
"Kita makan malam dulu diluar." Ucap Samudra sambil menyetir.
Samudra menepikan mobilnya di restoran steak favoritnya, dulu Dirga lah yang slalu membawanya kesini, kini Samudra yang membawa putri kesayangan Dirga untuk makan malam disini.
Samudra memperlakukan Zivana dengan lembut, menarik kursi untuk Zivana duduki dan memberikan senyuman termanisnya untuk sang istri.
"Mau makan apa?" Tanya Samudra
"Rib eye steak with sauce mushroom, potato wedges, ice leci tea and banana split."
Samudra tersenyum, bahkan tanpa membuka menu, Zivana sudah hapal makanan di restoran ini. Samudra memesankan semua pesanan mereka pada waiters.
"Nanti kita berapa hari di Maldives?" Tanya Zivana dengan masih ketus.
"Satu minggu."
"Koq aku tidak tau ada perjalanan bisnis di Maldives, perusahaan asing mana yang bekerjasama dengan ARDA KARYA?" Tanya Zivana lagi.
"Perusahaanku kerjasama dengan perusahaan Dewantara, membangun resort milik Grand Royal hotel untuk pembangunan disana."
Zivana hanya menganggukan kepalanya. "Berkas berkasnya?"
"Sudah disiapkan oleh Jimmy." Jawab Samudra. "Sudah jangan bicara lagi pekerjaan. Kita sedang makan malam."
Zivana mencebik. "Sebentar baik, sebentar galak, dassaar si tuan pelit." Umpat Zivana pelan namun terdengar oleh Samudra.
"Aku mendengarmu, Bee."
Zivana segera mengalihkan pandangannya, ia mengedarkan matanya dan melihat sosok yang sangat ia kenali. "Kak Daniel." Gumamnya namun Samudra masih mendengarnya.
Samudra mengikuti arah mata Zivana, memang disana ada Daniel bersama seorang wanita yang juga sedang menikmati steak. Tapi wanita itu bukanlah Mitha, wanita yang pernah menggagalkan pernikahan Zivana bersama Daniel karena sedang mengandung anak Daniel.
Samudra melihat kembali pada wajah Zivana, Zivana tidak menunjukan ekspresi apapun.
"Masih sakit hati?" Tanya Samudra membuat Zivana menatap Samudra.
"Masih belum merelakannya?" Tanya Samudra lagi dengan dada bergemuruh namun berusaha setenang mungkin agar Zivana tidak tersinggung dan membuat mereka menjadi bertengkar.
"Untuk apa tidak merelakan pria murahan seperti itu?" Jawab Zivana dengan asal. "Aku sudah merelakannya bahkan tidak merasa sakit hati melihat pria murahan seperti itu hinggap dari satu wanita ke wanita lainnya. Murahan sekali bukan?"
"Daniel seorang parasit." Ucap Samudra membuat Zivana menatap wajah Samudra.
"Daniel sebagai anak dari istri ke tiga etau entah keberapa, tidak mempunyai hak waris yang kuat karena semua kekayaan Ayahnya sudah dipegang kendali oleh istri pertama dan anak anak dari istri pertamanya." Samudra melihat ekspresi Zivana yang tenang dan tidak ada rasa kecewa. "Daniel sengaja mendekati wanita dari orang kaya untuk membuatnya berada di titik aman. Aku menyelidikinya saat kalian belum juga melunasi sewa ballroom hotel, catring bahkan baju pengantin kalian."
"Dan Kakak yang melunasinya." Sahut Zivana dengan cepat.
"Ya dan aku tidak menyangka jika apa yang saat itu aku lunasi, ternyata malah menjadi pernikahanku. Setidaknya aku tidak rugi rugi amat." Samudra tertawa dan Zivana tersenyum.
"Dassar tuan pelit si paling tidak mau rugi." Cibir Zivana.
__ADS_1
"Tapi cinta, kan?" Goda Samudra.
"Ish percaya diri sekali. Kata siapa?"
Samudra meraih tangan Zivana untuk menggenggamnya. "Aku merasakannya, aku merasakan kamu mencintaiku." Lalu Samudra mengecup punggung tangan Zivana membuat wajah Zivana merona merah.
"Kakak." Zivana ingin nenarik lengannya namun di tahan oleh Samudra.
"Say you love Me, Ziv?"
Zivana menggelengkan kepalanya. "Kartu dulu, baru aku mau mengatakannya."
Samudra tertawa, bahkan saat di Maldives nanti ia sudah menyiapkan tiga kartu andalannya untuk Zivana nanti. Namun Samudra masih menahannya untuk memberikan kejutan bertubi tubi untuk Zivana nanti.
