Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 39


__ADS_3

Setelah Dirga membawa Yuri dan Samudra untuk mencari ice cream, Cean kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Namun Cean tidak bisa berpindah ke tempat tidur sendirian.


Cean mencoba untuk berpindah, tetapi tangannya tidak kuat menopang tubuhnya dan lagi lagi Cean tergelincir dari atas kursi roda. Cean terduduk dilantai dengan posisi kursi Roda yang sudah terbalik.


Braaakk..


"Ceannn..."


Cean menoleh ke arah sumber suara rupanya Nadlyn tengah berlari ke arahnya dan mencoba membantunya.


"Kamu mau ngapain?" Tanya Nadlyn dengan paniknya.


"Aku.. Aku..." Cean diam membeku dan hanya melihat pergerakan Nadlyn yang sedang membenarkan posisi kursi rodanya.


"Kenapa tidak memanggil pelayan untuk membantumu?" Tanya Nadlyn lagi.


"Dimana Mommy dan Daddy? Kenapa rumah sepi sekali?" Tanya Nadlyn bertubi tubi.


Cean masih terpaku melihat keperdulian Nadlyn padanya.


"Ayo aku bantu, kamu mau ke tempat tidur atau di kursi roda?" Tanya Nadlyn lagi namun Cean masih diam.


"Ceann.. Hei..." Panggil Nadlyn saat melihat Cean yang malah diam seperti melamun.


"Ah iya..." Cean mendapatkan kembali kesadarannya.


"Tidak usah membantuku, tolong panggilkan saja pelayan." Kata Cean mencoba menolak.


Cean terlalu malu dengan kondisinya yang seperti ini, ia seperti tidak percaya diri. Berbeda dengan Nadlyn yang merasa jika Cean masih menolaknya.


"Tapi di luar tidak ada orang, Cean. Mungkin semua pelayan berada di paviliun belakang." Kata Nadlyn yang memang mengetahui jika hari libur, Nanda membiarkan para pelayannya untuk sedikit santai.


"Panggilkan saja security untuk mengangkatku." Kata Cean lagi.


"Pak Imam sendirian jaga pos rumah, tidak ada penggantinya." Balas Nadlyn.


Cean diam seolah berpikir.


"Aku hanya ingin menolongmu, Cean." Kata Nadlyn." Lantai ini dingin, tidak baik untuk kakimu." Kata Nadlyn kembali.


Cean ingin menolak, namun Nadlyn sudah bergerak. Nadlyn berdiri di depan Cean dan membungkuk mencoba mencoba mengangkat Cean dari lantai untuk di pindahkan ke kursi roda.


Namun Cean merasakan hal lain saat bagian Nadlyn yang menonjol sedikit terlihat karena Nadlyn membungkuk juga saat menyentuh tubuh Cean meski terhalang pakaian masing masing. Sesuatu bereaksi dari bagian tubuh Cean, sesuatu yang sudah lama ia tak rasakan lagi seakan mati rasa.


"Aku merasakannya lagi. Kenapa bersentuhan dengan Nadlyn membuatku bisa merasakannya lagi?" Batin Cean.

__ADS_1


Namun tubuh Cean yang lebih besar dari Nadlyn membuat Nadlyn sedikit kesulitan, hingga saat Nadlyn menaikan Cean ke atas tempat tidur, tubuh Nadlyn tak seimbang dan mereka jatuh ke atas tempat tidur dengan posisi Nadlyn di atas Cean.


Akhhh..


Pekik keduanya, namun mereka sama sama terdiam saat mata mereka saling menatap satu sama lain.


Pikiran Cean dan Nadlyn kembali ke masa lalu, saat kejadian malam panas itu di resort milik keluarga Cean. Cean yang tidak bisa mengendalikan hasrat efek minuman keras dan Nadlyn yang terbawa perasaan hingga tak bisa menolak sentuhan Cean.


"Nad...." Lirih Cean yang kemudian membuat Nadlyn tersadar.


"Akhh.." Nadlyn tersadar dan segera beranjak dari tubuh Cean. "Maafkan aku Cean."


Namun Cean menahan pinggang Nadlyn dan Nadlyn tidak bisa beranjak dari tubuh Cean.


Mata mereka saking bertatapan, Nadlyn melihat sesuatu yang lain di mata Cean. Seolah ada yang ingin di sampaikan namun Cean terlihat ragu dan menahannya.


