Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 60


__ADS_3

Didalam pesta, hanya Dirga yang tidak menikmatinya, sesekali ia melihat ke sekelilingnya berharap menemukan sesorang yang ia kenal. Sementara itu Hellena bertemu dengan relasinya dan berbincang seputar kerjasamanya.


Semenjak pulang dari rumah sakit, Dirga tidak pernah menghubungi Yuri lagi, Dirga hanya ingin menyelami hatinya dulu, baginya pernikahan bukanlah hal yang main main, meski Dirga sudah di jodohkan dengan Yuri tetapi Dirga benar benar ingin menikah karena cinta.


Yuri pun sama, entah mengapa ia tak mau menghubungi Dirga. Bahkan hampir dua minggu ini Yuri tinggal di apartemennya untuk menghindari Rena. Meski bagaimanapun, Rena lebih mempunyai hak tinggal di rumah itu karena ibu nya Rena istri sah dari ayahnya sementara Yuri lahir tanpa sebuah ikatan pernikahan.


Yuri menyibukan diri dengan pekerjaan, ia mulai bekerja mengelola perusahaan milik ayannya meskipun itu hanya perusahaan anak cabang. Yuri yang pintar mampu memegang jabatan tinggi dan menaikan keuntungan perusahaan dan hal itu membuat Hermawan semakin yakin memberikan perusahaanya pada Yuri, bukan pada Rena.


Sebelum datang ke acara resepsi pernikahan Nadlyn dan Cean, Yuri mendatangi salon kecantikan yang di rekomendasikan oleh Nadlyn saat Nadlyn datang menemuinya untuk memberikannya sebuah kartu undangan untuk resepsi pernikahannya.


"Lepas kacamatamu, lagi pula matamu tidak minus, dan ini adalah salon langgananku, aku sudah membuatkan janji untukmu, dia akan make over kamu supaya kecantikanmu semakin bersinar. Tolong jangan kecewakan aku, datanglah dengan dirimu yang baru saat resepsi pernikahanku." Kata Nadlyn saat itu sambil memberikan sebuah kartu nama salon langganannya.


Yuri melangkah masuk ke dalam salon, meski ragu namun ia mencoba meyakini hatinya bahwa dirinya berhak untuk terlihat cantik.


"Nona Yuri temannya Nona Nadlyn?" Tanya seorang pria kemayu bernama Vincent.


Yuri mengangguk.


"Ya ampun Nona Yuri, sebentar lagi acara resepsi Nona Nadlyn dimulai, koq baru datang sih. ayo cepat duduk." Kata Vincent seraya mendudukan Yuri di kursi depan cermin besar.


Vincent menilik penampilan Yuri lalu membuka kaca mata Yuri. Yuri hanya diam saja sesuai nasihat dari Nadlyn agar memasrahkan dirinya di tangan Vincent.


Vincent pun membuka ikatan rambut Nadlyn dan membiarkannya tergerai.


"Baiklah, aku tau apa yang harus aku lakukan padamu." Kata Vincent dan memulai aksinya.


Hampir dua jam Vincent me make over Yuri dan terlihat sangat puas. Vincent pun memberikan Yuri pakaian yang sudah Nadlyn bawakan saat membuat janji dengan Vincent.


Yuri melihat dirinya di kaca cermin, dengan sebuah dres yang elegan berwarna peach dan tatanan rambut bergelombang di bagian bawahnya juga make up natural seperti yang sering dipakai oleh Nadlyn.


Yuri memegang ke dua pipinya. "Ini aku?"


"Bukan, itu arwahmu." Jawab Vincent dengan asal.

__ADS_1


Yuri tertawa, "Kamu ajaib sekali, ini cantik."


"Pada dasarnya, kamu memang sudah cantik, hanya saja kamu tidak percaya diri." Jawab Vincent.


"Sudah sudah, ayo kita pergi, nanti keburu pestanya selesai." Ucap Vinecent yang ikut di undang juga oleh Nadlyn.


"Kita pergi bersama?" Tanya Yuri.


"Tentu saja. Memangnya kamu bawa mobil?" Tanya Vincent yang tau jika tadi Yuri datang menggunakan Taxi biru.


Yuri mengangguk cepat. Meski Vincent pria kemayu namun tampilan luarnya Vincent terlihat sangat maco.


Mereka tiba di tempat di Grand Hotel, tempat di gelarnya resepsi pernikahan Cean dan Nadlyn.


