Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 97


__ADS_3

Setelah satu minggu beristirahat, Samudra dan Zivana kembali ke perusahaan. Samudra tetap menginginkan Zivana bekerja agar bisa tau susahnya mencari uang. Samudra ingin Zivana lebih mandiri dan bisa lebih dewasa lagi dalam menyikapi suatu masalah.


Tentang kartu tanpa limit? Lupakan hal itu karena Samudra belum memberikannya pada Zivana, bukan Samudra tidak ingin menafkahi Zivana, hanya saja Samudra juga ingin membuat Zivana menggunakan kartunya dengan bijak, bisa menekan sifat konsumtifnya.


Soal tas limited edition? Zivana harus berbesar hati merelakan karena tidak kebagian, bahkan saat itu Zivana mogok bicara pada Samudra dan Samudra malah tertawa karena melihat kelucuan istrinya itu.


Nadlyn dan Lova yang tidak tega, diam diam ingin membelikan tas yang di inginkan oleh Zivana, namun Samudra memberi pengertian pada Nadlyn juga Lova karena semua ini demi kebaikan Zivana.


"Ziv, makan siang di ruanganku ya."


"Tidak mau, aku mau makan siang sama Lova saja." Jawabnya ketus.


"Yakin tidak mau?"


"Iya, tidak mau. Udah ah, Aku mau ke ruanganku. Bye tuan pelit." Ledek Zivana lalu meninggalkan Samudra di depan ruangannya.


Samudra hanya tersenyum sambil menggeleng gelengkan kepalanya, merasa lucu dengan tingkah laku Zivana yang membuat hari harinya berwarna.


Siang hari, Dirga mengunjungi Samudra di perusahaannya. Samudra menyambut baik kedatangan pria yang begitu ia hormati sedari kecil.


"Pi..." Samudra memeluk Dirga ala pria dewasa.


"Apa kabarmu?" Tanya Dirga sambil melerai pelukannya.


"Jauh lebih baik, Pi."


"Baguslah."


Samudra membawa Dirga duduk di sofa. "Jimm, tolong panggilkan Zivana kesini." Kata Samudra yang di angguki oleh Jimmy.


Dirga tersenyum, "Apa anak itu menyusahkanmu di perusahaan?"


"Tidak sama sekali, Pi. Ziv sekarang banyak berubah. Apa Papi kesini mencari Zivana?"


"Benarkah?"


Samudra mengangguk. "Tapi sepertinya aku gagal mendidik Ziv, Pi. Maafkan aku jika aku menyerah."


Dirga mengernyitkan dahinya. "A.. Apa maksudmu, Boy?"


Samudra berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah jendela kaca besar seolah menatap gedung gedung yang berlomba mencakar langit. Dirga yang penasaranpun ikut berdiri dan menyusul Samudra.


"Apa maksudmu, Sam? Kamu menyerah?" Tanya Dirga bertubi tubi, Dirga merasa begitu takut jika hal itu sampai terjadi.

__ADS_1


"Aku gagal Pi, gagal mendidik Zivana untuk tidak manja lagi."


Dirga terdiam, Dirga merasa shock dangan apa yang di katakan oleh Samudra. Hal yang tidak pernah Dirga harapkan akhirnya harus Dirga rasakan. Dirga merasa harus berbuat adil, Samudra sudah menolongnya dan menyelamatkan nama baik juga kehormatannya.


"Pi..."


"Tidak apa apa, Sam." Lirih Dirga mencoba menjadi orang tua yang bijak.


"Tidak apa apa jika kamu ingin melepas dan mengembalikan Zivana pada Papi." Dirga menunduk dan memijat pangkal hidungnya, menahan air mata yang harusnya keluar.


"Pi..."


"Sam.. Papi tau cinta itu tidak bisa dipaksakan. Tidak apa apa jika kamu mau bercerai dengan Zivana." Sahut Dirga dengan cepat.


'Apa? Kak Sam mau bercerai dariku?' Batin Zivana yang mendengar pertanyaan yang diajukan Dirga pada Samudra dari pintu yang tidak tertutup rapat oleh Jimmy tadi saat meninggalkan ruangan Samudra.


Zivana yang hanya mendengar sekilas tanpa penjelasan itupun segera berlari ke ruangannya lalu mengambil tasnya dan memutuskan untuk pergi. Jimmy yang melihat Zivana pergi hanya berpikir jika Zivana akan pergi bersama ayahnya yang tengah mengunjunginya.


Kembali ke ruangan Samudra. Samudra menghadap ke arah Dirga. "Papi menganggap aku akan meninggalkan dan bercerai dengan Zivana?" Tanya Samudra.


Dirga mengangguk, "Bukankah kamu menyerah, Boy? Kamu mau bercerai dengan Zivana?"


