Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 84


__ADS_3

Samudra masuk ke dalam ruangan asistennya dan melihat Zivana yang tengah menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dengan mata terpejam dan wajah yang tertutup tissue masker.


"Jimm, belikan makanan untuk kami." Ucap Samudra dan Jimmy segera meninggalkan bos nya itu di ruangannya.


Samudra menutup pintu dan mendekat ke arah kursi kerja Zivana. Zivana terlihat tidur karena tidak menyadari keberadaan Samudra di dekatnya.


"Dia lucu sekali." Gumam Samudra sambil menarik sudut bibirnya tersenyum tipis.


"Dia seperti Mami Yuri, selalu terlihat cantik dan merawat dirinya, tapi sepertinya Ziv terlalu berlebihan karena melakukannya dimanapun bahkan di kantorku." Gumam Samudra lagi.


Samudra menatap lekat wajah Zivana, meski tertutup tissue masker, Kecantikan Zivana tetap terlihat. Wajar saja Zivana selalu terlihat cantik, Yuri sang Mami memiliki bisnis di bidang kecantikan yaitu salon dan klinik kecantikan yang cukup terkenal.


Bunyi alarm di ponsel Zivana berdering, sebuah timer yang menandakan jika waktu maskeran Zivana sudah selesai.


Tangan Zivana meraih ponselnya dan mematikan alarmnya, kemudian Zivana mengangkat tissue masker itu dan membuka kedua matanya. "Ahh segar sekali, akhirnya wajahku sudah ternutrisi kembali." Ucapnya riang lalu Zivana melihat Samudra yang duduk di sisi meja kerjanya sambil menatapnya dengan senyum smirk nya.


"Kak Sam..." Zivana segera berdiri karena begitu terkejut melihat Samudra berada di dekatnya.


Samudra menarik pinggang Zivana hingga tubuh mereka menempel. "Sudah maskerannya?" Tanya Samudra dan Zivana mengangguk.


"Kamu tau ini kantor?" Tanya Samudra lagi dan Zivana mengangguk lagi.


"Tapi kan aku maskeran di jam istirahat, Kak. Tidak mengganggu pekerjaanku." Ucap Zivana membela diri.


"Waktu istirahatmu adalah menunaikan kewajibanmu sebagai istriku, menemaniku makan siang."


"Lalu kapan aku bisa me time?" Tanya Zivana.


"Me time?" Tanya Samudra meyakinkan.


Zivana mengangguk. "Aku juga harus me time, untuk merawat diriku sendiri."


"Merawat dirimu untuk apa?" Tanya Samudra menggoda.


"Supaya pasanganku tidak selingkuh." Jawab Zivana.


Samudra menaikan satu halisnya, "Bukankah kamu begitu sering merawat dirimu sendiri? Tapi buktinya kekasih tak bergunamu itu tetap menyelingkuhimu." Ucap Samudra.


Tiba tiba saja mimik wajah Zivana berubah, kemudian melepaskan tangan samudra yang menahan pinggangnya. "Bisa tidak Kakak tidak mengungkit hal itu, Kakak kira aku tidak merasakan sakit hati di khianati saat hari pernikahanku? Aku sedang berjuang melupakannya Kak, tapi Kakak malah mengingatkanku." Kata Zivana dengan berusaha menekan emosinya.


"Ziv..."


Zivana menghela nafasnya. "Tolong jangan jadikan kegagalan pernikahanku menjadi bahan ledekan, Kak. Sungguh itu tidak lucu."


"Tidak ada orang yang ingin gagal, Kak. Aku hanya ingin merawat diri sendiri untuk suamiku sendiri, jika Kakak tidak suka, silahkan ceraikan saja aku, bukankah Kakak memang tidak pernah menyukai aku? Kakak menikahiku hanya karena menjaga kehormatan Papi, kalau begitu jangan belajar mencintaiku, jangan belajar menerimaku apa adanya, karena Kakak tidak akan pernah bisa melakukannya." Zivana meninggalkan Samudra yang diam membeku. Entah kemana tujuannya yang jelas Zivana hanya ingin menenangkan pikirannya sejenak.


Untuk pertama kalinya Samudra melihat wajah penuh keseriusan di wajah Zivana. Guratan kesedihan dan kekecewaan itu jelas adanya. Membuat Samudra menjadi merasa bersalah.


Zivana turun ke loby dan bertemu dengan Lova.

__ADS_1


"Ziv..." Panggil Lova kemudian menghampiri Zivana. "Mau kemana?" Tanya Lova.


Zivana menggelengkan kepalanya, "Tidak tau."


Lova melihat kesedihan di mata Zivana, lalu mengajaknya untuk duduk di kantin perusahaan.


Lova memesankan ice coklat untuk Zivana. "Minum, Ziv. Supaya kamu sedikit rileks."


"Thanks, Lov." Balas Zivana dengan tersenyum tipis.


"Ada apa, Ziv?"


Zivana menggelengkan kepalanya, Lova segera menggenggam tangan Zivana.


"Tidak mempercayaiku lagi?" Tanya Lova dengan nada bersedih.


"Kamu adik Kak Sam, kamu pasti akan membelanya jika aku mengeluh soal Kak Sam." Zivana menghembuskan nafas beratnya.


"Kalian bertengkar?"


Zivana menggelengkan kepalanya, "Tidak, mungkin aku saja yang terlalu terbawa perasaan."