Samudra melepaskan genggaman tangannya saat waiters mengantarkan pesanan mereka. Samudra melirik ke arah Daniel dimana Daniel tengah menatap Zivana dari jauh.
Samudra tidak suka jika miliknya diperhatikan seperti itu. "Ziv, jika sedang keluar, jangan dandan terlalu cantik." Kata Samudra seolah posessif.
"Gak dandan juga aku memang cantik Kak." Ucapnya percaya diri.
"Iya kamu memang cantik, aku pastikan nanti kamu tidak boleh keluar rumah jika tidak pergi bersamaku."
"Lho memang kenapa?"
"Banyak singa lapar melihatmu dengan tatapan memangsa." Kesal Samudra dan Zivana melihat sekilas ke arah Daniel yang tengah menatap dirinya.
"Jadi cemburu?" Tanya Zivana sambil menopang dagunya menatap wajah Samudra yang sedang mengiris steak di piringnya.
Zivana tertawa, "Benar kata Mami, Kak Sam ternyata manis sekali."
"Sudah, jangan memujiku terus, memujiku seperti apapun tetap tidak akan aku beri kartu." Balas Samudra dengan senyum smirknya.
"Awas saja, tidak akan aku beri ciuman selamat pagi lagi."
"Mana bisa begitu?" Protes Samudra.
"Ya bisalah, Kakak aja pelit, ya sudah aku juga bisa pelit." Zivana kembali memakan steak di hadapannya.
Selesai makan, Samudra membawa Zivana untuk pulang, namun saat di parkiran, mereka berpapasan dengan Daniel.
"Ziv...." Daniel tersenyum seolah menebar pesonanya.
Samudra menarik Zivana agar berada di balik tubuhnya, namun Zivana menahannya dan tetap berada di samping Samudra.
"Ada apa?"
"Selamat untuk pernikahanmu." Kata Daniel seolah meledek.
"Ya terimakasih, dan terimakasih juga karena perbuatanmu yang sudah menghamili wanita lain tlah menyelamatkanku dari parasit sepertimu."
__ADS_1
Daniel mengepalkan tangannya.
"Apa? Kamu menghamili wanita lain?" Tanya wanita di sebelah Daniel.
Zivana menatap wajah wanita yang bersama Daniel, "Dia ini parasit, hinggap dari satu wanita ke wanita lain untuk hidup dengan aman. Aku kira dia menikah dengan wanita yang di hamilinya sudah tiga kali, ternyata malah mencari mangsa baru." Kata Zivana.
"Diam kau, Ziv!!"
"Kaulah yang diamm!!" Sentak Zivana. "Aku bersyukur gagal menikah denganmu dan menikah dengan Kak Sam, setidaknya Kak Sam lebih baik dari parasit sepertimu." Zivana menarik tangan Samudra dan meninggalkan Daniel yang sedang bertengkar dengan kekasihnya itu.
Zivana menghembuskan nafas leganya setelah berada di dalam mobil. Tangan Samudra terulur mengusap puncak kepala Zivana.
"Gadisku yang hebat." Kata Samudra membuat Zivana tersenyum.
"Harusnya tadi aku tinju dia, Kak."
"Lalu kenapa tidak kamu tinju?"
"Tanganku terlalu bersih untuk meninju parasit seperti dia, pria murahan yang tidak berkelas, menjijikan." Jawab Zivana.
"Jadi aku lebih baik darinya?" Tanya Samudra menggoda.
Zivana seolah berpikir, "Hemm sebenarnya tidak juga. Kalau dia parasit, kalau Kakak itu pelit. Beda tipislah.."
"Apa? Mau menyamakan aku dengannya? Hei dengar ya gadis manja, aku sama dia tuh ibarat bumi dan langit, jauh banget."
Zivana tertawa membuat Samudra merasa gemas, "Awas ya." Kata Samudra
"Gak takut." Balas Zivana menantang.
"Lihat aja nanti."
"Emang nanti mau ngapain?"
"Mau ngapa ngapain kamu."
"Jangan harap."
"Terus harus bagaimana biar kamu mau kasih kewajibanmu?" Tanya Samudra.
"Kan udah tau jawabannya?"
"Apa?" Tanya Samudra putra pura tidak tau.
"Kartu tanpa limit."
Samudra menghela nafas, "Kartu lagi, kartu lagi."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Like, Koment, hadiah dan Vote sangat berarti untuk menaikan semangatku dalam menulis bab selanjutnya 🙏