Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 51


__ADS_3

Dirga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan tanpa arah. Ia begitu marah pada takdirnya, Dirga tidak menerima jika wanita yang dicintainya adalah adiknya sendiri dan Samudra yang ia sudah anggap anaknya ternyata adalah keponakannya sendiri.


Dirga nentertawai dirinya sendiri. "Mengapa Mami harus menyembunyikan semua ini?" andai Mami memberikan akses padanya untuk mencari tau siapa ayah kandungnya, maka cinta ini tidak akan terjadi, atau tidak akan semakin dalam.


"Aku benci hidupku. Mami jahat sekali menyembunyikan semua ini dariku."


Entah apa yang Dirga pikirkan, hingga mobilnya berhenti di sebuah rumah megah milik wanita yang selama ini slalu ia hindari.


Yuri yang kebetulan akan pergi keluar, melihat mobil Dirga di halaman rumahnya.


"Kak Dirga kesini? Tumben." Gumamnya kemudian menghampiri mobil Dirga dan mengetuk kaca mobilnya.


Dirga menurunkan jendela mobilnya dan Yuri melihat mimik wajah Dirga yang tidak bisa di artikan.


"Kak, kenapa tidak turun?" Tanya Yuri.


"Masuklah, Ri." Ajak Dirga dan Yuri langsung mengitari mobil Dirga dan duduk di sebelah Dirga.


Dirga kembali melajukan mobilnya dengan tujuan tanpa arah.


"Kamu tau tempat yang menenangkan itu dimana?" Tanya Dirga sambil fokus menyetir.


"Tempat yang seperti apa maksudnya?" Tanya Yuri balik.


"Aku bertanya, kenapa kamu malah balik bertanya?" Sentak Dirga membuat Yuri menghela nafas.


Yuri diam seolah berpikir. "Aku ada satu tempat, menurutku tempat itu menenangkan untukku, tetapi aku tidak tau apa Kakak tertarik atau tidak."


"Tunjukan padaku dimana tempatnya." Kata Dirga dan Yuri menunjukan arah jalannya.


Hingga satu jam berlalu, mereka tiba di sebuah perbatasan daerah, Dirga membaca papan nama yang terdapat di depan halaman sebuah bangunan. "Panti Asuhan Mutiara Bunda." Gumamnya.


"Ayo Kak." Ajak Yuri dan Dirga mengikutinya.


Yuri masuk ke dalam ruangan dan di sambut hangat oleh ibu panti. "Yuri..."


"Maaf Yuri gak ngabarin Bunda." Kata Yuri pada wanita yang di panggil Bunda.


Setelah beramah tamah, Yuri menuju taman bermain di belakang, Yuri tampak bermain bersama anak anak yang bisa di bilang tidak beruntung. Dirga hanya dari jauh memperhatikannya saja.


"Masa kecil Yuri di habiskan di tempat ini." Tiba tiba saja wanita yang di panggil Bunda mendekat ke arah Dirga.


Dirga mengernyitkan dahinya. "Bukankah Yuri anak dari pengusaha Grup Y?" Tanya Dirga.

__ADS_1


Bunda tersenyum. "Yuri adalah anak dari hubungan gelap antara Ayah dan seorang pelayan di rumahnya."


Jeddaarr


Dirga terkejut mendengar hal itu.


"Ibu kandungnya Yuri melahirkan di panti ini kemudian meninggal ketika melahirkan Yuri karena pendarahan. Saat Yuri berusia tiga tahun, Ayah kandungnya menemukannya tetapi tetap menyembunyikan identitasnya dan Yuri tetap tinggal disini hingga usia sepuluh tahun. Saat itu Ayahnya hanya ingin melindungi Yuri dari istrinya yang akan menyakiti Yuri. Namun ketika Ayahnya sudah bercerai dengan istrinya, Yuri di bawa oleh Ayahnya untuk tinggal bersamanya." Jelas Bunda kepala panti.


Demi apapun, Dirga baru mengetahui hal ini. Bahkan mungkin, Hellena pun tidak tau soal ini.


Mata Dirga kembali memperhatikan Yuri. Pantas saja Yuri begitu lembut dan tau bagaimana cara menghadapi seorang anak kecil seperti Samudra. Rupanya Yuri banyak berinteraksi dengan anak kecil disini.


Tanpa Dirga sadari, Dirga pun terbawa suasana di panti ini. Bahkan Dirga bermain bersama anak anak panti dan bercanda bersama. Dirga tertawa lepas seolah melupakan sejenak masalahnya.


Sementara itu, Robi bergegas ke rumah sakit setelah Dirga pergi begitu saja. Bukan Robi ingin meninggalkan Hellena, namun Robi harus melihat kondisi Samudra dan memastikan jika cucu yang ia sayangi itu baik baik saja.


Robi langsung masuk ke dalam ruang perawatan Samudra yang terlihat sepi itu. Matanya memandang ke arah Samudra yang sedang tertidur, kepala Samudra berbalutkan perban yang melingkar di kepala Samudra.


Kemudian Robi melihat ke arah tempat tidur dan melihat Nadlyn yang tidur dalam pelukan Cean.


Robi mengernyitkan dahinya. "Apa mereka sudah berbaikan kembali?" Gumam Robi.


Robi menghela nafasnya, "Jadi siapa yang akan menikah duluan, aku atau Nadlyn?" Gumamnya dalam hati.