Zivana menundukan kepalanya di meja dengan berbantalkan lengan, Lova mengusap punggung Zivana. Zivana memang mempunyai hati yang sensitif, sangat mudah tersinggung hanya saja Zivana tidak pernah bisa meluapkannya.


Jam istirahat pun sudah berakhir, Zivana kembali ke ruangannya dan begitupun dengan Lova.


"Kak jangan terlalu keras pada Zivana."


Samudra membaca pesan masuk bernamakan Baby Love.


"Mereka remaja labil." Gumam Samudra sambil menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.


Menjelang sore, Zivana memilih pulang bersama Lova. Lova sendiri tidak keberatan karena menurutnya, Zivana sedang tidak baik baik saja.


"Lov, ke salon Mami, yuk." Ajak Zivana yang kini sudah terlihat good mood kembali.


Lova melihat jam di pergelangan tangannya, "Udah sore, Ziv."


"Aku ingin spa, seharian duduk sambil mengarsipkan dokumen membuat pundakku sakit." Lalu Zivana mengangkat jari jari cantiknya sambil melihatnya satu persatu. "Dan sepertinya aku harus meni pedi, kasihan mereka tadi ku ajak menari di atas tuts keyboard komputer."


Lova memutar malas bola matanya, Zivana memang detail sekali soal perawatan kecantikannya.


"Kuku lancipmu harus di potong, Ziv.."


Zivana mengangguk, "Iya aku akan memotongnya, karena itu aku sekalian meni pedi."


Lova tampak berpikir, dirinya juga merasa lelah dan ingin relaksasi sejenak dengan memanjakan diri. "Baiklah."


"Oke, aku akan telpon Uncle Vincent untuk membooking VIP room hingga kita selesai."

__ADS_1


"Jangan lupa sediakan makan malam juga, Ziv. Kita pasti kelaparan dan aku tidak ingin sampai menahan lapar.


"Siapp Baby Love." Ledek Zivana meniru panggilan Samudra untuk adiknya itu.


Samudra kembali ke rumah orang tuanya saat jam makan malam, ia melihat heran karena hanya ada kedua orang tuanyanya yang tengah makan malam tanpa ada adik dan istrinya itu.


"Hai Sayang, sudah pulang?" Tanya Nadlyn kemudian Samudra mencium pipi Nadlyn.


"Iya Mom, kerjaanku sedang padat." Ucap Samudra lalu menarik kursi di sebrang Nadlyn.


"Batasi pekerjaanmu, Sam. Sekarang kamu sudah menikah, perhatikan juga istrimu." Kata Cean dengan bijak.


"Iya, Dad.."


"Dimana Baby Love dan Ziv, Mom?" Tanya Samudra heran.


Nadlyn mengernyitkan dahinya, "Apa Ziv tidak bilang padamu, Sam?"


"Bilang? Bilang apa, Mom?"


"Ziv dan Lova pergi ke salon Mami Yuri, mereka bilang mau spa dan relaksasi sekalian makan malam disana." Jelas Nadlyn karena tadi Lova menelpon Nadlyn agar tidak menunggunya untuk makan malam.


Samudra menghela nafas lalu memijat keningnya.


"Sam, apa Ziv menyusahkanmu di perusahaan?" Tanya Nadlyn.


Samudra menatap Nadlyn lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak, Mom. Hanya saja Ziv selalu saja tidak tau tempat dan selalu saja memikirkan kecantikannya dimanapun."


"Maksudmu?" Tanya Nadlyn tak percaya, sementara itu Cean hanya tersenyum karena tau apa yang di lakukan Zivana di kantor.


"Ziv bahkan sempat sempatnya maskeran di kantor, Mom. Ziv bilang takut kulitnya kusam karena stres memikirkan pekerjaan."


Nadlyn yang mendengarnya langsung tersenyum. "Jangan di marahi, Sam. Ziv sama seperti Mami Yuri, begitu memperhatikan kecantikannya. Dan itu semua bukan semata mata untuk dirinya sendiri, melainkan untuk suaminya juga kan."


Samudra diam mendengarkan apa kata Nadlyn.


"Sam, bukankan suatu kebanggaan jika istrimu itu selalu terlihat cantik, kamu pasti akan merasa bangga jika sudah mencintainya." Sahut Cean.


"Iya Dad Sam mengerti."


"Jangan terlalu keras pada Zivana, Sam. Ingatlah jika Zivana memiliki orang tua yang begitu menyayanginya, jika dia disakiti, akan ada orang tua yang ikut tersakiti juga, terlebih ke dua orang tua Zivana juga begitu menyayangimu, jangan mengecewakan Papi Dirga dan Mami Yuri." Nasihat dari Nadlyn.


Cean mengerti apa yang dikatakan oleh istrinya untuk anaknya itu, mengingat di masa lalu, Cean menyakiti Nadlyn dan Robi ikut terluka karena melihat anaknya yang hancur, terlebih yang menghancurkannya adalah Cean, pria yang sudah dianggap anak sendiri oleh Robi. Dan kini Cean tidak ingin Samudra mengulangi kesalahan seperti dirinya di masa lalu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf ya, hampir aja aku lupa Up karena tadi siang yang kometar cuma dikit, eh pas sore ternyata udah rame. 😄😄


Makasih teman teman readers 🤗

__ADS_1


__ADS_2