
"Bisakah jika aku menikahi sepupuku sendiri?"
Nadlyn mendekat ke arah Samudra. "Sam.."
Samudra menatap wajah Nadlyn. "Mom, aku ingin menyelamatkan kehormatan Papi." Ucapnya tulus.
"Pernikahan bukan sesuatu yang main main." Kata Nadlyn.
Samudra mengangguk. "Tidak apa, Mom. Aku juga tidak berniat mempermainkan pernikahan ini. Aku ingin menyelamatkan kehormatan Papi dan urusan nanti biarlah nanti kita bicarakan." Kata Samudra dengan yakin.
Nadlyn sangat tau, Samudra penuh perhitungan dan tidak mungkin melakukan sesuatu dengan gegabah.
"Mommy cukup memberi restu padaku." Kata Sam sambil menggenggam tangan Nadlyn. Bagi Samudra, restu Nadlyn adalah segalanya.
Nadlyn mengangguk, ia yakin sang putra bisa bertanggung jawab dengan perbuatannya saat ini.
Samudra mendekat ke arah Dirga dan menggenggam tangan Dirga. "Pi, Samudra akan menyelamatkan kehormatan Papi. Samudra ijin untuk menikahi Zivana, apa Papi menyetujuinya?"
Dirga menatap lekat wajah Samudra, wajah seorang pria yang ia sayangi bahkan semenjak Samudra masih di dalam perut Nadlyn. Dirga tidak menyangka jika pria yang ia sayangi sedari kecil dulu menyelamatkan kehormatannya.
"Kamu tidak akan menyesalinya, Boy?" Tanya Dirga.
"Papi hanya perlu merestui aku, tidak mungkin aku akan menyakiti putri yang Papi sayangi." Kata Samudra dengan sungguh sungguh.
Dirga melihat ke arah Robi. Baik Samudra maupun Zivana adalah cucunya mesi dari berbeda nenek.
"Pa, bagaimana menurut Papa?" Tanya Dirga pada Robi.
Robi mengangguk yakin, bahkan sebelumnya, Robi sudah mempelajari hal ini, "Tidak ada larangan menikah dengan sepupu sendiri." Jawab Robi.
Bahkan pihak petugas catatan sipilpun membenarkan jika menikah dengan sepupu tidak masalah dan tidak dilarang oleh negara. Secara medis pun hal itu tidak akan ada masalah.
"Terimakasih Boy." Dirga memeluk erat Samudra. "Papi titip Ziv. Bimbinglah dia dengan kasih sayangmu." Kata Robi penuh harap.
Pernikahan itupun terlaksana, dalam hitungan kurang dari satu jam, pihak catatan sipil di bantu oleh asisten Cean, berhasil menyiapkan berkas pernikahan Samudra bersama Zivana. Samudra sendiripun heran jika berkas berkas itu bisa siap dalam waktu kurang dari satu jam.
Riasan Zivana pun di perbaiki oleh Vincent dan Zivana terlihat lebih segar dengan riasan yang sudah diperbaiki.
"Terimakasih, Kak." Lirih Zivana saat mereka selesai menandatangani berkas pernikahan mereka.
__ADS_1
Samudra tidak menjawab apapun, dirinya juga bahkan tidak menyangka akan melakukan hal senekat ini. Tidak ada perasaan lain di hati Samudra terhadap Zivana kecuali rasa sayang sebagai adik karena Zivana tumbuh besar bersama Lova.
"Jangan membuat ulah lagi, bersikaplah dewasa agar Papi bisa tenang dan hidup dengan sehat, Ziv." Balas Samudra yang membuat Zivana terdiam seketika.
Pernikahan itu di jaga ketat oleh body guard yang di sediakan oleh Cean, bahkan semua tamu dari pihak Daniel dilarang masuk oleh body guard dan membuat mereka terkejut jika pernikahan anak dari pengusaha Rudianto gagal bersanding dengan salah satu kerabat ARDA KARYA dan lebih terkejutnya lagi, ternyata calon menantu Rudianto malah menikah dengan CEO ARDA KARYA yang tak lain adalah kerabatnya sendiri.
Banyak gosip bermunculan, diantaranya tentang pernikahan agar tahta ARDA KARYA tidak jatuh ke tangan orang asing karena itu pernikahan ini dilakukan. Namun Cean dengan segala kekuasaannya membungkam mulut media dan akan menutup media jika menerbitkan beritannya.
Keluarga Rudianto merasa geram karena tamu mereka di alihkan untuk pulang dan dilarang masuk di resepsi pernikahan Zivana yang harusnya nenikah dengan Daniel.
"Bodoh!!" Maki Rudi pada Daniel. "Harusnya kau menghamili Zivana bukan malah wanita parasit ini." Sentak Rudi.
