Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 87


__ADS_3

"Kak, secepat itu Kakak melupakan perasaan Kakak padaku?" Tanya Rill dengan menatap tajam Samudra.


"Rill, dengarkan aku." Kata Samudra ingin menjawab apa yang ditanyakan oleh Raelyne.


"Kamu sudah memiliki kekasih bernama Dylan kan? Lalu untuk apa kamu menanyakan kembali perasaanku?" Tanya Samudra. "Dan satu hal, aku sudah menikah, duniaku teralihkan begitu saja pada istriku." Samudra menoleh ke arah Zivana. "Dia istriku, dan untukku pernikahan bukanlah hal yang main main." Lalu Samudra kembali menatap Rill, "Jangan ganggu rumah tanggaku, kamu yang memberi harapan palsu untukku, aku hanya berusaha move on darimu dan Zivana membuatku mengalihkan pikiran dan hatiku dari kamu untuknya."


Jawaban demi jawaban Samudra membuat Rill diam seribu bahasa, Rill sendiri merasa bodoh mengapa ia egois. Memiliki Dylan namun tidak ingin melepas Samudra.


"Pulanglah, Rill. Jangan menemuiku jika bukan urusan pekerjaan dan acara keluarga kita." Pinta Samudra dan Rill semakin tidak bisa berkata kata.


Rill akhirnya keluar dari ruangan Samudra, dan Zivana langsung melepaskan lengan Samudra dan berdiri, namun Samudra segera menarik lengan Zivana dan membuat Zivana jatuh di pangkuan Samudra.


"Kaakkk..."


Samudra mengarahkan Zivana untuk tetap duduk di pangkuannya namun menghadap ke arah dirinya hingga membuat rok sepan Zivana sedikit naik.


Samudra mengusap paha mulus itu, membuat Zivana sedikit meremang dan menutup matanya kala merasakan sentuhan itu.


Samudra mengecup bibir Zivana sekilas, "Cemburu?" Tanya Samudra ambigu.


Zivana membuka matanya dan menatap kedua bola mata Samudra. Samudra mengarahkan tangan Zivana agar melingkar di leher Samudra dan Zivana tidak menolaknya.


"Katakan jika kamu memang cemburu." Kata Samudra dengan lembut.


"Aku tidak tau." Lirih Zivana.


"Kamu tidak suka Rill menemuiku?" Tanya Samudra.


Zivana menganggukan kepalanya.


"Apa yang kamu rasakan saat Rill mencariku?"


"Aku hanya tidak suka saja, dan aku senang melihatnya marah, dia gadis yang manja sekali, aku tidak suka." Ucap Zivana.


"Kamu juga manja sekali." Kata Samudra.


"Tapi tidak seperti Rill. Rill selain manja juga egois, merasa harus selalu diperhatikan oleh orang lain. Merasa semua harus tertuju padanya. Aku tau itu."


Samudra merapihkan anak rambut Zivana ke belakang telinganya, Samudra memang tau betul jika Rill begitu di manja sehingga membuat dirinya menjadi egois.


"Jangan membicarakannya, aku sedang bertanya tentang perasaanmu." Kini Samudra bahkan menelusuri leher jenjang Zivana.


"Ahh Kak, jangan disini." Kata Zivana yang merasakan tubuhnya sedikit berdesir.

__ADS_1


"Lalu dimana? Hem..." Samudra menggoda Zivana.


Zivana menatap lekat wajah Samudra. "Apa yang Kakak rasakan padaku?"


"Memang kenapa?"


"Aku ingin tau."


"Jika aku juga tidak tau, bagaimana?"


"Aku tidak mau memberikannya pada Kakak, aku ingin semua terjadi karena cinta." Jawab Zivana.


"Tetapi kamu istriku."


Zivana mengangguk, "Tapi aku ingin melakukannya karena cinta, karena aku mencintai dan karena aku juga begitu di cintai."


Ceklek..


"Aaaaaaaa." Pekik Lova lalu menutup mata. "Kalian mesum di kantor." Pekiknya lagi, beruntung Rani dan Jimmy belum kembali dari istirahatnya dan tidak mendengar teriakan Lova.


Zivana segera turun dari pangkuan Samudra dan berlari ke arah Lova lalu menutup mulutnya. "Diam Lov, nanti di dengar orang dan kira macam macam."


Sementara itu Samudra hanya bersikap cuek lalu berdiri untuk membenahi jas nya.


"Kami tidak macam macam, Ziv."


"Bee, macam macam juga tidak apa, kita sudah suami istri." Samudra menggoda Zivana dan wajah Zivana langsung memerah.


"Tuh kan...."