Samudra menatap wajah Dirga. "Pi.. Aku memang menyerah. Tapi menyerahku bukan untuk melepas apa lagi bercerai dengan Zivana."


"Pi, menyerah yang aku maksud adalah mendidik Zivana untuk tidak manja lagi, karena......" Samudra menjeda kalimatnya sejenak. "Karena aku begitu ingin memanjakan Zivana sebagai istriku, memberikan apa yang aku punya untuknya, mengabulkan setiap permintaannya dan aku tidak bisa lagi berkata tidak pada Zivana meski aku sendiri telah mengajarkan Mommy dan Lova untuk membantuku mendidik Zivana."


Dirga menghembuskan nafas leganya, ia mengusap wajahnya dan mengucap syukur di dalam hatinya lalu kembali menatap wajah Samudra.


"Sam, kamu..." Dirga menggantung kalimatnya.


Samudra mengangguk. "Pi, terimakasih sudah mempercayakan Zivana bersamaku, karena Zivana aku merasa hidupku berwarna, aku mencintai Zivana, Pi."


"Benarkah, Sam? Papi tidak salah dengar?"


Samudra mengangguk, "Aku mencintai Ziv, Pi.. Sangat mencintai Ziv.. Aku sudah tidak tahan untuk memberi semuanya pada Ziv, maafkan aku, Pi. Aku tidak tega jika terlalu lama harus bersikap keras pada Ziv, Pi."


"Oh, Boy...." Dirga memeluk erat Samudra. "Papi samgat bahagia mendengarnya. Papi tidak bisa membayangkan reaksi Zivana saat tau jika kamu mengatakan mencintainya, pasti Ziv akan loncat loncat gembira, right?"


Samudra melerai pelukannya dan menggelengkan kepalanya. "Aku belum pernah mengatakannya secara resmi pada Ziv, Pi. Papi adalah orang pertama yang ku beritahu."


"Jadi Ziv belum tau?"


Samudra menggelengkan kepalanya, "Rencananya minggu depan aku akan membawa Ziv bulan madu di Maldives, Pi. Aku akan mengatakan semuanya disana."

__ADS_1


Mendengar hal itu hati Dirga begitu terharu. "Papi tidak menyangka kamu tumbuh besar dan menjadi pria yang begitu baik." Suara Dirga tercekat karena terlalu bahagia, "Papi kira, kamu akan tersakiti karena menolong Papi untuk menikahi Zivana dan Zivana pun menderita karena pernikahan ini." Imbuhnya lagi.


"Itu semua karena Papi, Daddy, Mommy, juga mengajarkan hal yang begitu baik padaku."


"Sam, terimakasih." Lirih Dirga.


"Tidak, Pi. Aku lah yang berterimakasih pada Papi, karena dulu Papi begitu sabar mengisi sosok Ayah untukku, Aku juga berterimakasih karena Papi melahirkan putri seceria Zivana, membuat hari hariku berwarna, Pi." Samudra tertawa saat mengingat tingkah laku Zivana.


"Anak itu." Dirga pun ikut tertawa bersama Samudra.


"Tapi kemana Zivana? Ziv belum kesini juga." Kata Samudra lalu menghubungi Jimmy.


Tidak lama kemudian, Jimmy datang ke ruangan Samudra.


"Jim, mana istriku?" Tanya Samudra.


"Maaf Tuan, tadi Nona Zivana sudah kesini, lalu kembali lagi ke ruangan mengambil tas nya, saya kira Nona oergi bersama Tuan Dirga."


"Apa?" Kapan itu?"


"Lima belas menit yang lalu."


"Sam, sepertinya Zivana mendengar percakapam kita di awal dan Zivana salah paham." Sahut Dirga.


Samudra terlihat berpikir. "Apa Zivana mendengar kata kata Papi yang menganggap aku akan melepas Zivana?"


"Sepertinya begitu." Dirga malah tertawa. "Anak itu slalu saja tidak berpikir panjang."


"Tapi aku mencintai anak Papi itu." Ucap Samudra.


"Jadi bagaimana?" Tanya Dirga.


"Aku harus mencari Zivana."


"Tidak usah di cari. Papi tau Ziv kemana jika sedang badmood."


Samudra mengernyitkan dahinya. "Kemana, Pi?"


"Kemana lagi jika bukan ke salon Mami, Ziv akan menghabiskan waktunya jika sedang badmood disana. Karena hanya di salon Mami Yuri, Ziv mendapatkan fasilitas yang masih gratis." Dirga tergelak dan Samudra pun mengingat jika saat Zivana kesal dengan Samudra, saat itu Ziv juga menghabiskan waktunya di salon Mami Yuri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ziv larinya kurang jauh 😄

__ADS_1


Like, Koment, hadiah dan Vote sangat berarti untuk menaikan semangatku dalam menulis bab selanjutnya 🙏


__ADS_2