Daniel hanya diam karena kini calon tambang emasnya sudah hilang dari genggamannya.
"Kau tidak tidak tau, pengaruh ARDA KARYA itu sangat besar, sekarang mau di taruh dimana mukaku, gagal berbesan dengan kerabat ARDA KARYA. Dassar anak Bodoh!" Makinya lagi.
"Urus wanita itu, Ayah tidak mau menerima wanita dari kalangan biasa." Ucap Rudi kemudian pergi meninggalkan Daniel.
Samudra dengan tampan memakai jas yang di pesan dadakan, beruntung pihak butik selalu menyediakan jas jas mewah tanpa harus menjahitnya terlebih dahulu. Samudra bersanding bersama Zivana di pelaminan menyambut tamu yang datang, yang kebanyakan adalah kerabat Dirga dan juga Robi.
Zivana merasa risih bersanding dengan Samudra karena dirinya memang tidak terlalu dekat Samudra.
Zivana menggelengkan kepalanya.
"Mau minum?" Tanya Samudra lagi.
"Tidak Kak."
"Kalau begitu diamlah, kamu seperti cacing kepanasan, tidak bisa diam." Kata Samudra dengan berbisik.
Zivana mencebik, ia mengira jika Samudra perhatian padanya. Namun ternyata Samudra tidak nyaman dengan Zivana yang sedari tadi tidak bisa diam.
Pesta resepsi itupun akhirnya selesai. Samudra menghela nafas leganya karena berhenti menerima tamu, tubuh dan pikirannya terasa lelah sekali.
Entah berapa banyak Dirga mengucapkan terimakasih pada Samudra karena selain menyelamatkan kehormatannya. Samudra juga menaikan derajat Dirga dengan menikahi Zivana.
Samudra membawa Zivana ke kamar yang sudah disiapkan untuk pengantin. Baju ganti milik Samudra juga sudah dibawakan oleh Jimmy asistennya.
Zivana merasa canggung berada satu kamar dengan Samudra. Hingga ia melihat ponsel Samudra berdering dan memperlihatkan nama Raelyne. Zivana sangat tau jika Raelyne adalah cinta pertamanya Samudra, hal itu Zivana ketahui dari Lova.
__ADS_1
"Untuk apa Rill menelpon Kak Sam?" Tanya Zivana dalam hatinya.
Sebuah pesan masul ke dalam ponsel Samudra, Zivana membacanya sekilas dari notifikasi yang ada di depan layarnya.
"Kak Sam menikahinya karena pelarian dariku, kan?"
"Pelarian?" Gumam Zivana. "Apa Rill sudah menolak Kak Sam hingga Kak Sam menikahiku karena untuk perlarian?"
Ceklekk.
pintu kamar mandi terbuka dan Samudra keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian lengkap. Zivana menjadi gugup kembali saat melihat Samudra yang sudah terlihat begitu segar.
"Mandilah." Kata Samudra pada Zivana.
Zivana mengangguk dan melewati Samudra untuk segera masuk ke dalam kamar mandi.
Samudra mengambil ponselnya dan melihat panggilan tidak terjawab juga sebuah pesan dari Rill. Samudra mengabaikannya bahkan ia segera menghapus pesan Rill. Baginya Rill hanya masa lalu dan kini Samudra sudah menikah dan mempunyai tanggung jawab. Meski Samudra menikah tanpa cinta, namun menurutnya pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan Samudra akan menjalaninya. Terlebih wanita yang dinikahinya adalah anak dari pria yang Samudra hormati, membuat Samudra merasa bertanggung jawab dan mulai hari ini, Samudra akan membimbing Zivana untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan tidak plin plan meski terlihat sulit, namun Samudra tidak akan menyerah untuk hal itu.
Sementara itu, Robi dan Cean tengah membicarakan sebuah rahasia besar.
"Berhasil, Pa..." Kata Cean dengan percaya diri.
"Ide Papa tidak pernah ada yang gagal."
"Anak Papa itu lemah sekali, harusnya Dirga bisa tegas sedari awal."
Robi menghela nafasnya, "Dirga terlalu sayang pada Zivana sampai tidak pernah bisa berkata tidak."
"Tapi.." Robi menjeda kalimatnya sejenak. "Terimakasih Cean, sudah merestui Samudra bersama Zivana." Robi menepuk pundak Cean.
Cean hanya tersenyum, ia yakin jika sang putra akan menemukan kebahagiaan bersama Zivana setelah di beri harapan palsu oleh Rill.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Note:
Disini Rill aku buat menyebalkan, karakter Rill yang dimanja oleh Kakeknya membuat Rill menjadi sedikit egois dan menyebalkan tapi bukan antagonis ya.
Aku akan Up satu lagi, tapi tolong bantu Votenya mumpung hari senin ya 🙏
__ADS_1