"Katakan apa yang ingin kamu katakan." Kata Nadlyn seolah membaca pikiran Cean.


Cean tetap diam dengan masih menatap kedua bola mata Nadlyn.


"Mommm.. Mooommmm." Teriak Samudra dari luar kamar saat memasuki rumah Nanda, Samudra tau jika Nadlyn berada di rumah Oma nya itu kerean melihat mobil Nadlyn terparkir di garasi rumah Nanda yang luas.


Nadlyn terkesiap dan langsung beranjak dari tubuh Cean lalu merapaihkan pakaiannya yang sedikit berantakan.


"Mom..." Panggil Samudra.


"Iya Sayang, Mommy membantu Uncle ke tempat tidur karena tadi Uncle terjatuh." Kata Nadlyn mencoba menetralisir kegugupannya.


"Uncle terjatuh lagi? Maafkan aku Uncle karena meninggalkan Uncle." Kata Samudra yang terlihat panik.


Nadlyn melihat hal itu, jelas sekali jika Samudra begitu memperdulikan Cean.


"Tidak apa apa, aku hanya tergelincir saja." jawab Cean seolah baik baik saja.


"Apa kaki Uncle sakit?" Tanya Samudra.


"Tidak, Mommy mu menolong Uncle." Jawab Cean lagi. "Dimana Dirga?" Tanya Cean pada Samudra.


"Papi di ruang tamu."


"Ayo kita kesana." Ajak Cean.


"Sini aku bantu." Sahut Nadlyn mencoba membantu Cean memindahkannya dari sisi tempat tidur ke kursi roda.


Cean tidak menolak dan Samudra juga ikut membantu dengan cara memegangi kursi roda yang sebelumnya sudah di rem terlebih dahulu.

__ADS_1


Lagi lagi Cean merasakan sesuatu bergejolak dari bagian tubuhnya. Hasrat yang sudah lama hilang kini seolah kembali.


Nadlyn segera meninggalkan kamar saat Cean sudah duduk di kursi roda. Bersama Cean di depan Samudra membuatnya tidak bisa mengendalikan perasaannya. Nadlyn takut dirinya terbawa perasaan kembali.


"Uncle, ada apa dengan Mommy?" Tanya Samudra yang heran melihat Nadlyn seperti salah tingkah.


Cean mengerdikan bahunya, "Entahlah, mungkin Mommy mu sedang puber ke dua." Jawab Cean tanpa melihat berapa umur lawan bicaranya.


"Apa itu puber, Uncle?" Tanya Samudra yang menyadarkan Cean jika Samudra masih berusia enam tahun dan belum mengerti kata kata seperti itu.


Cean merutuki dirinya sendiri, sepertinya Cean memang harus banyak belajar dari Dirga bagaimana bersikap menghadapi anak kecil seusia Samudra.


"Ayo kita keluar." Ajak Cean mengalihkan perhatian dan beruntung karena Samudra tidak bertanya lagi.


Nadlyn tengah duduk bersama Dirga dan Yuri, namun terlihat jika Dirga hanya diam saja dan Yuri terlihat akrab bersama Nadlyn.


"Sudah makan ice creamnya?" Tanya Cean pada Samudra.


Samudra mengangguk, "Lain kali Uncle yang mengajakku makan ice cream ya."


Cean terdiam.


"Kenapa Uncle?" Tanya Samudra.


"Itu akan sangat lama, Uncle masih belum bisa berjalan dan membawamu ke cafe untuk makan ice cream." Jawab Cean.


"Memang kenapa jika memakai kursi roda?" Tanya Samudra.


Cean terdiam kembali.


"Aku malu." Kata Cean terdengar lirih. "Memangnya kamu tidak malu jalan bersamaku yang memakai kursi roda?" Tanya Cean lagi.


Samudra menggelengkan kepalanya. "Malah aku ingin sekali pergi bersama Uncle."


"Kenapa?"


"Karena aku menyayangi Uncle, aku ingin merasakan pergi bersama Uncle, tidak perduli meskipun Uncle di kursi roda, aku tetap ingin pergi bersama Uncle."


Jawaban Samudra membuat Cean menghentikan kursi rodanya dan menatap mata Samudra yang penuh kejujuran.


"Apa kamu tau sesuatu tentangku?" Tanya Cean mencurigai.


Samudra yang cerdas balik bertanya, "Memang apa yang aku tidak tau, Uncle?" Tanyanya yang membuat Cean kembali terdiam seketika.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2