"Papa..." Nadlyn terbangun saat tenggorokannya terasa haus, ia melihat keberadaan Robi disana.


Robi menoleh ke arah Nadlyn. "Apa ini tidur ternyenyak mu selama tujuh tahun ini?" Tanya Robi dan Nadlyn tau kemana arah pembicaraan itu.


"Yang barusan Papa lihat itu tidak seperti apa yang Papa pikirkan." Kata Nadlyn mencoba membela diri.


"Memang apa yang Papa pikirkan?" Tanya Robi menggoda.


Robi tidak bisa lagi menghakimi Cean, karena ternyata dulu dirinya pun seperti Cean. Hanya saja bedanya, Robi tidak mengetahui keberadaan Putranya, namun Robi menganggap jika dirinya dan Cean itu sama saja.


"Papa memikirkan kami akan kembali bersama?" Tiba tiba saja Cean menjawab pertanyaan Robi.


Dan Robi sendiri tersentak karena untuk pertama kalinya, Cean memanggilnya Papa setelah selama ini hanya memanggilnya Uncle.


Cean duduk di sebelah Nadlyn dan tersenyum kepadanya, namun Nadlyn tidak membalas senyum itu.


"Pa.. Maafkan Cean yang begitu pengecut meninggalkan Nadlyn dan juga Samudra." Kata Cean dengan tulus. "Cean ingin memperbaiki semuanya, Pa. Cean ingin menjadi Daddy dan juga suami untuk Nadlyn kembali. Cean berharap, Papa mengijinkan Cean untuk memperbaiki diri."


Robi mendengar semua perkataan Cean, dirinya mengingat ke masa lalu, mungkin jika dulu Hellena mengatakan sedang hamil di saat Robi belum memiliki apapun, pastilah Robi juga menolak keberadaan Dirga karena tak siap dan hal itu sama seperti Cean yang dulu tidak siap menerima keberadaan Samudra.

__ADS_1


"Cean, kamu pasti tau percis jika sedari dulu Papa sangat menyayangimu seperti anak Papa sendiri. Meski Papa begitu marah dan kecewa padamu karena menyakiti Nadlyn, namun hal itu tidak membuat kadar sayang Papa padamu berkurang." Robi menjeda kalimatnya sejenak. "Papa tidak bisa memberikan jawaban tanpa mendengar isi hati Nadlyn, dan Papa akan mengikuti semua kemauan Nadlyn. Papa menyerahkan semuanya pada Nadlyn."


Tiba tiba saja Cean menjadi takut. Bagaimana jika Nadlyn menolaknya.


"Nad.." Panggil Cean dan Nadlyn hanya diam saja. "Mau ya kembali lagi sama aku." Pinta Cean yang kini menggenggam tangan Nadlyn di depan Robi.


"Mommy..." Samudra memanggil Nadlyn karena Nadlyn tak kunjung menjawab pertanyaan Cean.


Nadlyn beranjak dari duduknya dan menghampiri Samudra. Cean dan Robi pun ikut berdiri untuk menghampiri brankar Samudra dan berada di belakang Nadlyn.


"Mom.."


"Iya, Sayang..." Jawab Nadlyn dengan lembut sambil menggenggam tangan Samudra.


"Uncle itu...." Ucapan Samudra menggantung saat tiba tiba saja Cean memotong ucapan Samudra.


"Aku Daddymu, Sam.." Cean berjalan dan kini berada tepat di sebelah Nadlyn.


Sementara itu Nadlyn tak dapat membendung air matanya, inilah waktu yang ia tunggu tunggu, Cean mengakui dirinya sebagai seorang Daddy di depan Samudra.


Samudra tersenyum. "Aku tau itu, Dad." Jawab Samudra dan air matanya juga ikut turun.


"Aku tau jika Uncle adalah Daddy. Aku sangat tau itu." Jawab Samudra.


Cean membelas senyuman itu. "Dari mana Sam bisa tau?"


"Karena Daddyku adalah anaknya Opa dan Oma." Jawab Samudra.


Cean pun ikut menitikan air matanya. "Jadi Sam sudah tau lama ini Daddy?" Tanya Cean yang kini tidak lagi menggunakan kata aku dan kamu pada Samudra.


"Iya." Jawabnya.


Cean memejamkan matanya, ia tak menyangka jika sang putra begitu cerdas. Cean begitu malu pada Samudra, pada kedewasaan Samudra.


Cean mendaratkan wajahnya di dada Samudra yang masih terbaring. "Maafkan Daddy. Sam. Maafkan Daddy yang jahat ini. Daddy sangat bersalah padamu juga Mommymu." kata Cean menangisi dosa dosanya.


Tangan Samudra terulur mengusap kepala Cean. "Sam memaafkan Daddy." Jawabnya. "Tapi tolong, Dad. Jangan sakiti Mommy lagi." Pinta Samudra dan Cean mengangguk dengan cepat.


Cean bangun dan menatap wajah Nadlyn yang sudah di penuhi air mata. Tiba tiba saja Cean bersimpuh di kedua kaki Nadlyn meminta pengampunannya.


"Maafkan aku, Nad. Beri aku kesempatan untuk menjadi Suamimu dan Daddy yang sempurna untuk putra kita."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Masih ku tunggu Vote nya ya.. Nanti aku Up 1 bab lg kalo Vote nya naik.


__ADS_2