Vincent menawarkan diri menjadi pasangan Yuri dan Yuri pun tidak keberatan karena Vincent merupakan pria kemayu yang tidak menyukai seorang wanita. Namun siapa sangka, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sangat serasi.


Dirga pun tak sengaja melihat hal itu, mata tajam Dirga semakin tajam menatap Yuri yang menebar senyum kepada siapa saja yang tersenyum padanya.


Dirga merasakan dadanya bergemuruh, apapagi saat melihat tangan Yuri yang melingkar di tangan kekar Vincent dan juga pakaian yang Yuri kenakan, sebuah Dres dengan bagian dada yang rendah juga bahu yang terbuka.


"Jika kamu pria tulen, mungkin aku mau jadi kekasihmu." Balas Yuri.


"Oh No, aku lebih suka dengan pria apa lagi pria itu yang sedang menatap kita seperti ingin memangsa." Ucap Vincent sambil melihat ke arah Dirga dan Yuri mengikuti arah mata Vincent.


"Kak Dirga." Gumam Yuri yang terdengar oleh Vincent.


Yuri memalingkan wajahnya, ia sudah menentukan sikap untuk Dirga. Penolakan Dirga untuk menikahinya membuat Yuri yakin jika selama ini Dirga tidak pernah bisa membalas cintanya, dan hal itu membuat Yuri ingin melepaskan Dirga dan menata hidupnya sendiri. Yuri tidak ingin memaksakan sebuah hubungan yag nantinya malah akan membuat mereka tersakiti satu sama lain.


Yuri pun kecewa pada Dirga karena dua minggu ini tidak menghubunginya seolah melupakan Yuri atau menghindari Yuri, dan Yuri pun cukup kecewa melihat Dirga datang di pesta ini tanpa mengajak dirinya.


Vincent membawa Yuri untuk naik ke atas pelaminan dan memberikan selamat pada Cean dan Nadlyn, Dirga pun tak lepas terus menatap Yuri dengan tajam.


"Sepertinya Kakakku terpesona oleh kecantikanmu." Kata Nadlyn berbisik di telinga Yuri. "Kamu cantik sekali."

__ADS_1


Yuri tersenyum, "Aku sudah mengambil keputusan kak."


"Jangan ikuti emosimu, Ri." Kata Nadlyn memberi nasihat.


Yuri hanya tersenyum dan tidak megatakan hal apapun lagi.


Vincent dan Yuri pun turun, namun Yuri terkesiap saat tiba tiba saja Dirga menarik tangannya dan membawanya ke tempat yang sepi.


"Kak, lepas!!" Kata Yuri sambil menarik tangannya.


Dirga melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tangan Yuri.


"Kamu sengaja ya, mau menggoda orang disini?" Tanya Dirga sedikit meninggi.


"Siapa yang mau menggoda? Kakak berlebihan!!"


"Kamu gak lihat pakaianmu seperti apa?" Dirga melepas jas yang ia pakai dan memakaikannya dengan paksa untuk menutupi bahu Yuri yang terbuka. "Bisa gak sih gak menyusahkan aku?"


Yuri hanya diam dan tidak melawan. Dirga melihat ke arah jari Yuri yang tidak memakai cincin pertunangan mereka.


"Kemana cincinmu?" Tanya Dirga sambil menunjukan telapak tangan Yuri.


Namun Yuri tetap saja diam.


"Punya mulut gak sih? Susah jawab pertanyaan aku?" Tanya Dirga masih dengan nada tinggi.


Yuri menghela nafasnya sejenak, "Kakak punya hati gak sih? Bisa gak bicara tanpa harus membentak aku?"


Mata Yuri sudah mengembun, namun Yuri menahannya agar air mata itu tidak keluar.


Yuri meraih sesuatu di tas kecilnya. "Ini.." Kata Yuri sambil memberikan cincin nya pada Dirga.


"Aku mengembalikan cincin ini pada Kakak. Mulai detik ini Kakak bebas, aku tidak akan mengganggu Kakak lagi. Aku akan menjauh dari Kakak, aku tidak akan menyusahkan Kakak lagi." Ucap Yuri dan kini air matanya terjatuh begitu saja.

__ADS_1


Yuri juga melepas jas milik Dirga yang tadi Dirga pakaikan untuknya. "Aku tidak butuh jas Kakak, aku tidak ingin berhutang apapun pada Kakak." Yuri berjalan sambil mengusap air mata di pipinya dan melewati Dirga yang diam seribu bahasa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2