya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Like, Koment, hadiah Bunga/Kopi dan Vote sangat berarti untuk menaikan semangatku dalam menulis bab selanjutnya 🙏
__ADS_1