
Akhirnya hari pernikahan itu pun tiba, entah mengapa Zivana seolah merasa hatinya tidak tenang. Zivana menatap dirinya di pantulan cermin, ia melihat wajahnya yang sudah cantik dengan gaun pengantin impiannya. Gaun yang ternyata Samudra yang membayarkannya karena Zivana tak memegang uang lagi saat untuk pelunasannya.
"Ziv..." Lova menggenggam tangan sepupu rasa sahabat itu. "Kamu tega meninggalkanku, aku akan keliling dunia sendiri tanpamu." Kata Lova merajuk.
Dulu impian mereka begitu indah, selesai kuliah, ingin berkeliling dunia sebelum sibuk dengan pekerjaan. Namun ternyata semua tidak sesuai ekspektasi, Lova langsung bekerja karena tidak mempunyai kegiatan dan Zivana malah akan menikah.
Sementara itu, Dirga merasa berat hati melepas putri pertamanya, namun ia tidak bisa melakukan apapun selain memberinya restu agar putrinya bisa hidup dengan bahagia bersama pria pilihannya sendiri.
"Kamu terlihat pucat, Ga." Kata Nadlyn pada Dirga.
"Mungkin aku gugup karena akan menikahkan putriku."
"Periksa kesehatanmu, Ga. Jangan anggap sepele. Lihat Cean, tau tau dia kena kolestrol." Ucap Nadlyn lagi.
Dirga tertawa, "Bagaimana tidak kena kolestrol, makanannya gak di jaga, senengnya kulineran dimana aja."
"Tapi sekarang udah stabil, asal di imbangi dengan olah raga." Sahut Cean.
"Olah raga malam, right?" Tebak Dirga.
Cean tertawa, "Jelas, paling banyak membakar kalori, olah raga malam dan pagi."
Dirga menggelangkan kepalanya.
"Payah kalian, umur belum genap 50 tahun, sudah punya kolestrol." Suara seseorang yang membuat Dirga dan Nadlyn juga Cean menoleh kearah sumber suara.
"Papa..."
Robi datang untuk menyaksikan cucunya menikah, usia Robi yang tidak lagi muda namun masih terlihat gagah dan semakin berwibawa.
Nadlyn memeluk Robi dan Dirga juga nenghampiri Robi.
"Jangan terlalu banyak pikiran, Ga. Pikiran juga mempengaruhi kesehatanmu." Ucap Robi.
"Papa kan tau jika aku tidak menyukai calon suami Ziv." Kata Dirga.
"Itu sudah pilihan putrimu." Balas Robi. "Lagi pula, selama ikrar janji belum di ucapkan, belum tentu mereka berjodoh, kan?" Kata Robi sambil melirik ke arah Cean dan mengerlingkan satu matanya pada Cean.
"Pernikahan sudah di depan mata, pasti mereka memang berjodoh, Pa." Dessahh Dirga tak bersemangat.
Robi mengerdikan bahunya dan tersenyum smirk, sementara Cean fokus pada ponselnya.
Acara pernikahan di buat terpisah, peresmian pernikahan di hadapan petugas catatan sipil dan resepsi sengaja dibuat terpisah karena permintaan Robi yang beralasan supaya acara lebih sakral dan hanya ingin di hadiri keluarga dekat saja saat penandatanganan berkas pernikahan dan tiga jam kemudian di lanjut acara resepsi.
Daniel dan keluarganya sudah menempati ruangan dimana petugas catatan sipil pun ada dan sudah menyiapkan berkas berkas pernikahan. Bahkan Daniel sudah duduk manis di depan meja dengan tampilan mempesona ala dirinya sendiri.
__ADS_1
Zivana pun berjalan didampingi oleh Dirga, meski Dirga masih belum mau menerima, namun sebisa mungkin ia menunaikan kewajibannya sebagai Ayah dari Zivana.
"Maafkan Ziv, Pi.." Lirih Zivana di atas karpet merah menuju meja pernikahan.
"Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu, Ziv. Ini adalah tugas terakhir Papi mendampingimu." Balas Dirga tak kalah lirih.
Ada perasaan tercubit di hati Zivana mendengar Dirga mengatakan hal itu, seperti menandakan jika setelah ini, Zivana bukanlah lagi putrinya yang harus ia urus.
Zivana duduk di sebelah Daniel dengan wajah tertunduk, andai ia bisa, ia ingin membatalkan pernikahan ini tanpa harus membuat malu Dirga.
Daniel memegang sebuah pena dan bersiap menandatangani berkas berkas pernikahannya dengan Zivana. Namun saat pena itu belum menyentuh kertas, tiba tiba saja suara seorang wanita hadir dan mencoba menghentikan pernikahan Daniel dan Zivana.
"Hentikan." Semua mata tertuju pada wanita yang terlihat dengan perut membuncit.
"Siapa Kau?" Tanya Ziel dengan sengit dan semua ikut berdiri saat wanita itu berjalan.