"Baby Love, jangan menggoda istriku." Kata Samudra dan membuat Zivana menjadi salah tingkah karena Samudra menyebutnya istriku.


"Ada apa kemari? Tumben sekali." Kata Samudra mengalihkan pembicaraan.


Lova berjalan masuk dan duduk di sofa, "Aku hanya takut Rill menyakiti Zivana. Karena itu aku menyusul kesini."


"Hemmm Baby love sweet sekali." Cibir Samudra.


"Hei, aku bisa menjaga diriku sendiri, tidak usah terlalu khawatir padaku." Kata Zivana sambil melipat tangan di dada.


Lova tertawa, "Aku hanya memastikan saja Ziv, siapa tau Kak Sam memilih kembali masa lalunya lalu mencampakanmu, dan kamu membutuhkan pelukanku untuk menangis."


"Apa aku terlihat seperti orang yang seperti itu, Love?" Tanya Samudra pada adiknya.

__ADS_1


Lova mengerdikan bahunya, "Entahlah, bisa saja kan."


Sore hari, sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel Zivana. Zivana melihat saat melihat pesan masuk dari MBankingnya, namun Zivana mengernyitkan dahinya saat melihat jumlah nominal yang ia terima.


"Cuma segini?" Tanya Zivana dengan heran.


Zivana segera berdiri dari duduknya dan menuju ruangan Samudra. Samudra melihat sekilas ke arah Zivana yang masuk tanpa mengetuk pintu dulu.


"Ada apa Bee, apa kamu merindukanku sehingga buru buru masuk kesini." Goda Samudra.


"Kak, kenapa gajiku hanya segini?" Tanya Zivana sambil memperlihatkan ponselnya.


Samudra melihat sekilas dan kembali menatap berkasnya. "Memang segitu gajimu, memangnya berapa gaji personal asisten?" Tanya Samudra membalikan pertanyaan.


"Tapi Kak, ini saja tidak cukup untuk membeli satu tas brandedku." Kata Zivana memelas. Pasalnya ia tengah mengincar satu tas branded yang limited edition dengan harga fantastis, Zivana begitu giat bekerja karena berpikir gajinya akan bisa membeli tas itu. Namun ternyata ekspektasi tidak sesuai realita, bahkan gajinya tidak sampai seperempat harga tas yang ia incar.


"Ziv, gajimu itu UMR Kota dan sudah termasuk insentif, tunjangan dan lainnya. Itu memang gaji standart personal asisten apa lagi kamu baru bekerja satu bulan. Jika tidak puas silahkan tanya ke bagian HRD."


Zivana langsung terdiam, ia memilih kembali ke dalam ruangannya, namun saat Zivana membalikan tubuhnya, Samudra berkata. "Belajarlah bersyukur, Ziv. Diluar sana banyak pengangguran yang ingin bekerja hanya untuk sesuap nasi, bukan untuk membeli satu tas branded."


Zivana kini terduduk di ruangannya ia tidak menyangka jika ternyata harus bisa meredam keinginannya untuk membeli tas branded keluaran terbaru dengan series limited edition. Zivana mengingat saat dirinya dulu sebelum menikah, bahkan Zivana bisa membeli sampai tiga tas branded, belum lagi sepatu, sandal dan pakaian juga perhiasan yang tentunya menggunakan kartu yang diberikan oleh Dirga.


"Ternyata lebih enak jadi anak Papi dari pada jadi istri Kak Sam." Ucapnya bermonolog. "Apalagi jika kemarin aku menikah dengan Daniel, pasti aku jauh lebih menderita dari sekarang." Gumamnya lagi.


Diperjalanan pulang, Zivana hanya diam seribu bahasa. Sementara Samudra hanya menahan tawa karena berhasil mengerjai Zivana. Satu bulan ini, inilah waktu yang di tunggu Samudra, melihat wajah Zivana yang kesal namun tidak bisa berbuat hal apapun.


"Aku ingin kerumah Papi." Kata Zivana dengan ketus.


"Ini sudah mau dekat rumah." Jawab Samudra.


"Ya sudah, turunkan saja aku disini. Aku akan ke rumah Papi naik taxi."


"Besok saja."


"Aku mau sekarang, besok kan libur."


"Besok saja, sekarang kita pulang." Ucap Samudra tidak bisa di bantah.


"Ishh, dasar Tuan pelit dan galak." Umpat Zivana membuat Samudra semakin ingin tertawa namun sekuat tenaga menahannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Note:

__ADS_1


Ijin hari ini, sabtu dan Minggu, aq hanya Up 1 Bab ya, karena sedang ada acara Camping keluarga. Takutnya di bukit gak dapat sinyal dan gak bisa Up. Tapi aku tetap usahakan Up meski 1 Bab. 🙏


__ADS_2