Wanita itu mendekat, "Daniel, kamu tidak bisa menikah dengannya, aku sedang mengandung anakmu."
"Mitha, kenapa kesini?" Bisik Daniel yang kini berdiri.
"Aku kesini untuk menggagalkan pernikahanmu." Balas wanita bernama Mitha itu. "Harusnya kamu menikahiku, bukan dia." Mitha menunjuk Zivana dengan telunjuknya.
Dirga merasa lemas melihat hal itu, ia bahkan terduduk kembali dengan menahan rasa sakit di kepalanya.
Zivana melihat ke arah Dirga yang sudah terduduk lemas dengan mata memerah.
"Kak Daniel, apa maksudnya ini?" Tanya Zivana.
"Ziv, ini tidak seperti yang kamu kira, wanita ini..."
Plakkk
"Kamu membuatku malu, Kak. Pergi kau dari sini." Sentak Zivana.
"Ziv. Kita tetap harus menikah, keluargamu akan lebih malu jika pernikahan ini batal." Kata Daniel dengan liciknya.
Ayah Daniel mendekat, "Benar, pernikahan ini harus terus berjalan, atau keluargamu akan lebih malu menanggung semua ini." Ancam Rudi dengan taktik liciknya.
Zivana membeku, ia bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Daniel membisikan sesuatu di tekinga Zivana. "Ayahmu bisa semakin sakit jika menanggung malu."
Bughh.. Bughh.. Bughh.
Samudra memukuli Daniel dengan brutal hingga Ziel menahannya.
Samudra tidak bisa menahan dirinya saat melihat Dirga tersakiti seperti itu apa lagi dijadikan bahan ancaman oleh Daniel.
__ADS_1
"Pergi kau berengseekk!!" Samudra menarik kerah baju Daniel.
"Hentikan Tuan Samudra." Kata Rudi yang tidak terima putranya di pukuli.
Samudra melepaskan dengan kasar kerah baju Daniel dan menatap sengit Rudi. "Bawa putra sampahmu itu, atau ku hancurkan perusahaanmu hingga ke akar akarnya." Ancam Samudra membuat Rudi tak berkutik.
Rudi menelan salivanya kasar. "Kita bisa membicarakan hal ini baik baik. Wanita ini hanya ingin menghancurkan nama baik Daniel, dia pasti di bayar seseorang." Kata Rudi dengan liciknya.
"Tidak, anak ini memang anak Daniel, bahkan ini anak ke tiga kami karena kami sudah dua kali menggugurkan kandunganku." Ucap Mitha.
"Diam kau jallang!!" Sentak Rudi.
Rudi tidak mau sampai kehilangan tambang emasnya, perusahaan Dirga di bidang restoran di berbagai wilayah dan merambah ke Asia juga berkerabat dengan ARDA KARYA adalah peluang yang bagus untuk memajukan usahanya.
Cean maju dan mendekat ke arah Rudi yang tengah bersiteru dengan putranya. "Pergi atau ku hancurkan perusahaanmu seperti apa kata putraku." Ucap Cean dengan tenang namun penuh penekanan.
"Tapi tuan Cean, Tuan Dirga akan malu menanggung semuanya." Kata Rudi masih dengan berusaha bertahan.
"Itu urusan kami, sekarang pergi bawa putramu dan juga wanita itu." Sentak Cean dan Rudi tidak berani lagi membantah.
Hancur sudah harapannya berbesan denga kerabat ARDA KARYA dan pemilik bisnis terbesar restoran se asia.
Rudi pergi dengan wajah marah dan menarik tangan istri ke empatnya yang tak lain adalah ibu dari Daniel.
"Kau tunggu apa lagi?" Sentak Samudra.
Daniel berdiri dan berjalan cepat meninggalkan ruangan privasi itu di ikuti oleh Mitha yang berusaha mengejar Daniel.
Zivana nenangis dengan menutup wajahnya dan Lova menenangkannya. Sementara itu Dirga terlihat pucat dan hanya diam sedari tadi menahan dadanya yang terasa sakit.
"Media akan memberitakan hal negatif tentang putri kita, Mi.." Lirih Dirga.
"Papa akan menutup mulut media, Kamu tenangkan pikiranmu." Ucap Robi.
"Keluarga Rudianto akan membocorokannya, pasti akan menyerang balik kita jika pernikahan ini gagal." Sahut Cean.
"Kalau begitu pernikahan ini harus terus berjalan, tapi dimana kita bisa mencari pengantin penggantinya?" Tanya Robi.
Samudra menatap tidak tega pada Dirga, namun dirinya bingung harus berbuat apa. Tanpa sadar Samudra melangkahkan satu kakinya. "Bisakah jika aku menikahi sepupuku sendiri?" Tanya Samudra yang membuat semua orang terkejut. Namun Robi dan dan Cean hanya saling melirik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mumpung Senin, aku boleh minta jatah Vote kalian?
Terimakasih Readers tersayang 💕
__ADS_1